Melawan Kanker :: Prinsip Kelima -- Pertahankan Semangat ::
Melawan Kanker
Pengantar
Pendahuluan
Kisah Peperangan
Sebuah 'Kekeliruan Negatif'
Beralih ke Nutrisi
Prinsip Pertama - Kenali Musuh Anda
Apa Kanker Itu?
Apa Penyebab Kanker?
Sistem Kekebalan Anda
Strategi Pengobatan
Prinsip Kedua - Putuskan Jalur Pasokan Musuh
Pembersihan Internal & Detoksifikasi
Enema
Koloniks
Puasa Juice
Prinsip Ketiga - Bangunlah Kembali Sistem Pertahanan Alamiah Anda
Menjadi Vegetarian
Menemukan Alergi Makanan
Lemak
Olah Raga
Prinsip Keempat - Ikutsertakan Balabantuan
Vitamin
Mineral
Pasukan Lainnya
Prinsip Kelima - Pertahankan Semangat
Menolak Berperan Sebagai Korban
Menemukan Humor
Prinsip Keenam - Pilihlah Pertolongan Profesional Anda Secara Seksama
Bidang-Bidang & Filosofi
Menjadi Rekan Seperjuangan
Teman-Teman Tetap Terlibat
Mendukung Orang-Orang Yang Menolong
Apendiks A
Apendiks B

 

 

Melawan Kanker

Anne E. Frahm & David J. Frahm

Bab 6: Prinsip Kelima -- Pertahankan Semangat

Selama perang di Teluk Persia, dunia mengamati sewaktu Amerika Serikat dan pasukan multinasional yang berada di bawah komandonya mengusir tentara Irak yang telah menginvasi negara Kuwait secara kilat. Itu adalah sebuah kemenangan yang luar biasa cepat bagi Amerika, karena banyak hal yang sudah dilakukan dalam menekan Irak dan membuat ini "ibu dari semua perang."

Di bawah pengawasan mata Jendral "Badai" Norman Schwarzkopf yang pegang komando, telah dirancang rencana perang untuk menggunakan semua kekuatan yang ada agar datang ke Irak tanpa belas kasihan. Musuh dijumpai di udara, di darat, dan di laut. Ini adalah perang yang tidak akan dibiarkan kalah oleh A.S.!

Akhirnya, faktor utama yang mendukung menyerahnya pasukan Irak yang besar itu adalah surutnya moral perjuangan tentara. Mereka begitu kehilangan semangat tempur. Pada tiap kesempatan, ribuan tentara menyerah -- menurunkan senjata mereka dan menyerah. Sebuah perang yang tadinya diduga banyak orang akan berlangsung cukup lama ternyata segera berakhir.

Dalam sejarah peperangan yang baru saja berakhir ini ada pelajaran penting bagi mereka yang memerangi kanker. Hanya mereka yang memutuskan dalam benak mereka untuk berperang yang memiliki kesempatan menang. Peperangan anda terhadap kanker membutuhkan kekuatan mental sebanyak fisik anda. Itu dimulai dengan sebuah komitmen dalam diri anda untuk menjalankan perang.

Dalam bukunya yang berjudul Anatomy of an Illness, Norman Cousins menceritakan kisah bagaimana ia dengan sukses mengalahkan penyakit parah yang mengancam untuk segera membawanya ke liang kubur:

Orang-orang menanyai saya apa yang saya pikirkan ketika diberitahu oleh spesialis bahwa penyakit saya itu progresif dan tak tersembuhkan. Jawabannya sederhana. Karena saya tidak menerima keputusan itu, saya tidak terjebak dalam lingkaran ketakutan, depresi, dan panik yang sering mengikuti suatu penyakit yang diduga tak dapat disembuhkan. Walau begitu, saya tidak harus membuatnya kelihatan bahwa saya tidak serius memikirkan masalah itu atau bahkan saya sedang melaluinya dalam suasana pesta. Menjadi tidak mampu menggerakkan tubuh saya adalah semua bukti yang saya perlukan bahwa para spesialis itu sedang berhadapan dengan masalah yang sebenarnya. Tapi jauh di dalam lubuk hati, saya tahu saya memiliki satu kesempatan baik dan menyukai ide untuk melawan tantangan. Contoh Cousins adalah satu dari banyak orang yang mana orang-orang seperti anda dan saya telah sukses menghadapi penyakit-penyakit yang mengancam-kehidupan dan diagnosis-diagnosis yang suram yaitu pertama-tama memutuskan dalam benak mereka bahwa mereka akan melakukan perang. Dokumen-dokumen dan rak buku saya dipenuhi dengan kisah-kisah demikian.

