Sabtu

Indonesia Tattoo Scene

JAVA = TATTOO = CLUB

on-line sejak 2001-updated Jan 03

Tatt-SIND

Photo Gallery / Tattoo Links / Indonesia Tribal / Articles / Tattoo Tips / Convention / Oddities / Tattoo Band

Newsletter / People / Tattoo SIND / Java Tattoo Club / Pure Black Tattoo

KUMPULAN Artikel Tentang Seni Tattoo di Indonesia


Style and Lifestyle through Indonesian Tattoos (2001, Laine Berman, PhD) versi up-date dimuat di Latitudes Magazine vol 12- January 2002, click here >>

Padang, Sebelum seni tato (seni lukis rajah tubuh) suku terasing di Kepulauan Mentawai (sekitar 110 km arah Barat dari garis pantai Sumatera Barat) punah, sebaiknya dilakukan usaha-usaha untuk mengkaji dan mendokumentasikannya. Soalnya, tato tradisi orang Mentawai hanya merupakan karya seni seumur manusia yang memakai. "Keberadaan tato suku/orang Mentawai berbeda dengan tato sekarang (modern), yang lebih merupakan urban sub-cultures, seperti dipakai kaum muda untuk jati diri gengnya. Tato Mentawai luar biasa dan unik, memenuhi seluruh tubuh dari kepala sampai kaki dan sarat dengan simbol dan makna," jelas Adi Rosa, pelukis dan peneliti seni rupa jebolan pascasarjana seni rupa ITB, di Padang, Senin (31/7). Hasil pencekan Kompas di Siberut, Kepulauan Mentawai Sabtu- Kamis (22-27/7), menunjukkan, generasi muda asli Mentawai tidak lagi berminat mewarisi budaya tato tersebut. Kebiasaan membuat tato sudah mulai hilang karena dilarang pemerintah tahun 1970. Hanya orang berusia 45 tahun ke atas yang bertato dan jumlahnya sekitar seribu- dua ribu (5 persen). Menurut Adi Rosa, kini dosen seni rupa IKIP Padang, tato merupakan salah satu budaya etnis tertua bangsa Indonesia yang hanya ditemui pada orang (suku) Mentawai dan Dayak. Bagi orang Mentawai, tato merupakan busana abadi yang dapat dibawa mati. Bahkan juga merupakan alat komunikasi dan status sosial. "Saya ramalkan, 10-15 tahun mendatang, tato Mentawai punah. Makanya dari sekarang harus dilakukan pendokumentasian baik secara visual maupun tertulis (dibukukan)," kata Adi, peneliti tato Mentawai. Dia mengakui, tato sebagai lukisan tubuh begitu terabaikan dari kajian-kajian seni rupa Indonesia. Buktinya, dalam buku Seni Rupa Indonesia yang diterbitkan Direktorat Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1975) dan buku Sejarah Seni Rupa Indonesia yang diterbitkan melalui Proyek Pengadaan Buku Pendidikan Menengah Kejuruan Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Depdikbud (1982), tidak ada membahas masalah tato di Indonesia. Dari Medan, ada kekhawatiran tarian tradisi Melayu Ahoi bisa lenyap di masa datang akibat kemajuan zaman. Hal itu dikemukakan Kepala Bidang Program Pekan Budaya Melayu (PBM) XI, Dahri Uhum, di Medan, Selasa (1/8). Dalam PBM XI, hanya lima tim yang ikut lomba, yang dijuarai kabupaten Labuan Batu, diikuti Kodya Binjai, Deli Serdang, Langkat, dan Medan. Tarian Ahoi, katanya, menghilang seiring dengan kemajuan teknologi yang melanda sampai ke pematang sawah. Orang memanen padi, telah menggunakan mesin. Padahal, tarian ini dilakukan sebagai ungkapan rasa bahagia dalam menyambut panenan yang berhasil. (KK/RR)

 

ANAK JALANAN DAN SUBKULTUR

Selain rambut, tatto merupakan satu bentuk lain dari cara menampilkan diri. Sebagian anak melawankan tubuh yang bertatto dengan tubuh yang "bersih". Meski dikalangan umum memiliki tatto disamakan dengan preman, namun dikalangan anak jalanan ia memiliki makna yang berbeda. Beberapa anak mengatakan bahwa tatto merupakan penanda dari "show of force" sekaligus lambang "keras" dan jantan. Sebagian dari mereka membuat tatto sebagai satu tanda untuk menyimpan ingatan tertentu. Beberapa anak membua,t tatto sebagai satu inggatan atas peristiwa perginya seorang volunter ke negara asalnya dan juga peristiwa lain. Dalam beberapa hal bisa dikatakan bahwa kecenderungan berpakaian atau mentato tubuhnya juga menindik tubuhnya untuk dipasangi anting-anting baik di telingga, alis mata, pusar atau tempat lain tidak bisa dipisahkan dengan relasinya dengan cara penampilan yang normatif. Alternatif yang digunakan oleh anak jalanan tidak bisa tidak berada dalam dikhotomi bersih dan kumal. Menjadi "bersih" bisa jadi justru akan mengancam survival mereka di jalan. Artinya masyarakat dan anak-anak jalanan itu sendiri saling menjaga dengan tegas batas-batas yang mereka inginkan.

http://www.freewebs.com/kolektifbunga/anakjalanandansubkultur.htm

 

DSK Angkat Soal Seni Tato Jumat, 15-11-2002 , Panggung Kedaulatan Rakyat

PAKET acara ‘Dialog Seni Kita’ (DSK) produksi Yayasan Seni Cemeti dan Radio Unisi FM menampilkan tema ‘Seni Tato’, Jumat (15/11) pukul 21.22-22.15. Dewi, salah satu pengelola DSK mengatakan, tema tersebut menampilkan pembicara Dra Anggraini MA (staf pengajar Fakultas Ilmu Budaya UGM) dipandu Alia Swastika (penggiat kajian budaya Kunci Cultural Studies Center).
 Dikatakan Dewi, dalam tema tato tersebut DSK mengundang narasumber yang lekat dengan dunia tato, pelukis, konsumen, serta fenomena tentang tato. Dalam perbincangan perihal tato atau rajah tubuh di minggu pertama dan kedua bersama Munir (pelukis tato), Bob Sick Yudhita (kolektor tato) dan Dra Anggraini MA. Anggraini telah menulis buku ‘Tradisi Tato pada Beberapa Suku Bangsa di Indonesia’, ‘Melacak Tradisi Tato pada Masyarakat Prasejarah di Indonesia’. (Jay)-b

 

Perubahan Pikiran Rakyat Kamis, 04 Juli 2002

Dulu, ya dulu, tato memang simbol napi.
Tapi sekarang lain maknanya.
Ia sumber keindahan,
Semacam aksesori, semacam tanda,
Postmodern di akhir abad 20 

ENTAHLAH, apakah Soni Farid Maulana tahu atau tidak, bahwa ketika ia menulis baris sajak-sajak yang berjudul Tato itu , sesungguhnya ada fenomena Postmodern yang tengah dijelaskan, yakni apa yang kemudian disebut dengan shock of old (keterkejutan pada sesuatu yang lama). Tato adalah sesuatu yang berada di belakang dengan maknanya sendiri sebagai bagian dari penanda ritual, atau bahkan pada suku bangsa Dayak Kenyah, ia menjadi penanda bagi suatu status sosial tertentu.

Tapi, berabad-abad kemudian, entah bagaimana mulanya, tato datang pada kita sebagai sesuatu yang menjijikan. Negara telah menyihir seni rajah tubuh ini bukan lagi sebagai sesuatu yang harus dihargai. Tato adalah bukti bagaimana citraan dan makna itu bisa dipermainkan. Dan ketika tato kembali menjadi trend, banyak orang dengan bangga melakukannya. Menghiasi setiap bagian tubuhnya, termasuk yang paling rahasia sekalipun. Sesuatu yang lama, setelah ia tertimbun, selalu muncul kembali dengan sensasi waktunya yang kita anggap lain. Waktu adalah sensasi yang seringkali mendebarkan. Kehadirannya kembali dengan sifatnya yang sesungguhnya, membuat waktu itu tidak lagi sebagai suatu hukum yang mekanis. Apabila masa lalu kemudian dipahami sebagai identitas yang utuh dari konteks hari ini, mak http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0702/04/khazanah/catatan_budaya.htm

 

24/10/02 (18:30) - Tato Tato sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu dan merupakan suatu bentuk seni tertua yang memiliki beragam arti seperti halnya budaya yang lain. Pada beberapa kelompok, tato merupakan tanda suku atau status. Selain itu, tato juga bisa menandakan beratnya jalan menuju kedewasaan, atau menunjukkan keahlian si pemilik tato. Salah satu alasan yang paling populer dan juga paling tua adalah seni tubuh ini menambah keindahan si pemilik. Di dunia Barat, tato biasanya dianggap sebagai bentuk ekspresi dan kreativitas seseorang. Selain menunjukkan individualitas, secara bersamaan tato juga menunjukkan bahwa pemiliknya adalah anggota sebuah kelompok komunitas yang menyukai seni tubuh. Di Amerika Serikat, tato sempat memberi kesan buruk bagi pemiliknya. Seringkali, pemilik tato dihubungkan dengan pelaut atau narapidana, walaupun sekarang tato telah menjadi bagian dari budaya Amerika. Kata tato berawal dari proses tradisional mengaplikasikan tinta ke bagian tubuh. Sebuah ujung tajam bertinta diketukkan dengan palu berulangkali oleh artis tato ke kulit sehingga membentuk gambar. Bunyi yang dihasilkan ketukan palu ini didengar sebagai 'tatu'. Proses tradisional ini cukup menyakitkan, dan berisiko kesehatan seperti hepatitis. Tempat tato yang kumuh menambah citra buruk seni tubuh ini. Dengan bertambahnya pemilik tato, kualitas fasilitas yang tersedia meningkat dengan adanya studio tato dan bukan tempat yang kumuh, walaupun dengan banyaknya tempat tato yang dibuka, ada kekhawatiran bahwa banyak tempat tidak akan memenuhi standar kesehatan. (MS)

http://www.adiportal.com/gado/okt2002/g01_24102002.htm

 

Seni Tatto Tubuh, Kini Tak Lagi untuk Sangar-sangaran Sabtu, 28 Des 2002 Jawa Pos
Tatto bagi kebanyakan orang, masih dikesankan sebagai aksesoris tubuh yang berkonotasi negatif. Tapi, kesan ini agaknya semakin terkikis. Buktinya, belakangan semakin banyak saja pengusaha muda, mahasiswa, bahkan ibu-ibu rumah tangga yang suka tubuhnya ditatto. Mengapa? Dilihat sekilas dari luar, bangunan yang terletak di samping kolam renang Taman Remaja Surabaya di Jalan Kusuma Bangsa itu terlihat sepi. Di depan bangunan tersebut ada plakat bertuliskan: Yanche Salon. Di tempat itulah, belakangan semakin banyak dikunjungi warga metropolis yang ingin tubuhnya ditatto. Dan, tatto yang dibuat di salon itu permanen.  "Kami ingin

mengembangkan tatto ini sebagai sebuah karya seni, semacam body painting. Kalau dulu mungkin untuk sangar-sangaran, supaya kelihatan serem. Sekarang sudah tidak lagi seperti itu," kata Herman, bos Yanche Salon, kepada Jawa Pos, kemarin. "Dan, kami tak asal-asalan membuat tatto. Kami berani menjamin keamanannya. Yang seperti ini, sangat jarang di Surabaya," kata lajang 40 tahun ini. Ketika ditemui Jawa Pos, kebetulan punggung Herman sedang ditatto oleh Yusepthia Soewardy, salah satu anak buahnya. Tampak, punggung Herman penuh dengan tatto bergambar naga yang sedang bertarung. "Semua tatto ini buatan Kent (panggilan Yusepthia Soewardy, Red). Butuh waktu lima jam lebih untuk menggambar semua tatto ini," kata Herman. Ditambahkan, sudah lima tahun ini dia bekerjasama dengan Kent membuka salon yang khusus menangani tatto. "Setahun belakangan ini, yang datang ke sini semakin banyak. Sudah 1.000 gambar yang kami bikin. Kebanyakan yang datang adalah mahasiswa, pengusaha muda dan ibu-ibu muda," ujarnya. "Kami memang hanya mau melayani mereka yang umurnya di atas 18 tahun," lanjutnya, bersemangat. Ketika Jawa Pos di salon itu, kebetulan bertemu dengan Ny Hartuti, salah satu dari tiga ibu muda yang sedang ditatto. Ny Hartuti minta ditatto di pergelangan kaki kanannya dengan gambar three ball (semacam rangkaian tiga bola). Ibu tiga anak yang tinggal di sebuah perumahan elit di Kenjeran itu mengaku sudah sejak setahun lalu menggemari tatto. Hanya saja, tatto saya dulu temporer (gampang dihapus) dan berglitter (berkerlap-kerlip). Setiap seminggu sekali saya ganti-ganti gambar. Sekarang, begitu mendengar tatto permanen di salon ini, saya langsung tertarik," kata wanita berumur 35 tahun ini. Mengapa suka tatto? "Supaya terlihat seksi," kata ibu berambut sepundak ini. Hartuti menceritakan, tiga kali seminggu dia selalu rajin ke fitness. "Kebetulan, saya punya teman satu geng di fitness itu yang sama-sama suka tatto," ujarnya.  Nggak takut disebut wanita nakal? "Kalau itu sih tergantung hatinya. Banyak wanita yang tak bertatto, tapi mereka nakal," katanya. Apa tren gambar tatto yang sekarang sedang banyak diminati wanita atau ibu-ibu metropolis? "Pokoknya gambar-gambar feminin. Misalnya kupu-kupu, bunga, lumba-lumba dan bidadari," paparnya. Herman membenarkan penjelasan Hartuti ini. Ketika ditanya harga rata-ratanya, dia menyebut jumlah ratusan ribu rupiah. "Kalau tatto seperti saya ini bisa sampai Rp 10 juta," katanya. Bagaimana dengan keamanannya? Herman menjamin, proses tatto di tempatnya punya standar medis. "Di sini, satu jarum untuk satu orang. Peralatan untuk tatto pun standar Jerman, begitu pula tintanya. Sebelum jarum digunakan, lebih dulu direndam di dalam larutan alkohol," jelas pria berambut gondrong ini. Bagi orang yang ditatto, lanjut Herman, juga diberikan obat oles yang fungsinya untuk menghilangkan bakteri atau kuman. Saat ini, kata Herman, ada jenis tinta untuk tatto yang baru masuk ke Indonesia yang belakangan ini kian banyak peminatnya. Nama jenis tinta tatto itu adalah glow in the dark (bersinar di dalam gelap). "Dengan tinta ini, jika tubuh yang ditatto berada di bawah sinar yang mengandung fosfor, akan terlihat tattonya. Tapi, kalau sinar biasa, tidak kelihatan," ujar laki-laki asli Surabaya ini.(shintia)

Mo Bikin Tato? Hati-hati Infeksi !

BERMINAT bikin tato? Ini sedikit tips buat yang kepingin tatonya bernilai seni dan sehat. Bagi yang memang ingin memiliki tato, untuk pertama kalinya pastikan bahwa kamu memilih “studio” yang tepat untuk membuatnya. Tetapi yang jelas dimanapun tempat yang akan anda pilih, perhatikanlah apakah si pembuat tato menggunakan jarum yang steril untuk melukis gambar tato. Hal ini penting karena anda tidak mau memiliki tato yang dikagumi banyak orang tetapi anda positif tertular penyakit AIDS atau penyakit menular lainnya bukan? Setelah pembuatan tato selesai, usahakan untuk menghindari sinar matahari langsung selama beberapa minggu. Matahari adalah musuh utama bagi tato yang masih baru, ia dapat merusak jaringan kulit baru yang akan terbentuk. Hal ini memang berat, apalagi mengingat cuaca panas dan keinginan anda untuk memamerkan tato. Seiring dengan berjalannya waktu tato akan memudar warnanya, tetapi tanpa perawatan terhadap sinar matahari tato akan memudar dalam waktu 6 bulan saja. Usahakan juga untuk menghindari mandi berendam dalam waktu lama dan berenang saat tato masih baru. Berendam dapat menyebabkan kulit yang luka akibat tato akan susah sembuh. Hal ini juga berlaku terhadap pemakaian krim yang berlebihan diatas tato. Penyembuhan total setelah di tato berlangsung selama kurang lebih 2 minggu, jika dirawat sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Tato akan terlihat seperti mengelupas karena terbakar sinar matahari. Hal ini normal dan hanya akan berlangsung selama 4 sampai 7 hari pertama. Setelah itu kulit akan terasa gatal dan terlihat berkilat. Cobalah untuk menahan diri untuk tidak menggaruknya. Berikan lotion untuk mengurangi rasa gatalnya. Penyembuhan totalnya akan berjalan selama 4 sampai 6 minggu. Setelah semua perawatan yang berbelit-belit tersebut, anda dapat memamerkan tato anda pada semua orang dan mengundang decak kekaguman mereka. [ka/ns1] http://www1.rileks.com/htdocs/netstudent/hobby/index_detail.cfm?Id=200108070802&catid=21

Tato yang Lagi "Ngetrend" Kompas

julian sihombing

Tato kini mulai digemari anak-anak muda. Selain menambah rasa percaya diri, juga menambah gaya. Bahkan, tidak sedikit selebritis kita pun kini "menghiasi" dirinya dengan tatto.

