Banyumas on Line : Sejarah
Web Site Banyumas Satria 1582 M - 2000 M
Sejarah
Wirasaba (jaka kaiman diangkat jadi adipati)

Sepeninggal Adipati Wraga Utama I, Sultan Pajang menyesal atas tindakannya. Kemudian, Sultan memanggil para putera Adipati Warga Utama I. Namun, Ki Ageng Senon dan Ki Wirawijaya tidak bersedia memenuhi panggilan raja. Mereka takut akan mengalami nasib yang sama dengan orang tuanya. Karena itu, Jaka Kaiman bersedia berangkat ke Pajang. Ia rela menanggung dosa mertuanya. Sebaliknya jika ia mendapat anugerah raja, ia meminta agar kedua saudara iparnya tidak iri hati, tidak mengganggu keturunannya dan keturunan Kaiman tetap memerintah di Wirasaba.



Bangun Banyumas

Akhirnya, Jaka Kaiman


Upacara inisiasi merupakan sarana pelepasan dari anggota masyarakat manusia menuju masyarakat yang baru, yaitu masyarakat roh. Upacara inisiasi tidak lebih sebagai upacara perpisahan. Pihak yang ditinggalkan mendapatkan kesedihan dan kehilangan, sementara pihak yang pergi dalam kondisi tidak menentu. Ada yang pergi ada yang datang.


Pamali hari sabtu pahing pada saptawara adalah hari ketujuh atau hari terakhir. Hari sabtu disebut sanaiscara dalam kalender Jawa Kuno sebagai hari istirahat. Hari Sabath dalam bahasa Ibrani berati istirahat, yaitu hari terakhir dari pekan (sabtu) dianggap sebagai hari istirahat suci orang Yahudi sejak dahulu kala. Pamali hari sabtu mungkin muncul karena ada perubahan zaman dari Hindu ke Islam. Hari Jumat menggantikan sanaiscara (sabtu) sebagai hari suci. Hari sabtu menempati arah selatan seperti halnya pahing.



Warga Utama

Arah selatan melambangkan darah, keturunan ibu (matrilineal), warna merah, dan huruf jawa da-ta-sa-wa-la. Keturunan ibu memiliki watak ibu dan garis matrilineal. dan garis ibu, Adipati Warga Utama I adalah keturunan ketujuh (gantung siwur) para Adipati Pasirluhur :
 
                      1. Kanda Daha (pasirluhur)
		2. Ciptararas (istri banyak catra atau kamandaka)
		3. Banyak Wirata (pasirluhur)
		4. Banyak Rama (pasirluhur)
		5. banyak Besi (pasirbatang)
		6. Dewi Lungge (istri Adipati Wirasaba Sura Utama)
		7. Warga Utama I
Warga Utama I sebagai keturunan ketujuh gantung siwur berkaitan dengan hari sabtu sebagai hari ketujuh. Angka tujuh termasuk golongan angka yang penting, misalnya, digunakan untuk bangunan Candi gedong SOngo dengan gedong Pitu, Bendungan waringin Sapta di Sungai Brantas yang dibangun pada zaman Airlangga, Ibukota Mataram Hindu di Mdang Ri Poh Pitu, Keris Gandring oleh Raja Pipitu, Ksatria Werkudara disebut Gendeng Pitu, ada dendam tujuh turunan, dll. Kata pitu berarti nenenk dari nenek. Jadi, pitu melambangkan nenek moyang dari Warga Utama I.


Huruf Jawa da-ta-sa-wa-la menunjuk kepada perselisihan anatar Warga Utama denga demang Toyareka, yang menyebabkan bencana, pralaya atau mengalami jaman kali. Perselisihan dilanjutkan dengan kesalahpahaman dua rombongan gandek Sultan Pajang yang menyebabkan kematian Warga Utama I.



