MEMBURU RAMPOKAN SUHARTO DI SWISS

MEMBURU RAMPOKAN SUHARTO DI SWISS

Kang Bondet, Switzerland

Ketika saya meninggalkan indonesia pada awal 1996, untuk menetap di Swiss, keadaan tanah air masih aman aman dan baik baik saja. Meski ibarat negara itu bagaikan gunung berapi, yang siap meletus dan menghamburkan lahar panasnya kapan saja, hanya menunggu waktu. Benar juga rentetan bencana bermunculan ; dari kebakaran hutan di kalimantan dan sumatra, dilanjutkan krisis moneter yang menerkam Thailand, Korea juga Malaysia. Krismon di negara negara tetangga ini praktis bisa teratasi, sedang di indonesia justru menjadi berlarut larut dan berubah menjadi krisis politik. Munculnya gerakan reformasi yang dimotori oleh para mahasiswa dengan dukungan penuh dari kaum intelektual dan rakyat, berhasil menjungkirkan diktator Suharto pada 21 mei 1998.

Peta politik di tanah air pun berubah total, situasi tak menentu bergerak dari detik ke detik, gelombang reformasi menerjang dan menghantam ke berbagai tatanan pemerintahan peninggalan orba. Tema menonjol saat ini, disamping munculnya partai partai baru juga pengunduran diri para pejabat dan anggota DPR/MPR yang berazas famili-isme dan konco-isme. Namun tafsiran Suharto memiliki kekayaan yang mencapai 40 Milyar USD, sangat ditunggu tunggu masyarakat dan menggangu hati saya untuk segera bergerak. Karena saya tinggal di Swiss, dimana para presiden koruptor di seluruh dunia menyimpan hasil jarahannya di sini. Dan saya menemukan titik terang ke arah pelacakan itu. Pada suatu hari, saya diundang oleh seorang teman di kota Freibourg dalam acara selamatan istrinya yang orang swiss sedang hamil 7 bulan. Ketika saya datang diminta untuk memimpin doà, disamping tamunya banyak perempuan indonesia dan bule bule. Saya lirik teman saya yang asal jogya itu, sedang membuat tumpeng, ingkung ayam dan sesaji sesaji lain. Saya tanya apa Nyai roro kidul akan datang...?
Dia tertawa dan menjawab,...hus ini wangsit simbah, jangan dilanggar.

Sehabis nyantap makanan, seorang perempuan berkaca mata tebal memberi kartu nama saya. Pada kartu nama itu tertulis nama : SRI RAHAYU FATIMA.MBA, serta bertuliskan nama perusahaan P.T. BROMOTEX RAHAYU, yang berlokasi di jakarta timur. Dalam hati saya berpikir,...eh kok ada cewek indonesia bertitel MBA, ditengah tengah apartemen yang tak terkenal ini. Suaminya orang swiss lagi? Bukankah gadis gadis kencur yang hitam legam atau ayam kampong kita banyak diangkut orang bule dan dibawa ke Eropa, dengan iming iming akan diajak keliling bulan?

Gadis gadis yang sejak kecil melarat, siapa yang tak tergiur ? Eh siapa tahu kawin dengan si bule bisa kumpulin uang, dan bantu keluarganya di desa. Itu khan termasuk beramal juga untuktabungan di akhirat nanti. Kebanyakan bule bule itu makannya serakah, sehingga tak mampu lagi perutnya mengantongi makannya. Namun perempuan yang saya temui itu rasanya lain dengan ayam kampong biasa, mana ada ayam kampong bertitel MBA?

Perempuan tadi mengaku, bila di swiss rata rata pertahunnya hanya 6 bulan, sedang sisanya untuk keliling ke kawasan Asia untuk ngurus bisnisnya dengan suaminya, yang punya ukuran celana XXL. Perempuan itu biasa dipanggil mbak SRI, berkalung Al-quràn mini dari emas, tampak sangat ramah dan asyik ngobrol dengan hadirin yang lain. Mbak Sri dan suaminya ini selalu ber BMW keliling kota Freibourg. Seorang teman yang pernah mampir ke rumahnya di jakarta menuturkan; ...betapa malunya, karena rumahnya mbak Sri ini sangat mewah berkolam renang serta dijaga beberapa tentara.

