Ekonomi

Senjakala Globalisasi?

Oleh Padang Wicaksono

Sidang Tahunan IMF-Bank Dunia yang berlangsung di Washington beberapa waktu lalu mendiskusikan beberapa agenda penting. Di antaranya, membahas tentang protes negara berkembang atas kebijakan proteksi negara maju, sementara lainnya membahas krisis ekonomi negara berkembang. Turbulensi ekonomi yang silih berganti menerpa berbagai kawasan, mulai dari Amerika Latin, Afrika, Asia, Eropa, bahkan hingga pilar kapitalisme global Amerika Serikat, semakin menguatkan kritik atas dampak negatif globalisasi.

Akar Globalisasi

Berbicara tentang globalisasi atau perdagangan bebas tentu tidak terlepas dari Pertemuan Bretton Woods. Syahdan, Juli 1944 menjelang takluknya Bala Tentara Dai Nippon dan Tentara Nazi-Hitler Jerman, para pemimpin negara-negara Barat berkumpul di New-Hampshire untuk membicarakan tatanan dunia baru pasca-Perang Dunia (PD) II.

Dalam pertemuan itu dihasilkan kesepakatan untuk membentuk tiga lembaga multilateral, yang kelak paling berpengaruh di muka bumi, yakni Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia(World Bank), dan General Agreement on Tariffs and Trade(GATT)/World Trade Organization(WTO). Ketiga lembaga tersebut diharapkan mampu menyelamatkan ekonomi dunia dari reruntuhan PD II.

Pertemuan Bretton Woods itu sendiri tak terlepas dari kepentingan Amerika Serikat (AS) untuk meluaskan pengaruhnya. Dengan dukungan akumulasi kapital, penguasaan teknologi, dan segudang intelektual terkemuka, AS memiliki segala amunisi untuk tampil sebagai kekuatan utama ekonomi dunia menggantikan The Great Britain yang kian redup.

Prinsip Globalisasi

Pertama, sebagaimana hasil Pertemuan Bretton Woods, keinginan untuk menyatukan seluruh aktivitas ekonomi negara-negara di bumi ini ke dalam suatu sistem yang satu dan homogen. Kedua, untuk mempercepat proses globalisasi ekonomi maka diperlukan pembangunan (development) berikut turunannya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Ketiga, oleh karena campur tangan pemerintah dianggap sebagai tindakan inefisien maka privatisasi menjadi sebuah keniscayaan. Keempat, mengutamakan aktivitas produksi yang berorientasi ekspor.

Pilar Globalisasi

Pertama, dalam tataran konsep, para ekonom neoliberalis sangat gandrung akan ide tentang globalisasi. Salah satu ikon ekonom liberalis adalah Milton Friedman, profesor ekonomi dari University of Chicago yang berhasil meraih hadiah Nobel tahun 1976 berkat ketekunannya dalam menganalisis konsumsi, teori dan sejarah moneter, dan kebijakan stabilisasi. Pemikiran Friedman yang terkenal adalah tentang Laissez-Faire di mana dia menghendaki minimnya campur tangan pemerintah dan lebih mendorong kebebasan individu untuk berusaha. Campur tangan pemerintah dipandang sebagai suatu pemborosan ekonomi belaka (Friedman, 1980). Oleh karena Friedman adalah seorang ekonom terkemuka dan brilian, maka pemikirannya banyak menjadi referensi para pemerhati ekonomi.

Kedua, pada tataran kelembagaan, ide globalisasi ditopang oleh tiga lembaga multilateral atau dikenal sebagai Bretton Woods Institution, yakni IMF, Bank Dunia, dan GATT yang kemudian berubah menjadi WTO. Dalam paket Kebijaksanaan Penyesuaian Struktural (Structural Adjustment Programs) IMF maupun Bank Dunia selalu menekankan pada privatisasi BUMN dan liberalisasi pasar domestik sehingga memungkinkan perekonomian domestik terintegrasi dengan perekonomian global.

Ketiga, pada tataran diplomasi, pemerintah Amerika Serikat (baik Partai Republik maupun Demokrat) dan Inggris merupakan juru bicara utama dari ”The Religion of Globalization”. Harry S. Truman, Reagan, Clinton, Thatcher, maupun Tony Blair adalah juru kampanye globalisasi yang paling fasih.