Keturunan Banyak

Darah atau getih disamping sebagai lambang kematian, juga lambang keturunan. Warga Utama I dari garis ibu merupakan keturunan Marga Banyak (angsa). Angsa atau banyak adalah binatang totem keluarganya. Karena itu muncul pamali kelima, yaitu makan pindang banyak. Larangan membunuh binatang totem adalah ketakutan pada si anak. Binatang totem adalah subtitut bagi ayah yang mengancam dalam kondisi Oedipus Complex. Menurut Freud, totemistis tidak lain daripada mengenangkan peristiwa pembunuhan itu. Peristiwa pembunuhan ayah mengakibatkan rasa bersalah pada si anak, kemudian menjadi fundamen totemisme (Bertens, 1991).


Selanjutnya, pamali totem diiringi dengan pamali menikahi wanita dari klan yang sama. Karena itu Adipati Wirasaba memberikan pamali tidak boleh mengambil menantu dari keturunan Toyareka. Toyareka masih satu klan dengan Adipati Warga Utama I. Selain itu, Toyareka juga telah tega memfitnah saudaranya sendiri hingga celaka.


Kegagalan perakwinan diantara anggota klan yang sama dapat mengakibatkan perpecahan dan permusuhan. Perkawinan putri Warga Utama I dengan putra Demang Toyareka menjadi contoh model perkawinan anggota klan yang tidak baik, bahkan berakibat bencana.



Penjelmaan Siwa

Di samping itu, Angsa atau banyak dalam agama Hindu merupakan wahana Dewa Brahma sebagai dewa pencipta. Dalam ajaran dari aliran Siwa Sidhanata disebutkan adanya lima aksara yang melambangkan penjelmaan Siwa yang berhubungan dengan keempat arah mata angin. Penjelmaan siwa dalam pancaaksara berada di sebelah selatan, yaitu Ma sebagai Dewa brahma. Brahma sebagai causa prima (sangkanparaning dumadi) juga ditemukan pada kompleks percandian Prambanan. Di situ ada tiga candi induk, yaitu Candi Wisnu, Candi Siwa dan Candi Brahma. Ketiga bangunan itu dilengkapi dengan tiga candi wahana. Candi wahana Brahma adalah Angsa.


Angsa selain menjadi binatang totem bagi keluarga Warga Utama I, juga menjadi seimbol dewa pencipta yaitu Brahma. Maka dari itu, memakan Banyak, seliain tidak menghormati binatang totem juga mematikan atau melupakan Sang Maha Pencipta. Bangsa-bangsa kuno memiliki kepercayaan totemisme atau binatang suci yang tidak boleh digangu, dibunuh atau dimakan.


Totemisme muncul karena adanya anggapan bangsa-bangsa itu mempunyai hubungan kekuatan gaib dengan sekelompok orang, sesekali dengan seseorang, dan segolongan binatang atau tumbuhan atau benda material (Baal, 1987). Totemisme sering dipakai oleh banyak anggotanya untuk menelusuri identitasnya dari suatu simbol bersama sering lewat asal-usul suatu leluhur atau sekelompok bersama.


Angsa atau banyak merupakan simbol bersama masyarakat Banyumas terhadap leluhurnya yang berasal dari Padjadjaran, yakni Banyak Catra. Banyak Catra dan keturunannya yang menjadi Adipati Pasirluhur dan Pasirbatang menggunakan nama Banyak. Dengan demikian, Angsa adalah lambang yang berkaitan dengan awal-mula, Maha pencipta, dinasti (wangsakerta), dll. Oleh karena itu, warga Utama I memberikan pamali tersebut sebagai pengejawantahan kesadaran historis leluhurnya.


Kesadaran itu merupakan peringatan agar keturunannya tidak mengalami peristiwa naas yang sama. Pamali ini telah menjadi legenda di kalangan masyarakat Banyumas, baik keturunan asli maupun pendatang. Pencarian makna pamali tersebut diharapkan dapat mengubah citra pamali sebagai tugu yang mati. Tanpa ada pemahaman makna pamali, maka pamali tersebut akan menjadi vampire yang menakutkan bagi masyarakat pewarisnya.



Sebuah penghargaan untuk Dian Nuswantoro
"sebagai awal untuk yang lebih baik"






| Babat 1 || Babat 2 || Babat 3 || Back |
1