SISTEM PEMASUKAN DATA

SISTEM PEMASUKAN DATA

A.   Data masukan

Menurut Paryono (1994), sistem informasi geografi memerlukan data masukan agar dapat berfungsi dan memberikan informasi hasil analisisnya. Data masukan tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber, antara lain yaitu: data lapangan, GPS, peta analog dan citra penginderaan jauh.

  1. Peta analog
  2. Peta analog adalah peta dalam bentuk cetakan. Pada umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi, sehingga sudah mempunyai referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin dsb. Peta analog dikonversi menjadi peta digital dengan berbagai cara yang akan dibahas pada bab selanjutnya. Referensi spasial dari peta analog memberikan koordinat sebenarnya di permukaan bumi pada peta digital yang dihasilkan. Biasanya peta analog direpresentasikan dalam format vektor.

    Informasi yang lebih terekam pada peta kertas atau film, dikonversikan ke dalam bentuk digital, misalnya peta geologi, peta tanah dan sebagainya. Lebih lanjut dinyatakan oleh Karsidi (1996), bahwa untuk mengubah data peta menjadi data sistem informasi geografi digital, maka ada dua proses yang dapat dilakukan yaitu melalui digitasi garis dan penyapuan (scanning). Dengan digitasi maka obyek – obyek di peta digambarkan ulang dalam bentuk digital menggunakan peralatan meja digitasi. Meja digitasi adalah alat perekam koordinat yang akan mencatat posisi dari kursor yang dipakai untuk menggambar ulang obyek peta. Dilain pihak dengan teknik scanning, maka obyek – obyek peta direkam ulang dengan alat optik (semacam mesin foto copy) yang kemudian akan mengubah data rekaman gambar ke dalam format raster. Memilih kerangka peta berkaitan erat dengan pemilihan proyeksi peta yang akan digunakan, karena perbedaan lokasi di permukaan bumi, luas area yang dikaji dalam SIG, bentuk area yang dikaji perlu dipertimbangkan pada saat memilih jenis proyeksinya. Disamping memilih jenis proyeksi, yang tidak kalah pentingnya dalam pembicaraan mengenai peta sebagai kerangka SIG, usaha – usaha untuk dapat mentransfer data suatu titik ke posisi ke dalam jenis proyeksi satu ke lainnya.

  3. Data dari sistem Penginderaan Jauh

    Data Pengindraan Jauh dapat dikatakan sebagai sumber data yang terpenting bagi SIG karena ketersediaannya secara berkala. Dengan adanya bermacam-macam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasinya masing-masing, kita bisa menerima berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster, antara lain citra satelit, foto udara, dsb.

    Citra penginderaan jauh yang berupa foto udara atau dapat diinterpretasi terlebih dahulu sebelum dikonversi kedalam bentuk digital. Sedangkan citra yang diperoleh dari satelit yang sudah dalam bentuk digital dapat langsung digunakan setelah diadakan koreksi seperlunya. Lebih lanjut dinyatakan ketiga sumber tersebut saling mendukung satu terhadap yang lain. Data lapangan dapat digunakan untuk membuat peta fisik, sedangkan data penginderaan jauh juga memerlukan data lapangan untuk lebih memastikan kebenaran data tersebut. Jadi ketiga sumber data saling berkaitan, melengkapi dan mendukung, sehingga tidak boleh ada yang terabaikan.

    Data yang belum dalam bentuk digital dapat diubah menjadi bentuk digital dengan cara manual, yaitu mengubah informasi geografis menjadi data digital dengan sistem kisi – kisi (grid atau raster system). Cara manual lain namun lebih maju adalah dengan menggunakan digitizer, sedangkan yang otomatis menggunakan scanner. Untuk cara manual diperlukan ketelitian operator yang mengkonversi data, sehingga data yang diperoleh masih sesuai (mendekati) seperti aslinya. Sedangkan untuk penggunaan scanner, perlu diperhatikan resolusi scanner yang digunakan agar data yang tersimpan tidak banyak mengalami kehilangan detilnya atau mengalami degradasi resolusi.