TATO atau rajah tubuh yang belakangan diidentikkan dengan dunia kejahatan, kini justru digemari "orang baik-baik". Dari model, artis, orang kantoran, anak muda, bahkan ABG, kini suka tato.

Jangan heran, kini banyak anak muda dan ABG menyukai tato. Selain menambah gaya, tato-katanya-membuat kian percaya diri, terutama bila sedang berjalan-jalan sore (JJS). Tidak mengherankan bila sejak setahun ini, tato sudah merebak. Setidaknya, setelah para artis dan model ikut bergaya ala selebritis dunia. Sebelumnya, tato marak di Australia dan Singapura.

Sejumlah artis Indonesia yang tercatat memiliki tato antara lain Becky Tumewu, Ficky Burki, Karenina, Melanie Subono dan lain-lain. Bahkan Karenia, model berusia 16 tahun, mengaku menyukai tato sejak umur 12 tahun. "Seneng aja," aku pemilik tiga tato permanen bermotif naga, bunga, dan salib di lengan, pinggang, dan punggung. Selain menjadi perhatian, tatonya melengkapi gayanya berbusana.

Melanie Subono (23), putri pengusaha Adrie Subono, lain lagi. "Menurut gue, tato tidak ada hubungannya dengan mode atau gaya. Kalau gue cuma suka. Kebetulan gue entertainer. Bokap gue juga suka tato," katanya sambil menunjukkan tato kupu-kupu di tangan. Tato kupu-kupu lainnya bisa ditemukan di perut Melanie, dibuat di London. Dafelina (23), mahasiswi semester enam Fakultas Teknik Universitas Yarsi, Cempaka Putih, mengaku sudah bertato sejak kelas I SMU. "Awalnya, tato-tatoan, tetapi gue nggak puas. Terus pasang tato beneran," katanya. Dafelina yang memiliki dua tato abadi, di lengan dan di paha, menyukai tato karena seninya. Sedang Jimmi (22) dan Reza (21), rekan Dafelina, hampir sekujur tubuhnya nyaris bertato. "Gue emang suka. Lukisan yang paling top menurut gue ya tato. Jadi, gue bertato," ujar Jimmi, jebolan SMU di Cempaka Putih, Jakarta Timur. "Kalau udah ditato sekali, pasti ketagihan dan pengen nambah. Nikmat," tambah Reza.

Tato "Boongan"

Selama ini, dikenal ada beberapa jenis tato. Ada tato stiker (sticker tattoo), tato temporer (temporary tattoo), tato semi permanen (semi permanent tattoo) dan tato abadi (permanent tattoo). Tato stiker, yaitu tato tempelan dengan sticker, hanya tahan beberapa jam. Tato temporer bisa berdaya tahan 2-3 minggu. Tato semi-permanen, bisa tahan 3 - 6 bulan. Sedangkan tato abadi, tidak hilang, kecuali dengan pengobatan khusus di klinik skin center. Penggolongan tato didasari bahan yang digunakan dan cara pembuatannya. Tato temporer, menggunakan tinta khusus produk Amunez. Cara melukis dengan kuas, bukan jarum. Sedangkan tato permanen, pembuatannya rada khusus. Bagian tubuh yang akan ditato, dibersihkan dulu dengan alkohol, lalu gambarnya disket di atas kertas kalkir atau langsung di atas kulit. Jarum tato yang sudah diberi tinta, lalu dicucuk-cucukkan di atas kulit, mengikuti sket. Di antara keempat jenis tato, tato boongan kini sedang ngetrend di kalangan ABG. "Dua atau tiga hari lagi, tato ini ilang. Soalnya, kalau sekolah 'kan nggak boleh bertato. Aku pengen nyentrik aja," ujar Mathilda Petrina, siswi SMP Negeri 115, Jakarta selatan, yang ditemui usai pasang tato di sebuah mal di Senayan. Sedangkan Dini, siswi SMU Negeri 36, Jakarta, sengaja pasang tato temporer bila mau bergaya funky. Ditemui di sebuah mal di Tomang, Jakarta Barat, Dini menunjukkan tato boongannya di tengkuk. "Tato memang cocok untuk gaya funky. Saya pakai tato kalau ada acara. Jalan-jalan, kumpul sama teman atau undangan," kata Dini, yang berpenampilan seperti Sinead O'Connor. Namun, menurut Iwan, supervisor tato boongan Amunez, yang mangkal di mal di Kebayoran Baru, tato boongan juga mulai digemari ibu-ibu muda. "Kebanyakan memang anak-anak ABG. Tetapi, ada juga tante-tante yang minta ditatoin di lehernya. Katanya, biar menarik lawan jenis." suhartono

"Tattoo" RIWAYATMU
Kapan dan bagaimana seni rajah tubuh atau tato mulai dikenal manusia? Tidak ada yang tahu pasti. Namun bila merujuk pada temuan seni rajah tubuh yang ditemukan di Piramid, Mesir, orang bisa berpendapat, tato pertama kali digunakan orang-orang Mesir kuno. Konon, dari Mesir, seni tato menyebar dan berkembang ke negara lain. Namun, bila merujuk pada tradisi suku Dayak di pedalaman Kalimantan, suku Mentawai, atau Irian Jaya, orang bisa menyebut, tato berasal dari Indonesia. Bahkan, Eko-seniman tato di Kafe Kupu-Kupu dan anggota Java Tattoo Club, sebuah komunitas seniman dan penggemar tato pimpinan Sapto Rahardjo dan berpusat di Yogyakarta- berpendapat, tato berasal dari Indonesia. "Kami punya buku yang membuktikan itu," katanya tanpa menyebut judul bukunya. Mungkin yang bisa dirujuk adalah catatan Joseph Banks, ketika kapalnya merapat di Tahiti, 11 April 1769. Di sana, Banks mendokumentasikan tatau (bahasa Tahiti - Red), yang memenuhi tubuh penduduk asli. Sejak itu, tato mulai dikenal meluas sampai Eropa. Tattoo (bahasa Inggeris, artinya menandai sesuatu) adalah seni rajah tubuh dengan cara menusuk dan menggores dengan jarum khusus, yang sudah diberi tinta. Semula tato identik dengan organized crime, organisasi kriminal dan dunia preman. Namun, lama kelamaan, seni tato berkembang, tak lagi merupakan identitas para penjahat. Orang baek-baek pun, ikut merajah tubuh. Entah untuk mode, sekadar gaya atau kebanggaan semu.

Tatto: Antara Politik dan Keindahan Tubuh KUNCI Cultural Studies Center
Oleh Nuraini Juliastuti dan Antariksa

Tatto atau body painting atau rajah adalah gambar atau simbol pada kulit tubuh yang diukir dengan menggunakan alat sejenis jarum. Biasanya gambar dan simbol itu dihias dengan pigmen berwarna-warni. Jaman dulu, orang-orang masih menggunakan teknik manual dan dari bahan-bahan tradisional untuk mentatto seseorang. Orang-orang Eskimo misalnya, memakai jarum dari tulang binatang. Sekarang, orang-orang sudah memakai jarum dari besi, yang kadang-kadang digerakkan dengan mesin untuk "mengukir" sebuah tatto. Di kuil-kuil Shaolin malah memakai gentong tembaga yang panas untuk mencetak gambar naga pada kulit tubih. Murid-murid Shaolin yang dianggap memenuhi syarat untuk mendapatkan simbol itu kemudian menempelkan kedua lengan mereka pada semacam cetakan gambar naga yang ada di kedua sisi gentong tembaga panas itu.

Pada sistem budaya yang berlainan, tatto mempunyai makna dan fungsi yang berbeda-beda. Suku Maori di New Zealand membuat tatto yang berbentuk ukiran-ukiran spiral pada wajah dan pantat. Menurut mereka, ini adalah tanda bagi keturunan yang baik.
Di Kepulauan Solomon, tatto ditorehkan di wajah perempuan sebagai ritus inisiasi untuk menandai tahapan baru dalam kehidupan mereka. Hampir sama seperti diatas, orang-orang Suku Nuer di Sudan memakai tatto untuk menandai ritus inisiasi pada anak laki-laki. Orang-orang Indian melukis tubuh dan mengukir kulit mereka untuk menambah kecantikan atau menunjukkan status sosial tertentu.

Di Indonesia sendiri, pernah ada masa dimana tatto dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Orang-orang yang memakai tatto dianggap identik dengan penjahat, gali dan orang nakal. Pokoknya golongan orang-orang yang hidup di jalan dan selalu dianggap mengacau ketentraman masyarakat.

Anggapan negatif seperti ini secara tidak langsung mendapat "pengesahan" ketika pada tahun 80-an terjadi pembunuhan misterius terhadap ribuan orang gali (penjahat kambuhan) di berbagai kota di Indonesia. Soeharto (mantan presiden) dalam otobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (PT. Citra Lamtorogung Persada, Jakarta, 1989) , mengatakan bahwa petrus (penembakan misterius) itu memang sengaja dilakukan sebagai treatment, tindakan tegas terhadap orang-orang jahat yang suka mengganggu ketentraman masyarakat.

Bagaimana cara mengetahui bahwa seseorang itu penjahat dan layak dibunuh? Brita L. Miklouho-Maklai dalam  Menguak Luka Masyarakat: Beberapa Aspek Seni Rupa Indonesia Sejak Tahun 1966 (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1997) menyebutkan bahwa para penjahat kambuhan itu kebanyakan diidentifikasi melalui tatto, untuk kemudian ditembak secara rahasia, lalu mayatnya ditaruh dalam karung dan dibuang di sembarang tempat seperti sampah.

Tidak semua orang bertatto itu penjahat memang. Tapi mengapa sampai terjadi generalisasi seperti itu? Apa kira-kira dasar alasannya? Apakah dulu kebetulan pernah ada seorang penjahat besar yang punya tatto dan itu lalu dipakai sebagai ciri untuk menggeneralisir bahwa semua orang yang bertatto pasti penjahat juga? Sayangnya belum ada studi mendalam yang bisa menguak pergeseran makna tatto dari ukiran dekoratif sebagai penghias tubuh dan simbol-simbol tertentu menjadi tanda cap bagi para penjahat.

Tapi yang jelas telah terjadi "politisasi tubuh". Tubuh dipolitisir, dijadikan alat kendali untuk kepentingan negara. Dalam kasus petrus di Indonesia, tubuh yang bertatto dipakai sebagai alat kendali, suatu alasan untuk menjaga stabilitas negara. Untuk tingkat dunia, bisa disebut beberapa contoh kasus politik tubuh besar sepanjang sejarah peradaban manusia. Orang-orang kulit putih menerapkan sistem politik apartheid di Afrika Selatan hanya karena orang-orang Afrika "berkulit hitam". Dari Jerman, Hitler dengan Nazi-nya membantai orang-orang Yahudi hanya karena di dalam tubuh orang Yahudi tidak mengalir darah Arya, darah tubuh manusia yang paling sempurna yang pernah diciptakan Tuhan di bumi ini menurut Hitler.

Sebelum tatto dianggap sebagai sesuatu yang modis, trendi dan fashionable seperti sekarang ini, tatto memang dekat dengan budaya pemberontakan. Anggapan negatif masyarakat tentang tatto dan larangan memakai rajah atau tatto bagi penganut agama tertentu semakin menyempurnakan imej tatto sebagai sesuatu yang: dilarang, haram, dan tidak boleh. Maka memakai tatto sama dengan memberontak terhadap tatanan nilai sosial yang ada, sama dengan membebaskan diri terhadap segala tabu dan norma-norma masyarakat yang membelenggu. Prang-orang yang dipinggirkan oleh masyarakat memakai tatto sebagai simbol pemberontakan dan eksistensi diri. Anak-anak yang disingkirkan oleh keluarga memakai tatto sebagai simbol pembebasan...

Setiap jaman melahirkan konstruksi tubuhnya sendiri-sendiri. Dulu tatto dianggap jelek, sekarang tatto dianggap sebagai sesuatu yang modis dan trendi. Kalau era ini berakhir, entah tatto akan dianggap sebagai apa. Mungkin status kelas sosial, mungkin sekedar perhiasan, atau yang lain.

KUNCI Cultural Studies Center 1999-2000 http://situskunci.tripod.com/teks/tato.htm

 

Tato, ngetren dan keren http://satulelaki.com/tren/fesyen/0,1708,00.html

satulelaki.com  Demam tato melanda para eksekutif. Imej tato yang lekat dengan penjahat dan preman, kini mulai terkikis. Bahkan tubuh yang bertato, diyakini punya nilai tambah. Hingga tak jarang, eksekutif sengaja menggunakan pakaian yang memungkinkannya memamerkan tato di tubuhnya.

Kesalahan klasik yang dilakukan orang yang mentato adalah menuliskan nama kekasih di tubuhnya. Memang mungkin saat itu hubungan cinta sedang indah-indahnya. Tapi pernahkah dibayangkan kalau semuanya ternyata harus berakhir. Bahkan, untuk mengingatnya pun Anda malas. Padahal tato itu permanen sifatnya. Akibatnya, Anda kebingungan mencari cara menghilangkannya.

Untuk menghindari hal tersebut, jika ingin mentato tubuh, pastikan bahwa kata atau lambang itu besar artinya bagi Anda. Memang tidak mudah dan butuh waktu untuk memikirkannya. Selain desain, Anda juga perlu memikirkan imej yang timbul jika Anda menggunakan gambar tersebut.

Tato ada dua macam yaitu flash dan custom. Flash merupakan tato favorit yang banyak dipilih dan gambarnya juga sangat familiar dengan kita seperti naga, hati dan jangkar. Sedangkan custom merupakan tato yang dibuat berdasarkan keinginan/ide pihak yang bersangkutan. Anda bisa membuatnya sendiri atau minta bantuan teman. Namun agar lebih sempurna, lebih baik dikerjakan oleh ahlinya.

Yang tak kurang penting, Anda harus yakin bahwa tato itu aman atau tidak akan membuat infeksi. Jangan menggunakan alat sembarangan, apalagi tanpa mensterilkannya lebih dulu. Tak ada salahnya membuang sedikit uang sebagai pembayar ahli tato. Salah sedikit, Anda malahan bisa kehilangan anggota tubuh!Kalau takut beresiko atau cepat bosan, pilih saja tato yang tidak permanen. Misalnya tato yang bisa tahan seminggu. Selain lebih aman, Anda juga bebas menyesuaikannya dalam berbagai kesempatan. Yang penting tetap gaya kan... [lan] http://satulelaki.com/tren/fesyen/0,1708,00.html

 

MENINDIK ANGGOTA TUBUH DAN TATO Sumber : keluarga.Org

Belakangan ini tampaknya sedang menjadi trend di manca negara, anak-anak remaja - bahkan orang dewasa - menindik (body piercing) sebagian anggota tubuhnya terutama di bagian-bagian tubuh yang memiliki tulang rawan atau daging yang lunak seperti bibir, lidah, hidung, telinga, pusar, alis dll. Semakin banyak anggota tubuh yang ditindik tampaknya semakin membuat mereka percaya diri. Lihat saja di media massa seperti layar kaca, para penyanyi atau bintang film - terutama penyanyi Barat - menindik hidung, lidah, pusar dan dihiasi anting-anting kecil. Tetapi dalam soal menindik ini ada satu perkecualian yang dianjurkan yaitu menindik cuping daun telinga. Hal ini dibenarkan agar cuping daun telinga mereka dapat dihiasi giwang / anting-anting. Ini pun umum dilakukan di Indonesia. Bahkan ada yang ditindik sejak bayi.

