Oleh
:
D. Zawawi
Imron
airmata langit yang menetes perlahan
menghindar dari mulut bunga
dengan setia dijatuhinya sebongkah batu
hingga tertulis prasasti
sejak kapan dimulai gelisahlantaran apa bunga mengidap rasa dahaga
sedang cuaca tak pemah dusta ?
bunga meludah dan terus meludah
sampai langit sempurna merahnyabulan terlentang kematian warna
tak kuat lagi memukul dahaga
ia menolak tetek cucunya
Memahami Puisi, 1995
Mursal Esten