  4. Data hasil pengukuran lapangan.
  5. Data ini diperoleh langsung dari pengukuran lapangan secara langsung, seperti pH tanah, salinitas air, curah hujan, jenis tanah, dan sebagainya. Karsidi (1996) mengemukakan, bahwa yang termasuk data lapangan yaitu data sosial ekonomi yang dapat diperoleh dari terbitan resmi maupun catatan oleh badan resmi baik pemerintah maupun swasta. Data dapat diperoleh melalui cara sensus ataupun survei (sampel).

    Contoh data hasil pengukuran lapang adalah data batas administrasi, batas kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, dsb., yang dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri. Pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut.

  6. Data GPS.
  7. Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor.
    Winarno dan Suryono (1994) mengemukakan, bahwa ada tiga jenis sumber data yang dipakai dalam sistem informasi geografi yaitu:

    1. Data spasial berbentuk vektor. Data ini bersumber dari peta topografi dan peta tematik lainnya.
    2. Data spasial berbentuk raster. Data ini bersumber dari hasil rekaman satelit atau pemotretan udara.
    3. Data alphanumerik. Data ini bersumber dari catatan statistik atau sumber lainnya, yang sifatnya sebagai deskripsi langsung atau sebagai tambahan dari data spasial.

    Lebih lanjut dinyatakan oleh Paryono (1994), bahwa pada model raster, semua obyek disajikan dalam bentuk sel – sel yang disebut pixel (picture element). Setiap sel memiliki koordinat serta informasi (atribut keruangan dan waktu). Obyek dalam bentuk titik, garis, maupun bidang (area) semuanya disajikan dan dinyatakan dalam titik atau sel, sedangkan pada model vektor, obyek disajikan sebagai titik atau segmen – segmen garis. Lebih lanjut dikemukakan oleh Karsidi (1996), untuk keperluan analisis keruangan (spasial), sistem informasi geografi mempunyai kemampuan analisis spasial yang utama termasuk: analisis tumpang tindih (overlay) untuk mengetahui daerah yang dilipur oleh dua karakteristik dari tema yang berbeda dan untuk mengetahui perubahan batas dari waktu ke waktu; analisis sebaran/distribusi dari suatu obyek untuk mengetahui variasi pola dan jumlah atribut terhadap ruang; analisis aliran (flow) di dalam suatu jaringan untuk menganalisis pola aliran lalu lintas misalnya, dan analisis tiga dimensi.

    Pada bagian ini kita akan mempelajari teknik memasukkan data spasial dari sumber-sumber di atas ke dalam SIG, antara lain:

    1. Digitasi
    2. Digitasi biasanya dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak PC ARC/INFO dan meja digitasi. Tetapi bila kita tidak memiliki perangkat lunak PC ARC/INFO dan meja digitasi, kita juga bisa melakukan digitasi sistem On Screen dengan menggunakan perangkat lunak AutoCAD Map atau Arc View.

    3. Penggunaan GPS
    4. Konversi dari sistem lain

    Kita akan membahas proses konversi dari peta analog menjadi peta digital dengan mempergunakan sistem digitasi On Screen. Untuk dapat melakukan digitasi secara On Screen kita harus memiliki format data image dengan format jpg, bmp, tiff dll. Untuk mendapatkan format data tersebut dapat kita peroleh dengan cara di scan. Cara kerjanya adalah dengan mengkonversi fitur-fitur spasial yang ada pada peta menjadi kumpulan koordinat x,y. Untuk menghasilkan data yang akurat, dibutuhkan sumber peta analog dengan kualitas tinggi. Dan untuk proses digitasi, diperlukan ketelitian dan konsentrasi tinggi dari operator. Dalam mempelajari digitasi, kita menggunakan perangkat lunak AutoCAD Map dan Arc View. Prosedur dan tata cara pengerjaannya akan diberikan secara detail dengan maksud untuk memberikan garis besar dari konsep GIS dan melatih cara mendigitasi peta dengan menggunakan AutoCAD Map.

