Seminar HIV

 

 

 

 

Seminar & Lokakarya HIV/AIDS

 

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan P11 Advocacy, akan diselenggarakan seminar dan lokakarya tentang HIV/AIDS di Hotel Jayakarta, tanggal 23 September 2003. Semiloka ini akan mengundang para pelaku penanggulangan penyebaran HIV/AIDS, baik yang ada di lapangan maupun yang berada pada tataran konsep. Seminar akan dituanrumahi oleh BKKBN Propinsi Jawa Barat. Peserta semiloka ini adalah para wartawan 10 media cetak & radio. Berikut ini adalah Petunjuk Pelaksanaan kegiatan tersebut.

 

Petunjuk Pelaksanaan

 

SEMILOKA

Upaya Pencegahan PMS dan HIV/AIDS DI JAWA BARAT

Untuk Wartawan dan Editor Di Jawa Barat

 Kerjasama antara  BKKBN Provinsi Jawa Barat dan UNFPA

  

I.                   LATAR BELAKANG

 

Visi dan misi Program Keluarga Berencana (Program KB) dan kesehatan reproduksi telah mengalami reposisi dari Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) menjadi Keluarga Berkualitas 2015. Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999 telah memberikan pijakan untuk program ini. Salah satu intinya adalah “meningkatkan kualitas penduduk melalui pengendalian kelahiran, memperkecil angka kematian dan meningkatkan kualitas Program KB”.

 

Sejalan dengan ini, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah membuat paradigma baru dalam pengembangan Program KB. Paradigma ini menegaskan terintegrasinya Program KB dengan pelayanan kesehatan reproduksi yang sesuai dengan hasil International Conference on Population and Development (ICPD) di Kairo, Mesir, pada tahun 1994. Sejak itu, Program KB Nasional secara bertahap mengalami perkembangan yang cukup dinamis dan menjalani penyesuaian secara signifikan.

 

Dalam ICPD 1994, secara tegas dinyatakan bahwa penggunaan alat kontrasepsi adalah bagian dari hak-hak reproduksi yang juga merupakan bagian dari hak azasi manusia (HAM) yang universal. Hak-hak reproduksi yang paling pokok adalah hak individu dan pasangan untuk menentukan kapan akan melahirkan, berapa jumlah anak dan jarak anak yang akan dilahirkan, serta memilih sendiri upaya mewujudkan hak-hak tersebut. Itu berarti, pendekatan yang berlebihan pada target kuantitatif dan demografis menjadi tidak sesuai lagi karena cenderung menimbulkan berbagai ekses negatif.     

 

Salah satu bagian terpenting yang mendapat perhatian dalam program kesehatan reproduksi adalah pencegahan dan peanggulangan penyakit menular seksual (PMS) dan  Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndromes (HIV/AIDS). HIV/AIDS telah menjadi ancaman nasional karena jumlah penderitanya terus meningkat. Salah satu cara mengatasi penyebaran PMS dan HIV/AIDS adalah melalui kampanye penggunaan kondom yang disinergikan dengan promosi pencegahan lainnya. Namun, pada beberapa tahun terakhir, penularan HIV/AIDS melalui jarum suntik dalam pemakaian obat terlarang telah meningkat. Sebagian besar dari mereka adalah remaja pemakai obat terlarang. Laporan Departemen Kesehatan pada Desember 2002 secara akumulatif menunjukkan sudah 3,568 orang terinfeksi HIV/AIDS. Sebanyak 1,385 orang terinfeksi melalui heteroseksual, 543 orang karena jarum sintik Narkoba, 78 orang homoseksual, dan sisanya lain-lain atau tak diketahui.

