Wawancara Prof. Dr. Ahmad Muflih Saefuddin:
"Saya Bukan Orang Pesanan. Ini Orisinal Pikiran Saya"

Prof. Dr. Ahmad Muflih Saefuddin, politisi kawakan berumur 58 tahun ini, punya sederet jabatan: Menteri Negara Pangan dan Hortikultura, anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, anggota Majelis Pertimbangan Partai Persatuan Pembangunan dan wakil ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia. Tapi, sekarang ia dihujat orang banyak karena pernyataannya yang dinilai sembarangan. "Dia (Megawati) agamanya Hindu. Saya Islam. Relakah rakyat Indonesia jika presidennya beragama Hindu?"

Menghadapi semua itu, ahli ekonomi-pangan lulusan Universitas Justus Lieberg - Giessen, Jerman yang dikenal dekat dengan presiden Habibie itu, tampak tenang-tenang saja. Sabtu pagi lalu di rumah pribadinya yang amat sederhana di Bogor, Pak AM yang masih bersarung menerima wartawan TEMPO, Karaniya Dharmasaputra untuk sebuah wawancara khusus. Tentu saja, dengan segala guyon khasnya. Berikut petikannya.


 

Apa latar belakang pernyataan anda itu?

Prinsipnya, setiap calon presiden harus transparan. Dalam hal ini, minimal harus jelas identitas pribadinya, yaitu: nama, alamat, tanggal lahir, agama dan pekerjaan. Seperti yang selalu dicantumkan di KTP. Jangan ada yang disembunyikan, transparan saja. Ini adalah data demografi yang harus dipunyai dan diketahui setiap orang. Dalam bahasa teknologi disebut: spesifikasi. Kalau mau beli mobil, barang elektronik, obat, dan lain-lain, ada spesifikasi yang harus diketahui dulu oleh setiap calon pembeli. Supaya jangan dibohongi. Jangan seperti membeli kucing dalam karung. Tapi siapapun dia, tetap saya hormati. Dengan catatan harus transparan. Supaya rakyat tidak dibodohi. Data demografi itu data minimal. Itu kan data dasar bagi semua penduduk. Meskipun, untuk calon presiden tentu saja dibutuhkan data tambahan seperti track record sebagai seorang politisi, sebagai negarawan, pengalaman global untuk menghadapi era globalisasi.

Saya dan rakyat kan mendapat informasi dari media cetak. Yang waktu itu banyak memberitakan, juga lewat foto-fotonya, bahwa Megawati, salah seorang calon presiden, sedang sembahyang di pura. Nah, sebagai seorang warga negara saya terheran-heran, karena sepengetahuan saya seharusnya tidak seperti itu. Jadi, pernyataan saya itu cuma dalam konteks Megawati sebagai calon presiden. Kalau pernyataan itu dianggap salah, tolong tunjukkan salahnya di mana? Kalau ada orang mengatakan: AM Saefuddin sebagai salah seorang calon presiden, sembahyangnya di masjid, apa saya harus marah?

Salah satu makna demokrasi itu adalah transparansi. Kenapa harus ditutup-tutupi data demografi itu? Sebagai seorang warga negara yang demokrat, saya hormat dan tidak pernah membenci atau melecehkan suku, agama, ras atau golongan manapun juga. Semua diperbolehkan dicalonkan atau mencalonkan diri. Tapi yang menentukan kan rakyat. Untuk memilih "kucing-kucing" -- presiden -- itu, harus jelas dulu dong identitas kucing-nya.

 

Jadi Anda tidak pernah menyatakan Mega beragama Hindu?

Apa bedanya sembahyang di pura dengan beragama Hindu? Mbak Mega itu sembahyangnya di pura, berarti agamanya Hindu. Seperti juga misalnya kalau Mbak Mega ngomong AM Saefuddin itu sembahyang di masjid, maka agamanya Islam. Apa saya harus tersinggung? Apa umat Islam lalu menuduh Megawati melecehkan Islam? (Catatan Red: Yang diprotes umat Hindu, bukan soal Megawati beragama Hindu, tetapi kalimat terakhir yang umum: "Relakah......")

 

Tapi berdasarkan KTP-nya, Mega beragama Islam...

Kalau memang dia Islam, jelaskan dong. Dulu, waktu sebelum pemilu juga ada pemberitaan seperti itu. Sekarang, terulang lagi. Kenapa dia tidak pernah menjelaskannya? Saya tanya, kalau anda seorang Katholik atau Buddha, masuk masjid, shalat nggak? Dengan alasan supaya Anda diakui atau dihormati umat Islam. Saya Islam, waktu tinggal di Jerman, apa kalau masuk gereja saya terus berdoa dan bernyanyi, supaya diakui? Kan tidak.

