SWASTI! SWARA PURBAKALA NUSANTARA Media Publikasi Berita, Gagasan, Ide, dan Wacana Dalam Khazanah Kepurbakalaan Nusantara

Candi di Indonesia; Kajian Fungsi Spesifik
dan Gagasan Tentang Metodenya


tanggal upload naskah : 25 November 2003
Kontributor : Gatut Eko Nurcahyo



Ajaran agama merupakan konsep atau tata nilai yang tidak hanya menjadi pedoman perilaku praktik keagamaan bagi penganutnya, tetapi juga menjadi pedoman pembuatan artefak yang menjadi alat atau sarana dalam menjalankan upacara keagamaan. Hubungan antara artefak keagamaan dengan ajaran agama sangat erat, sehingga artefak keagamaan dapat dimanfaatkan untuk memperoleh gambaran atau pemahaman tentang aspek-aspek kehidupan agama pada suatu tempat dan kurun waktu tertentu. (Kusen, et. al., 1993 : hal. 91)

Bentuk data arkeologi selain artefak, adalah ekofak dan fitur. (R.J. Shahrer dan Windy Ashmore, 1993 : 114-116). Ekofak adalah materi non-artefaktual yang tidak secara langsung dibuat atau dimodifikasi oleh manusia, tetapi mengandung informasi yang penting tentang aktifitas manusia masa lampau. Tulang-tulang binatang dan serbuk sari adalah contoh-contoh ekofak, dan keduanya dapat digunakan untuk memperkirakan jenis bahan makanan masyarakat masa lampau dan keadaan lingkungannya. Fitur adalah artefak yang tidak dapat dipindahkan dari material yang mendukungnya (matriks). Dua aspek penting yang terdapat pada fitur adalah posisi dan susunannya yang jika dipindahkan akan mengakibatkan perubahan atau kerusakan terhadap bentuk aslinya. Sebagai contoh, fitur dapat ditemukan dalam bentuk bekas jalan, lubang pembuangan sampah, lantai bangunan, dan tembok bangunan.(ibid.)

Berdasarkan tingkat keterlibatan perilaku manusia terhadap keberadaannya, fitur dapat dikategorikan sebagai constructed feature dan cumulative feature. Jenis fitur yang disebut pertama adalah fitur yang menunjukkan gejala dibuat secara sengaja atau telah terencana sebelumnya, sebagai fasilitas untuk satu atau beberapa aktifitas manusia, misalnya rumah dan kuil. Fitur kumulatif adalah fitur yang tidak menunjukkan gejala adanya perencanaan terlebih dulu dalam pembangunannya, misalnya lubang-lubang hasil aktifitas pertambangan masyarakat pada masa lampau.(ibid.)

Data arkeologi yang banyak ditemukan di Indonesia dan termasuk dalam kategori fitur adalah bangunan. Bangunan merupakan salah satu bentuk peninggalan yang berasal dari masa prasejarah, klasik, Islam, dan kolonial di Indonesia. Kondisi fitur pada saat ditemukan ada yang masih utuh, namun ada juga yang tidak utuh. Salah satu fitur berupa bangunan yang berasal dari masa klasik di Indonesia adalah candi, bangunan keagamaan yang dipengaruhi oleh kebudayaan India yang berintikan alam pikiran agama Hindu dan Buddha. (Soekmono, 1986 : 228-246).

Sifat keagamaan dan kesakralan candi bagi masyarakat masa lampau dapat ditelusuri melalui berbagai aspek yang melingkupinya, antara lain aspek arsitektur dan aspek maknawinya. Berdasarkan penelusuran terhadap kedua aspek tersebut, terdapat hal-hal yang membedakan candi dengan bangunan non-keagamaan atau bangunan profan. Secara arsitektural, sifat keagamaan candi ditunjukkan melalui penerapan aturan tertentu dalam pembangunannya, meskipun bukti tertulis tentang hal itu belum ditemukan di Indonesia. Namun demikian, aturan pembangunan candi dapat dirunut melalui kitab-kitab Vastusastra (kitab tentang arsitektur) atau Silpasastra yang berasal dari India, dan berisi patokan pembangunan bangunan sakral. Kitab-kitab yang digolongkan Vastusastra dan Silpasastra cukup banyak jumlahnya, misalnya Mannasara, Mayamata, Silpaprakasa, dan Vishnudhamottaram. (Hariani Santiko, 1996 : 140). Berdasarkan penelitian-penelitian terhadap arsitektur candi di Indonesia, para ahli sepakat bahwa terdapat bukti penerapan aturan-aturan pembangunan bangunan sakral seperti yang dimuat dalam kitab-kitab tersebut.

