Slamat P SINAMBELA: POSMODERNISME

POSMODERNISME
Slamat Parsaoran Sinambela

Kata ini adalah kata yang sangat kontroversial dalam jaman kita saat ini. Namun sayangnya apa yang kita sering mengerti tentang kata ini lebih sering karikatur posmodernisme itu sendiri, dan bukan posmodernisme dalam arti yang dalam. 

Mendengar kata ini, maka kata lain yang muncul dalam benak kita adalah dekonstruktif. Itu yang terlanjur terkenal dari posmodernisme. Padahal, ada juga Posmodern yang berada pada garis konstruktif. Katakanlah seperti Heidegger, Gadamer dan Ricoeur. Dan pada kubu dekonstruktif ada Lyotard, Foucault, Rorty dan seorang yang sangat terkenal, Derrida.

Jika dilihat dari asal katanya: "post" dan "modern", kata ini bisa kita artikan sebagai sesuatu setelah modern. Kata ini dipakai pertama kali oleh Federico de Onis dalam bidang seni pada tahun 1930-an, kemudian di bidang Historiografi oleh Toynbee tahun 1947. Benih awalan "post" berasal dari tulisan Leslie Fiedler tahun 1965 ketika dia menggunakan kata-kata: post-humanist; post-male; post-white. Seperti makna yang dapat kita tangkap sendiri dari kata "post" berarti suatu keadaan yang berusaha untuk melepaskan diri dari sebuah tatanan. 

Awalan post ini pula membuat arti kata posmodernisme menjadi ambigu dan tidak jelas. Apalagi setelah ditambah akhiran "isme", kita akan berpikir bahwa kata itu menjadi sebuah paham, padahal posmodernisme dibangun atas banyak sekali paham. Paham-paham dalam posmodernisme sendiri seringkali tidak berkaitan. 

Jika kita melihat tiga jaman yang telah dilintasi manusia, kita akan temukan beberapa hal penting yang dicirikannya. 

Pertama, Jaman Pramodern ditandai dengan kegiatan manusia yang bersifat tradisional, mengandalkan kekuatan tubuh (padat karya), kekuatan alam dan masih tergantung pada Tuhan (masih spiritual minded). 

Kedua, Jaman Modern ditandai dengan penemuan-penemuan mutakhir, industrialisasi dan munculnya mesin-mesin yang menggantikan tenaga manusia (padat modal). Pada jaman ini manusia mulai mengenyampingkan hal-hal spiritualisme (tidak percaya pada Tuhan) dan mulai bergantung pada rasio (akal), sebab manusia "berhasil" mengatasi setiap masalahnya dengan mesin-mesin ciptaannya. 

Ketiga, Jaman Postmodern adalah jaman dimana manusia menyadari bahwa modern telah gagal dalam pemenuhan "kebutuhannya". Manusia tidak bergantung lagi pada rasio (akal) bahkan mulai meragukan apa yang dia tahu (krisis epistemologi). Jaman ini juga ditandai dengan ditolaknya semua pandangan (worldview) yang telah mapan dari jaman modern. Jaman ini adalah jaman yang paling sulit pada seluruh bidang, sebab dekonstruktif (satu bagian dari ciri jaman ini) mengubah tatanan yang telah standar pada jaman modern.

Kita bisa melihat arsitektural yang aneh dengan bentuk yang lepas-lepas dan tidak simetris. Kita bisa melihat lukisan yang bentuknya tidak karu-karuan. Mendengar musik yang hanya bisa dinikmati sendiri dan dengan pengertian sendiri. Menonton film yang ending-nya kita tentukan sendiri, dan nyaris sulit memberinya arti (ingat film Forest Gum, film ini ada muatan posmonya). Dan yang menjadi kesulitan terbesar adalah serangan terhadap filsafat. Dalam jaman ini filsafat menjadi mandul sebab spirit posmo menyatakan "there is no objective truth". Tidak ada kebenaran yang objektif. Dalam pembacaan teks, seluruhnya didekonstruksi sehingga tak bermakna. 

Derrida -- salah satu pemikir yang banyak mewarnai Posmodern -- menggagas satu cara baru pembacaan teks dengan langkah-langkah sebagai berikut (I Bambang Sugiharto, Posmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2000):

Pertama, mengidentifikasi hierarki oposisi dalam teks dimana biasanya lantas terlihat peristilahan mana yang diistimewakan secara sistematik

Kedua, oposisi-oposisi itu dibalik, misalnya dengan menunjukkan adanya saling ketergantungan di antar yang berlawanan itu, atau dengan mengusulkan privilese secara terbalik.

Ketiga, memperkenalkan sebuah istilah atau gagasan baru yang ternyata tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori oposisi lama

Cara yang kita gunakan untuk membaca dan menafsirkan teks biasanya hendak mencari makna atau warta dari sebuah teks, atau kalau bisa malah makna itu harus lebih jelas daripada teks aslinya. Bahkan kalau perlu ia akan memberi premis-premis yang dalam teks sendiri tak tertulis, atau menjelaskan motif motif si pengarang dsb. 

Tetapi, dekonstruksi tidak melakukan hal ini. Jangankan membantu sebuah teks menampilkan maknanya, dekonstruksi malah sebaliknya, yaitu berusaha memperlihatkan ketidakutuhan atau kegagalan-kegagalan tiap upaya teks itu untuk menutup diri. Dekonstruksi mau menumbangkan hierarki konseptual yang menstukturkan sebuah teks. Lewat dekonstruksi, sebuah teks tak lagi merupakan tatanan makna yang utuh, melainkan sebuah pergulatan antara upaya penataan dan khaos, pergulatan untuk mengatasi materialitas teks demi mencapai transparansi yang sia-sia. Dalam cara seperti inilah filsafat digerogoti dan dihancurkan (I Bambang Sugiharto, 2000)

Apa pengaruhnya terhadap kekristenan? 
Pola dekonstruktif yang digunakan dalam dalam pembacaan teks pada era posmo mengakibatkan hampir semua teks didekonstruksi termasuk penafsiran terhadap Alkitab. Pemikir posmo mendekonstruksi "logos" (firman) menjadi sesuatu yang berarti hanya bagi orang percaya. Ini akan sangat melemahkan penginjilan pada zaman ini karena tidak ada lagi "objective truth". Yang ada hanya kebenaran-kebenaran (huruf "k" kecil) dan bukan Kebenaran (huruf "K" kapital) yang bisa diterima oleh manusia berpola pikir dekonstruktif.

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh 14: 6) tidak lagi berotoritas dalam posmodernisme. Manusia posmo-dekonstruktif menolak semua pemahaman dan memandulkan epistemologi, sehingga menjadi kesulitan tersendiri dalam penyampaian Kabar Gembira kepada mereka. Hampir semua pelayanan kristiani baik lisan dan tulisan akan mengalami perlawanan yang hebat jika dibenturkan dengan pola dekonstruktif yang ditawarkan Jaman Posmodern ini. 

Kini maukah kita memohon bijaksana dari Tuhan untuk membawa jaman ini kepada Allah yang Hidup? Kiranya Tuhan menolong kita.

Jakarta, 5 Januari 2004

Home     Artikel

Copyright 2004. All rights reserved

1