B.   Digitasi dengan AutoCAD Map
  1. Pre Digitasi
  2. Ketelitian hasil digitasi anda ditentukan oleh sumber data yang ada. Sedapat mungkin, gunakan peta yang paling baik dan paling mutakhir. Peta harus selalu dalam keadaan bersih, dapat terbaca dan dalam kondisi baik, untuk memastikan bahwa lokasi yang ada dapat didigitasi seteliti mungkin. Kondisi peta mudah berubah oleh keadaan cuaca. Untuk meminimalkan distorsi, sebaiknya peta digandakan kedalam suatu material yang stabil, misalnya mylar, untuk meminimalkan pemekaran dan pengkerutan. Meskipun cara ini adalah ideal tapi membutuhkan biaya tinggi. Cara lain yang lebih praktis adalah dengan meletakkan mylar di atas peta yang akan didigitasi. Sangat tidak dianjurkan untuk menggunakan peta hasil foto copy. Untuk menjaga konsistensi dalam pelaksanaan digitasi, tetapkan suatu urut-urutan prosedur standar untuk memastikan tata cara pemasukan data yang konsisten. Misalnya, anda akan melakukan digitasi fitur jalan, yang dalam hal ini direpresentasikan dengan garis. Sebuah garis pada peta jalan biasanya ada yang berupa garis tunggal dan garis ganda. Pastikan sebelumnya apakah digitasi akan dilakukan pada tengah-tengah garis atau pada salah satu tepi garis tersebut. Apapun pilihan anda, selama digitasi pilihan ini harus dilakukan secara konsisten dan sebaiknya buatlah catatan mengenai hal ini.

    Peta analog yang akan di digitasi kemudian di scan. Ukuran scanner bervariasi dari ukuran A4 sampai A0. Bila kita menggunakan scanner ukuran A0 maka peta yang ukurannya besar cukup satu kali scan. Tetapi bila scanner yang digunakan ukurannya kecil seperti ukuran A4, maka peta harus di scan beberapa kali. Pada saat menscan peta tersebut dibuat over lapping agar peta nantinya dapat disambung kembali. Format yang dipakai untuk gambar/image adalah jpg atau bmp.

  3. Digitasi
  4. Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan untuk memulai proses digitasi dengan menggunakan program AutoCAD Map 5, yaitu:

    1. Buka program Atutocad dengan cara Lakukan klik ganda pada ikon Shortcut Autodesk Map 5 yang ada di dalam area Desktop atau klik tombol Start - Programs- Autodesk Map 5 - Autodesk Map 5 pada taskbar dan tunggu proses pengaktifan program.
    2. Menampilkan image pada bidang gambar auto cad
      Image dari peta-peta yang sudah discan dan diedit selanjutnya ditampilkan pada bidang gambar AutoCAD. Langkah – langkah pemanggilan image:
      • Aktifkan toolbar reference, dengan cara kursor diletakkan pada menu toolbar kemudian klik kanan, pilih menu reference seperti gambar berikut:



      • Gambar 1 Toolbar image
      • Klik ikon Image Attach dan akan tampil jendela seperti dibawah,



      • Gambar 2 Tampilan untuk mencari lokasi image file
      • Klik pada file imagenya, klik open, lalu klik OK
      • Klik kiri pada bidang gambar AutoCAD, tekan enter.
      • Pada command line akan tampil pertanyaan
      • Specify insertion point < 0,0 > : Klik kiri pada bidang gambar AutoCAD Specify scale factor < 1 > : Tekan enter
      • Kadang image yang ditampilkan ukurannya kecil, agar kenampakannya besar, klik ikon (zoom realtime), letakkan kursor pada bidang gambar, klik kanan lalu pilih zoom extend. Klik kanan lagi, pilih exit.
      • Bila peta di scan dengan scanner yang besar maka image bisa di scan hanya satu kali, tapi bila Scanner yang digunakan ukurannya kecil, maka peta di scan beberapa kali. Lakukan pemanggilan image satu per satu sampai semua image pada satu peta tampil semua pada bidang gambar AutoCAD dengan cara yang sama seperti di atas.


      Gambar 3 Image hasil scan pada bidang gambar AutoCAD

    3. Membuang tepi image yang mengalami bias saat di scan
    4. Pada tepi image mengalami bias akibat proses scanning. Agar image dapat tersambung dengan pas maka bagian tepinya harus dibuang dahulu dengan perintah image clip.
      Langkah – langkah untuk membuang bagian tepi image yang bias:

      • Klik pada ikon image clip, akan ada pertanyaan pada command line
      • Select obyek to clip:
      • Klik image pada bagian tepinya/frame, akan ada pertanyaan pada command line
      • Enter image clipping option [ON/OFF/Delete/New boundary] :
      • Tekan enter
      • Buat kotak dengan menggunakan kursor, klik kiri mulai dari bagian atas kiri image, bawa cursor ke bagian bawah kanan, klik kiri. Pada bagian diluar kotak akan terbuang.