Sebuah kliping koran yang belum lama saya miliki menceritakan tentang seorang wanita yang berhadapan langsung dengan sebuah kasus kanker payudara yang buruk. Tampaknya ia telah meminta para ahli bedahnya agar membiarkannya menonton tayangan-ulang mastektomi gandanya. "Ketika melihat ukuran tumor, saya tahu apa yang saya perangi," katanya. "Itu bukanlah sel yang menyebar. Itu adalah musuh yang dapat dibasmi yang saya tahu akan membunuh saya."

Selama periode penyembuhannya di rumah sakit ia mempelajari semua penelitian kanker yang tersedia baginya di perpustakaan rumah sakit. Dalam proses itu, ia mendapati dua hal yang sangat menarik. Pertama, di Jepang, Cina, Thailand, dan Filipina rendahnya angka kanker payudara berkaitan dengan pola makan rendah lemak dan tinggi serat. Kedua, beberapa penelitian telah mendapati hubungan antara pertumbuhan sel-sel kanker dengan berkurangnya transfer oksigen di dalam sistem darah.

Dipersenjatai dengan informasi dan harapan, dia mengeraskan keputusannya untuk berperang. Vegetarian menjadi pola makannya (tanpa daging, ikan, atau produk-produk susu); olahraga menjadi kegemarannya. "Saya mulai merasa enak dan mendapatkan kembali kontrol terhadap kehidupan saya," katanya. Itu adalah delapan tahun yang lalu. Tidak ada jejak kanker pada hari ini. Dia memenangkan perang karena dia memutuskan untuk berperang.

Kesehatan dan kesembuhan, memerangi penyakit dan menang -- ini bukan hanya masalah mekanik tubuh dan teknologi kedoteran. Bukan pula masalah nasib baik atau buruk. Semangat orang itu juga harus ada -- pikiran, emosi, keinginan untuk hidup.

Pada tahun-tahun terakhir Bernie Siegel, M.D., telah jadi terkenal di antara para pejuang kanker akan bukunya Love, Medicine and Miracles. Tesisnya yang utama dalah bahwa penderita kanker memiliki kesempatan yang jauh lebih banyak untuk mengalahkan penyakitnya jika dia memasukkan cincin emosi siap untuk berperang langsung dengan musuh. Dia menulis bahwa sekelompok ilmuwan peneliti di London "baru saja melaporkan jangka waktu hidup sepuluh-tahun sebesar 75% di antara penderita kanker yang bereaksi terhadap diagnosis dengan suatu 'semangat perang,' dibandingkan jangka hidup 22% di antara mereka yang menanggapinya dengan 'perasaan tenang' atau perasaan tidak tertolong atau tiada harapan."

Jadi, ada hubungan yang kuat antara pikiran dan tubuh; ikatan yang nyata antara roh/semangat manusia dengan kesehatannya. Hippocrates mengenalinya ribuan tahun yang lalu. Dia dikenal menghargai pentingnya menolong pasien melalui pikiran pasien itu seperti yang dia lakukan terhadap tubuhnya. Raja Israel kuno Salomo, yang dianggap banyak orang sebagai manusia paling bijaksana yang pernah hidup, mengungkapkan pemahaman serupa tentang hubungan pikiran-tubuh dalam tulisan-tulisannya. Dia mengamati, "Semangat manusia dapat menahan dia dari penyakitnya, tetapi semangat yang hancur siapa yang dapat bertahan?"