Sifat keagamaan candi ditunjukkan pula secara maknawi, seperti yang dikemukakan oleh Robert Heine-Geldern. (lihat : Robert Heine-Geldern, 1982). Heine-Geldern menjelaskan bahwa kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos merupakan suatu konsep yang diyakini oleh masyarakat Asia Tenggara. Konsep tersebut melatarbelakangi keberadaan candi yang menjadikannya sangat penting bagi masyarakat pendukungnya. Disebutkan dalam ajaran-ajaran Brahma dan Buddha bahwa bentuk jagad raya adalah lingkaran atau cincin, dan terdiri atas wilayah-wilayah yang disusun sedemikian rupa mengelilingi Gunung Meru sebagai pusatnya. Seperti halnya jagad raya (makrokosmos) yang berpusat pada Gunung Meru, kerajaan sebagai jagad kecil (mikrokosmos) juga harus memiliki Gunung Meru sebagai pusatnya. Gunung Meru sebagai pusat mikrokosmos tidak harus berupa gunung dalam arti sesungguhnya, tetapi dapat direpresentasikan dalam bentuk candi yang melambangkan Gunung Meru dan tempat tinggal para dewa (sthana).

Selain sebagai replika Gunung Meru, bagian-bagian dari sebuah candi merupakan simbol dari Tiga Lingkungan Semesta atau Triloka. (Jan Fontein, et.al., 1971 : 14-15). Kaki candi, tubuh candi, dan atap candi secara berurutan merepresentasikan Bhurloka (lingkungan bagi para makhluk yang tidak terelakkan dari kematian), Bhuvarloka (lingkungan bagi para makhluk yang telah disucikan), dan Svarloka (lingkungan para dewa). Makna simbolis yang direpresentasikan melalui bagian-bagian candi tidak hanya berkaitan dengan konsep Triloka. Candi Borobudur misalnya, merepresentasikan konsep Tridhatu, yaitu Kamadhatu (lingkungan bagi makhluk yang masih terikat oleh hal-hal duniawi), Rupadhatu (lingkungan bagi makhluk yang telah mampu menghilangkan keinginannya tetapi masih terikat oleh paham atau pengertian dari dunia yang masih memiliki wujud), dan Arupadhatu (lingkungan bagi makhluk yang telah mencapai kesempurnaan dan kebebasan dari segala bentuk ikatan keduniawian).

Candi dan berbagai aspek yang melingkupinya merupakan fenomena yang menarik banyak peneliti. Beberapa aspek di antaranya adalah aspek arsitektur, aspek lingkungan di sekitar candi, dan bahkan kedua aspek itu sekaligus. Penelitian terhadap aspek arsitektur candi antara lain dilakukan oleh Parmono Atmadi dan IGN. Anom. (lihat : Parmono Atmadi, 1979 dan IGN. Anom, 1997). Parmono Atmadi, berdasarkan studi terhadap relief di Candi Borobudur, berhasil mengungkapkan patokan dalam perancangan bangunan candi. Penelitian IGN. Anom, dengan menempatkan Candi Utama Sewu sebagai studi kasus, berhasil mengungkapkan keterkaitan antara aspek teknis dengan aspek konseptual dalam pendirian candi pada periode Jawa Tengah. Latar belakang penggunaan bahan bangunan sebagai bagian dari aspek arsitektur dan lingkungan candi pun tidak lepas dari pengamatan peneliti, seperti yang dilakukan oleh Nurhadi Rangkuti terhadap candi-candi di daerah Prambanan. (lihat : Nurhadi Rangkuti1995). Penelitian dengan pendekatan ekologi budaya tersebut menghasilkan kesimpulan adanya keterkaitan antara penggunaan bahan bangunan candi dengan daya dukung lingkungan candi sebagai penyedia bahan bangunan.