      Gambar 4 Tampilan image yang mengalami bias

    5. Meratakan image yang miring saat di scanning
    6. Pada saat menscan sangat mungkin terjadinya kemiringan pada saat meletakkan peta pada scanner, sehingga image yang dihasilkan juga akan terlihat tidak rata. Hal ini bisa diatasi dengan meratakan image tersebut pada bidang gambar AutoCAD dengan menggunakan perintah rotasi.
      Untuk meratakan image tersebut langkah – langkahnya sebagai berikut:

      • Cari pada peta tersebut bagian gambar yang seharusnya datar, seperti garis lintang atau garis tepi peta
      • Buat garis yang datar dengan perintah polyline, aktifkan ORTHO ON agar garis yang terbentuk datar, mulai dari bagian ujung kiri garis lintang atau garis tepi pada peta tersebut sampai ujung kanan. Jika peta tersebut sudah datar maka garis yang dibuat akan berimpit dengan garis yang ada di peta. Kalau tidak berimpit maka peta tersebut belum datar.
      • Klik ikon rotate, pada command line akan ada pertanyaan sebagai berikut:
      • Select objects: Pilih image yang akan dirotasi Specify base point: Tekan ctrl atau shift dan klik kanan pada mouse, pilih endpoint, klik kiri pada ujung garis bagian kiri Specify rotation angle or [Reference]: Zoom window pada bagian kanan ujung garis,. Kita akan melihat tiga buah garis yaitu garis datar yang kita buat, garis lintang atau garis tepi pada peta dan garis cursor. Garis cursor diletakkan dengan jarak vertical yang sama dengan jarak antara garis datar dan garis lintang, anggap garis datar yang sudah dibuat sebagai cermin. Lalu klik kiri pada mouse. Hasilnya garis datar akan berimpit dengan garis lintang atau garis tepi peta.


      Gambar 5 Image pada bidang gambar AutoCAD yang miring

    7. Menyamakan ukuran image
    8. Pada saat ditampilkan pada bidang gambar AutoCAD ukuran dari image tersebut kadang tidak sama dengan ukuran image lain di sebelahnya. Agar dapat disambung-sambung maka image-image tersebut harus disamakan ukurannya dengan perintah scale.
      Untuk menyamakan image tersebut langkah – langkahnya sebagai berikut:

      • Aktifkan toolbar dimension dengan cara letakkan kursor pada menu toolbar lalu klik kanan, pilih Dimension
      • Tentukan dua buah titik yang akan diukur jaraknya
      • Klik Aligned Dimension
      • Specify first extension line origin or <select object>:
        Klik kiri pada titik pertama
        Specify second extension line origin:
        Klik kiri pada titik kedua
        [Mtext/Text/Angle]:
        Klik kiri, akan tampil nilai jarak dari dua buah titik yang diukur.


        Gambar 6 Image yang tidak sama ukurannya

      • Lakukan lagi pengukuran untuk titik pada image yang disebelahnya. Kita akan mendapatkan dua buah ukuran jarak pada dua buah image. Ukuran pada image pertama dijadikan acuan, sedang image yang kedua akan disamakan ukurannya dengan image yang pertama
      • Klik ikon Scale
      • Select objects:
        Pilih image yang kedua, tekan enter
        Select objects:
        Tekan enter
        Specify base point:
        Klik pada titik pertama image yang kedua
        Specify scale factor or [Reference]:
        Ketik r, tekan enter
        Specify reference length <1>:
        Ketik ukuran jarak pada image yang kedua, enter
        Specify new length:
        Ketik ukuran jarak pada image yang pertama, enter
        Specify reference length <gt;:
        Ketik ukuran jarak pada image yang kedua, enter
        Specify new length:
        Ketik ukuran jarak pada image yang pertama, enter
    9. Menggabungkan image
    10. Setelah image-imagenya rata dan ukurannya sama maka image tersebut selanjutnya disambung-sambung sehingga akan terlihat seperti peta yang utuh.
      Adapun langkah – langkahnya adalah sebagai berikut:

      • Pilih perintah move
      • Select objects: pilih image yang akan dipindah
        Specify base point or displacement: klik kiri satu titik yang pada daerah yang overlapping
        Specify second point of displacement or <use first point as displacement>: klik kiri pada titik yang sama pada image yang ada disebelahnya.
      • Lakukan sampai semua image tersusun menjadi satu seperti pada peta aslinya.