 

Sementara itu, program kesehatan reproduksi remaja menjadi penting karena jumlah remaja yang besar. Menurut Sensus Penduduk 2000, jumlah remaja Indonesia (berumur antara 15 – 24 tahun) adalah 43,6 juta orang. Remaja juga merupakan sumber daya manusia yang handal dalam rangka mewujudkan keluarga berkualitas. Perilaku kesehatan reproduksi remaja saat ini cenderung kurang mendukung terciptanya remaja berkualitas. Masalah aborsi oleh remaja yang cukup tinggi di Indonesia, juga menjadi persoalan nasional tersendiri. Data menunjukkan bahwa dari sekitar 210 juta jiwa penduduk Indonesia terdapat dua seperempat juta kasus aborsi setahun. Angka aborsi di kalangan remaja diperkirakan sekitar 700,000 dampai 800,000 kasus per tahun. Tingkat kelahiran di masa remaja masih relative tinggi, yaitu sekitar 11 % dari seluruh kelahiran. Persentase remaja yang terjangkit penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS juga cenderung meningkat. Begitu pula pengetahuan mereka tentang PMS dan HIV/AIDS. Sementara sikap mereka terhadap hubungan seksual pra-nikah sudah makin toleran baik di perkotaan maupun pedesaan. Untuk itu, berbagai pihak perlu berusaha meningkatkan kesehatan reproduksi remaja Indonesia.

 

Usaha-usaha untuk memperbaikinya harus senantiasa dilakukan dan disuarakan karena dana, pusat-pusat pelayanan, kualitas pelayanannya, jumlah serta kemampuan sumber daya manusia yang tersedia masih terbatas dan masih perlu ditingkatkan kualitasnya. Demikian pula, perhatian dan usaha pemerintah daerah untuk meningkatkan upaya dan  dana untuk pencegahan PMS dan HIV/AIDS harus terus didorong. Agar upaya ini dapat berhasil dengan baik maka perlu dilakukan bersama-sama. Salah satu mitra kerja dalam advokasi ini adalah para wartawan dan editor.

 

Peran Penting Para Wartawan

 

Selama ini BKKBN mempunyai hubungan khusus dengan media. Media merupakan mitra kerja utama bagi BKKBN. Oleh karena itu BKKBN tidak akan pernah melupakan atau mengabaikan peran penting media dalam Program KB Nasional. Mengapa media massa (wartawan dan editor) menjadi partner (rekan kerja) yang penting dalam advokasi ini?

 

 1.        Media massa memiliki kemampuan khusus dan tidak dimiliki oleh yang lain, yaitu:

 

ü      Daya cari dan tangkap berita atau informasi (mempunyai armada wartawan).

ü      Daya analisa (didukung oleh staf dan editor handal serta bagian penelitian dan analisa yang akurat dan tajam).

ü      Daya ungkap (berani mengemukakan fakta).

ü      Daya tarik (tiap jenis media disukai masyarakat sesuai bidangnya).

ü      Daya jangkau (dapat menyebarkan informasi dalam waktu singkat dan secara luas).

ü      Daya membentuk opini (secara serentak dapat mempengaruhi pikiran banyak orang).

 

2.   Media massa mempunyai peran penting dalam menyebarluaskan informasi, ide atau masalah masayarakat.

3.        Mempunyai misi dan sifat keberpihakan kepada kepentingan umum (masyarakat).

4.        Bertanggungjawab.

5.        Dapat diajak bekerja sama untuk mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat.

6.        Kompak.

 

Oleh karena itu diharapkan agar media dapat berpartisipasi dalam kegiatan advokasi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di atas. Untuk maksud ini perlu diselenggarakan semi-loka mengenai topik di atas yang dilaksanakan atas kerjasama antara BKKBN dan United Nations Population Funds (UNFPA).

 

II.                TUJUAN

 

Umum:  Meningkatkan peran wartawan dan media dalam pencegahan PMS dan HIV/AIDS di Provinsi Jawa Barat.