Hal lain yang sedang menjadi trend juga adalah tato (body painting). Semakin hari semakin banyak orang yang tampaknya bangga tubuhnya ditatoo dengan berbagai macam gambar. Sesungguhnya sayang juga, jika seorang perempuan berwajah molek rupawan namun lengan atau punggungnya penuh gambar. Ada yang dihiasi gambar burung, pedang, bunga dsb.

Tatoo dan body piercing sendiri di hampir semua negara bagian Amerika Serikat belum diregulasi dan bahkan ada yang menganggap kegiatan tersebut ilegal. Sejak kegiatan tersebut menjadi populer belakangan ini banyak toko yang menyediakan jasa menindik dan tato tanpa mengindahkan kesehatan para konsumennya. Asosiasi Dokter Gigi se AS sendiri menolak body piercing di lidah, bibir, pipi dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kesehatan. American Academy of Dermatology sendiri telah menolak segala bentuk body piercing kecuali terhadap cuping daun telinga. Bahkan Palang Merah AS dan Kanada menolak donor darah dari mereka yang tubuhnya ditindik atau tatoo dalam jangka waktu setahun karena dikhawatirkan mereka dapat menularkan penyakit berbahaya lewat darah. http://www.handoko.net/keluarga.Org/tato.shtml

 

Tato Dihapus, Alergi Muncul Sabtu, 31 Agt 2002 Jawa Pos
Bagi pemilik tato, sebaiknya tato yang sudah ada tak usah dihapus. Mungkin, inilah saran yang perlu diperhatikan bagi penggemar tato. Menghapus tato justru mengundang reaksi alergi, terutama bila penghapusan dengan bantuan sinar laser. Adalah tim peneliti dari Texas yang mengetahuinya. Para peneliti tersebut menyatakan bahwa itu adalah penemuan pertama atas reaksi alergi akibat penghapusan tato dengan laser. "Sebelumnya, masyarakat menerima terapi penghapusan ini. Anggapannya, tak ada reaksi yang bakal timbul," kata Dr Ronald England. Namun, studi terakhir membuktikan bahwa pendapat itu tak benar. Ternyata, menghapus tato dengan cara begini justru memicu reaksi alergi.Tim peneliti dari Wilford Hall Medical Center, Lackland AFB, Texas, tersebut mencontohkan seorang wanita bertato. Wanita berusia 26 tahun itu terserang gatal-gatal dan pembengkakan setelah penghapusan tato di kulitnya. Pemilik tato tersebut mempunyai dua tato berusia 6 tahun dengan warna yang berbeda. Sebelumnya, tato tersebut tak dihubungkan dengan suatu reaksi alergi atau gejala. Kedua tato itu dibuat tak bersamaan. Tato kedua dibuat dengan kasar, satu bulan setelah penatoan yang pertama. Wanita itu tak mengalami efek samping setelah mendapat sinar laser untuk menghapus tato pertamanya. Tetapi, satu jam setelah penghapusan tato kedua, wanita tersebut terserang bintik-bintik gatal dan bengkak di kulitnya. Untuk mencegahnya, steroid dan antihistamin bisa dipakai untuk melindungi pemilik tato dari reaksi serupa akibat penggunaan sinar laser. Ada sedikit penjelasan terhadap reaksi alergi pada wanita ini, yaitu terapi laser menyebabkan pigmen tato -yang sebenarnya terlindung dari sistem kekebalan di dalam sel- pecah di luar sel. Akibatnya, sistem kekebalan bereaksi. "Sebenarnya, reaksi alergi akibat penghapusan tato tergolong jarang," ungkap England. Meskipun jarang, masyarakat mesti waspada atas kemungkinan timbulnya reaksi ini. (bet/rtr)
 

Jika anda memang ingin ditindik atau ditatoo sebetulnya anda dapat terkena:

Bayangkan saja, lidah anda menjadi sarang bakteri karena dilubangi dan dipasang perhiasan , hidung anda dapat terkena infeksi atau pendarahan karena ditindik. Selain itu rasa sakit pasti menyertai anda karena banyak toko-toko yang menyediakan jasa tatoo maupun body piercing tidak menggunakan anastesi dan yang paling fatal adalah jarum yang dipakai. Kemungkinan jarum dipakai bergantian dan tidak steril. Ingat jarum yang dipakai bergantian dapat memindahkan penyakit ke dalam diri anda. Jika anda ingin menindik bagian tubuh anda perhatikah hal-hal berikut ini : toko yang menyediakan jasa tatoo maupun body piercing tersebut harus bersih, menghindari penggunaan piercing guns yang belum tentu terjamin kesterilannya, hanya menggunakan jarum sekali pakai dan membuangnya di dalam kontainer khusus, mengsuci hamakan barang-barang yang dipakai oleh konsumen, penyedia jasa harus memakai sarung tangan dan masker yang diganti setiap kali berganti konsumen. Setelah ditindik cuci luka dengan alkohol atau sabun bersih. Kalau yang ditindik mulut gunakan obat kumur anti bakteri. Jangan dipegang dengan tangan karena dapat menjadi infeksi. Jika anda sudah ingin sekali mengikuti trend seperti tatoo mengapa tidak dengan body painting saja, selain aman, tidak sakit, body painting ini gampang dibersihkan.

Lalu mengapa cuping daun telinga aman-aman saja ditindik? Karena daerah tersebut terbuat dari jaringan berlemak (dan memiliki persediaan darah yang sehat jika terjadi infeksi). Karena itu pikir panjang dahulu sebelum menindik anggota tubuh lain selain cuping daun telinga. Lagipula kalau sudah tidak mode lagi maukah meninggalkan banyak lubang di bagian tubuh anda yang terlihat oleh umum

 

 

Selasa, 13 Juni 2000, 11:15 WIB
Iiih, Tato di Tubuh Anda! Jakarta Tato? Iiih...Mendengar katanya saja sudah bikin merinding. Di benak kita memang sudah tertancap image bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan tato, pasti berhubungan dengan tindak kriminal. Citra buruk terhadap mereka yang memiliki tato di tubuh memang sempat mengungkung kreativitas sebagian orang. Pasalnya, beberapa tahun lalu sempat muncul anggapan, semua penjahat yang tertangkap pasti memiliki tanda ditubuhnya yang bernama tato itu. Sebenarnya tato sudah lama dikenal dalam peradaban manusia.
Konon tato sebagai salah satu ekspresi karya seni telah ada sejak beberapa abad sebelum Masehi pada beberapa suku bangsa. Hal ini bisa dibuktikan ketika ditemukan tanda pada kulit manusia purba, tubuh mumi pada tahun 3.300 sebelum Masehi. Ternyata itu adalah tato. Tato juga ditemukan pada mumi suku bangsa Mesir dan Nubian pada sekitar tahun 2.000 sebelum Masehi. Seni ini menjangkau beberapa kebudayaan yang berbeda dan membawa arti yang berbeda pula. Sesuai perkembangannya, orang kini mulai makin sadar tentang keberadaan tato sebagian bagian dari karya seni. Oleh karena itu, pemakainya pun tak terbatas pada suku bangsa tertentu atau orang tertentu. Mereka sengaja "melukis" bagian kecil atau bahkan seluruh tubuhnya dengan tato. Sebagai karya seni, mereka menginginkan gambar-gambar itu menghiasi tubunya. Menjadi pemanis, demikian maksudnya.

Berhias diri Kira-kira empat tahun belakangan, citra buruk tato mulai pupus. Sebab masyarakat biasa serta artis mulai banyak yang menyenanginya dan menganggap tato sebagai salah satu cara berhias diri. Bahkan yang populer sekarang, bukan hanya tato yang permanen saja tapi juga tato nonpermanen yang bisa hilang dalam kurun waktu tertentu. "Selama ini orang mengidentikkan tato sama dengan preman padahal itu tidak benar. Semua itu tergantung dengan tujuannya apakah buat sok-sokan saja atau menganggapnya suatu karya seni yang indah," kata Wien Aditya Estevez, pemilik usaha tato Bali Estevez. Hal senada juga diungkapkan Ulke Pesik, Manajer Operasional Amunez Tatto, yang ingin juga menghapuskan citra negatif tentang tato dan ingin mengangkat ke permukaan sebagai suatu hasil karya seni yang indah.

Wanita mulai nekat Kini penggemar tato tidak saja didominasi oleh kaum pria, kaum wanita pun ternyata tak mau kalah. "Wanita umumnya lebih berani dan nekat ketimbang pria bahkan beberapa di antara mereka menganggap sebagai sex appeal bagi pasangannya," tutur Adit yang juga bertato sejak usia 15 tahun. Membuat tato nonpermanen (sementara) tidak terlalu berisiko. Menurut Ulke, mungkin karena itu pula tato ini banyak digemari kaum wanita. Warta Kota sempat menanyakan alasannya kepada seorang gadis yang saat itu sedang di tato, "Saya merasa bebas dan bisa mengekspresikan diri dengan membuat tato di tubuh," ujarnya. Umumnya wanita lebih suka di tato di bagian-bagian tubuh seperti punggung, tangan, dada, perut dan pergelangan kaki. Bagi yang tidak ingin diketahui biasanya mereka lebih memilih di tato pada bagian yang tidak bisa dilihat seperti perut, dada, dan punggung. Tapi ada kalanya bagian tersebut bisa ditampakkan juga. Semua itu tergantung pada pribadi masing-masing. Ada tiga alasan orang membuat tato yaitu untuk diperlihatkan, dinikmati sendiri dan sebagai daya tarik.

Hati-hati AIDS Tidak heran bila bisnis tato juga berkembang. "Waktu kami buka pertama kali di Jakarta, sambutan masyarakat sangat baik. Apalagi karena pembuatan tato nonpermanen mereka anggap tidak membahayakan (kesehatan kulit, red)," tutur Ulke dari Amunez Tatto. Di Jakarta, hobi membuat tato mulai booming pada 1998. Saat itulah bisnis Bali Estevez (BE) maupun Amunez Tatto (AT) mulai merambah. BE, yang muncul pertama kali di Bali, membuka gerainya di Megamal Pluit, Jakarta, dengan spesialis untuk pembuatan tato permanen, juga melayani pembuatan tato sementara namun tidak banyak.
Untuk pembuatan tato, peralatan yang digunakan cukup sederhana, yaitu jarum dan tinta tato. Tapi bahan-bahan yang dipergunakan kebanyakan impor dari Amerika karena kualitasnya terkenal bagus. Namun sebelum membuat tato, kita perlu ekstra hat-hati. "Untuk menghindari penyakit seperti AIDS, kami selalu mengganti jarumnya, bahkan tintanya. Kalau sekali pakai tidak habis, harus dibuang. Jadi kami benar-benar menjamin kebersihannya," tutur gadis yang akrab dipanggil Adit. Sedangkan Amunez Tatto merupakan usaha membuat tato sementara dengan bahan tinta dan bambu tajam untuk melukis gambar. Menurut Ulke bahan yang digunakan impor dari Australia. Tinta yang digunakan berupa bubuk yang kemudian dicampur dengan cairan tertentu.(Dian Anditya Mutiara)

 

24/10/02 (18:30) - http://www.adiportal.com
Tato Tato sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu dan merupakan suatu bentuk seni tertua yang memiliki beragam arti seperti halnya budaya yang lain.

Pada beberapa kelompok, tato merupakan tanda suku atau status. Selain itu, tato juga bisa menandakan beratnya jalan menuju kedewasaan, atau menunjukkan keahlian si pemilik tato. Salah satu alasan yang paling populer dan juga paling tua adalah seni tubuh ini menambah keindahan si pemilik.

Di dunia Barat, tato biasanya dianggap sebagai bentuk ekspresi dan kreativitas seseorang. Selain menunjukkan individualitas, secara bersamaan tato juga menunjukkan bahwa pemiliknya adalah anggota sebuah kelompok komunitas yang menyukai seni tubuh.

Di Amerika Serikat, tato sempat memberi kesan buruk bagi pemiliknya. Seringkali, pemilik tato dihubungkan dengan pelaut atau narapidana, walaupun sekarang tato telah menjadi bagian dari budaya Amerika.

Kata tato berawal dari proses tradisional mengaplikasikan tinta ke bagian tubuh. Sebuah ujung tajam bertinta diketukkan dengan palu berulangkali oleh artis tato ke kulit sehingga membentuk gambar. Bunyi yang dihasilkan ketukan palu ini didengar sebagai 'tatu'. Proses tradisional ini cukup menyakitkan, dan berisiko kesehatan seperti hepatitis.

Tempat tato yang kumuh menambah citra buruk seni tubuh ini. Dengan bertambahnya pemilik tato, kualitas fasilitas yang tersedia meningkat dengan adanya studio tato dan bukan tempat yang kumuh, walaupun dengan banyaknya tempat tato yang dibuka, ada kekhawatiran bahwa banyak tempat tidak akan memenuhi standar kesehatan. (MS)

 

There are many different styles of tattooing. The Old School, led by electric tattoo machine inventor, Samuel OÕReilly, relied on symbols, icons and aphorisms that celebrated patriotism and home-spun virtues. Improved technology and growing interest in tattooing by young artists in the 50s and 60s injected new ideas, incorporating a wide range of artistic influences and genres to create a New School of Tattooing that continues to evolve unique signature styles in the 90s and into the new millenium.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBUAT TATO - Seorang pembuat tato menempelkan tato kepada pembelinya di Terminal Bus Depok, Jawa Barat, Kamis (9/1). Tato nonpermanen yang dijual Rp 2.000 per gambar ini dapat tahan selama seminggu jika tidak terkena minyak tanah dan minyak sayur.

YC KURNIANTORO 10-1-2003 suara pembaruan

 

Tattoo alias tato yang sekarang ini semakin populer ternyata menyimpan bahaya. Selain dari kemungkinan infeksi akibat penggunaan alat yang tidak steril pada saat perajahan, para dokter telah menemukan efek samping lain yang mungkin timbul akibat seni lukis badan ini ‘menghilangnya’ otot.

Dalam Annals of Internal Medicine minggu ini dilaporkan oleh dokter-dokter dari Israel, di mana terdapat tiga kasus pria muda yang baru mentato tubuhnya mulai mengalami kehilangan otot di sekitar daerah tersebut. Ketiganya memiliki tato di daerah tubuh sebelah atas dan otot yang semakin mengecil terletak di bahu dan lengan mereka. Dua di antaranya bahkan mengalami kerusakan saraf juga.

Tidak ditemukan penjelasan yang memuaskan akan apa yang terjadi pada otot mereka, muscle wasting yang mereka derita masih misterius, dan sangat disayangkan, kerusakan ini permanen. Bagaimana tepatnya mekanisme tato untuk memicu atrofi otot (proses pengecilan otot) ini memang masih belum jelas, namun menurut Dr. Israel Steiner dari Hadassah University Hospital di Jerusalem, ada kemungkinan dari penggunaan jarum tato yang kurang steril, teknik yang buruk dari artis tatonya, atau pigmen yang terkandung dalam tinta tato. Beberapa laporan selama ini menyebutkan bahwa tinta tato mengandung beberapa elemen yang mungkin toksik bagi tubuh.

Walaupun demikian, ini adalah pertama kalinya tato dihubungkan dengan gejala muscle wasting tadi. Dan barangkali mempertimbangkan dan memikirkan ulang untuk mentato tubuh perlu dilakukan, karena kemungkinan terjadinya kehilangan otot seperti dalam kasus ini masih mungkin terjadi. (klinikpria.com

 

Oleh Prie GS http://www.suaramerdeka.com/cybernews/priegs/priegs87.htm

ORANG dengan tato di sekujur tubuh ini lebih cocok menjadi preman pasar atau pemalak jalanan katimbang menjadi pengayuh becak. Dari becaknya yang tengah nongkrong, ia bangkit menyongsong pertanyaan seorang pengendara yang bingung memilih rute. Dengan kesopanan seadanya, dengan kata-kata sekenanya, manusia bertato ini menjelaskan rute itu sebaik yang dia bisa. Tapi penjelasan yang serba cekak dan terbata-bata itu, tak menutupi kesungguhan hatinya demi membantu kebingungan sesama.

