Halaman  1  2  3  4  5  6  7  8  9

 

 

Yang Bernama Pilihan

Dhuaar!!! Dentuman ketiga malam ini. Uh…menyebalkan, apa yang dipikirkan oleh para bangsat itu! Tidak cukupkah gangguan yang mereka lakukan disiang hari, sampai waktu untuk istirahat pun mereka ganggu. Menyebalkan!

Umph…mungkin malam ini aku harus begadang lagi, gara-gara ledakan itu. Siapa yang bisa nyenyak kembali setelah mendengan ledakan itu. Mungkin segelas susu hangat akan membuat perasaanku menjadi lebih baik. Dhuaarr!! Lagi-lagi dentuman itu, entah rumah siapa yang hancur malam ini, entah berapa jiwa yang akan bertemu Sang Khalik, dan entah kapan giliran jiwa ini.

Susu habis! Menyebalkan, mengapa aku lupa membelinya tadi siang? Semakin tertumpuk kekesalan dihati ini. Tapi sudahlah, walaupun aku ingat untuk membelinya belum tentu barang tersebut ada. Bukankah sudah lama aku menyadarinya kalau kebutuhan hidup adalah bahan yang sangat langka di negara ini.

Antrian panjang di depan sebuah toko bukanlah hal yang aneh disini, bisa dikatakan itulah pemandangan sehari-hari. Seseorang yang melihat ada antrian di depan sebuah toko tanpa pikir panjang akan langsung ikut mengantri, tanpa tahu apa yang sedang dijual.

Kehidupanku disini bisa dikatakan sangat menguntungkan dibandingkan yang lain. Aku masih memiliki sesuatu untuk dimakan, walau hanya sekadarnya. Aku juga masih memiliki tempat yang disebut rumah, sesuatu yang menjadi impian kebayakan penghuni tanah ini.

Pada saat seperti ini, saat aku gelisah tak bisa tidur, pikiranku kembali melayang ke masa ketika aku masih dapat merasakan kehangatan sebuah tempat yang bernama rumah.

Rumah, yang dulu hanya kuanggap sebagai tempat dimana aku kembali, tapi tak kusangka sekarang itulah tempat yang sangat kurindukan. Dulu aku saat membenci kuliahan panjang tentang kemanusian yang diberikan ayah pada saat kami bergelung didepan perapian, ternyata hatiku sangat merindukan obrolan dan kuliahan ayah.

Godaan ibu yang sering membangkitkan kekesalahku, hingga aku selalu dikatakan anak-anak yang tak pernah akan dewasa. Dulu setiap ibu mulai menggodaku aku akan berlari ketempat ayah. Dan setelah itu ibu akan datang dengan sepiring kue yang masih hangat dan minuman hangat, dan dapat ditebak pada akhirnya kami akan bercanda bersama. Ahh masa itu, sungguh sangat kurindukan. Entahlah, mungkin hidup sedang mempermainkanku. Segala rutinitas yang dulu kurasa sangat menjemukan saat ini menjadi sesuatu yang kurindukan. Sarapan pagi made in ibu yang sangat enak, teriakan ayah menyuruhku bergegas bila tak mau ditinggal, saat berbelanja bersama ibu, kuliah, senyuman ibu yang selalu menyambut kepulanganku. Semua itu, aku sangat merindukan semua itu.

Dhuarr!! Ledakan lagi, entah yang keberapa kali untuk malam ini, menyadarkanku dari lamuanan, kenangan masa lalu yang menyenangkan. Semua kenangan yang menampar keteguhan pilihan hidupku ini. Masih terbayang dengan jelas ekspresi ayah dan ibu saatku ungkapkan keputusan ini pada hari wisudaku. Pandangan ketidaksetujuan ayah, kuliahan panjang tentang pilihanku, pilihan yang telah kubuat dengan segala pertimbangan, sebuah pilihan yang membawa seluruh impianku.

Masih terasa hangatnya air mata ibu saat memelukku untuk terakhir kalinya, sebelum melepasku pergi. Walaupun berat, namun mereka tetap mengizinkan bahkan merestui pilihanku, karena mereka sangat mengerti bahwa inilah pilihan hidupku, inilah impianku, impian putri semata wayang mereka.

Sekarang, inilah hasilnya. Aku harus hidup serba kekurangan.

Aku tidak menyesali pilihanku, walau tidak sesuai dengan harapanku, tapi inilah hidupku. Tidak, aku tidak menyesali pilihanku, hanya sulit sekali rasanya beradaptasi disini, semua serba kekurangan bahkan jariang ponsel dan internet saja sulit, nyaris tak ada, tapi aku akan tetap bertahan karena inilah pilihan hidupku.

