15 Juli 1996 
kalau kau datang
hatiku senang berbunga-bunga
bulan dan bintang
terangi malam sehabis hujan
saling bicara, tukar cerita berbagi rasa
aku disini tetap di tepi masih bernyanyi
dunia sedang dilanda kalut
alam semesta seperti merintih
kau dengarkan aku tak bisa 
untuk tak peduli hatiku tersiksa
aku bersumpah untuk berbuat yang aku bisa
harus ada yang dikerjakan
agar kehidupan berjalan wajar
hidup kita hanya sekali wahai kawan
aku tak mau mati dalam keraguan

Belalang Tua

Belalang tua diujung daun warnanya kuning kecoklat-coklatan
Badannya bergoyang ditiup angin
Mulutnya masih saja mengunyah tak kenyang-kenyang
Sudut mata kananku tak sengaja melihat belalang tua yang rakus
Sambil menghisap dalam rokokku
Kutulis syair tentang hati yang khawatir
Sebab menyaksikan akhir dari kerakusan
Belalang tua yang tak kenyang-kenyang
Seperti sadar kuperhatikan, ia berhenti mengunyah
Kepalanya mendongak keatas
Matanya melotot melihatku tak senang kakinya mencengkeram daun
Empat di depan dua di belakang bergerigi tajam
Sungutnya masih gagah menusuk langit berfungsi sebagai radar
Belalang tua masih saja melihat marah ke arahku
Aku menjadi grogi dibuatnya aku tak tahu apa yang dipikirkan
Tiba-tiba angin berhenti mendesir daunpun berhenti bergoyang
Walau hampir habis daun tak jadi patah
Belalang yang serakah berhenti mengunyah
Kisah belalang tua diujung daun Yang hampir jatuh tetapi tak jatuh
Kisah belalang tua yang berhenti mengunyah
Sebab kubilang kamu serakah
Oo .. oo .. oo .. oo belalang tua diujung daun
Dengan tenang meninggalkan harta karun
Warnanya hijau kehitam-hitaman
Berserat berlendir bulat lonjong sebesar biji kapas
Angin yang berhenti mendesir
Digantikan hujan rintik-rintik
Aku yang menulis syair
Tentang hati yang khawatir
Tak tahu kapan kisah ini akan berakhir

Dendam Damai   

Tak habis pikir aku tak mengerti
Mengapa ada orang yang senang membunuh
Hanya karena uang semata
Atau demi kuasa dan nama
Bagi kita rakyat biasa
Tak berdaya ditodong senjata
Mencuri hidup yang hanya sekali
Hanya berdoa yang kita bisa
Dendam-dendam celaka
Menghasut kita tak jemu menggoda
Damai-damai dimana
Bersembunyi tak ada wujudnya
Kapan berakhirnya situasi seperti ini
Tidak bisakah kita saling berpelukan
Bukankah indah hidup bersama
Saling berbagi saling menyinta
Terasa hangat sampai ke jiwa
Memancar ke penjuru dunia
Jangan goyah percayalah teman
Perang itu melawan diri sendiri
Selamat datang kemerdekaan
Kalau kita mampu menahan diri
Hanya karena itu semua
Rela hancurkan tanah tercinta

Di Ujung Abad  
         Cerita kuno tentang peperangan
         Diujung abad menghantui setiap orang
         Peralihan banyak memakan korban
         Sementara segelintir tuan-tuan tertawa girang
         Kekuasaan sudah menjadi tuhan
         Pengkhianatan adalah panglima perang
         Kesetiaan jadi janji murahan
         Kisah inilah dongeng tidur bayi-bayiku
         Bertahan hidup harus bisa bersikap lembut
         Walau hati panas bahkan terbakar sekalipun
         Keluh kesah ini mungkin berguna
         Jadikan teman sejati di medan juang
         Bisa jadi kita bosan tapi kenyataan
         Badai datang tak bosan-bosan
         Waspadalah kawan perjuangan masih panjang
         Oi .. oi .. oi ..
         Cerita kuno tentang peperangan
         Di ujung abad menghantui setiap orang
         Kesetiaan jadi janji murahan
         Kisah inilah dongeng tidur bayi-bayiku

Doa 
         Berjamaah menyebut asma Allah
         Saling asah saling asih saling asuh
         Berdoalah sambil berusaha
         Agar hidup tak jadi sia-sia
         Badan sehat jiwa sehat
         Hanya itu yang kami mau hidup berkah penuh gairah
         Mudah-mudahan Allah setuju
         Inilah lagu pujian nasehat dan pengharapan
         Dari hati yang pernah mati
         Kini hidup kembali