Pikiran dan emosi kita bukan saja memainkan peranan penting dalam memerangi kanker sesudah kita mengidapnya, tapi ada juga bukti bahwa cara pikir kita dapat memainkan peran dalam menempatkan kanker di tempat utama. Penelitian ilmiah yang mahal mengungkapkan bahwa stres kronik dan emosi negatif (kekuatiran, ketakutan, kecemasan, kepahitan, kemarahan, dan lain-lain.) dapat menyebabkan ketidak-seimbangan hormonal dan kimiawi dalam tubuh yang mengakibatkan suatu metabolisme yang subur bagi perkembangan kanker. "The British Medical Association menyatakan bahwa tidak ada satu sel pun di dalam tubuh yang secara total terhindari dari pengaruh pikiran dan emosi."

Hari ini ahli-ahli seperti Dr. Bernie Siegel, Norman Cousins, dan banyak lainnya sedang membantu mengembalikan dunia kedoteran modern berteknologi-tinggi pada pemahaman yang panjang bahwa, di dalam setiap kita, hubungan "pikiran-tubuh" yang kuat mempunyai pengaruh yang berarti bagi kesehatan kita. Kita sedang belajar bahwa kita perlu mengukur temperatur emosi kita setiap hari, berkeinginan menghadapi emosi-emosi yang toksik dan stres-stres negatif yang dalam jangka panjang bisa mempunyai dampak beracun pada sistem metabolik kita jika kita membiarkannya terfermentasi dan membusuk. Itu akan seperti sabotase di dalam perang kita terhadap kanker.

Kenyataan bahwa anda telah menderita kanker membuat betapa pentingnya mengembangkan suatu iklim emosi yang kondusif untuk memeranginya bahkan lebih imperatif. Musuh telah memecahkan pertahanan anda. Akan memerlukan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk menekan mundur mereka.

Dalam perjuangan saya sendiri melawan kanker, sikap-sikap berikut ini telah menolong saya untuk menjaga semangat/roh saya terdetoksifikasi dan dikenyangkan dengan tepat.
  • Mengambil alih

  • Menolak berperan sebagai korban

  • Berkata tidak pada perbudakan

  • Memanjatkan rasa syukur

  • Mencari humor

  • li>Menetapkan tujuan-tujuan
    Mengambil Alih
    Kelihatannya aneh, bahkan saat menghadapi maut, perasaan takut gagal menyebabkan beberapa orang tidak berani mengambil alih peperangannya sendiri terhadap kanker.

    Dr. Siegel mengamati bahwa "60-70% [penderita kanker] seperti aktor-aktor yang sedang audisi untuk suatu bagian/peran. Mereka bertindak sepertri yang mereka kira dokter ingin mereka lakukan, berharap bahwa dokter itu kemudian akan melakukan semua pekerjaan dan obat-obatan tidak akan terasa tidak enak. Mereka akan meminum tablet-tabletnya dengan setia dan datang pada pemeriksaan-pemeriksaan yang dijadwalkan. Mereka akan melakukan apa yang dikatakan-kecuali dokter itu menyarankan perubahan yang radikal dalam gaya hidup mereka-tapi pada diri mereka tidak pernah timbul pertanyaan tentang keputusan dokter atau membuat rencana pribadi untuk melakukan hal-hal bagi diri mereka sendiri yang 'terasa benar'. Ini adalah orang-orang yang, bila diberi pilihan, lebih dioperasikan daripada secara aktif bekerja untuk memperoleh kesembuhan."

    Saya tahu perasaan-perasaan itu. Untuk sesaat setelah saya didignosis, saya berjuang entah ya atau tidak saya benar-benar ingin berjuang untuk hidup saya. Prognosis saya dingin. Saya tidak tahu apakah orang lain telah disembuhkan dari kanker yang menyebarnya sudah sejauh kanker saya. Apakah perjuangan saya tidak sia-sia? Pasti, saya akan sepenuhnya mengikuti semua pengobatan yang dianjurkan onkologis saya. Tetapi itu tidak akan memerangi. Itu akan menjadi bermain dengan aman. Itu akan membuat hal-hal terjadi pada saya, bukan oleh saya. Apabila pengobatannya gagal dan saya mati, bukan saya yangmenyebabkan kegagalan. Itu kesalahan onkologis saya. Atau itu akibat tidak kuatnya terapi-terapi untuk memerangi kanker. Tetapi itu bukan kegagalan saya. Pengaruhnya, saya ingin bersembunyi di belakang dokter.

