Berlangganan Koran Selasa, 20-APR-2004
   
 Menu Utama
 Halaman Depan
 Tajuk
 Bursa
 Keuangan
 Jasa & Perdagangan
 Ekonomi Umum
 Manufaktur
 Industri
 Usaha Kecil & Koperasi
 Transportasi
 Umum
 Teknologi Informasi
 Laporan Khusus
 Peluang Bisnis
 Ritel
 Agribisnis
 Tamb. & Infrastruktur
 Olahraga
 Komoditas
 Daftar Isi
 
 Tabel Bursa Moneter
 Bursa Efek Jakarta
 Bursa Efek Surabaya
 Obligasi
 Suku Bunga Deposito
 Suku Bunga Antar Bank
 Kurs Valuta
 Kurs Bank Devisa
 Reksadana
 Kurs Swap
 Pasar Uang Antar Bank
 Bursa Komoditas
 Transaksi Warrant
 Transaksi Futures
 Insurance Linked
 Kurs Valas Int
 Kurs Valas Di Pasar Int
 Produk Perbankan
 Trans Kontr. Berjangka
 Dana Pensiun Lbg. Keu
 Indeks Bursa Regional
 Indeks Bursa Global
  
 
  
  
  
Teknologi Informasi
Kisruh TI-KPU, cermin kegagalan pahami e-gov
 
Telah terjadi perkembangan menarik pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 9 April 2004 yang lalu. Sebanyak 17 partai politik peserta pemilu telah menuntut Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menghentikan proses penghitungan yang menggunakan sistem komputerisasi.

Sungguh suatu ironi. Tuntutan terhadap KPU tersebut terjadi justru di tengah gencarnya kampanye penggunaan komputer-lebih dikenal saat ini dengan teknologi informasi (TI)-dalam berbagai aktivitas masyarakat dan penyelenggaraan pemerintahan sebagai upaya mempersiapkan bangsa ini menuju bentuk tatanan ekonomi baru (new economy).

Namun jika diamati perkembangan yang terjadi di lapangan, kiranya permintaan penghentian proses komputerisasi penghitungan suara tersebut juga cukup beralasan. Proses perhitungan suara pascapencoblosan ternyata sangat mengkhawatirkan.

Selain kesalahan input, kalkulasi, dan tabulasi, kesalahan mendasar seperti seringnya server down dan terjadinya reset ulang di Pusat Tabulasi Nasional (TPN) pada Selasa 6 April 2004 yang berlokasi di sebuah hotel berbintang juga tidak terelakkan.

Kesemuanya itu tentu saja menjadi sisi gelap bagi kampanye pelaksanaan e-government (e-gov) yang tengah dikumandangkan Kantor Kementerian Negara Komunikasi dan Informasi (Kominfo) sesuai dengan Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003.

Menjadi pertanyaan, apakah bangsa Indonesia ini benar-benar telah siap memasuki era globalisasi dan mengambil manfaat sebesar-besarnya untuk kesejahteraan seluruh rakyatnya? Tulisan ini menelusuri kisruh sistem TI-KPU sebagai salah satu aplikasi e- gov yang justru sedang gencar dikembangkan diberbagai kantor dan wilayah di Indonesia.

E-gov didefinisikan sebagai upaya pemanfaatan dan pendayagunaan telematika untuk meningkatkan efisiensi dan cost-effective pemerintahan, memberikan berbagai jasa pelayanan kepada masyarakat secara lebih baik, menyediakan akses informasi kepada publik secara lebih luas, serta menjadikan penyelenggaraan pemerintahan lebih bertanggung jawab dan transparan kepada masyarakat (Satriya, Perencanaan Pembangunan No. 30/2003).

Dalam pemanfaatannya untuk pembangunan, diperlukan pemahaman atas beberapa prinsip dasar bahwa e-gov (1) hanyalah alat; (2) mempunyai resiko terhadap integrasi data yang sudah ada; (3) bukanlah pengganti managemen publik dan kontrol internal pemerintahan; (4) masih diperdebatkan peranannya dalam hal mengurangi praktek KKN; (5) masih diragukan untuk dapat membantu mengurangi kemiskinan; dan (6) memerlukan kerja sama antar ICT profesional dan pemerintah.

Tahapan pelaksanaan e-gov biasanya disesuaikan dengan karakteristik negara masing-masing. Ada negara yang mendahulukan perdagangan dan e-procurement, ada yang memprioritaskan pelayanan pendidikan, dan ada pula yang mengutamakan kerja sama regional.

Secara umum tahapan pelaksanaan e-gov yang biasanya dipilih adalah (1) membangun sistem e-mail dan jaringan; (2) meningkatkan kemampuan organisasi dan publik dalam mengakses informasi; (3) menciptakan komunikasi dua arah antar pemerintah dan masyarakat; (4) memulai pertukaran value antar pemerintah dan masyarakat; dan (5) menyiapkan portal yang informatif (Wescott, 2001).

Untuk perbaikan

Memperhatikan perkembangan proses perhitungan suara seperti dikhawatirkan parpol dan masyarakat pemilih, serta merujuk kepada karakteristik e-gov seperti telah diuraikan di atas, kiranya dapat dicermati beberapa hal yang mencerminkan kegagalan pemahaman konsep e-gov untuk perbaikan.

