The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

SUARA PEMBARUAN DAILY


SUARA PEMBARUAN DAILY, 03 Desember 2004

Mempererat Hubungan Kekeluargaan Lewat Makan Patita di Negeri Oma

[PHOTO. Pembaruan/Vonny Litamahuputty. MEJA PATITA - Tua adat negeri Oma Kecamatan Pulau Haruku yang duduk di kepala meja Makan Patita adat bersama warga yang duduk di meja sepanjang 200 Meter dengan sajian beragam makanan khas negeri tersebut. Acara ini diawali dengan penyerahan kain adat dari Kepala Soa Latuei dari Negeri Oma kepada Gubernur Maluku Karel Ralahalu.]

MAKAN PATITA bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Maluku, tradisi Makan Patita merupakan budaya yang dipertahankan hingga kini di seluruh pelosok Maluku. Dalam berbagai kesempatan misalnya, peringatan hari bersejarah, lazimnya digelar acara Makan Patita.

Budaya itu sempat hilang hampir lima tahun terakhir kala konflik lalu.

Namun kini tradisi Makan Patita kembali ditumbuhkan untuk menjaga suasana kekeluargaan di tengah warga. Makan Patita biasanya digelar pada acara tertentu dan seluruh ibu-ibu rumah tangga pada desa yang menggelar budaya Makan Patita akan berbondong-bondong memasak makanan apa saja, setelah itu makanan tersebut digelar di atas tanah dialasi daun kelapa atau gaba-gaba atau bisa juga meja yang diatur panjang hingga puluhan meter.

Siapa pun yang hadir pada acara Makan Patita di suatu desa boleh makan apa saja sesuka hati mereka. Hal yang sama terjadi pekan lalu di Desa Oma Kecamatan Pulau Haruku Kabupaten Maluku Tengah.

Namun di Desa Oma budaya Makan Patita sedikit berbeda dengan desa lain di Maluku. Jika di tempat lain makanan yang disajikan lebih berupa makanan pokok, tapi di desa Oma Kecamatan Pulau Haruku ini, makanan yang digelar justru kue-kue khas desa Oma dan khas Maluku, seperti Bubengka Haruku, Nasi Pulut Bulu, Nasi Pulut Unti.

Di Desa Oma kabupaten Maluku Tengah ini, dikenal tiga jenis acara patita, biasanya tradisi ini berlangusng pada 2 Januari atau jelang Natal Desember. Makan Patita di desa Oma bisa dilakukan setahun sekali, lima tahun sekali, bahkan bisa juga 12 tahun sekali.

Budaya Makan Patita adat dilakukan oleh empat soa yakni Soa Pari, Soa Latuei, Soa Tuni, dan Soa Raja. Prosesi adat Patita di desa Oma, penentuan waktunya dimulai saat acara berbalas pantun di meja adat.

Setiap Soa di desa Oma Kecamatan Pulau Haruku merupakan kumpulan marga. Soa Pari merupakan kumpulan marga Kaihatu, Sekewael dan Ririasa. Soa Latuei merupakan kumpulan marga Uneputty, Patiata, Tohatta, Lesirollo, dan Manusiwa.

Soa Tuni merupakan kumpulan marga Haumahu, Hukum dan Wattimena. Sedangkan Soa Raja terdiri dari marga Pattinama, Suripatty, dan Patty. Ada juga dua marga di Oma yaitu marga Pattikawa dan Hetharia yang tidak mengikat diri kedalam empat soa, namun mereka tetap melakukan adat seperti empat soa lain.

Dalam adat Soa Latuei, om-om memberi makan kepada anak-anak yang dinamai Marei. Sepanjang sejarah Adat Makan Patita di Negeri Oma ini, baru pekan lalu itulah digelar meja sepanjang 200 Meter.

Ece Manusiwa Kepala Adat Soa Latuei mengatakan, jamuan makan ini adalah tanda bahwa pihaknya, om dan anak punya hubungan kekeluargaan yang tidak boleh putus. Sebelum Makan Patita dimulai didahului dengan adat yang dilakukan warga Soa Latuei di Baileo Kota Yasa.

