MATA PENA Oleh:
Hamdy Salad
Kucelupkan mata pena dan ujung jari
ke dalam kawah para pendaki
saat resah melintasi pohon kalimah
yang meninggi di antara harum belerang
persetubuhan mimpi, langit dan bumiDan duka yang melebar di dada
kukepakkan bagai sayap Jibril
mengarungi hakikat-hakikat kota-kota mati
melebur jasad, menusuk dengki dan amarah
di pucuk duri. Membuka gerbang rahasia
mencacah setiap huruf yang nyala
menuju tangga-tangga kesaksian
di ceruk malam. Kurebah telapak tangan
menimang luka anak-anak jiwa
ketika bulan mengapungkan diri
di langit kapas, kristal emas bertaburan
menanggalkan panorama kelam
pada embun yang mulai turun
di punggung bumi. Subuh pun merayap
ke dalam ruh rerumputan
yang tumbuh mengitari jejak kakiSerupa alif yang bergerak di lumbung sunyi
kulepaskan mata pena dan anak panah
menembus bayang dalam senyawa angin laut
arah bintang ditinggal pergi
mencari tanda-tanda di Cincin Maulana1999
Sajak-sajak Hamdy Salad
Kompas Online edisi: 07032000