Seni hias candi pun tidak luput dari pengamatan peneliti, khususnya yang berupa relief. Marijke J. Klokke misalnya, menggunakan naskah-naskah kesusastraan untuk mengidentifikasi isi cerita relief binatang, atau yang disebut dengan relief cerita Tantri, pada candi-candi di Jawa. Berdasarkan penelitiannya, Klokke mengemukakan bahwa makna dan fungsi relief cerita binatang merupakan representasi dari konsep kesuburan yang sekaligus berfungsi sebagai media penyampaian ajaran. Selain itu, disimpulkan juga bahwa relief cerita binatang yang terdapat pada beberapa candi di Jawa bersumber pada kitab-kitab keagamaan dan kesusastraan yang memuat ajaran moral, yaitu Jataka dan Pancatantra, termasuk berbagai versi turunannya. (Marijke J. Klokke, 1993) Relief candi juga menjadi inspirasi bagi para peneliti dalam merekonstruksi lingkungan kuna. Steinmann, yang ditindaklanjuti oleh S. Kadarsan dan kawan-kawan, berhasil mengidentifikasi tidak kurang dari 57 jenis fauna yang digambarkan dalam relief di beberapa candi di Jawa. Sejumlah fauna tersebut selanjutnya dikelompokkan ke dalam jenis binatang yang terdapat di Pulau Jawa dan jenis binatang yang berasal dari luar Pulau Jawa, atau jenis binatang yang pernah hidup di Pulau Jawa tetapi sekarang telah punah. (S. Kadarsan, et. al. 1977 : 305-318)

Para arkeolog pada umumnya sepakat bahwa terdapat tiga tujuan umum dalam disiplin arkeologi, yaitu merekonstruksi sejarah kebudayaan, merekonstruksi cara-cara hidup, dan memperoleh gambaran proses kebudayaan masyarakat masa lampau. (Lihat : Brian M. Fagan, 1975 : 8 dan Mundardjito, 1993 : 19). Berkaitan dengan tujuan umum tersebut, beberapa penelitian yang telah dikemukakan menunjukkan bahwa candi dan berbagai aspek yang melingkupinya sangat potensial untuk dikaji, terutama untuk merekonstruksi cara hidup masyarakat pendukungnya.

Berkaitan dengan usaha merekonstruksi cara-cara hidup, salah satu pokok perhatiannya adalah fungsi benda hasil aktifitas masyarakat pendukungnya. Fungsi mengandung pengertian sebagai sesuatu yang menunjukkan kaitan antara satu hal dengan hal lain, atau sesuatu yang menyatakan hubungan antara suatu hal dengan pemenuhan kebutuhan tertentu. (R.J. Shahrer dan Windy Ashmore, op.cit., hal. 14 dan 613, dan Edi Sedyawati, 1994 : 25). Asumsi tersebut dianggap berlaku pula untuk bangunan candi yang merupakan hasil aktifitas manusia masa lampau, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan keagamaan.

Kajian mengenai fungsi candi di Indonesia telah menarik perhatian para peneliti sejak lama. Raffles pada tahun 1917 dan Stutterheim pada tahun 1931, telah melakukan penelitian terhadap candi dan berkesimpulan bahwa fungsinya adalah bangunan pemakaman bagi raja atau orang terkemuka. (Soekmono, 1977 : 1-2, 17, 41, dan 213) Peneliti lainnya, yaitu Muusses, berpendapat bahwa tidak semua candi adalah bangunan pemakaman. Soekmono, yang penelitiannya bersumber pada kesusastraan kuna, relief, peripih, prasasti, dan perbandingan dengan objek serupa dari luar Indonesia, berkesimpulan bahwa candi adalah bangunan kuil.

