Mengapa Orang Yahudi Membenci Orang Samaria

Home | Artikel

Mengapa Orang Yahudi Membenci Orang Samaria

Dalam kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria, Yohanes membubuhkan catatan, "Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria." Ternyata perseteruan mereka ini punya sejarah yang panjang.

Samaria mengacu pada nama ibukota Kerajaan-Utara Israel sejak zaman Omri (1 Raj. 16:24). Kota ini diduduki pasukan Asyur pada 721 SM, dan sekitar 27 ribu orang dari golongan penguasa dan tukang yang cakap diangkut dari Asyur untuk tinggal di situ (2 Raj. 17:24). Pendatang baru inilah yang diangkat sebagai pemimpin. Mereka diharapkan akan loyal karena merasa berutang budi, sehingga tercipta situasi yang stabil dan damai.

Keadaan nyatanya tidak semulus itu: hewan liar berkembang pesat di negeri itu, menewaskan banyak orang. Para pendatang baru itu yakin, serangan ini mengisyaratkan bahwa mereka tidak menyembah Allah Samaria dengan semestinya. Salah satu imam yang telah dibuang dipanggil kembali untuk mengajarkan kepercayaan Yahudi, dan mendirikan tempat ibadah di Betel. Terbentuklah sinkretisme antara penyembahan Yahwe dan penyembahan dewa-dewa yang dikenal para pendatang baru tersebut (2 Raj. 17:25-34).

Beberapa orang dari Kerajaan Utara yang tidak ikut dibuang beribadah di Yerusalem (2 Taw. 35:17). Ketika Yerusalem sendiri dihancurkan oleh bangsa Babel, hubungan baik ini masih terjalin (Yer. 41:5). Sewaktu Kekaisaran Persia menggantikan Babel, dan bangsa Yahudia diizinkan untuk membangun kembali Bait Allah dan tembok Yerusalem, tanggapan orang Samaria beragam. Ada yang ingin bergabung dalam proyek itu (Ezr. 4:2), namun mereka ditentang dengan keras oleh orang-orang buangan yang telah kembali (Ezr. 4:3). Orang-orang Samaria lainnya gusar mendengar Yerusalem dibangun kembali karena Yerusalem dianggap saingan Samaria. Mereka berupaya keras untuk menghambat pembangunan tersebut (Neh. 4:1-2).

Antipati antara Utara dan Selatan ini sudah berakar lama, yaitu sejak kedua belas suku Israel memasuki Kanaan. Ada rangkaian benteng Kanaan yang memisahkan suku-suku di sebelah utara dengan suku-suku di sebelah selatan. Ketika Daud naik tahta, ia memerintah dua kerajaan yang bersatu, bukan satu kerajaan (2 Sam. 5:5). Ketika kerajaan itu terpecah setelah masa pemerintahan Salomo, garis pemisahnya mengikuti pola lama. Orang-orang Samaria bukan hanya dianggap sebagai musuh politik, namun juga sebagai orang-orang najis yang dapat mencemari orang-orang buangan yang baru saja kembali (lihat Neh. 13:23-30).

Sebagian orang Samaria, yang ditolak beribadah di Yerusalem, namun enggan untuk terus bertikai, menarik diri dan mendirikan tempat ibadah di Sikhar. Mereka menggunakan Pentateukh (lima kitab Musa) berbahasa Samaria, dan mulai mengembangkan kepercayaan yang berbeda. Mereka, misalnya, menantikan Musa sebagai Taheb (pemulih, Mesias) dan menganggap Gunung Gerizim sebagai tempat yang ditetapkan Allah untuk mempersembahkan korban (Yoh. 4:19-20). Perbedaan kepercayaan inilah yang memperparah pertikaian di antara mereka. *** (Sumber: Ralph Gower, The New Manners and Customs of Bible Times)

2005 Denmas Marto

1