Dhuaar!!! Lagi-lagi, apa mereka tidak pernah puas??? Berapa nyawa yang harus menjadi korban hingga semua ini berakhir? Jujur, aku mulai muak dengan keseharianku, ledakkan, rentetan senapan, dan darah. Tapi sekali lagi ini tidak membuatku menyesali keputusanku, aku hanya muak, rasanya disni nyawa manusia menjadi tidak berharga sama sekali.

“Tok..tok..!!” gedoran keras dipintu. Mebuatku kembali ke alam nyata.

“Panggilan tugas,” bathinku berkata, “yach, banyak yang harus diselamatkan disini.”

“Dokter…Dokter” teriakan mereka yang dibalik pintu, tak sabar.

“Ya, ada apa???” pertanyaan bodoh, bukankah aku sudah tahu mengapa mereka memanggilku pada pukul 3 pagi.

“ Ada korban ledakan, mereka…” seperti yang kubayangkan.

“ Baik, aku akan segera kesana, duluanlah” segera aku berlari, dengan terburu-buru aku mengganti piayamaku dengan celana dan kemeja, sambil tergesa kusambar jilbab dan peralatan dokterku. Ada yang sedang menanti pertolongan.

“Allah, tolonglah hambamu ini” rintihan doa dalam kalbuku

Dalam perjalanan, dengan masih diiringi dengan suara ledakan, terbayang dibenakku, persedian pembalut yang kian menipis, kain kasa, obat-obatan, bahkan obat biuspun hamper tak bersisa, bahkan pisau bedahku telah berbercak merah, terlalu seringku pergunakan, Ah…entah kapan pesanan peralatan dan obat-obatan akan sampai, sebelum itu tiba, berapa banyak lagi yang harus kuoperasi tanpa pemati rasa dengan pisau bedah yang tidak disterilisasikan, berapa banyak korban yang harus mengalami infeksi karena pembalut luka yang seadanya?

“ Kenapa pasien?” tanyaku

“ Dadanya terkena pecahan kaca, Dokter”

“Coba lihat apakah paru-parunya menguncup?” Ah… tidak ada prosedur rontgen seperti yang seharusnya.

Kuamati vena juglaris. Tampak ada kenaikan volume darah didalamnya.”terjadi distensi. Mungkin ada penetrasi pada perikardimnya,” aku bergumam lirih.

Berarti kantung yang melindungi jantung telah berisi darah, sehingga menekan jantung dan menyebabkan jantung tak dapat berdenyut dengan teratur.

“Tekanan darah pasien menurun”

“Masukkan pipa ke saluran napas dan tiup paru-parunya.Anestesi pasien, kita akan mengoperasinya. Intubasi dia.”

“Tapi dokter persedian anestesi kita,..”

“ Sekarang” ujarku sambil mendorong sebuah pipq endotrakheal masuk ke batang tenggorokan pasien yang sudah tak sadarkan diri.Kupijit dengan irama teratur kantung diujung pipa itu, berusaha memasukkan udara ke paru-paru.

“Ia hampir mati”

“Kita akan melakukan thorakotomi. Pisau.”

Aku memegang dan mengiris dada itu membujur. Hampir tak ada darah yang keluar, karena jantungnya terjepit dalam perikadium.

“Retraktor.”

Kuselipkan kedalam dada pasien untuk merentang tulang iganya.

“Gunting, mundur.”

Aku maju lebih dekat sehingga dapat mencapai kantung pericardial. Menusukkan gunting kedalamnya, hingga dari terbebas dari kukungan kantung jantung dan menyembur keluar, mengenai diriku dan para perawat. Aku memegang dan mulai memijit jantung tersebut.Alat pemantau mulai berdenyut, dan nadinya mulai teraba.

“Transfusi-seribu cc.”

Alhamdulillah malam ini sebuah nyawa terselamatkan atas izin Allah. Ya inilah jalan hidup yang kupilih, mengabdikan diriku sebagai seorang dokter di daerah yang tak menentu,tempat yang dihindari oleh sebagian besar manusia waras, tapi ditempat inilah aku akan berusaha mengobati mereka yang terluka. Malam ini sebuah nyawa terselamatkan, tetapi perjalanan masih panjang, banyak yang masih membutuhkan pertolongan dan bantuan. Inilah jalan hidup yang kupilih. Dokter medan perang.

Created by dee_Ya, 09 Oct 2004 temanku dari aceh

 

1