 

Anda sudah mengkonfirmasikannya ke Mega?

Anda tanyakan dong ke sumber beritanya ... Kalau memang foto-foto itu tidak benar, yang bersangkutan supaya membantahnya. Pernyataan saya itu sebenarnya tidak ada kaitannya dengan masyarakat Hindu di Bali. Ini kan lalu dipolitisir. Kalau sudah sejauh itu, sudah tidak proporsional. Coba saja lihat tuntutannya: kalau AM Saefuddin tidak dipecat: Bali merdeka, pemilu diboikot, pekerja mogok, bandara Ngurah Rai ditutup.

 

Menurut anda kenapa bisa sejauh itu?

Tanya ke mereka, jangan sama saya.

 

Lalu kenapa Anda minta maaf?

Manusia itu punya interpretasi berbeda-beda. Kepala sama berbulu, di bawah bulu itu kan lain-lain, bisa saja terjadi communication gap. Maksud saya kan baik. Dengan demikian apabila ada salah interpretasi dan karenanya dapat mengganggu ketenangan atau bisa menyebabkan keresahan dan kerusuhan, maka dengan kebesaran hati sebagai seorang demokrat saya minta maaf. Walaupun saya tidak bersalah. Semulia-mulianya orang, adalah yang sering-sering memohon maaf. Walaupun tidak bersalah. Memang orang Indonesia itu punya budaya antara lain mahal memberi dan meminta maaf. Minta maafnya setahun sekali, kalau Lebaran ... ha ... ha ... Berbeda dengan orang Barat yang murah bilang I’m sorry. Minta maaf itu bagian dari demokrasi.

 

Apa maksud Anda mengatakan "relakah Anda jika dipimpin orang Hindu?" Apakah karena Islam mewajibkan setiap muslim memperjuangkan pemimpin negara yang beragama Islam?

Sebenarnya, pernyataan saya tidak dalam konteks seperti itu. Tapi karena waktu itu wartawan menanyakan bagaimana menurut ajaran Islam, ya saya bisa menjelaskannya. Ayat-ayatnya kan jelas.

 

Lalu bagaimana menempatkannya di sisi seorang demokrat dan UUD’45?

Sikap saya sebagai seorang demokrat, silakan saja. Ibaratnya ada semua barang: minuman keras, minuman ringan, silakan ... Demokrasi kan begitu. Tapi, sebagai seorang yang beragama Islam, pilihan saya sudah ditetapkan. Saya pilih soft drink. Ini bagian dari kebebasan memilih.

 

Sebagai seorang menteri, kenapa Anda membuat pernyataan itu?

Lho, kenapa? Saya berkewajiban mendidik rakyat. Ini kan pendidikan politik. Supaya rakyat jangan mau dibodohi terus. Seperti membeli kucing dalam karung.

 

Benarkah Anda juga keberatan Mega jadi presiden karena wanita?

Kalau itu sudah di luar konteks pernyataan saya. Tidak ada itu pernyataan soal betina atau jantan dalam soal calon presiden.

 

Jadi, Anda akan tetap mencalonkan diri sebagai presiden?

Oh, tetap. Apa pernah ada pernyataan saya yang mencabut itu? Yang jelas, kalau jadi presiden saya pertama-tama akan memperjuangkan prinsip transparansi itu. Termasuk, soal kekayaan calon presiden. Sebelumnya harus didata: Berapa jumlah rumahnya, pompa bensinnya, kapal pesiarnya. Begitu pula setelahnya.

 

Anda dituntut mundur sebagai menteri, ada komentar?

Seperti saya bilang, ini sudah tidak proporsional. Konteks pernyataan saya itu cuma soal Mega.

 

Jadi anda tidak akan mundur?

Oh, iya.

 

Bagaimana sikap presiden Habibie dalam hal ini?

Ya, tanya sama Pak Habibie.

 

Benarkah dalam waktu dekat Anda akan dicopot?

Tidak benar, buktinya sampai sekarang saya masih menjabat.

 

Jumat lalu kabarnya Anda sudah tidak ikut rapat kabinet?

Saya tidak bisa memberi komentar soal itu. Silakan saja ... Tidak ada itu sidang kabinet di hari Jumat. Sidang kabinet itu setiap hari Rabu (nada suaranya meninggi). Saya tidak tahu. Sidang apa itu? Wartawan kan lebih tahu. Yang jelas, saya tidak menerima undangan untuk Sidang Kabinet pada hari Jumat.

