Beberapa Catatan Tentang PDI Kalimantan Barat
Beberapa Catatan Tentang PDI Kalimantan Barat
oleh
Kenny A. Kumala
Mantan Wakil Bendahara
DPC-PDI Kab. Sambas
(Pro Megawati yang dipecat Soeryadi)

M. Kaphat puncak dari hipokri (kemunafikan)

Kaphat beserta pengurus DPD-PDI Kalbar, adalah salah satu DPD se-Indonesia yang mengangkat Soeryadi dan menyetujui Kongres Medan, malahan Sdr. Kaphat ini duduk dalam formatur pemilihan Soeryadi Cs. Yang lebih gila lagi, pada tanggal 11 April 1998, melalui SK pengangkatan Nomor 337/SK-DPP/IV/1998 Kaphat Cs. (terlampir) membersihkan beberapa pengurus yang pro Mega yang prosedurnya pun jelas jelas bertentangan dengan aturan Partai.

Alangkah cepatnya "super bunglon" ini dalam waktu yang dekat sudah menyatakan Pro Mega lagi. Mungkin pada rejim yang lalu hal ini masih bisa dipaksakan, tetapi saya kira figur-figur (baca:Oknum) seperti ini harus secepatnya mengundurkan diri, sehingga atas kekonsistensiannya masih nampak ada wibawa.

Reformasi artinya bukan hanya menuntut ganti kulit, tetapi juga isinya dan inilah isi-isi yang ikut menyengsarakan rakyat !!!

 
Megawati Harus Mendirikan Partai Baru

Setelah cukup lama mengikuti partai mini PDI, saya mempunyai kesimpulan sbb.:

Warga /Pengurus PDI adalah warga pinggiran, kurang lebih kelas ke 4 dan 5. Dalam masyarakat. Saya kategorikan kelas ini sbb.

Nah, dengan kenyataan ini, maka tidak mungkin warga PDI menjadi penyelenggara negara ini! Pertama karena SDM-nya, kedua karena perekonomiannya. Seperti kita ketahui, tidak satupun revolusionir berasal dari rakyat, mau Lenin, Mao, Soekarno dstnya. Maka harapan warga PDI untuk mengadakan pemerintahan yang baru adalah absurd.

Oleh karena itu menurut pandangan saya yang realistis adalah:

(1) Bagaimana merekrut SDM yang ada tanpa memasukkan banyak pengurus2 PDI daerah yang justru lebih bunglon dari mereka yang di pemerintahan.

(2) Bagaimana mencari way-out yang "manis" untuk itu.

Nah, saya mengusulkan:

(1) Kalau Megawati bertahan di PDI, maka tidak ada way outnya, karena SDM PDI tsb. Dan mereka justru akan lebih menyengsarakan Rakyat, (karena mereka belum kaya, baca: OKB)

(2) Dengan kembalinya PDI inti ke PNI/atau apapun namanya, pengurus2 PDI yang oportunis ini bisa meneruskan oportunismenya ke Partai yang lain.

(3) Kita bisa menemui berbagai SDM yang bagus dalam pemerintahan yang ex-PNI, dan ini bisa menjadi kekuatan baru PNI melalui proses seleksi.

Konklusi saya, tidak ada alternatif lain bagi Megawati selain mendirikan partai baru!

 
PDI Gadungan Kalbar Mencari Pengakuan PDI Munas

Tidak dapat disangkal lagi, bahwa dengan terkuaknya pintu reformasi yang selama ini rapat di gembok ternyata bobol oleh arus aspirasi yang begitu deras mengalir menuju iklim keterbukaan dan nyata pula kita dapat menyaksikan fenomena sebuah pemandangan yang sungguh aneh tapi nyata. Betapa tidak! Aneh karena penyelenggaraan ketatanegaraan dengan seperangkat alat pemerintah yang telah dibangun di atas menara gading beserta lembaga-lembaga negara terpenting begitu kokoh membentuk mata rantai yang membelenggu dan meluluh lantakkan siapa saya yang coba-coba memproklamirkan keterbukaan, suksesi dan koreksi walaupun dilandasi yuridis formal dengan membela Pancasila sebagai landasan riil dan UUD 1945 yang hukumnya wajib dijunjung tinggi sebagai induk dari segala induk UU.

