Oleh :
Acep Syahril
ida
hari ini orang-orang menuliskan sejarah
dengan genangan darah atau air mata
antara wangi nyawa dan tebaran kemboja
di situ hati nurani mereka berkumandang terang
seperti kilatan-kilatan mata pedangkobaran amarah mulai membakar
segala dinding jiwa
kata-kata berubah jadi api yang menghanguskan
lapar dan ketertindasan
para penjarah yang dulu tertawa sekarang telah kembali dijarah
wajah mereka pucat kota-kota jadi satu warna
riuh dan gemetarida
jelanglah anak-anakmu yang bermain
di ladang dan pematang sawah kita
kabarkan pada mereka
kalau kekuasaan zalim di negeri ini
pasti akan matikabarkan juga pada marno
pengamen yang selalu dihina sebagai peminta-minta itu
atau pada kasini yang masih melontekan dirinya
karena perlakuan mereka yang pernah memiskinkan dirinyabahwa pohon kejahatan yang mereka tanam
di pekarangan negeri ini sedang dicerabuti dari akarnya
bergalon-galon peluh saudaramu yang dulu beku
sebentar lagi akan cair mengalir
ke muara-muara penuh tuju
tapi jangan tinggalkan kampung halamanmu ida
tetaplah kau di sana sebab seluruh yang tumbuh
di sekitar rumah kita tetap bergizi
untuk menghidup-suburkan tubuh
dan sel syaraf pikir kita
sambil belajar tau tentang dunia atau
negeri ini yang nantinya akan berputar kencang
seperti panggalanida, tetaplah kau di sana
berdoa dan bermufakatlah kau dengan tuhan
ajarkan anak-anak dan tetanggamu untuk selalu
mengenal warna sejarah
agar mereka lebih berani dan selalu siap
melakukan pertentangan
jakarta, 12 mei 1998
(Sajak ini telah dibacakan
oleh penyairnya di bus-bus kota dan busa antar kota di Jakarta dan kota-kota
lain di Jawa)
Republik, 4 Oktober 1998