SIASAT ALLAH
------------------------------------ (Meraih Cinta Ilahi - oleh Jalaluddin Rahmat)

Simaklah salah satu hadis qudsi tentang siasat Allah berikut ini : Nabi Muhammad Saw bersabda, "Dahulu ada dua orang raja mukmin dan raja kafir.Raja yang kafir sakit. Ia menginginkan sejenis ikan bukan pada musimnya.Waktu itu, jenis ikan tersebut berada di dasar samudera. Para tabib yang putus asa menasihatkan agar raja segera mengangkat penggantinya. 'Obat Baginda ada pada ikan ini. Kita tak mungkin mendapatkannya.' kata mereka. Allah lalu umengutus salah seorang malaikat untuk menggiring ikan itu keluar dari lubangnya di dasar laut supaya orang mudah menangkapnya. Ikan itupun lalu ditangkap. Raja memakannya dan ia segera sembuh.

"Kemudian Raja yang mukmin juga jatuh sakit. Ia menderita penyakit yang sama seperti yang diderita Raja kafir. Tetapi ia sakit pada waktu ikan yang menjadi obatnya itu berada pada permukaan laut. "bergembiralah, sekarang ini musim munculnya ikan itu, " kata para tabib. Lalu Allah mengutus para malaikat untuk menggiring ikan-ikan itu dari permukaan laut sampai masuk kembali ke lubang-lubangnya di dasar laut. Orang-orang tak mampu menangkapnya.

"Para malaikat langit dan penduduk bumi keheranan. Mereka kebingungan.Kemudian Allah mewahyukan kepada para malaikat langit dan kepada para nabi di zaman itu, 'Inilah Aku. Yang Pemurah, Pemberi Karunia, Mahakuasa. Tidak menyusahkan Aku apa yang Kuberikan. Tidak bermanfaat bagi-Ku apa yang Kutahan. Sedikit pun Aku tidak menzalimi siapa pun. Adapun Raja yang kafir itu, Aku mudahkan baginya mengambil ikan bukan pada waktunya. Dengan begitu Aku membalas kebaikan yang ia lakukan. Aku balas kebaikan itu sekarang supaya ketika ia datang pada Hari Kiamat, tidaklah ada kebaikan pada lembaran-lembaran amalnya. Ia masuk ke neraka karena kekufurannya.

Adapun Raja yang ahli ibadat itu, Aku tahan ikan itu pada waktunya. Dia pernah berbuat salah. Aku ingin menghapuskan kesalahannya itu dengan menolak kemauannya dan menghilangkan obatnya supaya kelak dia datang menghadap-Ku tanpa dosa. Dan dia pun masuk ke surga." Firman Tuhan ini bukan hanya menjelaskan siasat Tuhan atau kebijakan Illahi. Ia juga menjawab kebingungan kita. Bukankah kita sering bertanya-tanya mengapa Dia membiarkan mukmin yang saleh tidka henti-hentinya dilanda duka sementara orang durhaka terus-menerus beruntung ? Mengapa tiran yang zalim berusia lanjut, bertubuh sehat, sedangkan pemimpin yang adil meninggal dunia dengan cepat ? Di balik kontradiksi itu, yang bertentangan dengan rasa keadilan kita, tersembunyi keadilan Ilahi. Inilah siasat atau 'politi' Ilahi. Kebijakan Tuhan berbeda-beda, bergantung pada keadaan manusia. Ia menerapkan kebijakan-Nya dalam bentuk bala' atau ujian. "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad atau bersungguh-seungguh dan yang bersabar di antara kamu dan agar Kami menyatakan (baik-buruknya) hal-ihwalmu." (Q.S. Muhammad, 47:31).

Pada hadis qudsi yang lain, dalam kitab Kalimat Allah, Tuhan berfirman, "Di antara hamba-hamba-Ku yang mukmin ada sebagian yang tidak bisa baik urusan agama mereka kecuali dengan diberi kekayaan, kelegaan, dan kesehatan badan. Lalu, Kami menguji mereka dengan kekayaan, kelegaan, dan kesehatan badan sehingga baiklah urusan agama mereka. Di antara hamba-hamba-Ku yang mukmin ada pula sebagian yang tidak bisa baik urusan agama mereka kecuali dengan diberi kekurangan, kemiskinan, dan penyakit sehingga baiklah urusan agama mereka. Aku mengetahui dengan apa hamba-Ku yang mukmin menjadi baik dalam urusan agamanya.

"Ada di antara hamba-hamba-Ku yang tekun beribadat. Ia bangun dari tidurnya. Ia meninggalkan kelezatan ranjangnya. Ia mengisi malam-malamnya dalam keadaan terjaga. Dirinya kelelahan karena beribadat kepada-Ku.Kemudian aku jatuhkan rasa kantuk kepadanya satu atau dua malam. Aku perhatikan dia. Lalu tidurlah ia sampai waktu subuh. Ia terbangun,mamarahi,dan menyalahkan dirinya. Sekiranya Aku membiarkan dia memenuhi kehendaknya untuk beribadat kepada-Ku, akan masuklah 'ujub (merasa takjub dengan diri sendiri). Ujub membawanya kepada kerusakan karena amalnya.

Akhirnya, sampailah ia kepada kehancurannya karena takjub dengan amalnya dan merasa senang dengan pencapaiannya. Ia menduga bahwa dirinya sudah melebihi para ahli ibadat. Ia merasa sudah sangat banyak beribadat kepada-Ku. Karena itu, makin jauhlah ia dari Aku, sambil mengira bahwa ia mendekatkan dirinya kepada-Ku. Janganlah seseorang bersandar pada amalnya yang ia lakukan untuk memperoleh pahala-Ku. Sekiranya mereka menghabiskan seluruh umurnya untuk beribadat kepada-Ku, mereka masih jauh dari tingkat ibadat yang seharusnya bila mengingat apa yang mereka minta dari-Ku berupa pemberian-Ku, kenikmatan di surga-Ku, dan ketinggian derajat di sisi-Ku. Tetapi, kepada kasih-Ku hendaknya mereka bergantung, karena anugerah-Ku hendaknya mereka bergembira, dan dengan berbaik sangka kepada-Ku hendaknya mereka menenteramkan dirinya.

"Dalam keadaan demikian, tercurahlah kasih-Ku kepada mereka, sampailah kepada mereka keridaan-Ku dan ampunan-Ku. Maaf-Ku akan meliputi mereka. Inilah aku, Allah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Karena itulah Aku menamai diri-Ku."

1