Artikel - Perpuluhan

Artikel

 

-. Perpuluhan .-

Oleh
Pdt. Budimoeljono Reksosoesilo



Perpuluhan adalah jenis persembahan yang diajarkan Alkitab. Namun, mengapa cukup sering dipertentangkan? Apakah perpuluhan sudah tidak relevan lagi? Sejauh mana perpuluhan dapat dilakukan? Bagaimanakah perpuluhan seharusnya dijalankan? Dalam artikel pendek ini, kita akan mempelajari hakikat perpuluhan dalam kehidupan orang percaya. Pertama-tama akan dibahas asal mula perpuluhan mulai dari peradaban dunia secara umum ke peradaban umat Allah sebagaimana dicatat Alkitab, kemudian dibandingkan dengan berbagai bentuk persembahan yang diatur Alkitab, dan selanjutnya adalah esensi, tujuan, makna dan teknik mempersembahkan.

Asal Mula


Sebagai langkah awal memahami konsep persembahan perpuluhan, perlu lebih dahulu diketahui asal mula tradisi perpuluhan. Akan dibandingkan praktik perpuluhan di antara bangsa-bangsa yang hidup di jaman permulaan.

Bagi bangsa-bangsa Timur Dekat (Near Eastern), seperti: Mesir, Syria, Lydia, Babylonia, Asyur, juga ada tradisi semacam "perpuluhan" yang berfungsi sebagai Upeti atau pajak dari bangsa/kaum yang lebih lemah kepada kaum yang berkuasa. Dalam praktiknya, didapati motif politis dan ekonomis. Bangsa-bangsa yang lebih kecil, secara politis, berkewajiban untuk melaksanakan "perpuluhan" kepada bangsa yang menjajahnya. Selain itu, "perpuluhan" yang diberikan akan menambah nilai ekonomis dalam hubungan dagang di antara kedua negara, yakni menjadi semacam "penyuapan", untuk melancarkan segala urusan dagang.

Bagi umat Allah, perpuluhan bukanlah upeti, atau pajak, atau kewajiban politis, demikian juga bukan penyuapan agar urusan dagangnya lancar, melainkan merupakan proses menyadari diri sebagai umat yang setia kepada Allah yang berhak atas segala milik-Nya. Untuk memahami "proses" ini, berikut adalah kronologi pengajaran Allah akan perpuluhan sebagaimana dicatat dalam Alkitab.

Proses ini tampak sejak Allah menciptakan alam semesta, yakni Ia yang melengkapi alam semesta dengan kekayaan:

Seluruh kekayaan dalam alam semesta dibuat oleh Allah untuk menggambarkan kemuliaan-Nya (Kej.1:11,16-18,20,24,29-31). Berbagai sumber alam disediakan Allah untuk memperkaya kehidupan manusia di muka bumi, mulai dari tanaman, hewan, hingga bahan-bahan pertambangan yang pada waktunya bermanfaat bagi kemajuan dan kelangsungan hidup manusia di bumi.

Namun, akibat dosa masuk ke dalam dunia dan mencemari segala ciptaan, Allah mengutuk tanah -yaitu tempat penambangan dan pengembangan kekayaan di bumi (Kej.3:1-7,17-19). Allah murka dan mengutuk "tanah" sebagai akibat perbuatan dosa (Kej.3:17).

Tapi ternyata kutukan Allah tidak meredakan niat jahat manusia untuk selalu berbuat dosa, justru sebaliknya manusia semakin gila membuahkan berbagai tindakan dosa. Sehingga, di jaman Nuh, Allah menghukum dengan menenggelamkan dunia (Kej.6).

Meski demikian jahatnya manusia, Allah tetap dengan rencana keselamatan-Nya (band. Kej.3:15). Sehingga begitu usai penghukuman, Allah sekali lagi menegaskan janji dengan memberkati dan memelihara kembali ciptaan-Nya (Kej.8:17-19,22). Berkat dan janji ulang pemeliharaan-Nya meneguhkan bahwa kekayaan diberikan Allah sekali lagi bagi manusia di dalam dunia.

Ada harapan baru. Allah memanggil satu bangsa yang dikehendaki-Nya untuk menerima dan mengelola Tanah Perjanjian (Ul.2:5,10-12,20-23,31), yang menjadi harapan baru bagi umat manusia. Ia memilih satu bangsa dan diberikan-Nya "tanah" - sebagai lahan berkat Allah bagi kehidupan manusia. Dipanggillah Abraham dengan keturunannya hingga akhirnya seluruh umat manusia, yang melaluinya, diberkati Allah (Kej.12). 

Dari hasil tanah, dikehendaki Allah supaya Israel mengungkapkan terima kasihnya melalui persembahan perpuluhan (Ul.26:1, dst).