Keempat, pada tataran operasional, perusahaan multinasional (MNC) adalah salah satu pilar utama globalisasi. Berkat aktivitas produksi dan pembiayaan yang melintasi batas negara dengan dukungan skill, pengalaman, dan teknologi maka telah terjadi pemusatan kekayaan di tangan beberapa MNC. Dari daftar 100 besar pelaku ekonomi dunia (tidak hanya negara) 52 di antaranya adalah MNC sementara 48 sisanya adalah negara (Institute for Policy Studies, 2000). Pernahkan Anda membayangkan bahwa Produk Domestik Bruto Indonesia ternyata lebih kecil daripada omzet General Motor? Ini adalah fakta.

Kelima, pada tataran komunikasi massa, peran media memang sangat berperan besar dan efektif dalam kampanye globalisasi. Robert Parry menyoroti peran media massa dalam pembentukan opini umum sangat signifikan (Parry, 2000).

Siapa Yang Beruntung?

Pertama, kelompok nasionalis sangat diuntungkan dengan isu globalisasi. Bagi kelompok nasionalis, globalisasi dipandang sebagai kekuatan asing yang hendak mengancam eksistensi nation-state. Isu ini dimanfaatkan sebagai amunisi baru untuk mencari musuh bersama guna konsolidasi kekuatan politik. Tak jarang isu anti-asing digunakan sebagai perisai dalam menutupi praktik-praktik rente ekonomi dan kapitalisme kroni.

Kedua, kelas menengah terdidik dengan strata pendidikan tinggi tentu mendapat manfaat banyak dari globalisasi. Berbekal skill, knowledge, dan ditunjang oleh kemampuan akademis maka kelompok ini dapat bergerak leluasa melintasi batas negara baik dalam posisi sebagai professional management maupun sebagai entrepreneur.

Ketiga, seperti telah dijelaskan di muka, MNC dan para investor global sangat menikmati ”manisnya” globalisasi oleh karena penguasaan informasi pasar, pengalaman, dan dukungan finansial yang tangguh. Kekuatan para pemilik modal ini lebih dahsyat dari mobilitas modal itu sendiri (Winter, 1996).

Globalisasi dalam Fakta

Mimpi globalisasi adalah meningkatkan kemakmuran penduduk jagat bumi ini. Namun antara mimpi dan realitas ternyata terjadi perbedaan yang sangat tajam. Pertama, kemiskinan semakin meningkat. Perdebatan globalisasi hanya berkisar pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan dunia, namun mengabaikan humanity. Sebagai catatan perenungan, bila dibandingkan dengan satu dekade lampau, semakin banyak jumlah orang yang menjadi miskin atau dalam proses menuju kemiskinan di negara-negara berkembang (The World Bank, 1999).

Kedua, ketimpangan antara negara kaya dan negara miskin yang terus melebar. Dalam sejarah umat manusia, revolusi teknologi dan liberalisasi keuangan memang telah meningkatkan volume perdagangan dunia namun di sisi lain akumulasi kapital yang diperoleh kelompok kaya tidak sebanding dengan the losing ground yang menimpa kelompok marginal (Wade, 2001).

Ketiga, di luar dugaan dampak negatif globalisasi juga menghantam AS. Sebagai kampiun MNC dan kapitalisme global, pertumbuhan ekonomi tinggi semasa Clinton tidak sertamerta menghasilkan trickle down effect bagi kalangan bawah. Ketimpangan ekonomi antara warga kaya dan miskin semakin melebar dan terburuk dalam sejarah AS (Freeman, 1999).

Keempat, terjadinya konsentrasi kekayaan di tangan korporasi. Bayangkan, kekayaan Bill Gates sekitar US$ 100 miliar telah melebihi produk domestik bruto Filipina yang hanya bernilai US$ 57 miliar. Akumulasi kapital yang diperoleh Bill Gates terjadi sebagai akibat dari kemampuan Microsoft yang mendominasi pasar software dunia dan proteksi terselubung berupa hak paten. Bila Bill Gates melempar sepersepuluh kekayaannya ke dalam pasar valas Indonesia dan melakukan spekulasi atas rupiah maka tak terbayangkan apa yang terjadi dengan mata uang kita.

Belakangan, negara-negara maju telah menjilat ludahnya sendiri dengan melakukan langkah-langkah proteksi, baik yang terselubung maupun terang-terangan, demi melindungi kepentingan industri dalam negerinya. Kebijakan proteksionisme itu sendiri tentu bertentangan dengan prinsip liberalisme yang selalu mereka gembar-gemborkan.

Penulis adalah pengamat ekonomi pada Graduate School of Economics, Saitama University, Jepang

Copyright © Sinar Harapan 2002

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0210/15/opi02.html

Kembali