    Namun demikian, dia telah menceritakan pada saya suatu kebenaran bahwa yang dapat dilakukannya pada saya terbatas. Dia telah menceritakan kepada saya bahwa kemoterapi hanya akan bekerja sebentar sebelum kanker menjadi resisten. Dia telah meramalkan bahwa saya akan mati dalam dua tahun di bawah tipe terapi yang dia dapat tawarkan. Dia berkata, "Anne, saya tidak dapat menyembuhkanmu, tapi mungkin saya dapat menjaga hidupmu cukup lama agar kamu belajar bagaimana menyembuhkan dirimu sendiri."

    Itu jelas bahwa jika saya ingin bertahan hidup, saya harus bekerja keras mencapai kesehatan dan kesembuhan. Saya harus berupaya sampai ke batas pengobatan apa yang dapat ditawarkan pada saya. Namun seperti yang saya katakan, saya sedang berjuang mengatasi rasa takut gagal. Akhirnya, ini sudah kanker stadium empat. Yang terburuk! Apa jadinya kalau saya mengusahakan yang terbaik tapi hasilnya sebentar? Sepanjang hidup saya tumbuh dan terbiasa kurang berupaya daripada melakukan yang terbaik atas perasaan takut bahwa jika melakukan upaya terbaik saya dan itu belum cukup baik.

    Suami saya menolong saya melihat hal-hal dalam suatu pandangan yang baru. "Tubuhmu seperti sebuah taman yang Tuhan perintahkan untuk dipelihara," katanya. "Sekarang, taman itu penuh dengan alang-alang. Pekerjaanmu sampai Dia mengklaim kembali taman itu, adalah melakukan bagianmu yang terbaik dalam menyingkirkan alang-alang dan menumbuhkan tanaman yang baik. Kegagalan bukan berarti mengembalikan taman itu dalam keadaan mati (sekarat) -- yang akan terjadi pada kita semua cepat atau lambat-tetapi jika engkau kurang berupaya daripada melakukan yang terbaik sewaktu taman itu masih menjadi milikmu."

    Ilustrasinya yang sederhana membantu memperjelas peran saya dalam perang yang sedang berlangsung untuk tubuh saya. Perasaan takut akan kegagalan saya tergantikan dengan perasaan tanggung jawab, perasaan pemeliharaan. Selama saya memiliki tubuh ini, saya bertanggungjawab untuk bekerja bagi kesehatannya.

    ***
    POKOK PERTIMBANGAN


    Kesehatan yang baik tidak datang dengan
    begitu saja; anda harus mengusahakannya.
    -- Charles B. Simone, M.D.,
    Cancer and Nutrition


    Pertanyaan utama yang harus kita jawab adalah apakah
    kita benar-benar ingin menolong diri kita sendiri ... Ketika praktek
    di Plymouth, saya sangat terbiasa mengatakan kepada pasien,
    "Lihat-kalau anda tidak menjaga kebiasaan makan atau gaya
    hidup, anda akan selalu sakit dengan masalah utama ini dan akan
    harus minum obat untuk membuat tetap nyaman sepanjang sisa
    hidup anda." Biasanya, setelah terdiam
    sebentar untuk berpikir, jawaban mereka adalah,
    "Berikan saya tablet-tablet itu."
    -- Alec Forbes, M.D.,
    The Famous Bristol Detox Diet for Cancer Patients


    Menolak Berperan Sebagai Korban

     

    S i t u s - L a i n :

    Edi Cahyono's Experience
    Nur Rachmi's World
    Semsar Siahaan's Gallery
    Oey's Renaissance
    George Grosz
    Satu Mei
    Yayasan Penebar Page
    Political-Economy Page
    <<Previous  ||  Next>>