 

Khusus: 

 

  1. Meningkatkan kepekaan dan komitmen peserta tentang perlunya upaya pencegahan PMS dan HIV/AIDS.

  1. Meningkatkan opini publik bahwa upaya pencegahan PMS dan HIV/AIDS perlu terus ditingkatkan.

  1. Mendorong pemerintah daerah untuk mengeluarkan kebijakan public tentang pencegahan PMS dan HIV/AIDS.dan meningkatkan upaya serta dana untuk pencegahan PMS dan HIV/AIDS.

  

III.             TOPIK BAHASAN DAN NARA SUMBER

 

  1. Kebijakan BKKBN (demand side) dalam upaya pencegahan PMS dan HIV/AIDS. Nara sumber: Kepala BKKBN Provinsi Jawa Barat.

  1. Komisi Penaggulangan HIV/AIDS Daerah (KPAD) Provinsi Jawa Barat.

  1. Data mutakhir Penderita PMS dan HIV/AIDS di Provinsi Jawa Barat (Dinkes Jabar). Nara sumber: Kepala Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.

  1. Paparan penderita HIV/AIDS pengguna jarum suntik Narkoba.

Nara sumber: Penderita HIV/AIDS.

  1. Tehnik pemberitaan yang menarik dan berbobot berdasarkan data yang akurat dan langsung dari sumbernya. Nara Sumber; Dosen Universitas Padjadjaran, Jurusan Komunikasi Massa.

 

IV.      PROSES

 

Untuk mendapat hasil yang maksimal, kegiatan seminar ini akan dilakukan melalui proses sebagai berikut:

 

  1. Nara sumber BKKBN Provinsi Jawa Barat mengemukakan:

(a)    Kebijakan yang ada dalam upaya pencegahan PMS dan HIV/AIDS;

(b)   Strateginya;

(c)    Kegiatan-kegiatan  yang telah, sedang dan akan berlangsung;

(d)   Siapa saja target sasarannya;

(e)    Berapa jumlah dana kegiatan ini tahun 2002 dan 2003.

 

  1. Nara sumber Dinas Kesehatan provinsi Jawa barat akan mengemukakan:

(a)    Data mutakhir penderita PMS dan HIV/AIDS di provinsi Jawa Barat, termasuk yang tertular melalui jarum suntik Narkoba.

(b)   Data PMS diperinci seperti jumlah penderita Syphilis, Gonorrhoea, atau Chlamydia.

(c)    Penderita laki-laki dan perempuan, umur, pekerjaan, dll;

(d)   Data diperoleh dari laporan kantor-kantor dinas kesehatan kabupaten atau pengkajian baik di lapangan maupun perpustakaan.

(e)    Laporan juga disertai perkembangan jumlah penderita setiap bulan pada tahun 2003 dan setiap tahun untuk tahun-tahun sebelumnya.

 

  1. Paparan penderita HIV/AIDS pengguna jarum suntik Narkoba akan berisi antara lain:

(a)    latar belakang dan lingkungan kehidupan; pendidikan dan pekerjaan; mengapa menjadi pecandu narkotik;

(b)   Bagaimana tertular dan dari mana tahu telah tertular HIV/AIDS.

(c)    Bagaimana perasaannya ketika tahu dia tertular HIV/AIDS? Sedih, takut, gamang, kecewa, malu, menyesal, dll.

(d)   Apa punya pacar? Bagaimana tanggapannya?

(e)    Bagaimana kehidupannya sekarang dan kegiatan apa yang dilakukan saat ini? Apa yang mndorongnya melakukan kegiatan ini?

(f)     Pesan-pesan apa yang ingin disampaikan penderita tersebut kepada orang lain?

 

  1. Berdasarkan sajian nara sumber dan paparan penderita HIV/AIDS, ahli komunikasi akan memberi arah tentang:

(a)    Bagaimana membuat judul berita;

(b)   Bagaimana meramu data-data atau informasi  yang ada;

(c)    Bagaimana mengemas data agar menarik perhatian pembuat kebijakan;

(d)   Apa saja yang perlu mendapat perhatian khusus;

(e)    Alasan apa saja yang harus diperhatikan;

(f)     Apa akibatnya bila tidak diperhatikan secara serius;

(g)    Apa dampaknya secara local, nasional, regional dan global?

