J.R.R Tolkien: Penulis The Lord of the Rings

Home | Artikel

J.R.R. Tolkien

Penulis The Lord of the Rings

J.R.R. TolkienTahun 1997, sebuah majalah populer di Inggris mengadakan jajak pendapat tentang buku terbaik abad ke-20. Ribuan orang memberikan tanggapan. Pemenangnya, dengan keunggulan angka sangat mencolok: The Lord of the Rings (LOTR), karya J. R. R. Tolkien, yang terbit pertama kali tahun 1954-1955.

Para pakar sastra kebakaran jenggot. Bagaimana mungkin sebuah cerita fantasi menang? Mereka kembali menggelar jajak pendapat, dan karya Tolkien kembali unggul. Ketika jajak pendapat diulang untuk ketiga kalinya, untuk ketiga kalinya pula publik menegaskan pendapat mereka: Tolkien adalah favorit mereka.

New Line mengangkat buku itu ke layar perak. Desember 2001 lalu, bagian pertama film LOTR, The Fellowship of the Ring, diluncurkan. Dua bagian lanjutannya akan diedarkan berturut-turut pada Natal tahun ini dan tahun depan. Sampai April 2002, The Fellowship telah menduduki peringkat kelima dalam daftar film terlaris sepanjang sejarah untuk peredarannya di seluruh dunia.

Nah, tahukah Anda kalau penulis LOTR adalah seorang Katholik yang saleh?

Cinta Bahasa

John Ronald Reuel Tolkien lahir di Afrika Selatan tahun 1892. Ayahnya meninggal tidak lama setelah adiknya lahir. Beberapa tahun kemudian, setelah mereka pindah ke Birmingham, sang ibu meninggal, dan kakak-beradik itu pun dibesarkan oleh imam Gereja Katholik.

Prestasi belajar Tolkien biasa-biasa saja, namun bakat kebahasaannya sangat menonjol. Berkat didikan dan disiplin ibunya, Tolkien sudah fasih membaca dan menulis sebelum berumur empat tahun. Ia memahami cara kerja bahasa, dan bahkan menyusun suatu bahasa tersendiri. Ia menekuni kecintaan pada bahasa ini dengan belajar di Oxford dan kemudian mengajar filologi di kampus itu. Ia termasuk salah satu profesor yang paling terhormat di Oxford. Dari kecintaannya akan bahasa itulah ia menjelajahi berbagai mitologi dunia. Ia menulis LOTR, katanya, untuk memberi Inggris mitosnya sendiri.

Latar mitos ini adalah Dunia Tengah, sebuah dunia yang direka olehnya, lengkap dengan peta dan bahasanya. LOTR adalah kisah epik tentang cincin bertuah yang diwariskan kepada Frodo Baggins, seorang hobbit muda, dan bagaimana peranannya dalam sejarah Dunia Tengah. (Hobbit adalah makhluk seperti manusia, tingginya sekitar setengah tinggi manusia normal. Mereka biasa tinggal dalam lubang, suka makan, suka berkebun dan suka hadiah.)

Mitos dan Kebenaran

Mengapa menulis mitos? Meskipun kebanyakan orang melihat mitos sebagai kisah tentang sesuatu yang tidak benar atau tidak nyata, Tolkien beranggapan sebaliknya. Menurutnya, ada kebenaran yang melampaui diri kita, kebenaran transenden, tentang keindahan, kebenaran, kasih, dsb. Meskipun kebenaran itu tidak terlihat, bukan berarti ia tidak nyata. Melalui bahasa mitoslah kita dapat mengungkapkan kebenaran ini.

Pandangan Tolkien tentang mitos ini sangat menolong C.S. Lewis untuk kembali mempercayai Kekristenan. Semua mitos lain di dunia, kata Tolkien, adalah campuran antara kebenaran dan kesalahan. Kebenaran – karena mitos itu ditulis oleh orang-orang yang diciptakan oleh dan bagi Allah; kesalahan – karena mitos itu ditulis oleh mereka yang telah kehilangan kemuliaan Allah. Namun, Alkitab adalah satu-satunya mitos yang benar. Alkitablah catatan kebenaran yang sejati, sedangkan semua mitos lain hanya menyalinnya.