Kecurigaan saya mulai muncul, setelah saya cocokan dengan tulisan Adi tjondro yang aktif menginventarisasi yayasan yayasan Suharto dan perusahaan perusahaan BJ.Habibie. Dalam daftar perusahaan perusahaan BJ.Habibie tertera kode SRF: SRI RAHAYU "YAYUK" FATIMA, B.J.Habibie youngest`s sister. Namun P.T. BROMOTEX RAHAYU, seperti yang tertulis dalam kartu nama tadi belum terinventarisasi oleh Adi tjondro. Sementara koran koran di Swiss memberitakan, bila ada tabungan sejumlah 2,8 Milyar Sfr (Swiss Frank) berasal dari indonesia. Adi tjondro mengkonfirmasikan, bila mbak Sri itulah anteknya Suharto, yang telah menyelamatkan hartanya.

Seorang pakar hukum kriminal international di Portugal asal swiss mengatakan:...If Suharto and his Clan are still protected in indonesia, they must be worried outside. Although the swiss government doesn`t agree to look for the Suharto`s asset as long as other state ask him to do it, through a demand for a help of an international criminal law. That is why it is crucial, that either an indonesian authority or a portuguese authority send such a demand to Bern.

Pemerintah swiss sedikitnya dalam dua tahun belakangan ini direpotkan oleh tiga masalah perbankan internasional.

Pertama: Rampokan Marcos (mantan presiden Philipina) yang tertimbun di bank bank Swiss dan berhasil dicairkan berkat desakan berbagai organisasi internasional juga dari negara negara maju.

Kedua: Rampokan Mobutu (mantan Presiden Zaire) yang terang terang beliau sering mampir ke swiss. Dan terakhir dirawat kesehatannya di kota Laussane bersamaan dengan membeli rumah mewah di pinggir danau kota Jenewa. Seluruh kekayaannya juga berhasil dikembalikan ke rakyatnya.

Ketiga: Kasus Holocaust (Sekelompok Yahudi) yang mengklaim bank bank swiss telah menyimpan glondongan emas milik bangsa yahudi karena didepak oleh Hitler pada perang dunia ke II.

Bagaimana dengan rampokannya Suharto? Jangankan Suharto, kelompok yahudi yang terorganisir rapi dan berpengaruh kuat di pemerintahannya Clinton saja tak di gubris oleh pemerintah Swiss. Baru sekarang mulai mau buka mulut, setelah kelompok yahudi di Amerika akan memboikot bank bank swiss di sana.

Ada beberapa alasan kenapa pemerintah swiss bersikap dingin terhadap masalah perbankan.

Pertama: Bangsa swiss adalah bangsa yang terkenal dingin, hemat dan selalu menjaga kenetralan. Karena negaranya kecil berpenduduk 7 juta yang terjepit di eropa, sehingga wajib militer diberlakukan serta keharusan tiap rumah untuk buat ruangan beton bawah tanah utk bersembunyi bila terjadi perang.

Kedua: Negara ini tidak punya kekayaan hasil bumi, sehingga perbankan dan pariwisata adalah andalan utama yang mendudukan tingkat standar hidup termahal di dunia.

Ketiga: Sistem politiknya yang double standart, Swiss tak akan tertarik terhadap negara lain, mana kala negara itu tak menguntungkannya. Sehingga kerahasiaan bank dan proteksi terhadap Clients nya dibela mati matian.

Keempat: Khusus kasus Suharto ini sangat rumit, karena dimungkinkan tidak hanya hartanya yang di simpan di bank, tapi perusahaan perusahaan raksasa Swiss, seperti Asea Brown Boveri (ABB), Nestle`s, Ciba-Geigy dan Sandoz ikut bermain dengan perusahaan perusahaan cendana.