Aneka Persembahan


Ada berbagai jenis persembahan, di jaman Perjanjian Lama:

1) Persembahan Bakaran
Persembahan jenis ini merupakan korban pendamaian umat terhadap Allah (Im.1:1-17). Binatang pilihan terbaik dipersembahkan dengan cara dibakar.
2) Persembahan Sajian
Persembahan dari tepung, minyak dan kemenyan, yang terbaik, diberikan untuk menyenangkan hati TUHAN (Im.2:1-16).

3) Persembahan Keselamatan
Persembahan yang diambil dari binatang ternak, seperti lembu misalnya, harus yang terbaik atau tak bercela yang kemudian dibakar sebagai korban keselamatan (Im.3:1-17).

4) Persembahan Penghapus Dosa
Persembahan berikut ini juga dari binatang ternak yang terbaik, untuk menebus dosa (Im.4:1-5:13).

5) Persembahan Penebus Salah
Sekali lagi, persembahan untuk menebus kesalahan diberikan dari binatang yang terbaik (Im.5:14-6:7).

6) Persembahan Penahbisan
Ketika imam ditahbiskan, maka diberikan korban persembahan (Kel.294-28).

Semua persembahan, yang berintikan pada pendamaian, penebusan dosa, dan keselamatan tersebut telah digenapkan dalam Tuhan Yesus Kristus sebagai korban yang sempurna atau yang terbaik (Ibr.7). Sehingga segala jenis korban yang diberikan sesudah jaman Kristus menjadi korban syukur, termasuk persepuluhan.

Esensi, Tujuan, Makna & Teknik


Berangkat dari asal mula perpuluhan di atas, dapat disimpulkan bahwa perpuluhan mempunyai makna, tujuan, dan teknik sebagai berikut:

Perpuluhan adalah milik Tuhan

Perpuluhan bukan hak manusia, sehingga dapat ditimbang-timbang (Im.27:30-33). Karena perpuluhan adalah milik Tuhan, maka jika kita tidak memberikannya sama dengan merampas milik Allah, seperti disebutkan dalam Maleakhi 3:8, berikut ini:

Bolehkah manusia menipu (Ibr.: qabah, Inggr. Rob, spoil, Ind. merampas, merampok) Allah? Namun kamu menipu (merampas, merampok) Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu (merampas, merampok) Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus! 

Melalui Maleakhi, Allah menyampaikan puncak kemarahan-Nya karena umat Israel telah "merampas" Hak Milik Allah, yaitu merampas persembahan perpuluhan dan persembahan khusus yang seharusnya diberikan kepada Allah. Demikian pula halnya yang terjadi dengan Ananias dan Safira yang telah sepakat untuk menahan sebagian milik Tuhan yang seharusnya dipersembahkan kepada Allah (Kis.5:1-2). Dikatakan bahwa hati mereka dikuasai Iblis sehingga mendustai Roh Kudus (ay.3-4). Padahal hujat kepada Roh Kudus tidak dapat diampuni (Mat.12:31-32). Itulah sebabnya, dengan seketika mereka pun mati. (Kis.5:5,10), senada dengan Bilangan 18:32 sebagai kesimpulan terhadap segenap persembahan persepuluhan yang diwajibkan baik bagi Umat mapun Imam.

Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN. (Im.27:30)

Perpuluhan Ditujukan kepada TUHAN

Perpuluhan adalah tanggung jawab umat kepada Allah, bukan sebagai iuran atau pajak.

Secara kongkret, perpuluhan diberikan kepada Allah melalui 2 (dua) cara utama:

1) Melalui Imam dan Rumah Tuhan (Bil.18:21-32; Ul.12:5-19; 14:22-27). Allah menghendaki ke-11 suku mendukung suku Lewi - yakni suku yang dikhususkan untuk mengurusi Rumah TUHAN - sehingga hidupnya dicukupi dari persembahan saudara-saudaranya. Melalui pelayanan gereja, kita menyampaikan perpuluhan sebagai ucapan syukur atas berkat yang telah diterima.

2) Melalui penduduk kota, orang asing, janda, dan anak yatim (Ul.14:28-29) atau sebut saja dunia. Allah menghendaki supaya umat-Nya mengasihi sesama manusia, antara lain melalui perhatian terhadap kehidupan sosial. Cara ini dimaksudkan supaya kita mengembangkan pelayanan kepada Tuhan dengan cara yang lebih luas. Memang, masalah perkotaan yang dimaksud Allah pada masa Israel permulaan itu adalah kehidupan di dalam perkemahan umat Israel. Dari konteks ini, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan persepuluhan bagi kota dilakukan oleh umat Israel. Hal ini dapat menjadi dasar bahwa Gereja pun bertanggung jawab untuk mengelola persepuluhan Jemaat bagi kehidupan perkotaan atau kehidupan masyarakat yang lebih luas - misalnya bantuan untuk korban bencana alam, narkoba, dll.