Malam sebelumnya dilakukan serangkaian acara persiapan, yang merupakan kewajiban lima orang yang ditunjuk sebagai Kepala Soa yang dinamakan Bapak Lima-lima. Dalam proses persiapan itu, ada simbol-simbol yang disertakan seperti Tempat Sirih, sebagai simbol pengikat hubungan kekeluargaan dan sebotol minuman keras sopi sebagai simbol pembangkit semangat.

Seluruh proses adat yang berlangsung diisi dengan tarian cakalele oleh anak-anak muda negeri Oma, pertanda semangat. Usai menari, para orang tua kemudian pergi menuju ke mata rumah tua anak-anak Marei yakni mata rumah Huapea dengan iringan tifa, untuk meminta anak-anak Marei datang ke lokasi patita adat.

Setelah berada di meja adat Patita telah terhidang berbagai jenis makanan dan dihidangkan sesuai turunan warga Soa Latuei yang rata-rata adalah pemburu. Di kepala meja, terdapat lima kepala babi yang kemudian dibagikan kepada kelima marga anggota Soa Latuei.

Makanan yang terhidang saat itu adalah nasi kuning dan nasi kelapa (Red-nasi uduk), setelah doa bersama para Marei mulai mencicipi hidangan yang diberikan om-om mereka. Pihak gereja di negeri desa Oma Kecamatan Pulau Haruku ikut mendukung budaya Makan Patita. Pdt Nn Parera yang melayani Jemaat GPM Oma manyatakan, bila dipandang dari segi theologis, kegiatan ini ada kaitannya dengan firman Tuhan seperti tertulis pada Kitab Efesus 6.

Dikatakan, Rasul Paulus mengingatkan orang tua dan anak harus saling menghargai dan ini diwujudkan dalam tradisi Makan Patita yang dilakukan Soa Latuei. Menurutnya, adat Patita sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Kristiani tidak akan menjadi masalah.

Tokoh masyarakat negeri Oma Kecamatan Pulau Haruku D Uneputty berharap, Makan Patita adat ini akan menjadi motivasi bagi warga masyarakat di desa-desa lain, karena acara adat yang berlangsung di Desa Oma belum pernah dilakukan di desa manapun di Maluku. Yang lazimnya dilakukan di Maluku adalah gelar makan patita biasa tanpa dilewati proses adat sebelum dimulai Makan Patita.

"Karena keunikannya, maka adat Patita ini dimasukkan dalam kegiatan pendidikan di SD Negeri 2 Oma, yakni muatan lokal, sehingga sejak dini anak-anak negeri sudah diajak melestarikan budaya negerinya sendiri," kata Kepala Sekolah SD Negeri 2 Oma Frans Wattimena.

Khas Negeri Oma

Raja negeri Oma Pendeta Y Pattinama juga bertekad menjadikan budaya ini sebagai kalender tahunan. Dia optimis adat Makan Patita yang punya khas tersendiri kelak dapat menjadi aset pariwisata yang layak dijual kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

Gubernur Maluku Karel Ralahalu berjanji memperhatikan pembangunan di desa Oma. Yang perlu diperhatikan terkait dengan perbaikan infrastruktur yang ada di desa tersebut, seperti jalan raya yang bisa menghubungkan desa di kecamatan Pulau Haruku dengan desa-desa tetangganya.

Menurutnya, kegiatan Adat Makan Patita merupakan wadah untuk melestarikan adat dan budaya di Maluku, khususnya di negeri atau desa-desa adat.

Ke depannya tambah Ralahalu, masih perlu dikemas secara lebih profesional dan menarik agar dapat menjadi aset yang menghasilkan juga bagi warga Oma sendiri. Lebih jauh dikatakan, perbaikan ekonomi masyarakatpun bisa dilaksanakan melalui kegiatan budaya adat yang juga bisa dikemas secara baik sehingga menjadi daya tarik pariwisata.

PEMBARUAN/VONNY LITAMAHAPUTTY


Last modified: 03/12/04
 


Copyright © 1999-2002 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/koedamati
Send your comments to alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044