Selalu ada keinginan berbuat baik bahkan dari orang paling tak terduga sekalipun. Itulah kenapa para sutradara film, novelis dan dramawan sering menjadikan hal ini sebagai bumbu bagi cerita-cerita mereka, tentang seorang bandit besar yang selalu terharu melihat kemiskinan tetangganya. Tentang pembunuh keji yang bisa menangis tersedu-sedu cuma oleh adegan cengeng di sebuah opera. Di dalam kehidupan nyata, pemandangan in malah makin nyata belaka. Seorang yang telah dikenal sebagai koruptor adalah orang yang sekaligus dikenal paling dermawan di wilayahnya. Jalan-jalan kampung dia aspal, tak terhitung tempat ibadah yang menerima sumbangannya. Oya, tak lupa, ia juga membangun rumah ibadah pribadi di kompleknya sendiri. Tapi mari kembali bicara soal tato di tubuh pengayuh becak satu ini. Apakah orang ini mentato diri karena dorongan premanisme? Tidak. Banyak fakta membantahnya. Betapapun penuh tato itu, ia toh tetap memilih sebagai tukang becak saja. Betapapun garang penampilannya, kebaikan hatinya jelas terbaca. Lalu apa dong?

Oo, pasti orang ini tak lebih dari kita, manusia Indonesia pada umumnya yang membutuhkan hiburan karena dikepung banyak tekanan. Karena tertekan oleh kemiskinan, seseorang butuh menjadi seolah-olah kuat, keren dan jagoan. Dan tato itu tak lebih dari aksesori penentram saja. Seperti bedak bagi wanita yang mendadak merasa cantik setelah memakainya. Seperti gincu bagi bibir yang tiba-tiba merasa sensual setelah kena polesannya. Bagi pihak yang miskin dan lemah menjadi seolah-olah kaya dan berdaya adalah kebutuhan utama. Karena orang yang kuat, jagoan sesungguhnya dan para preman sejati, jauh lebih banyak memilih dasi katimbang tato. Bagi bangsa yang selalu kesulitan menggali nilainya sendiri, maka mengimpor nilai tetangga adalah pilihan yang tak terhindarkan lagi. Maka diundanglah Shah Rukh Khan kemari dengan tiket Rp 3 Juta untuk menontonnya. Kita histeris cuma karena orang ini hendak membuka jaketnya. Kita larut oleh lagu dan tarian yang pernah lama dianggap kacangan. Tapi apapun kata orang, India tak peduli. Ia terus saja menyanyi dan menari. Bollywood terus saja gila-gilaan berproduksi, bahkan si Shah Rukh Khan ini, dengan ketentraman yang mengagumkan menjawab pertanyaan tentang Oscar, tentang Hollywood. "Saya tak cukup baik untuk itu, " katanya. Ya, Oscar, siapa peduli. Toh di Indonesia, negeri yang bangkrut ini, harga tiket telah mencapai Rp 3 juta per kepala hanya untuk menonton play backnya! India cuma menari dan menyanyi, Hongkong cuma memukul dan menendang, tapi industri film mereka kaya luar biasa. Indonesia punya hampir semuanya, ribuan tradisi....tapi miskin luar biasa. Bangsa yang kaya ini bahkan selalu kebingungan harus menjual apa.

 

Rajah Tubuh
Tato, Perjalanan Purba Ornamen Abadi Jakarta , Selasa, 03-04-2001 21:12:49 Gatra

GATRA.com - BAGI Rebecca Tumewu, 31 tahun, kehamilan ternyata menyimpan kejutan kecil yang menyenangkan. Ikan lumba-lumba miliknya tiba-tiba berubah menjadi ikan paus. Jangan kaget dulu. Lumba-lumba yang dimaksud Becky --nama akrab Rebecca Tumewu-- adalah tato yang tertatah di sebelah kanan pusarnya. ''Pas hamil, dolphin-ku jadi ikan paus karena ikutan melar,'' katanya.
Becky adalah salah satu pesohor negeri ini yang diam-diam memilih tato sebagai penghias salah satu sudut wilayah pribadinya. Tak terlintas di benaknya, tato bisa menimbulkan citra jelek. ''Tato kan bukan hanya milik preman?'' katanya. Pada awalnya, Becky cuma terkesan pada tato lumba-lumba kecil di bawah pusar salah satu temannya.
Penyiar radio dan pembawa acara terkemuka ini langsung ingin sekali memilikinya. Apalagi waktu itu, pada 1998, tato sedang trend di kalangan supermodel dunia. Akhirnya, ketika berkunjung ke Bali, ia minta dibuatkan tato lumba-lumba biru di bagian bawah kanan pusarnya. ''Kesannya jadi seksi, cute, nambah aksenlah,'' katanya.
Becky tak ingat lagi di salon mana perajahan itu dilakukan. Yang ia tak lupa, tarifnya hanya Rp 30.000. Hingga kini, tak ada keluhan soal tato itu, selain ketika berubah menjadi ''ikan paus'' tadi. Sekarang, bentuk asli si dolphin sudah kembali. Toh, Becky sesekali masih berpikir untuk mempercantiknya.
Kecintaan Becky membuktikan, tato memang tak pernah mati. Cuma, pada awal 1980-an, di Indonesia tato justru menjadi simbol sesuatu yang berlawanan dengan dunia Becky yang gemerlap. Tato ketika itu menjelma simbol dunia hitam. Pada tahun-tahun itu, hampir setiap hari muncul berita terbunuhnya para gali --akronim dari ''gabungan anak liar''-- alias preman.
Hampir selalu, tubuh korban para ''petrus'' --pembunuh misterius-- itu dihiasi tato. Jadilah tato identik dengan perilaku kriminal. Tak mengherankan jika pada masa itu orang beramai-ramai menghapus tato yang dimiliki. Bagi sebagian penjahat, tato memang dimaksudkan menunjukkan kejantanan dan keberanian. Namanya saja tato penjara. Sebutan itu diambil dari tempat pembuatannya, yakni penjara.
Mentawai Tertua di Dunia
CIRI tato jenis itu tentulah kasar, dan biasanya hanya berbentuk huruf. Tapi, tato memang tak pernah satu macam. Bagi kalangan pelaku kriminal, tato adalah penanda. Seperti sebagian orang yang lain, mereka memanfaatkan tato untuk menunjukkan identitas kelompok. Tapi, ada juga tato yang memiliki sejarah sebagai alat ritual.
Sebutan tato konon diambil dari kata tatau dalam bahasa Tahiti. Kata ini pertama kali tercatat oleh peradaban Barat dalam ekspedisi James Cook pada 1769. Menurut Encyclopaedia Britannica, tato tertua ditemukan pada mumi Mesir dari abad ke-20 SM. Tapi, tanda permanen yang dibuat dengan cara memasukkan pewarna ke dalam lapisan kulit itu ditemui hampir di seluruh belahan dunia.
Dalam catatan Ady Rosa, 48 tahun, dosen Seni Rupa, Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat, tato Mesir baru ada pada 1300 SM. Menurut magister seni murni, Institut Teknologi Bandung (ITB), ini, orang Mentawai sudah menato badan sejak kedatangan mereka ke pantai barat Sumatera. Bangsa Proto Melayu ini datang dari daratan Asia (Indocina), pada Zaman Logam, 1500 SM-500 SM.
''Itu artinya, tato Mentawai-lah yang paling tua di dunia,'' kata Ady Rosa, yang telah 10 tahun meneliti tato. Di Mentawai, tato dikenal dengan istilah titi. Dalam penelitian Ady Rosa, selain Mentawai dan Mesir, tato juga terdapat di Siberia (300 SM), Inggris (54 SM), Indian Haida di Amerika, suku-suku di Eskimo, Hawaii, dan Kepulauan Marquesas.
Budaya rajah ini juga ditemukan pada suku Rapa Nui di Kepulauan Easter, suku Maori di Selandia Baru, suku Dayak di Kalimantan, dan suku Sumba di Sumatera Barat. Bagi orang Mentawai, tato merupakan roh kehidupan. Ady, yang pada 1992 menelusuri pusat kebudayaan Mentawai di Pulau Siberut, menemukan sedikitnya empat kedudukan tato di sana.
Salah satu kedudukan tato adalah untuk menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial atau profesi. Tato dukun sikerei, misalnya, berbeda dengan tato ahli berburu. Ahli berburu dikenal lewat gambar binatang tangkapannya, seperti babi, rusa, kera, burung, atau buaya. Sikerei diketahui dari tato bintang sibalu-balu di badannya.
Hikayat Arat Sabulungan
SECARA berseloroh Ady menyatakan, ''Jadi, sebelum para jenderal punya bintang, dukun Mentawai sudah punya lebih dulu....'' Menurut penelitian Ady, yang oleh dua guru besar ITB, A.D. Pirous dan Primadi Tabrani, dijuluki ''Jenderal Tato'', bagi masyarakat Mentawai, tato juga memiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan alam.
Dalam masyarakat itu, benda-benda seperti batu, hewan, dan tumbuhan harus diabadikan di atas tubuh. ''Mereka menganggap semua benda memiliki jiwa,'' kata Ady kepada Hendra Makmur dari Gatra. Fungsi tato yang lain adalah keindahan. Maka masyarakat Mentawai juga bebas menato tubuh sesuai dengan kreativitasnya.
Kedudukan tato diatur oleh kepercayaan suku Mentawai, ''Arat Sabulungan''. Istilah ini berasal dari kata sa (se) atau sekumpulan, serta bulung atau daun. Sekumpulan daun itu dirangkai dalam lingkaran yang terbuat dari pucuk enau atau rumbia, yang diyakini memiliki tenaga gaib kere atau ketse. Inilah yang kemudian dipakai sebagai media pemujaan Tai Kabagat Koat (Dewa Laut), Tai Ka-leleu (roh hutan dan gunung), dan Tai Ka Manua (roh awang-awang).
Arat Sabulungan dipakai dalam setiap upacara kelahiran, perkawinan, pengobatan, pindah rumah, dan penatoan. Ketika anak lelaki memasuki akil balig, usia 11-12 tahun, orangtua memanggil sikerei dan rimata (kepala suku). Mereka akan berunding menentukan hari dan bulan pelaksanaan penatoan.
Setelah itu, dipilihlah sipatiti --seniman tato. Sipatiti ini bukanlah jabatan berdasarkan pengangkatan masyarakat, seperti dukun atau kepala suku, melainkan profesi laki-laki. Keahliannya harus dibayar dengan seekor babi. Sebelum penatoan akan dilakukan punen enegat, alias upacara inisiasi yang dipimpin sikerei, di puturukat (galeri milik sipatiti).
Tubuh bocah yang akan ditato itu lalu mulai digambar dengan lidi. Sketsa di atas tubuh itu kemudian ditusuk dengan jarum bertangkai kayu. Tangkai kayu ini dipukul pelan-pelan dengan kayu pemukul untuk memasukkan zat pewarna ke dalam lapisan kulit. Pewarna yang dipakai adalah campuran daun pisang dan arang tempurung kelapa.
Janji Gagak Borneo
PENATOAN awal, atau paypay sakoyuan, itu dilakukan di bagian pangkal lengan. Ketika usianya menginjak dewasa, tatonya dilanjutkan dengan pola durukat di dada, titi takep di tangan, titi rere pada paha dan kaki, titi puso di atas perut, kemudian titi teytey pada pinggang dan punggung.
Dalam kesimpulan Ady Rosa, tato Mentawai berhubungan erat dengan budaya dongson di Vietnam. Diduga, dari sinilah orang Mentawai berasal. Dari negeri moyang itu, mereka berlayar ke Samudra Pasifik dan Selandia Baru. Akibatnya, motif serupa ditemui juga pada beberapa suku di Hawaii, Kepulauan Marquesas, suku Rapa Nui di Kepulauan Easter, serta suku Maori di Selandia Baru.
Di Indonesia, menurut Ady, tradisi tato Mentawai lebih demokratis dibandingkan dengan tato Dayak di Kalimantan. Dalam budaya Dayak, tato menunjukkan status kekayaan seseorang. ''Makin bertato, makin kaya,'' katanya. Toh, Baruamas Jabang Balumus, 67 tahun, tokoh adat Dayak dari suku Taman, menuturkan, dalam tato masyarakat Dayak ada aspek lain selain simbol strata sosial.
''Tato adalah wujud penghormatan kepada leluhur,'' kata tokoh bernama asli Masuka Djanting itu. Contohnya adalah tradisi tato dalam kebudayaan Dayak Iban dan Dayak Kayan. Di kedua suku itu, menato diyakini sebagai simbol dan sarana untuk mengungkapkan penguasa alam. Tato juga dipercaya mampu menangkal roh jahat, serta mengusir penyakit ataupun roh kematian.
Tato sebagai wujud ungkapan kepada Tuhan terkait dengan kosmologi Dayak. Bagi masyarakat Dayak, alam terbagi tiga: atas, tengah, dan bawah. Simbol yang mewakili kosmos atas terlihat pada motif tato burung enggang, bulan, dan matahari. Dunia tengah, tempat hidup manusia, disimbolkan dengan pohon kehidupan. Sedangkan ular naga adalah motif yang memperlihatkan dunia bawah.
Charles Hose, opsir Inggris di Kantor Pelayanan Sipil Sarawak pada 1884, rajin mencatat legenda-legenda yang dipercaya orang Dayak itu. Dalam buku Natural Man, A Record from Borneo terbitan Oxford University Press, 1990, Charles Hose menceritakan janji burung gagak borneo dan burung kuau argus untuk saling menghiasi bulu mereka.
Setelah Haid Pertama
DALAM legenda itu, gagak berhasil mulus melakukan tugasnya. Sayang, kuau adalah burung bodoh. Karena tak mampu, akhirnya kuau argus meminta burung gagak untuk duduk di atas semangkuk tinta, lalu menggosokkannya ke seluruh tubuh kuau, pemakan bangkai itu. Sejak saat itulah, konon, burung gagak dan burung kuau memiliki warna bulu dan ''dandanan'' seperti sekarang.
Secara luas, tato ditemukan di seluruh masyarakat Dayak. Namun, Hose menilai, teknik dan desain tato terbaik dimiliki suku Kayan. Bagi suku ini, penatoan hanya dilakukan bila memenuhi syarat tertentu. Bagi lelaki, proses penatoan dilakukan setelah ia bisa mengayau kepala musuh. Namun, tradisi tato bagi laki-laki ini perlahan tenggelam sejalan dengan larangan mengayau.
Maka, setelah ada pelarangan itu, tato hanya muncul untuk kepentingan estetika. Tapi, tradisi tato tak hilang pada kaum Hawa. Hingga kini, mereka menganggap tato sebagai lambang keindahan dan harga diri. Meski masyarakat Dayak tidak mengenal kasta, tedak kayaan, alias perempuan tak bertato, dianggap lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan yang bertato.
Ada tiga macam tato yang biasa disandang perempuan Dayak Kayan. Antara lain tedak kassa, yang meliputi seluruh kaki dan dipakai setelah dewasa. Lainnya adalah tedak usuu di seluruh tangan, dan tedak hapii di seluruh paha. Di kalangan suku Dayak Kenyah, penatoan dimulai ketika seorang wanita berusia 16 tahun, atau setelah haid pertama.
Upacara adat dilakukan di sebuah rumah khusus. Selama penatoan, semua kaum pria dalam rumah tersebut tidak boleh keluar dari rumah. Selain itu, seluruh anggota keluarga juga wajib menjalani berbagai pantangan. Konon, kalau pantangan itu dilanggar, keselamatan orang yang ditato akan terancam. Dulu, agar anak yang ditato tidak bergerak, lesung besar diletakkan di atas tubuhnya.
Kalau si anak sampai menangis, tangisan itu harus dilakukan dalam alunan nada yang juga khusus. Di masyarakat Dayak Iban, tato menggambarkan status sosial. Kepala adat, kepala kampung, dan panglima perang menato diri dengan simbol dunia atas. Simbol dunia bawah hanya menghiasi tubuh masyarakat biasa. Motif ini diwariskan turun-temurun untuk menunjukkan garis kekerabatan seseorang.
Rakyat Bertato Tak Bisa Disalahkan
DALAM dunia kontemporer, tato lebih dikenal sebagai ungkapan kesempurnaan seni. Kesempurnaan inilah yang diinginkan Christof, 21 tahun, wisatawan Jerman yang wara-wiri hingga ke Studio Tato Yogya, untuk mendapat motif yang diinginkannya. ''Saya ingin tato orang yang sedang memotong rumput,'' katanya ketika ditemui Gatra, Selasa pekan lalu.
Studio Tato Yogya adalah sebuah studio berukuran 3 x 4 meter di kawasan Sosrowijayan, sekitar 50 meter dari Malioboro, Yogyakarta. Pemilik studio ini, Sutadi Sanjaya alias Bedhot, 28 tahun, dikenal sebagai seniman tato di ''kota gudeg''. Setidaknya, jika ada turis yang menanyakan seniman tato, nama Bedhot-lah yang kerap disebut karyawan hotel di sekitar Malioboro.
Keahlian Bedhot sebenarnya diperoleh dari lingkungan pergaulannya di sekitar Malioboro. Beruntung, pada 1996, ia diajak seorang wisatawan Jerman berkeliling Eropa. Di Jerman, ia membeli perkakas pembuat tato. Harganya sekitar Rp 2,5 juta --berdasarkan kurs saat itu. Tak mengherankan, alat pembuat tato miliknya berbeda dengan perkakas teman seprofesinya di Malioboro.
Di Yogya, seniman dan penggemar tato sempat berkumpul dalam Java Tattoo Club. Klub ini tidak punya kepengurusan yang jelas. Seingat Bob ''Sick'' Yuditha, 29 tahun, salah seorang pendirinya, anggota klub ini mencapai 300 orang lebih. Kelompok ini cuma punya dua program. Pertama, memasyarakatkan tato melalui aneka lomba.
''Dan kedua, menggulingkan Soeharto,'' kata Bob, mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) ini, serius. Slogan klub ini cukup jenaka: Rakyat bertato tidak bisa disalahkan. Toh, kelompok ini menghilang pada awal 1999. Sebagai pengganti, pada awal tahun lalu terbentuk Serikat Tato Gampingan. Kantornya di gedung lama ISI, daerah Gampingan, Yogyakarta. Anggota kelompok ini 100 orang.
Serikat Tato Gampingan lebih menekankan tato sebagai seni. Akhir tahun lalu, mereka menyelenggarakan ''Gampingan Tato Expo''. Di sini dipamerkan foto berbagai motif tato dari seantero penjuru dunia. Gongnya ditandai oleh peluncuran buku Tato, terbitan Lembaga Penelitian ISI.
Melayani Panggilan ke Hotel
DI Jakarta, pada 1997, pelawak Jhody, 30 tahun, mencoba mengumpulkan sebagian kecil seniman tato. Akhirnya, enam seniman yang hampir sekujur tubuhnya bertato menggabungkan diri dalam Edwin-Jhody Tattoo. Kelompok ini bergiat dari satu kafe ke kafe lain. ''Modal promosi sana-sini akhirnya berkembang,'' ujar artis yang bernama asli Didi Somantri itu.
Jhody pernah buka praktek di berbagai salon di Jakarta. Tapi, kini usahanya yang masih berjalan justru tinggal sebuah salon di Jalan Lengkong Kecil, Bandung. Sebagian besar seniman yang dikumpulkannya kini hanya melayani panggilan.
Rusdy, alias Icon, 27 tahun, lebih beruntung. Pada 1999, ia bergabung dengan Edwin-Jhody. Kini, lulusan Diploma Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta, ini menyewa lahan 3 x 2 meter di pusat pertokoan Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan, untuk studionya, Black Jack Tattoo. Kios itu buka setiap pukul 12.00 sampai 19.00.
''Kalau pagi, kadang-kadang memenuhi panggilan di hotel-hotel,'' kata lelaki berambut ikal sebahu itu. Icon belajar tato di Bali, pada 1994. Awalnya, ia merinding juga melihat kulit sengaja dilukai hingga berdarah-darah. ''Pokoknya, kalau mau belajar tato, harus jadi raja tega,'' katanya. Sejak itu, sembari menyelesaikan kuliah, ia menjadi seniman tato.
Di studionya, ia melayani pembuatan tato permanen dan temporer. Tato temporer dibuat dengan bubuk pewarna yang dicampur tinta cina dan air. ''Agar awet dan lebih pekat, lebih baik dengan air teh,'' katanya membuka kiat. Jenis ini bisa bertahan lebih dari dua minggu. Teknik tato temporer itu dikenal dengan nama henna.
Cara pengerjaannya dengan memakai alat bantu dari bambu, yang ujungnya diruncingkan. Rada serem, memang. Atau dengan alat kerucut yang diisi tinta. Setelah desainnya menempel di kulit, pewarna tadi disapukan dengan alat tersebut di atas kulit, hingga kering dan rontok. Untuk ini butuh waktu 10-15 menit.
Peminatnya Kaum Perempuan
TATO permanen pengerjaannya lebih sulit. Alatnya saja terbuat dari baja berbentuk pistol, berdiameter kurang dari 2 cm, dengan panjang 15 cm. Di ujungnya ada tempat untuk jarum. Icon biasa memakai jarum jahit nomor 2. Alat ini disambungkan dengan dinamo untuk menggetarkan jarum. Jika dibeli dari Australia, perkakas itu mencapai harga Rp 5 juta.
Untuk membuat rancangan gambar, Icon menggunakan satu jarum. Untuk memblok dan membuat gradasi, digunakan tiga sampai lima jarum. Ketika mewarnai, ujung jarum diberi tinta yang ditusukkan sekitar 1 sampai 2 mm ke dalam lapisan kulit. Prosesnya bisa satu sampai dua jam. Sebab, selain butuh konsentrasi tinggi, pasien suka bergerak jika kesakitan, sehingga gambar bisa berubah.
''Padahal, kesalahan itu tidak bisa dihapus,'' kata Icon kepada Amalia K. Mala dari Gatra. Karena itu, Icon membatasi pasiennya paling banyak empat orang sehari. Salon tato lain bisa juga ditemui di lantai II Gedung Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Kosmo Salon namanya. Di situ ada Herman, 23 tahun, seniman tato yang sarjana desain interior dari Sekolah Tinggi Seni Rupa --kini ISI-- Yogyakarta.
Herman menyebut, di antara pelanggannya terdapat para bocah berumur lima tahun, sampai mereka yang berusia 40 tahun. Tapi, peminat utama adalah perempuan berusia 20-30 tahun. Dan menurut pengalaman Herman, motif yang paling digemari kaum Hawa ini ternyata sangat klasik: bunga. Dipasangnya di bagian mana? Herman hanya tersenyum simpul.
[Rita Triana Budiarti, Dewi Sri Utami, Chandra Ibrahim (Pontianak), dan Sawariyanto (Yogyakarta)] [Gatra Nomor 20, Beredar Senin 2 April 2001]