Hadapi Saja 
         Relakan yang terjadi takkan kembali
         Ia sudah milikNya bukan milik kita lagi
         Tak perlu menangis tak perlu bersedih 
         Tak perlu sedu sedan itu
         Hadapi saja
         Pasrah pada Illahi hanya itu yang kita bisa
         Ambil hikmah ambil indahnya
         Cobalah menari cobalah bernyanyi 
         Cobalah cobalah mulai detik ini
         Hilang memang hilang wajahnya terus terbayang
         Berjumpa di mimpi
         Kau ajak aku menari, bernyanyi
         Bersama bidadari malaikat dan penghuni surga

Kupu-Kupu Hitam Putih  
         Menunggu matahari terbit dimusim hujan
         Mendung menjadi teman ada juga keindahannya
         Butir embun yang ada di daun bagai intan berlian
         Lebih riang ia berkilauan
         Karena matahari tertutup awan
         Suara burung di dahan nyanyian alam
         Bekerja ia mencari makan
         Ada juga yang membuat sarang
         Iri aku menyaksikan itu
         Tapi kutekan aku harus bersyukur
         Berguru pada kenyataan
         Pada makhluk tuhan yang katanya tak berakal
         Mendung datang lagi setelah hangat sebentar
         Butir embun hilang aku jadi termenung
         Mencari pegangan mencoba untuk bersandar
         Langit makin hitam aku jadi berharap pada hujan
         Kupu-kupu hitam putih terbang di sekitarku
         Melihat ia menari hatiku terpatri
         Sepasang merpati bercumbu di balik awan
         Kemudian ia turun menukik sujud syukur padanya
         Kupu-kupu hitam putih terbang di sekitarku
         Melihat ia menari hatiku terpatri

Seperti  Matahari 
         Keinginan adalah sumber penderitaan
         Tempatnya di dalam pikiran
         Tujuan bukan utama
         Yang utama adalah prosesnya
         Kita hidup mencari bahagia
         Harta dunia kendaraannya
         Bahan bakarnya budi pekerti
         Itulah nasehat para nabi
         Ingin bahagia derita didapat
         Karena ingin sumber derita
         Harta dunia jadi penggoda
         Membuat miskin jiwa kita
         Ada benarnya nasehat orang-orang suci
         Memberi itu terangkan hati
         Seperti matahari
         Yang menyinari bumi
         Yang menyinari bumi

Suara Hati 
         Apa kabar suara hati
         Sudah lama baru terdengar lagi
         Kemana saja suara hati
         Tanpa kau sepi rasanya hati
         Kabar buruk apa kabar baik
         Yang kau bawa mudah-mudahan baik
         Dengar dengar dunia lapar
         Lapar sesuatu yang benar
         Suara hati kenapa pergi
         Suara hati jangan pergi lagi
         Kau dengarkah orang orang yang menangis
         Sebab hidupnya dipacu nafsu
         Kau rasakan sakitnya orang yang tertindas
         Oleh derap sepatu pembangunan
         Kau lihatkan pembantaian
         Demi kekuasaan yang secuil
         Kau tahukah alam yang kesakitan
         Lalu apa yang akan kau suarakan
         Suara hati kenapa pergi
         Suara hati jangan pergi lagi

Untuk Para Pengabdi
         Kesetiaan          masih ada
         Setidaknya menjadi cita-cita
         Itu sebabnya aku disini menemanimu
         Siang malam kuberjaga
         Di relung hatimu di dalam benakmu
         Di setiap langkahmu mudah2an begitu
         Silahkan engkau tertawa sepuas hatimu
         Ku takkan pernah berpaling
         Karena hinaan itu
         Bahagia rasanya kalau engkau berduka
         Untuk pengabdi lagu para pengabdi
         Di puncak gunung
         Di tengah-tengah samudera
         Di dalam rimba
         Di kebingungan desa dan kota 
         Ya .. ya .. ya .. ya 

Untukmu Negeri
         Perihnya masih terasa sakitnya tak terhingga
         Nafsu ingin berkuasa sungguh mahal ongkosnya
         Apapun yang akan terjadi aku tak akan lari
         Apalagi bersembunyi takkan pernah terjadi
         Air mata darah telah tumpah
         Demi ambisi membangun negeri
         Kalaulah ini pengorbanan
         Tentu bukan milik segelintir orang
         Belum cukupkah semua ini
         Apakah tidak berarti lihatlah wajah ibu pertiwi
         Pucat letih dan sedihnya berkarat
         Berdoa terus berdoa
         Hingga mulutnya berbusa-busa
         Ludahnya muncrat saking kecewa
         Ibu pertiwi hilang tawanya tak percaya masih ada cinta
         Seluruh hidupku jadi siaga
         Pagar berduri kutancapkan di hati
         Untukmu negeri – yang telah memberi arti
         Untukmu negeri – yang telah melukai ibu kami
         Untukmu negeri – yang telah merampas anak kami
         Untukmu negeri – yang telah memperkosa saudara kami
         Untukmu negeri – waspadalah untukmu negeri – bangkitlah
         Untukmu negeri – bersatulah
         Untukmu negeri – sejahteralah
         Kamu negeriku sejahteralah kamu
1