      Gambar 7 Image yang telah digabung

    11. Georeferensi dengan AutoCAD
    12. Georeferensi merupakan penempatan koordinat pada peta yang mengacu pada koordinat bumi. Sistem koordinat yang biasa dipakai adalah sistem latitute dan longitute (latlong) atau lintang bujur dan sistem UTM (Universal Tranverse Mercator). Sistem lintang bujur memiliki satuan derajat menit detik, sementara sistem UTM memiliki satuan meter. Antara sistem latlong dan UTM ini bisa saling dikonversi atau dirubah. Proses georeferensi bisa dilakukan dengan AutoCAD dan di Arc View. Tetapi sebaiknya proses georeferensi dilakukan dengan Arcview, karena memiliki akurasi yang lebih baik. Proses georeferensi dengan Arc View akan dibahas pada bagian sendiri.
      Bila kita menggunakan AutoCAD, maka tahapan yang kita lakukan adalah sebagai berikut:

      • Cari pada peta tersebut suatu titik perpotongan garis koordinat, lihat nilai koordinatnya. Misalnya pada peta tersebut sistem koordinat yang dipakai adalah sistem latlong derajat menit detik, maka koordinat tersebut harus dirubah dahulu menjadi bentuk derajat yang desimal, karena sistem koordinat yang dipakai dalam AutoCAD adalah sistem desimal. Caranya hitung dengan kalkulator atau Excel dengan rumus berikut:
      • derajat+menit/60+detik/3600. Bila sistem koordinat yang dipakai UTM, maka nilai nya langsung bisa digunakan untuk proses georeferensi.


        Gambar 8 Titik koordinat yang dipakai untuk georeferen

        Sebagai contoh lihat gambar diatas. Pada gambar tersebut ada titik yang bertanda (+). Pada titik tersebut memiliki koordinat bujur 115Ί46’Tdan lintang 00Ί30’S. T singkatan dari Timur dan menyatakan sumbu X, sedangkan S singkatan dari Selatan menyatakan sumbu Y. Bila kita rubah nilai koordinat tersebut menjadi desimal, maka nilainya akan menjadi 115.7667 dan -0.5000 (diberi tanda (–) karena terletak pada lintang selatan)

      • Klik ikon move, pada Commad line akan muncul pertanyaan
      • Select objects:
        Ketik all, lalu tekan enter. Akan muncul pertanyaan lagi
        Select objects:
        tekan enter, akan muncul pertanyaan
        Specify base point or displacement:
        Kursos diletakkan pada titik yang bertanda (+ ) lalu klik kiri, akan muncul pertanyaan
        Specify base point or displacement: Specify second point of displacement or <use first point as displacement>:
        Masukkan nilai 115.7667,-0.5000 lalu tekan enter. Sekarang posisi image telah berpindah koordinat. Pada titik yang bertanda (+) tersebut koordinatnya sudah mengikuti koordinat bumi, tetapi titik – titik yang lain belum.

      • Klik ikon zoom realtime, bawa kursor ke bidang gambar AutoCAD, klik kanan pilih zoom exten.
      • Lihat pada bagian peta yang lain tentang posisi koordinatnya. Pada titik yang mempunyai lintang yang sama tapi bujurnya berbeda. Sebagai contoh kita dapatkan koordinat 115Ί55’T dan 00Ί30’S. Kita hitung selisih nilai derajat antara dua titik tersebut pada garis bujurnya, yaitu 115Ί55’ - 115Ί46’=0Ί9’ atau 0.15Ί