 

Anda Eksim? Jangan Bertato deh!

BERENCANA untuk membuat tato? Sebelum memutuskannya, ingat bahwa bikin tato itu menyakitkan, mahal untuk dibuang, dan risikonya banyak. Masalah keamanannya pun bergantung kepada kedua belah pihak, Anda dan studio tato tersebut. Kalau Anda sudah serius untuk membuat tato, Anda harus yakin bahwa studio tato tersebut bersih, aman, dan profesional. Sebelumnya, lakukan survey dulu untuk mengetahui tempat-tempat yang direkomendasikan oleh kebanyakan orang. Cek juga keluahan-keluahan yang timbul setelah menato di studio tertentu. Studio yang profesional biasanya sangat memperhatikan gengsi mereka sehingga mereka akan sangat menjaga kebersihan studio. Anda juga dengan bebas dapat menanyakan hal-hal berikut:

Apa autoclave tersedia?
Ini adalah alat yang menggunakan steam, tekanan dan panas untuk sterilisasi. Anda harusnya diijinkan untuk melihat bahwa semua alat-alat yang akan dipakai disterilisasi dulu dengan autoclave. Namun, metoda autoclave ini termasuk yang tercanggih. Sterilisasi juga bisa dilakukan dengan membakar jarum suntik. Ingat untuk meminta jarum suntik yang steril. Lihat sendiri saat jarum tersebut dikeluarkan dari bungkus bersegel.

Apakah praktisinya seorang profesional berlisensi?
Apabila ya, maka senima tato tersebut akan dapat menyebutkan beberapa nama atau studio lain sebagai referensi. Tapi yang terpenting, gunakan insting Anda. Apabila studio tersebut terlihat tidak bersih atau tidak biasa, Anda harus percaya pada insting Anda dan cari studio lain.

Kalau Anda memutuskan untuk membuat tato di tempat yang tidak memenuhi kualifikasi di atas, Anda mengambil risiko membahayakan diri Anda sendiri terinfeksi dengan penyakit macam HIV, hepatitis, dan tuberculosis. Akibatnya, bisa jadi Anda ditolak menjadi donor darah sebelum lewat satu tahun pasca tato.

Anda juga berisiko mendapat infeksi kulit seperti impetigo dan dan komplikasi lain seperti dermatitis. Kalau Anda sudah penyakit kulit, seperti eksim, tato mungkin akan melebarkan penyakit tersebut. Beberapa orang yang alergi dengan pigmen tato. Pada orang lain bisa muncul keloid. Dan percaya atau tidak, masalah yang biasanya muncul setelah melakukan tato adalah perasaan menyesal! Banyak orang yang akhirnya berharap bahwa mereka tidak pernah membuat tato.
Kalau Anda membuat tato, Anda harus menjaganya sampai sembuh benar. Tato itu seperti luka terbuka, jadi Anda harus menutupnya dengan pakaian dan melindunginya dengan krim antibiotik. Anda juga perlu membubuhkan tabir surya kalau Anda terkena banyak matahari.

Jadi waktu Anda mendapatkan tato Anda--kalau Anda memutuskan untuk tetap bikin tato--pastikan bahwa Anda tahu benar apa yang Anda lakukan. Syukur kalau Anda dapat menemukan seniman tato yang profesional. Namun, setelah membuat tato, Anda harus memastikan bahwa tato tersebut terproteksi dengan benar untuk mencegah terjadinya infeksi. Dan ingat, Anda tidak pernah bisa yakin 100% bahwa Anda tidak akan mengalami problem apa pun. Kalau Anda berani mengambil risiko, pastikan bahwa langkah yang Anda ambil ini bagus. [sarah/berbagaisumber/foto:istimewa] Saran dan tanggapan, kirim ke livinginstyle@rileks.co.id

 

Mirip lukisan, tattoo juga punya beragam gaya. "Walau nggak mudah ditandai pasti, ada garis besarnya," ungkap Kent-Kent, artis tattoo di Bandung. "Ada istilah tribal, fine line dan realis," jelasnya. Sementara Athonk, artis tattoo Yogyakarta, menambahkan aliran oriental, custom, celtic dan repair.Tribal ditandai dengan konsep yang jelas, bentuk-bentuk primitif serba runcing dan cenderung warna hitam ngeblok. "Gayanya sederhana dan menonjolkan ketegasan pola." Fine line, lebih asyik mengandalkan permainan garis kreatif dibumbui efek gradasi. "Menonjol di soal teknik pewarnaan," ulasnya.Realis, gampang ditebak. Bentuknya nyaris nyata, betul-betul seperti obyeknya. Menurut Jeff Kareem, rekan sesama artis, gaya ini perlu ketelitian ekstra. "Misalnya gambar wajah tokoh terkenal, ya harus persis," tuturnya. Kebanyakan pasien - istilah pelanggan tattoo - minta digambar seperti Jim Morrison, John Lennon atau Mick Jagger. "Perlu konsentrasi tinggi dan tak boleh banyak berimprovisasi," jelasnya. Beda dengan Ken-Ken. Pasien realisnya malah minta di tattoo gambar wanita cantik atau motor. Menurut mereka, gaya ini paling menantang. "Ada yang ngotot minta di tattoo mesin Harley. Kita perlu mempelajari detail komponennya. Nggak boleh meleset," kata Ken-Ken. Oriental bergaya Jepang atau Cina. Motifnya rata-rata gambar pegulat sumo atau naga. Sedang custom merupakan gabungan beberapa aliran. "Custom membebaskan kita berimprovisasi. Ciri setiap artis tattoo kentara," ujarnya. Celtic mempunyai kesulitan khusus. Begitu menurut Athonk. Soalnya menyuguhkan motif anyaman. "Tarikan garisnya tumpang tindih dan perlu rapi. Gaya ini perlu sket awal," ujar pemilik Pure Black Tattoo Studio di bilangan Malioboro ini.
Repair, istilah untuk pasien yang tidak puas hasil tattoonya dan minta diperbaiki. Repotnya, "Biasanya kita memodifikasi gambar orang lain. Namanya memperbaiki, ya harus lebih bagus. Kalau makin jelek ya payah," ulas mereka.
Tattoo Supaya Tetap Kinclong

Gimana agar tattoo tetap kinclong? Simak tips sederhana ini:
1. Perhatikan keresikan (kebersihan) pen-tattoo. Dasarnya, tattoo adalah kegiatan melukai dan mewarnai kulit. Jadi faktor kebersihan sangat penting.
2. Sama dengan merawat luka, tattoo kudu diperban agar bebas dari infeksi dan mencegah tinta tidak tercemar debu. Menurut Jeff Kareem, artis tattoo, perban dipakai seminggu, "Sampai luka kering," katanya.
3. Agar warna tetap kinclong, gambar sering di balur hand body atau madu. "Kulit yang tetap segar menentukan kualitas gambar," tambah Ken-Ken yang artis tattoo. Tapi ingat, jangan poles lotion yang mengandung pemutih. Ini bikin warna pudar.
4. Perawatan dari dalam juga penting. Makan makanan yang mengandung vitamin B-Kompleks dan vitamin E, agar sel kulit cepat pulih.

Awas AIDS

Agar tidak tertular penyakit, penggemar tattoo kudu waspada.
1. Hindari kontak langsung. Artis tattoo dianjurkan menggunakan sarung tangan karet.
2. Gunakan jarum sekali pakai. Mintalah jarum yang masih disegel. "Agar yakin, kita anjurkan pasien membeli jarum sendiri sesuai petunjuk," tambah Ken-Ken.
Semua untuk mencegah risiko tertular penyakit macam AIDS, Penyakit kulit, hepatitis dan lainnya.

Sumber: Motor plus, No.004/I, Sabtu, 27 Maret 1999 Artikel dan foto: Isfan

Ingat ngak zaman preman dikarungin era 80-an? Di koran, sering nongol headline gede-gede: "Pemuda Bertato Tewas…". Itu citra jelek tatoer zaman dulu. Udah kuno ah!
Atonk dari Pure Black Tattoo Studio, Yogyakarta negesin kalo seni tattoo itu warisan nenek moyang. "Kalau mau melestarikan budaya kita, ya tattoo salah satunya," tegas pria aliran punkers nyentrik ini langsung dari markasnya di Jln. Sastrowijayan Wetan, 1/77, persis di belakang jalan Malioboro. Masih kata Atonk, suku-suku Indonesia seperti Kalimantan, Papua Barat, dan kepulauan Mentawai sudah akrab dengan tattoo yang kerab disebut rajah. Suara dari Bandung mendukung Atonk. Dua studio, Kent Tattoo Studio dan Cycle Brave yang digawangi Yusep 'Ken-Ken' Thia, Sonny dan Jeff Kareem. "Sekarang ini kita murni mengabdi pada keindahan," ulas Ken-Ken puitis. Maksud Ken-Ken, sudah nggak ada hubungannya dengan premanisme. Senada diungkapkan Nunus dan Kang Ai, artis tattoo yang bermarkas di Kanselir, Jln. Eichman, No.2, persis di sebelah jalan beken Cihampelas, Bandung. Khusus Kanselir, studionya kental nuansa bikers karena bersebelahan dengan toko variasi dan busana khusus motor.
Rada kagum waktu bertandang ke Kent Tattoo Studio di zona Bandung Selatan. Tepatnya, Jln. Wangsareja, Gg. Ardisasmita, No.20. Studionya ada ruang tunggu buat pasien menunggu sambil berkonsultasi dengan artisnya. "Misalnya pengin gambar naga, kuring bawa langsung ke ruang komputer," jelas Yusep alias Ken-Ken. Canggih nih, pasien yang mau digambar naga langsung dibukakan file khusus gambar yang dimaksud. "Maksudnya supaya pasien enggak bingung mencari bentuk idamannya," jelas pria yang doyan humor ini.
Setelah mendapat gambar yang diinginkan, pasien diajak masuk ke ruang eksekusi. Hiy serem! Nggak lah, dia duduk di kursi mirip milik dokter gigi. Di depannya, ada TV lengkap dengan VCD player. "Sambil di tattoo, pasien tinggal pilih mau film apa," tambah empunya studio.
Ruang terakhir, khusus buat yang tattoo boongan atau yang beken disebut temporary tattoo. "Biasanya pasien model gini khusus buat acara pesta dari kawinan sampai pesta topeng," tutup Ken-Ken.