Untuk itu tak bisa disamakan kepopuleran antara Suharto dengan Marcos. Hampir tiap orang swiss tahu siapa itu Marcos? Adalah koruptor yang terang terangan menimbun uang di swiss. Koran pun kala itu memberitakan dalam porsi yang besar dan menghiasi head line berbulan bulan. Sedang Suharto ketika lengser keprabon, tak terlalu dipublikasikan besar besaran. Sebuah koran lokal tages anzeiger menulis: Suharto-Konten: Keine Sperrung (rekening bank Suharto tak di blokir). Juga Woche Zeitung menulis: Mr. Daniel Zuberbühler, direktor dari komisi perbankan di kota Bern telah mendesak pemerintah swiss segera memblokir rekening Suharto, kalau tidak mau mengulangi seperti peristiwa presiden Mobutu Sese-Seko dari Zaire. Pemerintahnya menjawab, tak bisa disamakan kasusnya Suharto dengan Mobutu, karena pemerintah Mobutu jelas jelas tumbang dan ada perlawanan dari rakyat, sedang pemerintah Suharto ini digantikan wakilnya B.J.Habibie yang juga boneka Suharto.

Sekarang pertanyaannya,...kalau rampokan Marcos dan Mobutu itu bisa dikembalikan ke rakyat, padahal keduanya telah meninggal dunia. Kenapa Suharto yang masih punya sisa hidup tak bisa dimintai jawaban? Sebenarnya kalau Suharto ksatria harus mengakui dengan jujur, tapi mana ada maling mengaku maling? Mampukah pemerintahan Habibie membongkar rampokan Suharto? Dalam budaya timur, anak tak boleh mengritik orang tua, apalagi melawan, itu hal yang tabu dan pantang. Habibie itu khan anak Suharto yang lahir dari rahim orang lain.
Kita tunggu saja penyidikan MA?

Beberapa pengamat ekonomi dan politik di swiss mengalami kebingungannya akan trik trik Suharto, karena disamping sifat Suharto yang licik juga managemennya yang mbulet. Pada tanggal 28 Mei Ramos horta muncul di TV SF1 Swiss,...Ramos mendesak pemerintah swiss, parlemen dan partai sosialis demokrat untuk segera mengembalikan harta jarahan Suharto ke rakyat indonesia. Pada akhir bulan mei, PPI swiss mendatangi KBRI untuk membacakan petisi pro reformasi dengan tembusan DPR/MPR dan pemerintah RI. Ibu duta besar menyanggupi akan meneruskan pesan PPI tersebut. Bahkan KBRI telah mengirim 250 kg obat obatan untuk para korban demo mahasiswa di gedung DPR/MPR dan rakyat di pedesaan. Beberapa anggota masyarakat indonesia di swiss sudah tidak sabar lagi untuk men DEMO pemerintah swiss atau bank bank yang menyimpan harta haram itu.

Masyarakat dan PPI swiss segera akan mengambil langkah langkah sebagai berikut:

  1. Apabila Suharto dan pemerintah swiss tetap bungkam, maka pelacakan akan semakin diintensifkan, untuk menguak dimana sebenarnya harta itu disimpan.
  2. Segera akan membuat pernyataan resmi yang ditujukan ke Bundesrat presiden, yang menekankan pemerintah agar segera bertindak sebelum kebobolan lagi.
  3. Bila sudah jelas nama banknya di swiss, kami akan segera mengkordinasikan DEMO ke bank yang bersangkutan dan ke Bundesrat. Untuk DEMO ini kami akan minta bantuan mahasiswa dan masyarakat indonesia di negara negara eropa.

Demikian langkah langkah yang akan kami tempuh dan semua pihak yang akan membantu khususnya dalam memburu rampokan Suharto, kami sangat berterima kasih. Silahkan menghubungi kami atau majalah "Suara Demokrasi" [TAMAT].


Kembali ke Daftar Isi
1