Makna (1): Ungkapan Syukur kepada Allah

Kisah Abram dan Melkisedek (Kej.14:18-20) adalah peristiwa perpuluhan pertama yang dicatat dalam Alkitab. Melkisedek, yang kemudian dikenal sebagai Yesus Kristus, yang disebut juga Raja Salam atau Raja Shalom adalah Raja Damai bagi Abram berhak atas perpuluhan (Ibr.7:1-10).

Prinsip kerja perpuluhan adalah sepersepuluh dari berkat yang diterima diberikan kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukur. Perpuluhan bukan semacam "pancingan" supaya Allah memberikan berkat lebih besar. Abram memahami dari siapa semua berkat yang diterimanya, sehingga kepada siapa ia seharusnya berterima kasih.

Makna (2): Tanda Kasih kepada Allah

Motivasi memberikan perpuluhan harus benar, dan bersih (Ams.4:4; Mal.3:8,10). Perpuluhan adalah persembahan jasmaniah. Namun keputusan untuk mempersembahkannya adalah persoalan batiniah yang di dalamnya termasuk masalah motivasi. Allah melihat hati (1Sam.16:7), itulah sebabnya Ia selalu mengoreksi isi hati. Motivasi perpuluhan bukan "penyuapan" supaya Allah tidak mengungkit dosa yang dilakukan, seperti layaknya kasus-kasus KKN yang dewasa ini merebak di negara kita. Allah anti penyuapan.

Perpuluhan tidak mempunyai arti apa-apa, di hadapan TUHAN, jika dilakukan tanpa disertai dengan rasa keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan (Mat.23:23), serta sikap rendah hati (Luk.18:12). Perpuluhan bukan semata kewajiban yang hanya sekedar ditaati agar pelakunya "lolos sensor" Allah atau sekedar rasa tanggung jawab untuk membayar, melainkan kesadaran kemanusiaan yang dilandasi sikap bersandar kepada TUHAN.

Perpuluhan harus keluar dari kehendak hati yang rela dan suka cita (2Kor.9:7 bandingkan dengan Ul.12:7,11; 14:26). Perpuluhan bukan iuran yang memaksa setiap anggota untuk membayar tarif 10%. Kerelaan dan rasa suka cita lebih dari sekedar angka 10%, itu maksud Allah.

Makna (3): Mengajarkan Sikap Takut akan Tuhan

Perpuluhan dinikmati dengan hati yang takut kepada Tuhan sebagaimana dikatakan:

Di hadapan TUHAN, Allahmu, ... haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan, ... supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu - Ul.14:23).

Perpuluhan dipakai untuk dinikmati manusia. Bagi Allah, kenikmatan-Nya adalah kejujuran dan ketaatan manusia sebagai bukti dari adanya rasa "takut" kepada diri-Nya - yakni suatu perasaan "hormat (respectful), takjub, kagum, bersyukur, gembira dan bangga, dengan disertai kasih mesra" kepada Allah. Jadi, makna kata "memakan persembahan perpuluhan di hadapan TUHAN", seperti disebutkan dalam ayat 23 tersebut, mengandung makna menikmati Kemahakuasaan Allah sehingga lahirlah perasaan "takut" akan Allah. Sungguh indah, perpuluhan itu bagi kita.

T e k n i k

Perpuluhan dipersembahkan sebagai "hasil usaha", baik dalam bentuk barang - seperti buah-buahan, sayuran - atau dalam bentuk uang yang dihitung dari jumlah keuntungan/hasil usaha yang diterima (Ul.14:24-26; Im.27:32; Kej.14:20). Jadi, seandainya kita berdagang, maka yang dihitung adalah sepersepuluh dari jumlah keuntungan dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan, jika kita menjadi karyawan maka yang dihitung adalah sepersepuluh dari upah yang diterimanya. Sekali lagi, yang dihitung adalah 10% dari hasil usaha - yakni keuntungan atau upah kerja.

Bukan hanya Umat yang memberikan Perpuluhan, namun para Imam pun berkewajiban untuk memberikannya (Bil.18:26). Jadi, seluruh umat Allah tak terkecuali kiranya dapat bersyukur kepada-Nya, melalui persepuluhan.

Kesimpulan


1) Perpuluhan adalah Milik TUHAN.
2) Perpuluhan ditujukan kepada TUHAN.
3) Perpuluhan merupakan ungkapan syukur, tanda kasih, dan latihan untuk memiliki rasa hormat kepada Allah.
4) Perpuluhan diberikan sepersepuluh dari hasil usaha.
5) Perpuluhan bermanfaat untuk melatih iman. 


Kepustakaan


Bromiley, G.W. 1991. The International Standard Encyclopedia. Vol. 4. Grand Rapids, MI: William B. Eerdmans Publishing Company.
Lockyer, Herbert. (Ed.). 1986. Nelson's Illustrated Bible Dictionary. Nashville, TN: Thomas Nelson Publishers.
Sabda/OLB. Version 7.03/WIN32. Alkitab Elektronik.

1