Hipotesis-hipotesis yang pernah diajukan oleh para peneliti masih terus dikembangkan, di antaranya oleh Satyawati Sulaiman, Soediman, Indah Wulanningsih, dan Parjana. Satyawati Sulaiman, mengemukakan bahwa candi adalah memorial temple, dan juga menjadi tempat bagi pendeta untuk menyampaikan ajaran agama yang bersifat rahasia kepada penganutnya. Soediman (lihat : Soediman, 1985 : 661-683), berdasarkan penelitiannya mengemukakan bahwa candi adalah bangunan suci yang memiliki makna dan fungsi majemuk. Candi adalah simbol mikrokosmos, pusat dunia, axis mundi, poros dunia, sokoguru dunia (cosmic pillars), serta penghubung antara bumi dengan langit. Berdasarkan simbolisme tersebut, dapat dijabarkan bahwa masyarakat pada masa lampau membangun candi didasari dengan keinginan untuk dapat hidup sedekat mungkin dengan pusat dunia dan dapat berkomunikasi dengan dunia para dewa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian Soediman dapat disebut sebagai pendekatan keagamaan yang membuktikan bahwa candi merupakan kreasi bentuk-bentuk simbolis dari perasaan manusia yang dilandasi oleh konsepsi keagamaan.

Selain Satyawati Sulaiman dan Soediman, penelitian terhadap fungsi candi juga dilakukan oleh Indah Wulanningsih. (Indah Wulanningsih, 1995) Penelitian itu ditujukan terhadap Candi Mantup. Penelitian Indah Wulanningsih ternyata mampu memberikan penjelasan yang lebih spesifik tentang fungsi Candi Mantup sebagai salah satu mata rantai dalam ritual pernikahan masyarakat Jawa Kuna. Penelitian lainnya yang menghasilkan penjelasan tentang fungsi candi secara spesifik juga dilakukan oleh Parjana (Parjana, 1996) terhadap Candi Plaosan Lor. Berdasarkan penelitian terhadap aspek arsitektur, ikonografi, dan epigrafi, disimpulkan bahwa Candi Plaosan Lor berfungsi untuk memuja Triratna. Selain itu, dikemukakan pula bahwa secara umum Kompleks Situs Plaosan pada masa lampau merupakan vihara. Kedua Candi Induk Plaosan Lor merupakan bangunan utama yang disebut jinamandira.

Istilah candi secara umum digunakan untuk menyebut semua bangunan peninggalan kebudayaan Hindu dan Buddha di Indonesia yang berupa pemandian kuna, gapura atau gerbang kota, dan bangunan suci keagamaan. (Ayatrohaedi, et. al., 1978 : 35) Istilah tersebut memberikan pengertian yang sifatnya masih umum, belum menggambarkan ciri spesifik mengenai aspek bentuk maupun fungsi dari setiap bangunan yang dimaksud. Pengertian candi yang dapat dihubungkan dengan bentuk bangunan keagamaan tertentu tidak banyak dijumpai dalam prasasti, di antaranya hanya dalam prasasti Ngabean (OJO CVI, tanpa angka tahun) dan prasasti Paguyangan (diperkirakan berasal dari tahun 1049 M.-1077 M.) (Soekmono, 1977 : 160-161) Istilah-istilah dalam prasasti dan kitab-kitab kesusastraan untuk menyebut bangunan keagamaan ternyata bermacam-macam, yaitu caitya, prasada, vihara, dharmma, kabikuan, parhyangan, kuti, patapan, šala, sthana, mandira, bhawana, dan grha. (Ibid., M.M. Sukarto K. Atmodjo, 1979 : hal. 52, Riboet Darmosoetopo, 1997 : 268-331).

Gambaran yang spesifik tentang bentuk dari setiap bangunan keagamaan tersebut belum dapat diketahui. Hal itu menyebabkan kesulitan dalam mengidentifikasi fungsi bangunan yang sekarang dikenal sebagai candi secara akurat bagi masyarakat pendukungnya.