      • Langkah selanjutnya adalah mengkoreksi jarak digambar menjadi jarak sebenarnya di bumi. Perintah yang digunakan adalah Scale. Langkahnya sebagai berikut:
      • Klik ikon scale
        Select objects:
        Pilih imagenya
        Select objects:
        Tekan enter
        Specify base point:
        Klik kiri pada image yang memiliki koordinat 115Ί46’T dan 00Ί30’S
        Specify scale factor or [Reference]:
        Ketik r
        Specify reference length <1>: Specify second point:
        Klik kiri pada image yang memiliki koordinat 115Ί46’T dan 00Ί30’S kemudian klik kiri pada image yang memiliki koordinat 115Ί55’T dan 00Ί30’S
        Specify new length:
        Masukkan nilai 0.15
        Tekan Enter

    13. Membuat Layer/thema
    14. Sebelum melakukan digitasi dibuat terlebih dahulu layer-layer mengikuti obyek yang ada pada peta, seperti sungai, jalan, batas kecamatan dan lain-lain.
      Pada kotak dialog layer ada beberapa pilihan yaitu:

      Name : nama layer
      On : untuk mengaktifkan atau menonaktifkan semua layer
      Freeze : untuk mengaktifkan atau menonaktifkan layer yang tidak dipakai, layer yang tampil pada kotak pilihan tidak dapat di freeze
      Lock : untuk mengunci layer, layer yang terkunci ini tidak dapat dilakukan pengeditan
      Color : memilih warna
      Linetipe : memilih jenis garis

      • Klik toolbar layer, akan muncul jendela dialog seperti gambar dibawah ini



      • Gambar 9 Kotak layer properti yang telah di isi dengan nama layer

      • Pilih new, ganti nama layer untuk membuat layer yang kita inginkan sesuai dengan tema petanya, misalnya jalan, sungai, batas kecamatan dan lain – lain.
      • Klik OK jika sudah selesai
    15. Mendigitasi peta
    16. Setelah membuat layer langkah berikutnya adalah mendigitasi peta yang ada pada bidang gambar AutoCAD dengan mengikuti semua bentuk gambar yang ada pada peta tersebut sesuai dengan themanya. Obyek yang ada pada suatu peta dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: titik, garis dan poligon. Bila mendigitasi sungai diaktifkan layer sungai, dan seterusnya. Bila mendigitasi obyek titik gunakan perintah point, garis menggunakan perintah polyline, bila mendigit poligon juga digunakan perintah polyline tetapi harus bertemu pada awal dan akhir garis tersebut.

      Aturan dalam digitasi:
      • Digitasi dilakukan dengan menzoom image menggunakan suatu skala acuan yang sama agar panjang segmen digitasi seragam.
      • Digitasi garis dilakukan pada satu segmen saja. Sebagai contoh bila mendigit jalan, setiap bertemu dengan persimpangan maka digitasi harus di stop lalu disambung kembali dengan mengulangi perintah polyline.
      • Agar setiap segmen garis dapat saling bertemu maka setiap kali melakukan digitasi gunakan perintah snap untuk menangkap bagian ujung garis.
      • Digitasi obyek sungai dilakukan dari bagian hulu sungai menuju ke arah hilir sungai.
      • Digitasi obyek yang bertipe poligon, pada titik awal poligon harus bertemu dengan titik akhir.
      • Langkah-langkah digitasi:
        1. Digitasi obyek tipe titik
        2. Klik ikon point, pada baris perintah akan muncul
          Command: _point
          Current point modes: PDMODE=0 PDSIZE=0.0000
          Specify a point:
          Klik kiri setiap obyek titik pada peta tersebut. Untuk mengakhiri tekan tombol escip pada keyboard

        3. Digitasi obyek tipe garis
        4. Klik ikon polyline, pada baris perintah akan muncul
          Command: _pline
          Specify start point:
          Tempatkan mouse pada bagian ujung obyek yang akan di digit klik kiri lalu gerakkan mouse mengikuti bentuk obyek klik kiri dan seterusnya sampai bertemu dengan persimpangan lalu tekan enter.

        5. Digitasi obyek tipe poligon
        6. Klik ikon polyline, pada baris perintah akan muncul
          Command: _pline
          Specify start point:
          Tempatkan mouse pada bagian poligon yang akan di digit klik kiri lalu gerakkan mouse mengikuti bentuk poligon klik kiri dan seterusnya mengelilingi poligon tersebut sampai bertemu dengan bagian awal poligon tersebut. Setelah dekat dengan bagian awal poligon tangakap bagian awal dari poligon dengan snap to endpoint,
          atau
          Current line-width is 0.0000
          Specify next point or [Arc/Halfwidth/Length/Undo/Width]:
          Specify next point or [Arc/ Close/ Halfwidth/ Length/ Undo/ Width]:
          Ketik c lalu tekan enter.