Nyata karena sejarah telah mengagendakan kesungguhan hukum sebab akibat, yang tidak dapat lagi dipungkiri kebenarannya. Hingga demikian menjadi sebuah catatan terpenting dalam menempatkan wong becik ketitik, wong ala ketara (yang asli dan yang palsu akan nampak). Ini penting sebagai bahan sortir agar generasi muda yang akan manggung kelak tidak lagi terinfeksi penyakit korupsi, kolusi dan nepotisme.

Tidak berhenti hingga disini Sdr ! Atraksi para aktor penyelenggara negara yang aduhai dinyatakan lulus mengemban amanat tokoh yang mempunyai bakat untuk menjegal para aktifis dan fungsionaris, organisasi yang mempunyai komitmen tinggi dalam meneriakkan jeritan aspirasi wong cilik yang mayoritas dengan keahlian dibidangnya maka lahirlah rekayasa di berbagai bidang yang memalukan.

Ini termasuk permainan sulap DPD-PDI yang dibidani oleh Sdr. Masardi Khepet dengan reputasi dan dedikasi yang tidak diragukan lagi berhasil merebut formatur hingga memboyong Drs. Suryadi untuk dinobatkan duduk di singgasana pusat DPP- PDI dengan menyandang baju merah dan tanduk kepalsuan walaupun kuning isinya ini memang mirip dengan kerajaan Dosomuko dari Negeri Alengka, ia dan para hulu balangnya yang manggung di kepengurusan larut dalam kepuasan setelah berhasil mengeyam Ketua Umum DPP-PDI hasil Munas yang syah di bawah pimpinan Ibu Megawati Sukarno Putri. Karya lain yang paling gemilang dari produk PDI ala Kongres Medan adalah keberhasilannya menjaring calon Dewan Perwakilan Rakyat dengan segudang keahliannya wajib menanda tangani formulir pengakuan kepengurusan DPP-PDI ala Kongres Medan di bawah Pimpinan PDI Gadungan Drs. Suryadi. Ini jelas melawan arus AD/ART PDI sebagai konstitusi tertinggi partai dan syarat calon legeslatif yang diundangkan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Lebih gila lagi dalam rangka melancarkan politik sapu bersih ia menggunakan senjata pamungkasnya diarahkan pada para pengurus Partai yang setia terhadap PDI hasil Munas Pimpinan Megawati Sukarno Putri berupa Surat Keputusan DPP-PDI No. 337/SK-DPP/IV/1998 tentang Struktur, Komposisi dan Personalia DPC-PDI Kab. Sambas. Khusus DPC-PDI Kabupaten Sambas SK ini di persembahkan untuk dua orang pengurus inti : Agus Herawan sebagai Wakil Ketua dan A. Kenny Kumala sebagai Wakil Bendahara (keduanya aktif dalam kepengurusan DPC-PDI perjuangan hasil Munas).

Atas dosa-dosa politik yang telah diamalkan PDI hasil kongres Medan beserta jajarannya yang sangat setia, maka kini telah menerima buah yang dipetiknya menjadi mahluk kerdil yang super bunglon dimana angin berhembus menuju kandang kerbau ia menyembah kerbau, begitu juga bila banteng mendapat anugrah iapun sujud.

Sisi lain yang juga menarik adalah mengalirnya aspirasi nurani rakyat banyak begitu deras mengkristal dan menjelma sesuai hukum alam atas kerinduan umatnya dan membela keadilan.