Pertama, secara umum harus diakui bahwa tingkat kesadaran (awareness) masyarakat Indonesia akan potensi e-gov masih tergolong rendah. Ironisnya lagi hal ini bukan saja berlaku untuk masyarakat umum, tetapi juga untuk sebagian besar masyarakat yang tergolong berpendidikan, para pejabat, maupun para elite parpol.

Kedua, penyelenggaraan perhitungan hasil pemilu dengan sistem TI-KPU jelas tidak sejalan dengan kaedah yang berlaku dalam tahapan pelaksanaan e-gov. Pada saat ini memang sudah cukup banyak kantor-kantor pemerintah yang memiliki e-mail dan jaringan yang menyediakan Internet.

Namun masih terdapat beberapa kesenjangan dalam pemahaman dan penerapan e-gov. Secara umum, Indonesia baru dapat dikatakan memasuki tahapan kedua yaitu meningkatkan kemampuan organisasi dan publik dalam mengakses informasi. Sedangkan tahapan-tahapan berikutnya masih belum terlaksana secara merata.

Pada kondisi seperti inilah, kemudian KPU menerapkan TI untuk menunjang pelaksanaan pemilu, khususnya perhitungan suara. Seperti pernah saya kemukakan dalam sebuah kolom majalah, sesungguhnya sudah dapat diperkirakan bahwa penggunaan e-democracy terlalu dini yang merupakan tahapan advanced e-gov dalam masyarakat Indonesia akan berujung kepada kegagalan karena faktor keterbatasan infrastruktur dan faktor SDM (Forum, No 44 April 2004).

Selanjutnya, visi dan misi KPU tentang penggunaan TI dalam mendukung kegiatan pendataan pemilih, penentuan partai dan para calegnya, proses dan mekanisme penghitungan suara, hingga tabulasi hasil perhitungan suara tidak terlihat dengan jelas dari awal.

Padahal bangsa ini sudah pernah sukses menggunakan pekerjaan sejenis dengan skala berbeda sejak dua puluh tahun lalu, yaitu di awal 1980-an. Untuk proses penghitungan suara di tingkat TPS, saya membayangkan bahwa setiap TPS sudah mempunyai kertas computer form seperti digunakan dalam Tes Masuk Perguruan Tinggi Proyek Perintis dan Tes Sipenmaru yang hanya memerlukan proses penghitaman bulatan-bulatan terkait sebagai hasil perhitungan per TPS baik untuk partai maupun caleg. Kemudian computer form tersebut tinggal di-scan dan dikirimkan via e-mail dari setiap Kecamatan atau Kabupaten/Kota ke data center KPU untuk selanjutnya ditabulasikan hasilnya secara otomatis lewat program sederhana yang bisa dikerjakan oleh kebanyakan praktisi ataupun mahasiswa TI. Tapi ternyata jauh panggang dari api!

Keempat, sebenarnya proses tender perangkat TI sejak awal sudah bermasalah. Banyak sekali protes yang telah dilayangkan berbagai pihak yang berminat untuk ikut serta mendapatkan bagian pekerjaan TI ini. Selain soal transparansi, profesional TI telah menyarankan pengadaan perangkat bisa dihemat secara signifikan seandainya mempertimbangkan perangkat keras dan perangkat lunak yang berbasis open source. Banyaknya protes mencerminkan belum terjadinya komunikasi antara masyarakat dan KPU yang merupakan salah satu tahapan penting e-gov.

Terakhir, salah satu prinsip dasar penerapan e-gov juga tidak dilaksanakan yakni tidak mengikutsertaan para profesional dan praktisi TI secara optimal yang justru sangat berpengalaman di lapangan.

Pihak KPU lebih merasa aman menggandeng para dosen dan peneliti dari beberapa perguruan tinggi. Hal ini berakibat sangat fatal yang tercermin dari pemilihan topology jaringan sistem terpusat yang sangat rentan terhadap stagnansi proses perhitungan dan penggunaan jaringan Telkomnet Instan yang belum teruji.

Oleh Eddy Satriya
Analis infrastruktur dan masalah sosial

 
  Tampilan Cetak  
   
  
  
 
Search
English Version
 
    Berita Lainnya
     
  • Kominfo susun standar kompetensi TI nasional
  • Penjualan perangkat M2M naik
  • Komunitas TI desak audit sistem TI-KPU
  • Mandara ekspansi CDMA ke Sumsel
  • Pemilu dorong trafik SMS naik
  • Contact center terpadu Infomedia selesai Des.
  • Lintasarta implementasikan WiMAX
  • Nokia kembangkan standar terbuka
  • Toshiba incar pasar notebook Jatim
  • Telkom siapkan 144.000 SSF di Kalimantan
  • MONITOR
    Pasar jaringan Aspas naik
      
      
     
     
     
    Kontak Kami | Registrasi | Login | Informasi Iklan
    Tampilan terbaik dengan IE5 atau lebih & resolusi 800 x 600 pixel
    Copyright © PT. Jurnalindo Aksara Grafika, April 2001.