 

Anda sudah menjelaskan duduk masalahnya pada tokoh-tokoh Hindu?

Buat apa saya menjelaskannya? Konteks pembicaraan saya tidak ada hubungannya dengan mereka, cuma soal Megawati. Dalam rangka memberi informasi pada rakyat. Bahwa saya mendapat informasi dari koran ada gambar Megawati sedang sembahyang di pura. Kalau begitu, agamanya Hindu. Itu saja. Sudah jelas kok duduk permasalahannya. Mereka mungkin sudah ditutup mata hati dan telinganya. Karena ada motivasi lain. Itu urusan mereka. Bukan urusan saya. Lihat saja tuntutannya: Bali merdeka, boikot pemilu, dan sebagainya. Itu motivasinya. Aslinya ya itu. Masalah saya itu mungkin cuma dijadikan batu loncatan saja ... ha ... ha ...

 

Jadi target utamanya apa?

Tanya mereka. Saya kan tidak bisa menduga-duga. Yang jelas, apa yang sudah muncul sekarang, itu yang saya tangkap. Tuntutan Bali merdeka itu kan berarti memisahkan diri dari Republik Indonesia ini. Pemilu akan diboikot, artinya kan menantang konsitusi. Bandara Ngurah Rai akan dikepung, itu kan sudah melawan peraturan internasional. Apa hubungannya omongan saya tentang Mega dengan tuntutan Bali merdeka? Sudah tidak proporsional.

 

Benarkah pernyataan Anda adalah pesanan?

Saya bukan orang panggilan atau orang pesanan. Itu orisinil pemikiran saya.

 

Kalau Habibie dicalonkan lagi sebagai presiden, Anda tetap akan maju terus?

Ya. Tapi, kalau nanti saya lihat ternyata dukungan untuk saya kurang, ya buat apa memaksakan kehendak. Sebagai barang dagangan yang sudah diperkenalkan pada masyarakat, kalau ternyata selera pembeli kurang berminat, buat apa produk itu dijual lagi?

 

Sejauh ini dukungan terhadap Anda bagaimana?

Ini kan baru tahap sosialisasi. Kalau saya bilang sekarang dukungannya 80 persen, nanti kan katanya sombong. Ya kita lihat saja nanti.

 

Anda punya hubungan dekat dengan Habibie sejak di Jerman? Bagaimana?

Pak Habibie itu orang besar ... Ah, sudahlah kok diulang-ulang terus soal itu. Itu kan sudah banyak dimuat. Saya nggak bisa jadi kaset.

 

Kalau jadi presiden, apa yang akan Anda rombak?

Paling sedikit, harus ada demokratisasi dan kebebasan. Tapi yang bermoral. Ada aturannya. Main bola di jalan tol, dengan alasan ekspresi kebebasan, kan tidak boleh. Jadi kebebasan itu harus bermoral, sumbernya agama. Kedua, hak azasi manusia. Ketiga, ekonomi nasional yang berbasis petani, nelayan, usaha kecil, koperasi. Yang keempat, reposisi ABRI. Kalau ABRI mau ikut politik tempatnya di MPR, bukan di DPR. Karena menurut undang-undang, anggota DPR itu harus dipilih. Semuanya harus berdasarkan moral. Kelima, persatuan kesatuan berdasarkan agama. Kerukunan hidup umat beragama itu artinya dalam hal bermasyarakat. Bukan kerukunan agama. Kalau agama harus dirukunkan, bagaimana mungkin? Tuhannya lain-lain, sembahyangnya beda-beda. Agama yang satu mengharamkan minuman keras, agama yang lain membolehkannya. Jadi persatuan kesatuan pun harus berdasarkan agama. Agama apapun, harus saling menghormati.

Setiap warga negara, apapun agamanya, tidak ada larangan untuk jadi calon presiden. Itu calon (sambil memberi tekanan khusus pada kata ‘calon’, red). Tapi, ini kan demokrasi, ada pemilihan. Demokrasi itu mayoritas. Amerika Serikat sudah 200 tahun berdemokrasi, umat Islam tidak pernah bisa jadi presiden. Karena jumlahnya kurang dari 10 persen. Begitu juga di Inggris, Perancis, Jerman. Di mana ada sebuah bangsa yang dipimpin minoritas?

 

Saat ini, keragaman agama sudah jadi faktor disintegrasi?

Tidak betul itu. Sekarang taruh kata ada lima calon presiden dari lima agama berbeda. Saya disuruh memilih. Meskipun misalnya, calon dari agama lain lebih cantik, hidungnya mancung, pinggulnya lebih gede, perawan lagi, saya tetap memilih yang Islam. