The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

SUARA PEMBARUAN DAILY


SUARA PEMBARUAN DAILY, 16 Desember 2004

Lemah Sistem Pengamanan di Palu dan Poso

PALU - Sistem pengamanan di Kota Palu dan Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) sangat lemah sehingga memungkinkan aksi-aksi kekerasan seperti penembakan dan peledakan bom terjadi berulang-ulang.

Aparat keamanan harus segera memperbaiki sistem pengamanan yang lemah ini guna mencegah terulangnya lagi kasus-kasus kekerasan yang telah menimbulkan banyak korban jiwa tersebut.

Demikian hasil evaluasi Tim Pemantau Fraksi PDI Perjuangan (PDI-P) DPR atas berbagai kasus bom dan penembakan di Poso dan Palu yang diungkapkan oleh Ketua Tim Pemantaun Fraksi PDI-P atas kasus-kasus kekerasan di Poso dan Palu, Yakobus Mayongpadang kepada wartawan di Palu, Rabu (15/12) .

Tim yang terdiri dari 3 orang, Yacobus Mayongpadang, Oli Dondo Kambey dan Nadrah Isahari, selama dua hari (14-15/12), berkunjungan ke daerah ini untuk menyaksikan secara dekat aksi-aksi teror dan kekerasan yang tak habis-habisnya menimpa warga setempat.

Menurut Yakobus Mayongpadang, mengatakan, lemahnya sistem pengamanan yang dilakukan aparat kepolisian di sini menyebabkan kasus teror bom dan penembakan bisa berulang-ulang terjadi menimpa warga.

Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat daerah Palu ataupun Poso sudah direkam sebagai daerah sangat rawan konflik sehingga intensitas pengamaman mestinya terus ditingkatkan apalagi menghadapi hari-hari besar seperti Natal dan Tahun Baru.

"Kami juga melihat koordinasi pengamanan antara petugas satpam formal maupun non formal masih kurang dilakukan, padahal ini sangat penting untuk meningkatkan kewaspadaan yang menunjang sistem pengamanan oleh aparat kepolisian," ujar Anggota Komisi IX DPR ini.

Persoalan lain lanjutnya, saat ini di Poso dan Palu telah menumpuk masalah yang sebagian besar belum dapat dituntaskan oleh aparat keamanan dan pemerintah setempat. Seperti lambannya penanganan korupsi, disunatnya dana jatah hidup/biaya hidup pengungsi, perebutan kekuasaan antar kelompok-kelompok tertentu di Poso dan berbagai masalah lain yang sampai kini belum bisa diselesaikan dengan tuntas.

Terhadap semua temuan itu, kata Yacobus, akan menjadi bahan rekomendasi Fraksi PDIP khususnya untuk pembentukan Pansus Poso yang dalam waktu dekat akan direalisasikan DPR.

Pengecut

Secara terpisah, Ketua Umum Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), Pdt. Renaldy Damanik meminta para pelaku teror bom dan penembakan di gereja-gereja di Poso dan Palu agar berlaku sportif dan tidak pengecut.

"Jika ada masalah yang dirasakan tidak baik, hendaknya diselesaikan secara bertanggungjawab sesuai hukum yang berlaku. Jangan main bom, tembak dan lari. Itu pengecut namanya," tegas Deklarator Malino untuk Perdamaian Poso ini.

Ia juga melihat teror bom dan penembakan yang menimpa GKST Immanuel dan Anugerah Masomba Palu (Minggu malam 12/12), merupakan pelecehan terhadap upaya penegak hukum yang sedang dilakukan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Yusuf Kalla.

Bahwa sasarannya selalu GKST dimana mayoritas warga Poso yang menjadi anggotanya, menurut Damanik, karena secara kwantitas memang warga GKST adalah yang terbesar di daerah ini sehingga ada skenario untuk memprovokasi agar warga Kristen tersebut terpancing melakukan keributan.

Soal pencopotan jabatan Kapolresta Palu AKBP Noman Siswandi dan Kapolresta Palu Timur AKP Sumantri Sudirman yang dinilai lalai dalam menangani keamanan Palu sehingga terjadi peledakan bom di kedua gereja, Pdt. Renaldy Damanik mengatakan, berdasarkan pasal dalam KUHP, jika seseorang karena kelalaiannya menyebabkan orang lain menjadi korban, maka seseorang tersebut harus diproses secara hukum.

Sementara itu, tim Reskrim Mabes Polri , Rabu telah selesai melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di GKST Immanuel dan Anugerah Masomba Palu.

Hasil sementara olah TKP tersebut, diduga pelaku peledakan bom dan penembakan merupakan orang yang berbeda, hal itu dilihat dari selisih waktu kejadian hanya sekitar 5 menit.

Sejauh ini belum ada pelaku yang ditangkap, kecuali puluhan saksi yang sudah diperiksa.

Unjuk Rasa

Sementara itu, ratusan generasi muda Kristen yang terdiri dari Mahasiswa Kristen dan Pemuda Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) melakukan unjuk rasa meminta pemerintah mengusut tuntas kasus penembakan dan pemboman di GKST Palu belum lama ini. Ini bukan persoalan agama, tetapi merupakan tindakan teroris yang secara sengaja mengunakan wadah Agama sebagai alat untuk memecah belah.

Massa meminta mereka yang terbukti terlibat harus diproses hukum."Pemerintah jangan mendiamkan masalah ini, karena ini sudah berkali-kali terjadi namun belum juga teratasi oleh aparat keamanan baik Polri dan TNI," kata Juddy Robot SH saat membacakan penyataan sikap di Kantor Gubernur, Markas Danrem 131 Santiago dan Kantor Polda Sulut Rabu (15/12). (136/128)


Last modified: 16/12/04
 


Copyright © 1999-2002 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/koedamati
Send your comments to alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044