Gegap gempita suara guruh bagaikan irama yang dinanti ibu pertiwi. Mega yang mengayomi jagat nusantara dan gunturpun menggelegar di alam raya menyungguhkan jimat yang wajib diamalkan berupa Pancasila dan UUD 1945, bahkan topan memberi wejangan bagi mahluk yang tuli dengan tetesan bayu siap membersihkan dosa-dosa para badut politik dan kala itu sukma para perintis kemerdekaan mempertanyakan bangsa dan negara padamu yang telah dititipkannya seperempat abat lebih tahun yang lalu, inilah rahma ilahi yang sungguh luar biasa. Seiring dengan perubahan masa kali ini telah bergulir sebuah lakon yang disebut jaman Reformasi dengan seambreg gonjang-ganjing yang melanda boneka-boneka Soeryadi di DPD dan DPC - PDI seluruh Indonesia termasuk PDI Kal-Bar sebagai arsitek penting kali ini bagaikan wabah deman berdarah mencari dokter sampai pada rumput yang bergoyang ternyata jawabnya mencari pengakuan mengakui PDI Megawati adalah yang legal konstitusional. Alangkah cepatnya para super bunglon ini mengincar singgasana kembali.

 
Konon ceritanya Toke tiga serangkai SURYADI BUTUH PATIMAH tidak dibutuhkan rakyat banyak, hingga demikian membuat kedok aslinya nampak kerbau di sulap menjadi Banteng.

Memang sungguh luar biasa Saudara! dunia ini panggung sandiwara dimana era tinggal landas yang kandas, begitu cepat berubah termasuk keinginan Rekonsiliasi DPD-PDI Kalimantan Barat dan DPC-PDI Kab. Sambas khususnya, siap untuk integrasi pengakuan pada PDI Pimpinan Megawati.

Paksionalis yang sangat mencolok dengan tidak mengacu pada nalar yang sehat ini hanya akan menempatkan pelaku sejarah memetik badai. Penulis sudah terbiasa dengan ujian yang aneh-aneh atas perilaku yang dipraktekan oleh gerombolan PDI Suryadi.

Penulis merasa perlu untuk mengkaji keinginan mendadak dari petualang politik PDI - Pimpinan Soeryadi untuk bergabung dengan PDI Munas Pimpinan Megawati.

Camkan yang ini! Kado ini kami persembahkan untuk para Pimpinan DPD-PDI Kal-Bar: Sdr. Masardi Khepet, Darwis Abu Bakar, Ilham Sanusi, Makarius Sintong, SH., Sungkalang, SH., serta sederet nama lain pengikut setia Suryadi.

Dan penulis persembahkan pula untuk para bunglon pengurus DPC-PDI Kab. Sambas, termasuk Sdr. Ket. Namaji Noer agar lebih dahulu menjawab pertanyaan keluarga besar PDI antara lain :

(1) Bubarkan dulu Boneka-Boneka Suryadi yg duduk dalam kepengurusan DPD dan DPC-PDI se Kalimantan Barat.

(2) Mengundurkan diri dari Keanggotaan DPR TK. I & II se-Kalimantan Barat

(3) Ajukan ke Pengadilan pelaku-pelaku peristiwa kriminal tanggal 27 Juli 1996.

(4) Membuat pernyataan penyesalan tertulis telah berbuat keliru turut membidani lahirnya PDI Gadungan di Medan, yang di muat seluruh harian surat kabar baik cetak maupun elektronik se-Indonesia dan di siarkan melalui siaran TVRI dan Swasta serta RRI.

(5) Membuat pengakuan tertulis bahwa hanya satu PDI yang syah adalah PDI hasil Munas pimpinan Ibu Megawati yang juga dimuat di seluruh harian surat kabar baik cetak maupun elektronik se-Indonesia dan di siarkan melalui siaran TVRI dan Swasta serta RRI.

Akhirnya penulis mengajak keluarga besar PDI untuk tetap waspada terhadap figur-figur pengurus yang membahayakan keutuhan partai yang diisikan dengan rawe-rawe rantas malang-malang putung serta berpadu dengan semangat kolupis kuntul baris dan bangkitlah laksana banteng ketaton. Merdeka !

[Kenny Kumala ada lah mantan pengurus PPI Cabang Berlin Barat dan PPI Pusat Jerman Barat 1978-1987]


Kembali ke Daftar Isi