Gile, Sudah Nongol 1.300 S.M

Setuju deh sama pendapat Atonk kalau tattoo itu produk lawas. Buktinya, kreasi budaya ini sudah nongol di Mesir di Mesir 1.300 tahun sebelum masehi, lewat peninggalan gambar purba di Piramid. Wuih, lama banget tuh! Nggak Cuma itu, suku Yakut, Siberia juga sudah ngeh sama tattoo 300 tahun sebelum masehi. Dari catatan perjalanan Julius Caesar, masyarakat Inggris asli sudah mengenal tattoo sejak 54 tahun sebelum masehi.
Dari berbagai literature, bangsa lain juga mengenal seni tattoo. Di kepulauan sekitar New Zealand misalnya, mereka mampu meramu tinta tattoo dari campuran tumbuhan dan air. "Itu dari suku Maori New Zealand. Mereka merajah prajuritnya sebagai tanda kepangkatan," kata Ken-Ken. Di buku Encyclopedia Americana bilang, artis tattoonya disebut Tohunga. Nah, asal kata tattoo sendiri nongol di masyarakat kepulauan Tahiti dengan istilah aslinya tatu. "Teknik tattoo yang maju didapat di suku bangsa Marquesas kepuasan Polinesia," tambahnya. Obrolan berbau sejarah makin seru. Jeff Kareem ikut nimbrung. Katanya, di beberapa suku, tattoo dianggap penolak bala. "Di Afrika, mereka menorehkan gambar panah dan tombak dengan maksud mengusir roh jahat. Masyarakat Burma, menggambar muka setan di kaki agar tidak digigt ular. Malah orang Iran menggambar pola khas pada tubuhnya untuk pengobatan," katanya.

 

Istilah Gaya Tattoo

Tribal
Punya ciri khas bentuk meruncing, serba tegas dan jarang bermain gradasi. Teknik pewarnaannya cenderung sederhana, biasanya blok hitam. "Paling utama dari teknik tribal ada pada harmonisasi bentuk dan kejelasan konsep," kata Ken-Ken.

Fine Line
"Mengandalkan kedinamisan garis dan komposisi warna," ulas Jeff Kareem. Katanya lagi teknik inilah yang mencerminkan kekhasan artisnya. "Bakal kelihatan ketelitian dan taste (selera) perajahnya, dari gaya ini," tambah Sonny Irawan.

Realis
Gambarnya dibuat semirip mungkin dengan objek aslinya. Sang artis kudu memiliki latar belakang seni lukis yang kuat, khususnya pengetahuan komposisi dan dimensi. "Misalnya menggambar wajah orang terkenal atau orang terdekat. Dia enggak bisa main-main, karena hasil tattoo bersifat permanen dan tidak bisa diubah," ulas Yusuf, seniman asal Bandung dari Kent Tattoo Studio.

Oriental
Bentuk etnis timur model Cina dan Jepang mewarnai taknik ini. "Biasanya gambar objeknya memang khas seperti gambar wanita Jepang atau Naga, yang betul-betul imajinatif," ujar Atonk. "Pola penghias juga kental bergaya dekorasi dengan permainan mencolok," tambah Jeff.

Celtic
Gaya ini punya tingkat kesulitan khusus karena sebagain besar bergaya anyaman. "Tarikan garisnya tumpang tindih dan harus serapih mungkin," jelas Atonk. Untuk menghindari kegagalan, biasanya dilakukan sket awal atau dimal dulu.

Custom
Ini betul-betul kebebasan artisnya masing-masing. "Lewat gaya ini pula, setiap artis bisa punya nilai lebih ketimbang yang lain. Tak hanya bentuk, tapi teknik mewarnai sekaligus komposisinya," kata Nunus dari Kanselir.

Repair
Jarang yang suka gaya ini. Istilah repair bermakna memperbaiki. "Kita mesti memperbaiki gambar tattoo artis lain sehingga jadi lebih baik," kata mereka. Sulitnya, garis-garis utama sudah ada di kulit pasien. Mereka bertugas merombah total dan menutup garis dengan karyanya sendiri. "Namanya memperbaiki harus lebih bagus. Kalau makin jelek, nama kita dipertaruhkan," kata punggawa Kent Tattoo Studio dan Kanselir.Sumber: Motor Plus edisi majalah Foto dan artikel: Isf@n

 

Bicara ikhwal tattoo, ternyata punya perjalanan sejarah yang panjang. Orang Mesir sudah mengenalnya sebelum tahun 1300. Bahkan orang Siberia sudah akrab dengan seni 'rajah' ini 300 tahun sebelum Isa lahir. Begitu pula dengan penduduk Kepulauan Pasifik sudah mengenal seluk beluk tattoo sejak lama. Mereka menggunakan pigmenberwarna gelap hasil campuran bahan dari tumbuh-tumbuhan. Melalui proses melukai kulit, pigmen tersebut dimasukkan sehingga timbul pola tertentu. Pola tersebut dipercaya mengandung proteksi magis untuk melindungi pemakainya dari roh jahat selain sebagai simbol status. Dibelahan lain, pria Burma membuat tattoo untuk menghindari serangan ular. Lain halnya prajurit di pedalaman Afrika Selatan. Mereka menggambar motif anak panah sebagai sumber keberanian sugestif. Wanita Eskimo juga merajah tubuhnya sebagai status perkawinan seperti juga wanita Tahiti. Melalui proses perjalanan yang panjang, tattoo mulai merambah daratan Amerika dan Eropa. Ironisnya, para penggemar tattoo kebanyakan berasal dari para kriminal dan beberapa segelintir tentara. Akrabnya dunia tattoo dengan dunia kriminal inilah, rupanya yang menggiring opini publik mengenai tattoo. Para penggemar tattoo, harus pasrah dicap sebagai orang-orang yang berperilaku menyimpang.

Paulus, salah seorang penggemar tattoo berkilah, tattoo sebenarnya warisan budaya kita. "Taruhlah Kalimantan sebagai contoh. Disana, tattoo merupakan bagian dari tradisi. Pola-pola tertentu menunjukkan tingkat kedewasaan seseorang. Bukankah kita harus melestarikan budaya nasional? Nah, tattoo adalah salah satunya."
Bagi Paulus, tattoo adalah ekspresi diri terhadap kenangan yang sangat mendalam. "Dulu hidup saya kacau dan liar. Pengalaman itu saya abadikan melalui tattoo di dada kanan dengan bentuk buku yang terbuka. Pisau yang menancap di salah satu sisi buku, adalah pencerminan kehidupan yang gelap di waktu lalu, sedang sisi buku lainnya tergambar simbol religius sebagai gambaran masa depan yang penuh harapan. Saya sadar, sebagai manusia saya harus menjadi orang yang baik dan kembali ke jalan Tuhan." Sebagai Harleymania, Paulus juga menoreh bagian tubuh yang lain dari tubuhnya sebagai kenangan manis sebuah event Wing Day yang digelar HDCI beberapa waktu lalu. "Pokoknya semua rajahan mengandung cerita tersendiri."
Uchan, wanita penggemar tattoo juga punya pandangan lain. Menurutnya, untuk menilai orang, tidak bisa dilihat dari tanda-tanda khusus di tubuhnya seperti tattoo. "Semua tergantung dari perilakunya. Opini bahwa tattoo identik dengan dunia kriminal, saya pikir sudah usang," sahut Uchan. Selanjutnya ia berkomentar, masyarakat yang maju itu ditentukan oleh kedewasaannya berpikir dan tidak terburu-buru menilai penampilan luarnya saja. "Bagi saya, tattoo adalah sebuah karya seni dan kita bebas berekspresi," katanya mantap.
Joehana, salah seorang anggota Project P ikut komentar. "Walaupun saya tidak di tattoo, saya tidak memandang sinis mereka yang ditattoo. Saya lebih menghargai mereka karena ada kenangan khusus dalam hidupnya. Ambil contoh Sean Connery, bintang James Bond itu. Ia menuliskan 'Scotland forever' karena kecintaannya pada tanah kelahirannya. Atau vokalis "Red Hot Chili Paper', Anthony Kiedis yang sengaja berkunjung ke Kalimantan khusus untuk di tattoo." Bagi Joe, tattoo adalah bagian dari sebuah perjalan hidup. Yusep Thia ( KENT ), artis tattoo yang cukup dikenal di Bandung menjelaskan, konsumennya memang datang dengan berbagai macam motivasi. "Sebagian besar adalah penikmat seni. Ada sedikit dari mereka yang ingin mengabadikan kisah hidupnya, tapi banyak pula yang hanya mengikuti trend," ungkap Thia yang akrab dipanggil Ken-ken.
Menurutnya, mereka yang ikut-ikutan trend semata, tanpa pijakan kuat bisa menyebabkan ekses negatif. Prilaku 'sok' jago misalnya, adalah contoh orang yang mengandalkan tattoo sebagai alat untuk menakut-nakuti. "Fenomena ini sungguh menggelikan," ujarnya sinis.
Ken-ken mengharapkan agar masyarakat berangsur-angsur bisa menerima eksistensi tattoomania. "Mudah-mudahan pretensi negatif sedikit demi sedikit hilang dan hanya menganggap tattoo sebagai curahan seni semata." Ditanya soal tattoo yang biasa digemari konsumennya, Ken-ken menerangkan, biasanya anak-anak motor menggunakan gaya threee ball atau tattoo blok yang bermotif." Tattoo bergaya natural seperti wanita cantik, bunga dan lain-lain lebih digemari bos-bos atau wanita."
Untuk melayani konsumennya, Ken-ken tidak hanya berhenti pada gambar yang disodorkan oleh mereka. Ia akan senantiasa 'gatal' memodifikasi gambar itu. Keunikan lain adalah ia hanya menggambar satu pola untuk satu orang saja. "Prinsip saya, satu gambar tentu hanya ada pada satu orang saja."
Para motoris Bandung seperti The Outsiders, Brotherhood sampai HDCI biasanya memakai jasanya. Jeff-Kareem dari The Outsiders misalnya, adalah pelanggan setia Ken-ken. "Saya pilih dia karena motifnya yang berani. Ia juga sering berimprovisasi untuk mendapatkan pola yang indah. Dan yang paling penting, ia tidak sembarangan dalam soal kebersihan. Misalnya risiko tertular AIDS."

Konsumen luar negeri juga sempat 'mencium' keberadaan Ken-ken yang belajar tattoo secara otodidak ini. "Banyak turis asing dari Belanda atau Italia yang datang ke studio ini. Saya memang sengaja 'menyimpan' orang-orang di basis-basis wisata seputar Bandung. Dengan alat tattoo yang saya pesan langsung dari Amerika, mereka rata-rata puas dengan hasil karya saya." Alat impor itu dirasakan lebih memungkinkannya berkreasi leluasa, terutama perihal pewarnaan. Ada yang berminat? Sumber: majalah MOTOR edisi khusus No. 48/VII 05 - 18 Juli 1997

 

Tattoo dan jati diri. Meski dekat dengan dunia premanisme, tattoo menjadi sarana aktualisasi diri para motorist. Ditilik dari sejarahnya, budaya tattoo atau rajah tertua di Indonesia bermula dari Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Selanjutnya, orang lebih mengenal suku Dayak yang mempopulerkan seni hias tubuh ini. Dalam perkembangannya, tattoo menjadi catatan hitam karena selalu dihubungkan dengan dunia kriminal. Di kalangan motorist, khususnya aliran outlaws, tattoo identik dengan mereka. Simak saja, komunitas bikers Amerika dan Eropa seperti Hell's Angels, The Pagans, The Outlaws, Bandidos dan lain-lain. Ekspresi kehidupan serba keras, liar dan bebas menjadi inspirasi mereka untuk menuangkannya ke kulit tubuh. Goresan ini biasanya tentang binatang sangar, wanita atau simbol kebebasan yang diidentikkan dengan burung elang.Bagi fanatik tunggangan HD, motif tattoo biasanya berupa blok mesin, logo HD bahkan umpatan terhadap merek motor lain. Keakraban para bikers dengan body painting tidak lepas dari curahan nurani karakter individualnya. Dengan tattoo, mereka ingin kreatif sekaligus mewujudkan kecintaan terhadap motor kesayangan dan elemen kehidupan bikers yang penuh kebebasan. T-shirt buntung sengaja dikenakan untuk memamerkan tattoo di lengan mereka.Menurut tattooist Bandung, Yusepthia alias Kent-Kent, kecenderungan motorist dirajah awalnya lebih pada penonjolan identitas diri untuk membangun rasa percaya diri. Sekarang, tattoo lebih banyak mengedepankan unsur seninya. "Motif tengkorak, setan, dan burung elang banyak dipilih dan dipadu motif treebal model ukiran serba runcing. Warnanya sederhana, berupa blok hitam," jelas pemlik Kent Tattoo Studio ini. "Penempatan tata letak gambar hingga proses tattoo harus serasi, agar dilihat sebagai karya seni bernilai." Sepaham dengannya, Ayi, tattooist Bandung lainnya di bilangan Eyckman, Bandung, mengungkapkan para motorist dirajah berdasarkan klasifikasi motor. "Penunggang motor Inggris seperti BSA, Norton, Triumph dan lainnya condong ke gambar bendera Inggris yang dipadu komponen atau mesin motornya. Paduan ini diimajinasikan lagi secara abstrak maupun natural," terangnya. Selain itu, banyak juga motif komponen motor dengan variasi unik, "Misalkan piston berbentuk tengkorak," lanjut Ayi yang juga salah satu anggota klub tersebut. Bagi pemilik HD, motif burung elang, naga, tameng dan wing HD paling disukai. Dari kubu scooterist, mereka memilih gambar jenis scooter atau tulisan-tulisan kekaguman mereka terhadap motornya. "Bagi saya tattoo sekadar life style, trend para motorist sekarang," komentar Tris Andoko, scooterist asal Jakarta. Makna tattoo, tidak selamanya sekadar egoisme atau gagah-gagahan. "Berfungsi pula menutup bekas luka. Bahkan ada sugesti bisa menyembuhkan penyakit," aku Kent-Kent. Jadi, Say It With Tattoo.


Jangan Sembarangan Men-Tattoo

Dari segi kesehatan, proses tattoo tidak sembarangan dikerjakan. Porsinya, 60% segi kesehatan sisanya baru aspek seni. Paling utama, perhatikan objek kulit yang akan di tattoo. Ingat, pori kulit yang besar berisiko memunculkan pendarahan. Biasanya, pori kulit yang terbuka karena kondisi tubuh yang lelah atau kurang istirahat.Lapisan kulit Epidermis sensitif menerima tusukan jarum. Proses pen-tattoo-an harus konstan, kedalamannya ¼ mm agar tidak menyentuh urat otot. Disarankan, sebelum dirajah harus punya persiapan fisik cukup, makan teratur atau tidur kurang lebih delapan jam, lebih bagus lagi jika ditambah minum vitamin C.
Hindari kebiasaan menenggak minuman beralkohol. Mengurangi rasa sakit di daerah rawan, diberikan obat bius luar atau totok urat, Ingat, batas kekuatan orang dirajah hanya empat jam. Sterilisasi peralatan tattoo mutlak diperlukan. "Biasakan memakai satu jarum untuk satu orang yang terbungkus segel. Berguna pula menghindari penyakit penular," ungkap Kent-Kent yang mendalami dunia tattoo sejak 1988.