Persahabatan

Tolkien juga sangat menghargai persahabatan. Hal ini tampak jelas baik dalam karyanya maupun dalam kehidupannya. Dalam LOTR, kita dapat melihat persahabatan antara Frodo dan Sam serta Frodo dan Aragorn. Dalam kehidupannya, ia bersahabat erat dengan C.S. Lewis.

Persahabatan adalah karunia. Persahabatan berlangsung sewaktu dua orang bertemu dan memiliki perspektif, pengalaman, pengertian, “kekayaan” atau beban yang sama. Dan persahabatan seperti ini patut dihargai.

Tolkien dan Lewis jelas menghargai persahabatan mereka. Tolkien menulis, “Saya banyak mendapatkan berkat dari persahabatan dengan Lewis. Selain mendatangkan kegembiraan dan penghiburan, saya juga dikuatkan karena berhubungan dengan seorang pria yang jujur, berani, cerdas – seorang sarjana, penyair dan sekaligus filsuf – dan yang akhirnya, setelah bergumul sekian lama, menjadi orang yang mengasihi Tuhan kita.”

Seperti Hobbit

Tolkien melihat dirinya seperti hobbit, kecuali tinggi badanya. Ia suka makan, suka berkebun dan berjalan-jalan di desa. Ia juga suka mengisap pipa, suka cerita, suka berteman. Ia mencintai keluarganya, dan lebih senang tinggal di rumah daripada bepergian. Ia suka bercanda, ramah dan murah hati. Ia tidak bertekad untuk mengubah dunia, namun ia bertekad untuk menjalani kehidupan yang telah Tuhan berikan ini dalam ketaatan.

Ia percaya bahwa keluarga, rumah dan pekerjaan adalah jantung kehidupan kita. Pekerjaan berarti semua yang dilakukannya, bukan hanya yang mendatangkan penghasilan. Ia biasa makan tiga kali sehari dan minum teh bersama keluarganya. Baginya, keluarga, rumah dan pekerjaan adalah hal-hal saleh yang lebih menyenangkan hati Allah daripada “perbuatan baik” lainnya.

Menikah dengan Edith Bratt, ia dikaruniai empat anak – John, Michael, Christopher, and Priscilla. Joseph Pearce dalam bukunya, Tolkien: Man and Myth, menulis, "Cukup beralasan untuk menduga bahwa seandainya Tolkien tidak dikaruniai anak, ia tidak akan menulis The Hobbit atau LOTR." Selama menulis LOTR, Tolkien biasa mengirimkan bab-bab yang telah rampung kepada anaknya, Christopher.

LOTR berakhir di rumah hobbit. Sebagian orang menganggapnya sebagai antiklimaks mengingat luasnya cakupan epik tersebut. Namun hal ini hanya menegaskan bahwa, bagi Tolkien, semua peperangan, heroisme dan perbuatan yang penuh keberanian tidaklah seberharga apa yang berlangsung dalam keseharian kita yang bersahaja.

Sesuatu yang Lebih Baik

Hidup Tolkien juga penuh akan visi masa depan. Bukan visi tentang apa yang akan dilakukannya bagi Tuhan, melainkan visi tentang apa yang Tuhan sediakan baginya. Pikirannya terarah pada apa yang oleh Calvin disebut sebagai “meditasi tentang kehidupan yang akan datang”. Ia sadar dan yakin sepenuhnya bahwa “Semua penderitaan yang kita alami sekarang... tidak dapat dibandingkan sama sekali dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”

Fakta bahwa kita merindukan sesuatu yang lebih baik, menurutnya, membuktikan bahwa memang ada hal yang lebih baik yang disediakan bagi kita. Ia menulis pada seorang teman: “Kita lahir pada zaman kegelapan yang tidak ramah pada kita. Namun inilah penghiburan kita: kalau tidak demikian kita tidak akan tahu... apa yang kita kasihi. Saya bayangkan, ikan yang di luar air adalah satu-satunya ikan yang mendapatkan firasat tentang air.” Orang Kristen adalah ikan yang di luar air, hidup di luar lingkungan yang semestinya bagi dia. Kita adalah pengembara, orang asing, orang buangan, yang akan segera pulang.

Tolkien sendiri pulang ke rumah Bapanya pada 2 September 1973. ***

© 2003 Denmas Marto

1