  5. Editting
  6. Setelah semua digitasi selesai maka langkah selanjutnya adalah perbaikan atau editting. Editing hanya dilakukan pada obyek yang bertipe garis dan poligon. Beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam proses digitasi adalah garis yang tidak berhubungan satu sama lainnya, garis yang melebihi atau terlalu panjang, serta poligon tidak tertutup.

    Langkah editing
    1. Edit tipe garis
      • Extend
      • Perintah untuk meneruskan garis yang tidak bertemu
        Command: _extend
        Current settings: Projection=UCS, Edge=None
        Select boundary edges ...
        Klik obyek yang akan di jadikan pembatas
        Select objects: 1 found
        Select objects:
        Tekan enter
        Select object to extend or shift-select to trim or [Project /Edge/ Undo]:
        Klik obyek yang akan diperpanjang

      • Trim
      • Perintah untuk memotong garis yang melebihi
        Command: _trim
        Current settings: Projection=UCS, Edge=None
        Select cutting edges ...
        Klik garis yang dipakai untuk memotong
        Select objects: 1 found
        Select objects:
        Tekan enter
        Select object to trim or shift-select to extend or [Project/ Edge/ Undo]:
        Klik garis yang akan dipotong

      • Edit Polyline : perintah untuk menghaluskan garis agar tidak patah-patah.
      • Command: _pedit Select polyline or [Multiple]:
        Ketik m
        Select objects:
        Ketik all
        12 found
        Select objects:
        Tekan enter
        Enter an option [Close/Open/Join/Width/Fit/Spline/Decurve/Ltype gen/Undo]:
        Ketik s
        Tekan enter

    2. Edit tipe poligon
    3. Command: _pedit Select polyline or [Multiple]:
      Ketik m
      Select objects:
      Ketik all
      12 found
      Select objects:
      Tekan enter
      Enter an option [Close/Open/Join/Width/Fit/Spline/Decurve/Ltype gen/Undo]:
      Ketik j
      Tekan enter
      Enter an option [Close/Open/Join/Width/Fit/Spline/Decurve/Ltype gen/Undo]:
      Ketik c
      Tekan enter

  7. Exspor data
  8. Format file pada AutoCAD adalah dwg, sedangkan pada Arc View formatnya shp. Dengan program AutoCAD map 5 dapat dilakukan exsport data dari tipe dwg menjadi tipe shp. Proses exsport dilakukan satu persatu atau per layer/theme.

    Tahapannya sebagai berikut:
    • Proses exsport dilakukan satu persatu untuk setiap layer, aktifkan layer yang akan kita exsport, sedangkan layer yang lain tidak diaktifkan
    • Dari menu utama Map – Tools – Exsport atau dari toolbar Exsport map file, akan muncul kotak dialog seperti dibawah ini



    • Gambar 10 Kotak dialog untuk penempatan lokasi file yang akan diekspor

    • Pada kotak Exsport Type, pilih ESRI Shape, kemudian akan tampil kotak dialog seperti dibawah ini



    • Gambar 11 Kotak dialog untuk nama file yang akan diekspor

    • Tempatkan file pada folder yang diinginkan, pada kotak file name beri nama file dari layer yang akan kita exsport, klik tombol Exsport dan akan muncul kotak dialog seperti berikut



    • Gambar 12 Kotak dialog untuk memilih tipe layer yang akan diekspor

    • Pilih tipe thema atau layer
    • Pilih Point bila tipenya titik, seperti posisi desa, kota
    • Pilih Line bila berupa garis, seperti sungai, jalan
    • Pilih Poligon bila berupa poligon tertutup, seperti penutupan lahan, jenis tanah
    • Pilih select object automaticaly bila ingin mengexsport semua obyek yang tampil pada bidang gambar AutoCAD, klik OK
    • Pilih select object manualy bila ingin mengexsport obyek yang kita inginkan pada bidang gambar AutoCAD, klik OK

<< MENGENAL AUTOCAD MAP  |  HOME  |  PEMASUKAN DATA DENGAN GPS
1