Sumber: Motoriders, 05-19 Oktober 2001 Artikel: Arif Syahbani Foto: Adji, Imam
 

Bagi orang Indonesia, "tattoo" selalu diasosiasikan dengan kriminalitas. Apalagi dalam konteks sejarah Indonesia antara tahun 1983-1984, banyak ditemukan mayat "bromocorah" terkapar di jalan yang hampir semuanya bertattoo. Namun secara perlahan tapi pasti, image tentang tattoo sendiri sedikit demi sedikit mulai berubah. Setidaknya hal itu dialami oleh Ken-Ken (28), pembuat tattoo profesional yang benar-benar sebagai sumber hidup, dimana mereka melakoni pembuatan gambar pada tubuh seseorang dengan jarum dan zat pewarna.
Lelaki yang membuka studio tattoo di Jln. Wangsareja, Gg. Ardisasmita No.20, Lengkong Kecil, Bandung ini menyatakan, sebenarnya tattoo dapat dinikmati karena bagian dari seni dan memiliki estetika yang tinggi. "Dulu tattoo dibuat asal jadi dan terlanjur dipakai orang-orang yang melakukan tindak kriminal pada saat itu, akhirnya membuat tattoo sendiri selalu dinilai minus. Padahal tattoo bagian dari karya seni," tegas lelaki bernama asli Yusepthia ini, yang telah menekuni pekerjaan tattoo-menattoo sekitar 13 tahun lebih.Hal senada diakatakan Aan (35), salah satu pembuat tattoo asal Surabaya, bahwa sekarang pandangan terhadap tattoo sudah berbeda. Gambaran jelek tentang tattoo dapat dihapuskan dengan melihatnya sebagai keindahan seni. Selain itu, menurutnya, gambar tattoo dahulu dan sekarang juga berbeda. Mulai dari pewarnaan, obyek, kehalusan, sampai pada keindahan, tattoo jaman sekarang estetiknya jauh lebih baik ketimbang dahulu.Sementara Ken-Ken menambahkan, sejak awal 1990-an, bersamaan dengan perkembangan mode, tattoo pun mulai menjadi bagian dari tren mode. Hal ini tampak ketika pada saat ini orang mulai banyak yang ingin di tattoo. Rata-rata mereka menganggap tattoo merupakan bagian dari seni, tattoo juga merupakan pelengkap aksesoris bagi anak muda. Jadi tattoo identik dengan penjara, dalam pandangan masyarakat, mulai pudar secara perlahan. Kni bentuk sebuah tattoo dapat dilihat dari seninya saja."Selain itu dengan tattoo, orang dapat menghargai kulitnya dengan gambar-gambar yang indah. Itu pun tergantung, letak tubuh bagian mana yang cocok dengan setiap gambar," ujar Ken-Ken, seraya menjelaskan bahwa bentuk gambar harus disesuaikan dengan bagian tubuh karena estetikanya harus tinggi.Orang yang datang minta di tattoo adanya sangat beragam, meski sebagian besar memiliki motivasi mengikuti perkembangan mode dan tren. Bahkan ia mengaku ada beberapa orang yang membuat tattoo sebagai lambang marga untuk keluarganya.Misalnya gambar tattoo bunga mawar dimana satu keluarga minta digambar semua dan dan sama. Dengan tattoo tersebut diharapkan setiap keluarga mengetahui turunannya," ungkap lelaki yang memiliki tattoo penuh di tangan kirimya. Demikian halnya dengan Aan Menurutnya ada beberapa orang yang membuat tattoo sekeluarga, dengan maksud berfungsi sebagai tanda marga keluarga mereka."Umumnya orang seberang. Yang jelas bagi mereka, hal itu mengandung makna tersendiri bagi mereka," jelasnya. Bahkan tutur Aan lagi, tattoo sekarang menjadi bagian untuk mempercantik diri bagi wanita, seperti pembuatan tattoo alis. Biasanya kini wanita yang merasa alisnya tipis dan kurang bagus, dapat memperbaikinya dengan cara di tattoo.


Dulu dengan Jarum Kini dengan Mesin

Menurut orang-orang yang pernah di tattoo, proses pembuatannya sangat menyakitkan. Namun hal tersebut dibantah oleh Ken-Ken. Menurutnya, pembuatan tattoo secara manual saat zaman dulu, yakni tusuk jarum, memang cukup sakit. Namun sejak ditemukan mesin pembuat tattoo, rasa sakit bisa dikurangi karena kedalaman kulit yang akan di tattoo dapat dikontrol. Bahkan dengan mesin, gambar dan warna sebuah tattoo dapat sangat hidup."Bentuk gambar tattoo sekarang bisa berbentuk tiga dimensi. Sedang degradasi warna, seperti perubahan warna hitam ke abu-abu sudah sangat sempurna. Ini juga yang membuat gambar sebuah tattoo sangat hidup," tandas lelaki yang kerap menerima order mentattoo para selebriti.Aan juga menjelaskan, dulu warna tattoo yang dominan selalu biru, kini warna sangat kaya. Apalagi ditunjang dengan pemakaian mesin, warna gambar tattoo bisa semakin beragam selain pengerjaan lebih halus. Namun menurut Ken-Ken, dengan mesin pun seorang membuat tattoo tetap harus memiliki jiwa seni dan mental yang kuat. Kalau salah sedikit, tidak bisa dihapus seperti lukisan kanvas."Untuk mendapatkan mental yang baik, perlu pengalaman yang cukup," ucapnya. Selain itu , lanjut Ken-Ken, tidak semua konsumen dapat ditattoo, harus melihat dari segi medis juga, apakah kesehatan klien bagus atau ada semacam alergi kulit, minimal dari pihak dokter. Bahkan, bila semuanya berjalan lancar, orang yang ingin di tattoo, harus cukup tidur selama 8 jam sebelum proses pen-tattoo-an. Minum vitamin C, dan tidak dalam keadaan mabuk."Bahkan kalau klien dalam keadaan flu, kami tidak akan terima. Biar menunggu sampai sehat," tegas Ken-Ken yang mulai menggunakan mesin tattoo sejak 1994. Hal serupa dikatakan Aan, bahwa orang yang ingin di tattoo harus tidak dalam keadaan mabuk. "Bila ditattoo saat mabok, darah akan banyak keluar dari kulit. Yang jelas orang yang tengah mabuk tidak akan kami terima," tegasnya.
Mengenai tarif harga sebuah gambar tattoo, Ken-Ken menyatakan, mahal atau murahnya tergantung dari besarnya ukuran tattoo tersebut. Itupun diukur dalam jumlah ukuran sentimeter. Sedangkan kerumitan sebuah gambar tidak kami hitung. Yang jelas, tarif tattoo berukuran 5x5 cm sekitar Rp 125.000,- dan lamanya proses pembuatan untuk ukuran tersebut sekitar ½ jam," jelas lelaki yang memiliki Kent Tattoo Studio.
Lain halnya Aan dan Ayi yang membuka studio Kanselir Tattoo di kawasan Cihampelas yang mengenakan tarif tergantung dari kerumitan dan ukuran sebuah gambar tattoo.


Tattoo Permanen yang Cantik Tattoo Temporer yang praktis

Banyak orang yang ingin memiliki tattoo, namun tidak ingin selamanya atau yang ingin gambar yang berganti-ganti. Tattoo temporer (temporary tattoo) yang bersifat sementara bisa memenuhi keinginan itu. "Sebenarnya temporary tattoo sudah ada di Indonesia sekitar tahun 1985-1987. Namun saat itu sangat marak di Bali. Dan baru pada tahun 1990-an atau ramainya tahun 1998, tattoo jenis ini mulai mewabah di Jawa termasuk di Bandung," ungkap Ai (34), yang membuka studio "Kanselir" di jalan Cihampelas. Pembuatan tattoo ini berbeda dengan pembuatan tattoo permanent yang tidak pernah hilang. Sistem kerja tattoo permanent, tinta dimasukan kedalam kulit melalui jarum. Sedang tattoo temporer mengandalkan kekuatan tinta yang ditempelkan pada kulit, dan usianya paling lama hanya satu bulan. Namun tattoo permanent menurut Harry (22) pemilik studio Outsiders memiliki keunggulan warna 3 dimensi hingga sebuah gambar menjadi tampak nyata. Sementara tattoo temporer hanya memiliki satu warna (hitam) dan pada umumnya punya gambar tegas. Dijelasnya, tattoo temporer kini menjadi satu alternatif untuk bergaya bagi orang yang ingin punya tattoo. Karena selain usianya hanya beberapa hari, tetapi jenis ini gampang untuk dirubah atau dibuat gambar baru. Hal tersebut dikatakan pula oleh Kent-kent, bahwa tattoo temporer ini praktis kerena gampang hilang dan ini menjadi pilihan anak muda, bahkan anak sekolah untuk memiliki tattoo. Selain gambarnya bisa diganti-ganti, pembuatan tattoo temporer tidak sakit, karena sistim gambarnya adalah system memblok gambar, lalu dipoles tinta. Menurut Harry, sejak maraknya tattoo temporer, banyak kaum muda yang ingin bergaya dengan di tattoo. Dengan tattoo ini, anak-anak muda juga bisa bergaya meski warna tattoo temporer hanya ada warna hitam tapi gambar bisa diganti-ganti bahkan ini kerap dipakai pada acar entertainment atau pada saat show time saja, " tambah Kent-kent ia juga menjelaskan lebih lanjut, tattoo temporer berasal dari India yang biasanya dipakai pada saat upacara perkawinan. "Bahkan kini saya dengar di Bali tattoo temporer yang tadinya hanya memiliki warna hitam sudah ada warna lainnya yakni merah, ungu dan biru meski baru ada di Bali dan ini bisa menjadi trend lebih marak lagi," tegasnya. Menyinggung konsumen tattoo, Kent-kent menyatakan, kini dengan adanya tattoo yang memiliki desain seni tinggi orang makin banyak ingin di-tattoo. Lebih-lebih sejak adanya tattoo temporer, konsumen wanita pun makin seimbang dengan pria. Itu pun banyak yang dari kalangan anak sekolah. " Kini banyak wanita yang ingin di-tattoo meski mereka hanya memakai tattoo temporer," jelasnya. Sementara Ai mengatakan saat ini tattoo temporer memiliki penggemar dari segala usia yakni mulai anak kecil sampai orang dewasa tapi kebanyakan para wanita yang menyenangi tattoo temporer. " Namun tattoo permanent juga memiliki penggemar tersendiri dan yang jelas kedua jenis tattoo ini memiliki nilai seni dan memiliki keindahan tersendiri apalagi tattoo memiliki trend-trend tertentu setiap beberapa tahun sekali," tandasnya.

 

LANGKAH PERAWATAN TATTOO

1. Tiga hari setelah di-tattoo, harap kembali untuk memeriksa hasil tattoo.
2. Enam jam setelah di-tattoo, buka perbannya dengan air hangat.
3. Dibalur bagian yang di-tattoo dengan handbody khusus 1 hari 2 kali (pagi-sore) setelah mandi.
4. tidak boleh kena sabun, shampoo, sinar matahari selama satu minggu.
5. Selama tattoo belum kering, dianjurkan untuk mengkonsumsi vitamin C selama sepekan.
6. Setelah sepekan, kulit permukaan yang ditattoo akan terasa gatal, dan jangan digaruk / dikelupas agar hasil gambar memuaskan.
7. Selanjutnya pemakaian handbody minimal satu minggu satu kali.

Sumber : Majalah Metro Foto : Metro / est Sumber : Rot

Salon tattoo itu, tempatnya tidak mencolok. Pertama masuk, pengunjung akan menemui ruangan potong rambut yang ditata asri. Beberapa peralatan lengkap tampak berjajar rapi, plus pegawai berseragam nan ramah. Beberapa kursi dan kaca berjajar. Begitu pula pegawai salon yang sebagian besar wanita. Sebagian besar asyik melayani pelanggan yang potong rambut, atau sekadar creambath.
Sambil creambath, staf salon ditawari untuk di tattoo. Ia kemudian menyodorkan brosur beserta tarifnya. "Banyak lho, wanita yang di tattoo. Katanya sih bisa membangkitkan gairah pasangan," ujar staf salon tadi, sambil memijat kepala. Usai creambath, seorang staf lainnya menjemput. Kemudian, diantar keruangan lain yang letaknya lebih menjorok kedalam.
Ruangan itu lebih kecil. Tata letaknya nyaris sama dengan ruang potong rambut, yang berada di pintu masuk utama. Bedanya, selain pandangan kursi dan kaca, juga terdapat sederetan botol tinta warna-warni di salah satu sudut dindingnya. Di salah satu meja, ada sederetan komputer ukuran PC, maupun lap top. Di ruangan ini, seorang staf lain menyambut.
"Selamat datang. Mau tattoo permanen atau temporary?" sapa staf tadi. Kemudian, dia menanyakan gambar apa yang kita minati. Sambil mengajak duduk menghadap sebuah komputer, yang ternyata berisi lengkap disain gambar tattoo.
Menurut Arie Rukmawan, seniman tattoo dari Bandung, yang kebetulan saat itu berada di Surabaya, seluruhnya keinginan klien harus ditampung lebih dulu. Ingin gambar apa, dan letaknya. Studio hanya memberikan saran. Misalnya, bagaimana gambar tertentu bila diletakkan di tempat tertentu, jika kliennya menggerakkan bagian tubuhnya yang di tattoo itu, gambar tadi bisa seolah-olah bergerak. "Kita juga melihat postur tubuh klien," ujar alumnus Unpad itu.
Menurut dia klien yang datang tidak melulu baru. Tapi, ada juga yang hanya ingin memodifikasi atau mereparasi tattoo yang sudah ada di tubuhnya. Yang pasti, gambar tattoo pun mengikuti trend. Tahun 2002 ini menurut dia, lebih mengarah pada gambar bio mekanik. Dari pakem tattoo, gambar ini sebenarnya masuk kelompok natural, tetapi lebih difuturistikkan. Bahkan bisa dimodifikasi lagi ke pakem lain, seperti three ball, oriental (seperti yang sering dipakai yakuza), classic atau tradisional, dan fine line.
Untuk yang temporer, harganya lebih murah, hanya puluhan ribu rupiah untuk seluruh gambar. Tetapi yang permanen, biasanya dihitung panjangnya dan nilainya bisa Rp 75.000,- sampai ratusan ribu per cm-nya.

 

Wanita Suka Yang Tersembunyi

Di Indonesia, tattoo masih belum bisa diterima sebagai seni, tepatnya bagian dari seni lukis. Hal-hal yang berbau kriminal, masih sering dikait-kaitkan dengan seni lukis pada tubuh ini. "Pria bertattoo, biasanya dihubungkan dengan image kejahatan. Padahal belum tentu. Saya menyukai tattoo sebagai body art," tutur Herman, dari salon Yance kawasan THR Surabaya yang membuka butik tattoo. Tubuh pria ini nyaris seluruhnya dipenuhi tattoo. Punggung, kaki, dan lengan, semuanya dipenuhi tattoo permanen. Tattoo, bagi Herman, adalah sebuah seni yang kekal. Ada memang mitos-mitosnya. Itu bergantung Pada gambar yang dilukiskan. Misalnya, gambar naga atau dewa, yang membuat pemakainya menjadi lebih percaya diri. Seni tattoo ini, bukan dominasi kaum pria. Wanita pun banyak yang merelakan tubuhnya dilukis. "Di Surabaya masih jarang, tetapi sudah ada. Itupun ada syaratnya dengan meminta tempat untuk mentattoo yang dijamin privacy-nya," ujar Olen Siana, seorang pentattoo muda berbakat di Surabaya.
Biasanya, gambar yang disukai adalah kupu-kupu, bunga sampai ikan lumba-lumba. Tubuh yang di tattoo pun biasanya letaknya "tersembunyi". Pada bagian tertentu itu, konon, dapat menambah gairah pria jika melihatnya, dan gemas untuk menyentuhnya. "Saya sendiri beberapa kali mentattoo artis wanita. Sebagian besar permanen, tetapi ada pula yang temporary," tambah Yusepthia S, master Kent Tattoo Studio dari Bandung.
Yang penting, kata dia, wanita lebih menuntut jaminan privacy. Oleh sebab itu, tempat tattoo-nya biasanya juga "tersembunyi." Ada pula yang membuat perjanjian lebih dulu, dan kemudian prosesnya pen-tattoo-an hanya melibatkan tattooing dan klien wanita.

Tinta dan Jarum Impor

Bagaimana memilih proses tattoo permanen yang aman? Di Indonesia, memang belum seperti di Eropa dan AS. Di dua benua ini, tattoo sudah menempatkan diri sebagai seni yang mengedepankan seni medis.
Jika mau di persentasikan, di benua itu 60% sudah mengedepankan medis, sedangkan 40% seni. "Sedangkan di Indonesia, umumnya 90%-nya hanya seni. Aspek medisnya hanya 10% tok," ujar Yusepthia"Kent" S, tattooing (istilah tukang tattoo, red) dari Kent Tattoo Studio, Bandung. Karena itu, Kent sendiri sudah mulai merintis dengan menempatkan faktor kesehatan sebagai hal utama. Soal jarum misalnya, dipakai yang impor, dan sekali pakai di buang. Jangan bergantian, sebab berisiko menularkan penyakit. Bisa saja penyakit berbahaya seperti AIDS.

