Gereja Kristen Indonesia San Francisco Untuk kalangan sendiri/For members only
No. 4/1999, 2 April 1999

Ringkasan Khotbah/Summary of Sermons
Maret/March 1999

28 Februari 1999
John 3:1-17
 
 
Rev. Deane Kemper

Nicodemus was only the first of millions to fail to understand Jesus' teaching on the new birth.  It is a basic error of trying to make being born from above into a one-dimensional experience: Jesus must be talking about some sort of physical re-birth, a renewal of that of creation.  Then Jesus added on two additional layers, and gaining the kingdom of God became a matter of birth, water and Spirit.  The error of assuming a one-dimensional new birth persists to this day.  There are those who believe that eternal life comes by baptism.  The person who is brought as an infant, or comes on her or his own as a believer to the waters of baptism is a Christian.  The person who is never baptized is not a Christian.  Salvation becomes the result of a rite of the church, for even if the baptized person makes no claim of faith and shows no evidence of living in obedience to God, the very fact of baptism assures them of a share of God's kingdom.  No where did Jesus teach that the church is the gatekeeper of heaven.  Nor do we read in the scriptures that only those who are baptized will enter the kingdom while those who are unbaptized will be left outside.  The life and liturgy of the church are of extreme importance, but they are incomplete unless the one who is baptized with water is born of the Spirit as well.  Just as we are born of water physically at the time of birth, so we are born of water spiritually at our baptism.  Our baptism may have been our first visit to church in infancy.  As we grow physically and mature after our passing through water at birth, so we are to grow and mature in our faith after our baptism.  Others may have had that conversion experience and then followed the Lord in the waters of baptism.  For them as well, that first spiritual stirring is the point of growth.  For some, the first knowledge of Jesus Christ may have come from an intentional study to find answers to questions.  And for those whose upbringing was like mine, there has always been a consciousness of Christ living within.  "For God so loved the world that he gave his only Son, that whoever believes in him should not perish but have eternal life."  Amen, and God be praised.

7 Maret 1999
 
 
"Kabar Suka Cita Bahwa Allah Masih Bekerja"
Pdt. Simon Jonatan

Orang sudah berusia 100 tahun masih sehat dan melakukan akivitasnya seorang diri, kita kagum mendengarnya, padahal tidak ada istimewanya secara langsung bagi kita.
1.  Allah yang adalah Roh, berkerja terus menerus - tidak seperti "perusahan komputer" setelah menjual tidak mau tahu lagi dengan komputernya.
-  Allah yang adalah Roh bekerja diluar batas ruang, ruang dan jarak, diluar batas jangkauan akal dan kemampuan kita.
-  Semua yang terlihat, dipikirkan dan dikerjakan Allah di dunia yang tidak terlihat, dan mewujudkannya dalam dunia yang terlihat.  (mencipta dari tidak ada menjadi ada).  Allah berkuasa membawa kita melampaui segala keterbatasan, memasuki dunia spiritual yang tidak terbatas, melalui kaca mata iman kita.  Paulus berkata: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."  (1 Korintus 2: 9)
-  Tubuh dan pikiran kita bisa terlelap tetapi Allah penjagamu tidak pernah terlelap Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap, senantiasa bekerja (Mazmur 121:3)
-  Allah ingin berkerja di dalam, melalui dan untuk kita.  (Barang siapa di dalam aku dan aku di dalam Dia, ia akan berbuah lebat)  Ia bekerja mengubah rasa takut menjadi suka cita dan frustrasi menjadi kemenangan.  Allah bekerja melalui: Alkitab, Perjamuan Kudus, Firman Tuhan, Alam, dsb.
2.  Bagaimana kita supaya karya Allah itu nyata dalam hidup kita?
-  Percaya, bahwa Allah itu ada dan bekerja dalam hidup kita.
-  Ratio (yang terbatas) bagian dari iman (melampaui keterbatasan ratio) dan bukan sebaliknya.  Ratio kita jangan menentang iman.  Jangan memakai otak / pikiran kita yang terbatas bagi kerja Allah yang tidak terbatas, jika kita ingin melihat karya Allah dalam hidup kita.  "Tidak ada yang mustahil bagi Allah" kata Yesus.  Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat?  Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (Markus 9: 23).  Sikap orang yang beriman adalah seperti pemazmur bersaksi: "Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?  Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi."
3. Benefitnya.
-  Mujizat.  (sesuatu diluar kemampuan akal yang terbatas).
-  Hidup akan menjadi lebih ringan (Mat 11: 28)

(SJ)

14 Maret 1999
 
 
"Kabar Suka Cita bahwa Allah Masih Mendengar Doa Kita"
Pdt. Simon Jonatan

Apa itu doa?
Datang dalam hadirat Tuhan dalam sikap pasrah dan menyerah.  Membiarkan Allah bekerja, mengontrol, memimpin dan memberkati kita, seturut kehendakNya, dan bukan mengontrol / mengatur Allah dengan doa / iman kita.
Bagaimana berdoa?
Bukan caranya yang penting: orang Kristen berdoa lipat tangan tutup mata, tetapi orang Yahudi tidak.  Amsal 3:5 "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri."  Yakobus berkata bahwa doa dengan iman, besar kuasanya."
Berdoa dengan beriman berarti:
1.  Allah bekerja jauh kedepan diluar jangkauan pikiran/ kemampuan kita.  "Kamu tak tahu hari esok" (Yakobus 4:13).
2.  Kita harus bertindak sesuai dengan yang kita doakan.  Jangan bertindak bertentangan dengan doa kita, karena keterbatasan ratio.  Ratio kita harus mendukung iman kita jangan menentang.
3.  Tidak ada kata sibuk / tired bg Tuhan.  (penjagamu tak pernah terlelap.)
4.  Tak ada batas ruang dan jarak bagi Allah (Yunus berdoa dalam perut ikan di dasar laut).
5.  Tak ada kata masalahmu terlalu kecil bagi Allah Kabar Suka Cita Allah Masih mendengar Doa kita tapi "Hingga saat ini engkau belum meminta" = dalam sikap mempercayai dan berserah.

(SJ)

21 Maret 1999
 
 
"Life, Death and Life"
Pengkhotbah tamu
Rev. Paula D. Kelso

No summary

28 Maret 1999
 
Kebaktian Minggu Palem
"Kabar Suka Cita Bahwa Allah Masih Menepati JanjiNya"
Pdt. Simon Jonatan

Kapan janji Allah diberikan?  4000?  6000 yang lalu?  Mungkin jutaan tahun sejak jatuhnya Adam?.  Justru sejak Adam jatuh dalam dosa.  (Kejadian 3: 15)
Bukan vonis tapi janji, yaitu hope yang diberikan Tuhan.  Bukankah itu berita sukacita?
-  Sekalipun manusia telah melupakannya.
-  Israel mengingkarinya.
-  Maut menjadi taruhannya.  (supaya genaplah = penggenapan janji)
(Matius 21:4)
Mengapa Allah membuat perjanjianNya?  Bukan karena kesetiaan, kebaikan manusia dan kemampuannya, tepi karena kasih setia Allah yang melampaui segala akal.
Apakah yang dijanjikan Allah:
1.  Forgiveness;
2.  Salvation/Live everlasting;
3.  Penyertaan dan perlindungan.

(SJ)

Buletin GKI SF


Isi yang lain/In this issue:
•  Paskah
•  Tulisan Di Kayu Salib
•  Dari Anda Untuk Anda
•  Ringkasan Khotbah 3/1999
•  Kalender & Pengumuman
•  Editorial

1