 

  1. Berdasarkan masukan di atas peserta menulis artikel untuk dimuat di surat kabar atau media lainnya.

V.        BAHAN-BAHAN

Bahan-bahan kegiatan adalah:

  1. Paper yang disajikan oleh para pembicara.
  2. Paparan penderita HIV/AIDS pengguna jarum suntik Narkoba
  3. Buku sumber: Keluarga Berencana, Kualitas Pelayanan Keluarga Berencana, dan Kesehatan Reproduksi.

VI.       WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN

Kegiatan ini akan diselenggarakan pada:

 Hari/Tanggal : 23 September 2003         

 Jam     :  08.00 - Selesai                    

       Tempat:  Hotel Jayakarta  

      

VII.      PESERTA

Jumlah peserta adalah.50 orang yang terdiri dari Wartawan dan Editor Media Massa dan Pejabat Pemda Esselon II, Kantor Dinas/Badan Terkait.

 

Dengan rincian sebagai berikut;

Peserta tingkat provinsi:            30 orang           (Termasuk Kota/Kabupaten Bandung,                                                                                     

Peserta dari kabupaten:             20 orang           (Termasuk Kabupaten Sumedang, Purwakarta                                                                             dan Subang): Garut, Tasikmalaya, Ciamis,                                                                                 Majalengka, Kuningan, Indramayu,                                                                                       Kota/Kabupaten Cirebon)

 

VIII.     PENYELENGGARA

 

Seminar ini diselenggarakan atas kerja sama antara BKKBN Provinsi Jawa Barat dan UNFPA.

 

 

IX. LAPORAN

 

Laporan seminar yang terdiri dari (1) Laporan Pelaksanaan Kegiatan dan (2) Laporan Keuangan (SPJ) harus dibuat paling lambat 2 minggu setelah tanggal pelaksanaan kegiatan..

 

(1). Laporan Pelaksanaan Kegiatan berisi:

  1. Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan

  2. Pembentukan Panitia Pelaksana

  3. Undangan Kepada Pembicara

  4. Makalah  yang disajikan oleh tiap-tiap pembicara dan rekaman tertulis penyaji.

  5. Laporan hasil diskusi, pertanyaan peserta dan jawaban nara sumber, serta kesimpulan seminar

  6. Daftar peserta, lembaga dan tanda tangan peserta yang hadir

  7. Fotocopy kliping surat kabar yang memuat artikel tentang PMS dan HIV/AIDS

  8. Foto pelaksanaan kegiatan

 

(2). Laporan Keuangan:

a.       Laporan keuangan harus sesuai dengan rincian persetujuan dana yang dikeluarkan oleh BKKBN Pusat.

b.      Bukti pembayaran yang asli dan satu fotocopy-nya (Untuk keperluan audit keuangan yang dilakukan di BKKBN Pusat).

c.       Untuk biaya ATK dan Penggandaan harus dibuatkan perincian tentang jenis dan jumlah barang-barang yang dibeli dilampiri dengan nota atau faktur pembelian.

d.      Pembukuan keuangan dilakukan dengan buku kas kecil secara khusus. Fotokopi Buku Kas kecil ini harus dikirim ke Jakarta.

X.        ANGGARAN

       Dana untuk kegiatan ini diambil dari Anggaran Proyek bantuan UNFPA INS/06/03/02: RH-PDS Advocacy Aimed at Decision Makers and the Media, Advocacy Seminar for Decision Makers, budget line (BL) 32-05.

File: C:/My DocumentWartawanJabar2003

 

 

(Source : Bambang Samekto, edited by: idjaz, 12/09/2003)

 

 

1