Begitu pula tinta, pilih juga yang impor. Tinta impor dilengkapi dengan antibiotik, sedangkan yang lokal tidak ada sama sekali. Tinta impor memiliki warna yang lebih cerah dan tahan lama. "Tinta lokal memiliki risiko besar, antara lain bisa terinfeksi," kata alumnus STISI Bandung, yang sudah 13 tahun menekuni seni tattoo ini. Lagi pula, tinta lokal daya tahannya maksimal 5 tahun, kemudian memudar sehingga gambar rusak. Pada tahap ini, biasanya sulit dimodifikasi lagi, sekalipun itu digunakan peralatan impor.
Faktor lain yang diperhatikan adalah kemampuan tattoing-nya. Tattooist yang mahir, selain memiliki kemampuan melukis, juga tahu cara memakai jarum tattoo yang benar. Sebab pada bagian kulit, yang boleh ditembus tinta dan jarum tattoo hanya pada epidermis dan dermis. Jika sampai tembus ke kulit, apalagi daging, bisa menimbulkan seluit, atau bahkan infeksi.

Sumber: Jawa Pos Artikel: Ani Foto: Bik/JP

 

Walau gaya tattoo sulit ditebak tapi pasti, seniman tattoo mengenal garis besar gaya atau aliran. Yusepthia ( KENT ) Soewardy dan Jeff Kareem, berkomentar, seni ini bisa dibedakan. "Ada istilah tribal, fine-line, realis, dan oriental," buka Jeff. Tribal ditandai pola serba runcing dengan pewarnaan serba ngeblok hitam di sana-sini. "Gayanya sederhana dan menonjolkan ketegasan pola," tandas Jeff.
Fine line menonjolkan dalam tarikan garis kreatif dan gradasi. "Biasanaya ini menonjolkan juga teknik pewarnaan yang kaya," tambah Yusepthia. Lalu realis. Gampang ditebak, gayanya menempatkan obyak sesuai aslinya. "Misalnya 'pasien' (istilah pelanggan tattoo), punya idola Jim Morrison datau John Lennon, ya kita gambar wajahnya. Atau gambar wanita cantik dan banyak lagi," beber mereka. Menggambar motif realis harus ekstra hati-hati dan jangan sembarangan berimprovisasi. "Gaya ini mementingkan ketelitian detail. Jadi kemampuan gambar kudu prima. Sebab, semua harus sama persis sesuai obyek." Kata mereka, untuk tattoo oriental, fine line atau tribal, keslahan mudah ditutupi. Tapi realis, "Salah sedikit ribet," tutup Jeff dan Yusepthia.

Sumber: Motor plus, edisi Rabu, 14 Januari 1999 Artikel dan foto: Isfan
 

Tattoo memang terkenal di negara barat. Tapi menurut para artis tattoo, tattoo merupakan budaya kuno Indonesia.Lebih dikenal dengan istilah rajah. "Dulu, orang yang tidak di tato justru orang asing," ulas Athonk. "Lihat saja tradisi kuno yang tetap bertahan di Irian, Kalimantan atau kepulauan Mentawai. Mereka sudah lama menguasai teknik tato," ujarnya. Sama pendapat Jeff dan Kent-Kent. Ribuan tahun lalu, bangsa Mesopotamia atau sumeria kuno dikenal sebagai awal peradaban, sudah mengenal tato. Di Asia dikenal di Jepang, Cina sampai Indonesia.
Kent-Kent dan Jeff Kareem : Lengkong kecil jl. Wangsareja Gg. Ardisasmita No.20 Bandung 40261.

Sumber : Majalah Motor Plus Edisi Khusus No. 001/I Sabtu 06 Maret 1999

 

Tattoo merupakan salah satu identitas Harleymania. Menurut mereka, lukisan di tubuh itu merupakan penyaluran jati diri. Karakter jiwa terwakili dari situ. Tapi, untuk membuat tattoo, ternyata bukan soal mudah. Minimal cukup tidur dan jangan mabuk. Dua pilihan. Tidak semua tattoo Harleymania dibuat permanen. Alasannya macam-macam. Untuk yang sementara, biasanya dipakai para wanita yang predikatnya sebagai "boncengan" bikers. Makanya, cara ini diterapkan bila ada acara pertemuan klub. "Akan hilang dalam beberapa hari," terang Wien Aditya Estevez, pemilik Bali Estevez Tattoo, di Megamall Pluit, Jakarta Utara. Untuk kaum pria, lazimnya memilih yang permanen. Gambarnya tak jauh-jauh dari profil binatang seperti ular, elang, macan, atau harimau. Motif ini dipilih lantaran karakter binatang yang liar dan buas. "Mungkin dianggap mewakili keadaan jiwanya," tambah Aditya. Berbeda yang dialami Yusepthia ( Kent - Kent ) Soewardy, punggawa studio tattoo di kawasan Jln.Venus, kompleks Metro, Bandung (sekarang sudah pindah lokasi ke Jln.Wangsareja, Gg.Ardisasmita No.20, Lengkong Kecil, Bandung). Dukun tattoo yang akrab disapa Kent-Kent ini, kerap menerima orderan tattoo barudak Harley. "Motifnya tidak jauh dari motor. Malah ada yang minta digambar blok mesin," terang Kent-Kent. Kalaupun ada motif lain, biasanya terkait suatu hal yang sangat penting. Contohnya Yamin, seorang pemilik HD yang memilih gambar mawar. Katanya, pemilihan gambar itu lantaran sang istri suka bunga. Seni dan kesehatan. Bagi Kent-Kent dan Aditya, tattoo merupakan salah satu penyaluran seni. Walaupun begitu, segi kesehatan tetap diperhatikan. Makanya untuk menjadi artis tattoo tidaklah mudah. Sampai-sampai Robert, asisten Aditya, bersusah payah memperoleh sertifikat dari Spoulding & Rogers Mfg, Inc, Amerika. Sama dengan duo artis Bandung, Kent-Kent dan Jeff Kareem atau kerap dipanggil JJ. Selain pengalaman dan jam terbang yang tinggi juga didukung dengan jiwa seni. Mereka pun juga sering di 'undang' ke berbagai daerah. Bagaimana dengan soal karakter anak Harley? Rese' nggak? Menurut cerita Tegep Oktaviansyah, penggawang Kanselir Tattoo Studio di kawasan Cihampelas, Bandung, konsumen anak Harley yang 50% itu umumnya baik-baik. "Nggak rese' dan mereka datang sudah dengan konsep gambar sendiri," beber pria 28 tahun itu. Motif yang disukai elang dan Indian (bikers senior), sementara gambar tengkorak atau three ball disukai bikers pemula. Alat yang digunakan cukup sederhana: alkohol, kapas, minyak kelapa, tinta, vaseline, dan tentu alat tattoo itu sendiri. "Paling banter 2 jam, dan enggak begitu sakit kok," jamin Tegep sambil mewanti-wanti agar calon konsumen cukup tidur dan jangan mabuk. Itu karena tekanan darah yang bersangkutan akan tinggi, dan bila di tattoo, darah bakal mengucur lebih banyak.Menyinggung aspek kesehatan, Tegep menegaskan, "Tinta itu ditaruh di bawah kulit dan ndak sampai ke daging. Karena kalau terlalu dalam (menyentuh daging), gambar tidak akan keluar." Sembari itu, ia menyebutkan daerah dada (dekat ulu hati), dan punggung (tulang belakang) merupakan wilayah rawan alias paling sakit andai kena jarum tattoo.Namun diluar keindahan dan seni, perlu juga diperhatikan aspek lain. Misalnya soal kesehatan tubuh. Dalam membuat tattoo, kesterilan harus tetap dijaga. Karena seni ini riskan dengan penularan penyakit, seperti Hepatitis C atau HIV/AIDS." Biasanya kami butuh satu jarum suntik untuk satu orang," tambah Aditya. Hal ini diamini Kent-Kent, "Kesehatan adalah nomor satu," tegasnya.
Sumber: Otomotif, No. 13/IX, 02 Agustus 1999 Artikel: Bil ,Foto: Pekik

 

Risman Marah -Dean of the Faculty of Documentary Media Arts at the Indonesian Institute of the Arts in Yogyakarta and a well-known photographer- remarked to me recently how he had been surprised to see so many students showing up for class this year sporting tattoos. The number of aspiring artist choosing to cover their bodies with lines and colors-far more thanin previous years-suggested to him that there had been a change in Indonesia. Tattooing, he remarked, now seeed to be viewed less as a signof criminality and social deviance than as a branch of the fine arts. 

Risman's anecdotes about a new trend of tattooed students-especialy art students-might not seem noteworthy to Westerners brought up in cultures where tattooing is a time-honored means of rebellion. But in Indonesia, tattooing has come to be seen in a highly negative light. Even at art schools, where students are supposed to learn to see the world in new ways, tattooing has been thought to fall outside the bounds of acceptability. New students who arrived on campus for their freshmen orientation would,Risman recounted, be separated out from the groupif they were tattooed and be subject to special harassment by their senior in the student hazing rituals. Their tortures would be especially intense if their tattoos were those intended to enhance attractiveness, like carefulli drawn beauty spots.

One irony, of course, to the negative image of tattooing in latter-day Indonesia is that the practise has been present for centuries in many Indonesian societies. For etnic groups like the Dayak of Kalimantan or the Mentawaian of West Sumatra, tattooing has long been part of religious and cultural life. But when a wave of "development" hit Indonesia beginning in the 1970s, tattooing was drowned under its force. Not only was it stamped as a sign of backwardness-a sort of national embarassment-but the social marginalization of those people considered to be "primitive" or "uncultured" was then borrowed to marginalize those urban and lower-class youth who had also long used tattooing aa a means of expression. Tattooing as a traditional social phenomenon as a potent sign of antisociality.

During the New Order, sate television broadcasts often reported the capture of those accused of robberies, murders, and other misdeeds. If the person arrested happened to have a tattoo, inevitably the camera would focus and zoom in on it. In the 1980s, the authorities strengthened this association between tattooing and criminality even further. In 1983 and 1984, many tattooed people were sadistically murdered in several major Indonesian cities. The media called the killers penembak misterius ("mysterious marksmen") or Petrus, even though the predictable and organized nature of the violence led many to suspect that those in power were responsible. The media seemed almost proud to report the rising death tolls, claiming that the victims were part of a gabungan anak liar ("federation of wild youth") or gali, who had brougth their fate upon themselves. Newscasta of the time repeated the same announcements daily: "A tattooed corpse was found at X" or "So-and-so, who had a tattoo, forced security personnel to shoot him when he tried to flee the scene". There was never an official explanation of the killings, which claimed hundreds of lives. These mass murders of  "wild, tattooed youth" seriously frightened people who had tattoos, many of them used hot irons or acid on their bodies to try and remove them.

But since the New Order's fall, a new tide of tattooing has swept the country. In cities and towns across Indonesia there have sprouted up hundreds of tattoo studios. In Yogyakarta alone, there are now at least a dozen of these business. A variety of public tattooing activities has also emerged. Last July, the small town of Klaten, 30 kilometers east of Yogayakarta in Central Java, hosted a tattoo contest. Dozen of participants came from across the country to demonstrate their talents and hundreds more came to watch them create. The winner of the event was Munir, a student at the Indonesian Institute of the Arts and owner of Studio Tattoo Toxic, who turned the body of a volunteer named Gembus into an ornamental canvas. Yogya's Java Tattoo Studio ( Java Tattoo Club, editor) has also sponsored frequent competitions. They began in 1996, with the winning entry drawn by a former art student calling himself Bob yudhita sick, who took the prize again in 1997. In 1998, the event expanded to became "Music, Tattoo and Workshop," held at the Ethnic Cafe in Yogya. Aman Rasta, a student from Gajah Mada University, captured the revolutionery spirit of the yearwith his winning tattoo of Che Guevara. Such events appear to signify the movement of Indonesian tattooing from jails and lower class neighborhoods to the realm of relative amateur activity to an organized, professional network.

Some tattoo wearers have even formed organizatios to publicize a new image of tattooing. Progressive Indonesian groups like The Last Palm Community in Yogya, AFRA in Jakarta and the Front Anti-Fascist in Bandung have supported tattooing, writing about it in their newsletters and participating in public events. Tattoos were also a subject of discussion and exhibition at the Indonesia Underground Meeting, organized by the Taring Padi arts community and held at the former campus of the Advanced School of Fine Arts (STSI) in Yogya at the end of 1999. This meeting was attended by delegations from across Indonesia, as well as from the Phillipines, Malysia and Australia. As the demand for tattoos grows, the equipment and artistry is also becoming more sophisticated. Many tattooist make their own mechanical equipment, and a few even import it from overseas. For some tattoo artists, what started out as a form of resistance to the social mainstream has become a lucrative profession.

Not only have the numbers of people seeking out tattoos increased, but people's motives have become more diverse as the phenomenon spreads through new social spaces. One young woman from Yogyakarta, whose neighborhood is known for its religious coservatism, chose to have her foot tattooed in a lizard design. "The more it was forbidden the more i felt drawn to do it," she explained.

Most people in fact now claim that it is not merely an aesthetic impulse that leads them to tattoo. Rather than choosing beauty spots or small, strategically placed flowers, they are aiming to create specific social meaning, using the medium of skin, ink and needle to visualize ideas ontheir bodies. One humorous illustration of this was offered by the tattoo artist Alonk (perhaps it's Athonk...Edt). He recounted how once. when he opened a stand at a tattoo festival, a man approachhed him and requested to be tattooed on the skin between his nose and his mouth. He explained that he was having difficulty growing a moustache, and he wanted to be tattooed with one to appear more masculine. a more serious story was tod by the Yogaykarta-based artist Ugo Untoro, who asked several of his artist friends to tattoo his two hands after he learned that his child was afflicted with Down's Syndrome. For him, the tattoos were an expression of concern and empathy for his child's pain.

For others, tattooing seems to be connected to a discourse of individualism that is emerging with force in the post-New Order era. Many people in the tattooing world are now claiming that the practise is no different from any other form of art that expresses something of the turmoil present in the soul of an individul. Vica, a young woman born in Jakarta now living in Yogyakarta, even spoke of the pain involved in the process of tattooing as part of what attracted her to it. Tattooing, she explained, is a sensory experience that cannot be felt or shared bt anyone else, that she believes to be entirely hers. This kind of individualism is, of course, quite different from the motivations for tattooing asserted by traditional ethnic groups in Indonesia where tattooing is an important aspect of a shared cultural life.

Perhaps tattooing has found fertile ground for its growth in contemporary Indonesia, despite official attemps to weed it out, becuse it thrives in rigid situations full of pressure. We can see parallels between the prison or military barraks where tattooing has been quite common and the social situation in Indonesia over recent decades, where interpretation of everyday reality were monopolized by the government. By stigmatizing tattooing, the government also gave it a certain allure as a daring resistance to power, similar to the way the official ban on Marxism has, in the reform era, caused the works of leftist thinkers to be imbued with an almost erotic appeal.

These days, tattoos are fast finding a place in popular culture. Magazines and television are starting to advertise tattoos on the bodies of athletes, celebrities and macho soldiers. For a new generation, tattooing is now seen as an access road to modernity, a way of participating in a movement thought to be contemporary, expressive, and global. Rather than being a marginal practise, tattooing has become a new creative media with the potential to take Indonesian art in exciting directions.

________________________________________________________________________________

M Dwi Marianto is the Head of the Research Institute at the Indonesia Art Insitute (ISI) in Yogyakarta. He also a fine art critic and contributing editor to Art Asia Pacific. 

He is currently completing a book about tattooing in Indonesia.

 

 

Indonesia Tribal

NEW  Seniman Tattoo Indonesia-kumpulan artikel di media massa 

TRIBAL ARTIKEL >>

 

Tattoo Humor >>

Tattoo Slang >>

Humor-Trivia Tattoo >>

Korban Petrus-Tattoo dan Kriminalitas >>

Glosarius-Kamus-Indo Dictionary >>

[Sign My Guestbook] - [Read My Guestbook]
______________________________________________________________________________________

Photo Gallery / Tattoo Links / Indonesia Tribal / Articles / Tattoo Tips / Convention / Oddities / Tattoo Band

Newsletter / People / Tattoo SIND / Java Tattoo Club / Pure Black Tattoo

 

 

 

1