HOME

Arsip: Milis Diskusi e-BinaGuru <gabung: subscribe-i-kan-binaguru@xc.org>

Desember 2003

Subject: TNA-3 Rumah vs Di Luar Rumah

Oleh: Meilania <meilania@telkom.net>

 

Diskusi Buku “The Nurture Assumption” (lihat juga TNA-1 / TNA-2 / TNA-4)

TNA-3  Rumah vs Di Luar Rumah

Teori NURTURE beranggapan bahwa LINGKUNGANlah yg mengambil peran terpenting dalam kehidupan seseorang, terutama pada masa-masa awal kehidupan seorang anak, dan secara khusus orang tualah yg "menjabat" peran penting tsb. Jadi, bagaimana jadinya si anak kelak bila dewasa adalah HASIL dari kerja orang tua semasa tahun-tahun pembentukan. Bila si anak sukses kelak  orang tua patut bersyukur dan berbangga diri telah menyelesaikan tugasnya dg baik. Bila si anak gagal dalam hidupnya, maka seolah seluruh pihak "menuding" orang tua sebagai pihak yg paling bertanggung jawab karena tidak berhasil mendidik anaknya dg baik.

Susyah ya jadi orang tua :-)

Buku Harris, The Nurture Assumption, menawarkan cara pandang lain bagi para orang tua.

Buat para ortu yg memiliki anak-anak "sukses" seperti yg diharapkan, jangan berbangga dulu ... itu bukan karena hasil kerja ortu semasa kecil anak-anak tsb. Ini adalah pengaruh positif dari GEN yg mereka wariskan pada anak-anak.

Buat para ortu yg memiliki anak-anak "sulit" atau jadinya tidak seperti yg diharapkan, jangan bersedih dulu ... itu bukan semata tanggung jawab orang tua, karena ada faktor lain di luar rumah yg lebih berpengaruh.

Di cover depan, Harris menuliskan judul bukunya sbb.

The Nurture Assumption: why children turn out the way they do.

Menurut teori Nurture, mestinya seorang anak bakal "jadi" seperti hasil didikan yg diperolehnya semasa mereka muda, bukan? Nyatanya dalam banyak hal dan kasus, hasil akhir seorang anak (saat mereka dewasa) tidaklah sepenuhnya mencerminkan hasil didikan semasa mudanya, terutama pendidikan yg diperolehnya di rumah.

Coba kita simak 3 kisah nyata yg dipaparkan si Penulis TNA

Pertama,

Alkisah di Massachusetts, ada pasangan Rusia yg memiliki 3 anak tinggal bersama dalam satu rumah. Kedua ortu saling bicara dalam bahasa Rusia dan mereka berkomunikasi dg ketiga anaknya juga menggunakan bahasa ibu mereka. Anak-anak ini, yg berusia 5-9 tahun, terlihat "tidak ada bedanya" dg anak-anak yg tinggal selingkungan dg mereka, bahasa Inggris mereka selain oke punya juga ber-aksen Boston-Cambridge seperti layaknya teman-teman sebaya mereka, penampilan mereka pun benar-benar mencerminkan "American kids". Padahal kedua ortu mereka kaco banget bahasa Inggrisnya, dan terasa sekali aksen Rusianya. Nah, bagaimana hal ini bisa terjadi? Pasti ada pengaruh di LUAR rumah yg ternyata lebih kuat dan memiliki hasil yg "menetap" dalam diri seorang anak dibanding pengaruh yg diperolehnya di DALAM rumah.

Teman-teman yg punya pengalaman membesarkan anak kecil di negeri orang mungkin juga mengalami hal yg sama, bukan :-)

Kedua,

Harris mengamati bgmn keluarga bangsawan di Inggris "membesarkan" anak-anak lelaki mereka. 8 tahun pertama dalam kehidupan anak laki-laki tsb sebagian besar dihabiskan bersama dg 'nanny' (pengasuh anak), mereka jarang sekali menghabiskan waktu dg ibu mereka sendiri, apalagi dg si ayah. *cat.: Makanya waktu mendiang Lady Di memutuskan untuk "mengasuh sendiri" putra pertamanya, seluruh Inggris menjadi 'gempar' ;-)  Saat menginjak usia 8 tahun, si anak sudah harus dikirim ke sekolah (asrama) dan tinggal di sana kira-kira selama 10 tahun lamanya dan hanya pulang ke rumah saat liburan. Herannya, saat si anak beranjak dewasa ... tingkah lakunya jauh lebih mirip si ayah (yg hampir tidak mengambil peran apa pun dalam tugas pengasuhan anak) daripada dg 'nanny'nya atau dg gurunya di sekolah.

Ketiga,

Banyak ahli psikologi perkembangan mengatakan bahwa seorang anak belajar bagaimana harus bertingkah laku dg mengamati dan menirukan orang tuanya, terutama ortu yg berjenis kelamin sama. Tetapi realitanya, apa yg sebenarnya terjadi di "lapangan"? Bayangkan seorang anak berusia 2 tahunan sedang berada di dapur sendirian sementara ibunya sedang berbicara di telepon ... ada semangkuk telur di atas meja, dan timbul keinginannya untuk membuat telur dadar - percis seperti yg biasa dilakukan oleh ibunya. Ketika ibunya selesai dg percakapan di telepon, dia mendapati putri mungilnya sedang mengocok telur dg asyiknya sambil "memarahi" dirinya sendiri .. "Jangan! Jangan! tidak boleh! tidak boleh!"

"From the childs' point of view, socialization in the early years consists mainly of learning that you're not supposed to behave like your parents." (hal 11).

Saya tersenyum sendiri membaca kisah ini, karena memang begitulah yg saya alami dg putri saya yg baru berusia 1,5 tahun. Dia mencoba mengambil telur sendiri di kulkas, dia mencoba menyalakan kompor, dia ambil sutil dan memasukkannya dalam wajan yg masih berisi minyak (untung tidak dalam keadaan panas), dia mengambil gunting untuk memotong selotip, dia mencoba menyalakan komputer dan modem ... dll dll dll. Dan sudah bisa dipastikan kalau saya akhirnya "melarang" dia untuk "menirukan" perilaku saya tsb ... beberapa bahkan dg teriakan kaget dan nada yg tinggi ;-)

Jadi bagaimana?

Apa yg dipelajari anak selama di rumah rupanya tidak "menjanjikan apa-apa" atau dg kata lain tidak memiliki efek yg menetap dalam diri seorang anak, bahkan bisa juga akhirnya ditinggalkan oleh anak saat mereka beranjak lebih besar. hmmm ... kalau gitu ngapain juga saya susah-susah jadi ibu rumah tangga, yah ;-)

Bagaimana menurut rekan-rekan?