Candi merupakan fenomena purbakala yang sangat menarik untuk diteliti fungsinya. Fungsi candi bukanlah hal baru yang pernah diteliti oleh para arkeologi, namun demikian masih terbuka peluang untuk mengembangkan hipotesis-hipotesis yang pernah diajukan. Hal tersebut berlaku juga bagi candi yang baru ditemukan dan memiliki karakteristik yang belum tentu sama dengan candi-candi yang pernah diteliti. Sekali lagi, pemahaman tersebut dapat bertolak dari kenyataan bahwa istilah untuk menyebut bangunan keagamaan dalam prasasti dan kitab kesusastraan tidak disertai dengan keterangan mengenai bentuk spesifik yang dapat dihubungkan dengan fungsi tertentu. Hal itu semakin membuka peluang bagi peneliti untuk menginterpretasikan fungsi suatu bangunan candi secara spesifik bagi masyarakat pendukungnya dalam rangka mendapatkan gambaran tentang kehidupan keagamaannya.

Soekmono, dalam penelitiannya tentang fungsi dan pengertian candi, memberikan perhatian khusus terhadap konsep-konsep yang tersirat dalam prasasti dan kitab keagamaan serta kesusastraan. Lain halnya dengan Rahadhian Prajudi H., yang memberikan perhatian lebih pada sudut pandang arsitektur, penelitiannya membahas aspek-aspek formal yang terdapat pada bangunan candi. (lihat : Rahadhian Prajudi H. 1999) Kedua peneliti tersebut, walaupun sama-sama tertarik pada candi dan pada prinsipnya dapat saling melengkapi, ternyata dapat menggunakan kajian atau pendekatan yang berbeda. Penelitian yang pertama sangat memperhatikan aspek konseptual dan menghasilkan batasan yang lebih jelas mengenai pengertian candi berdasarkan konsep-konsep yang melatarbelakanginya, sedangkan penelitian berikutnya sangat memperhatikan aspek formal yang terdapat pada candi.

Kedua penelitian yang telah dilakukan oleh Soekmono dan Rahadhian Prajudi menunjukkan bahwa aspek formal (bentuk), konseptual atau simbolisme, merupakan aspek-aspek yang sangat penting untuk menentukan fungsi suatu produk budaya bendawi. Analisis formal dan konseptual dilakukan terhadap data arsitektural dan juga terhadap data non-arsitektural yang ditemukan bersama dengan suatu bangunan candi karena interpretasi bentuk dan hubungan di antara data yang digunakan merupakan tahapan yang tidak dapat diabaikan.

Adanya kesenjangan ruang, waktu, dan budaya dengan objek yang diteliti menyebabkan studi terhadap konsep-konsep yang diperkirakan melatarbelakangi perilaku masyarakat pendukung budayanya sangat dibutuhkan. Keterangan mengenai konsep-konsep yang dianggap mendasari perilaku masyarakat masa lampau dapat diperoleh dari studi pustaka, yaitu hasil penelitian-penelitian yang telah dilakukan. Analisis formal didasarkan pada hasil observasi data artefaktual di lapangan dan jika diperlukan akan dilakukan perbandingan dan analogi dari hasil-hasil penelitian dari situs lain yang bermanfaat untuk interpretasi data pada tahap berikutnya.

Konsep-konsep yang dimaksud dalam analisis konseptual atau simbolisme meliputi hal-hal yang dianggap berlaku atau yang diperkirakan melatarbelakangi perilaku masyarakat pendukung budaya candi, yaitu konsep-konsep keagamaan. Pembatasan yang lebih lanjut yang menjadi titik tolak dalam penelitian ini adalah kurun waktu yang oleh para ahli diperkirakan berlangsung dari abad VII hingga XV M. atau yang dikenal dengan istilah masa klasik di Indonesia. Pembatasan-pembatasan ditentukan dengan pertimbangan bahwa data yang akan diinterpretasikan merupakan sisa-sisa hasil perilaku suatu masyarakat dari kurun waktu dan latar belakang budaya tertentu yang kebanyakan peninggalannya yang masih dapat ditemukan berupa bangunan-bangunan keagamaan. Pertimbangan lainnya adalah bahwa penelitian terhadap fungsi spesifik dari suatu candi memerlukan pembatasan agar efektif dan efisien dalam memanfaatkan pengertian-pengertian yang telah ada.




Komunitas Swasti! Swara Purbakala@2003
Website Administrator : gatut.eko@plasa.com

Kembali ke Daftar Wacana Kembali ke Halaman Utama
1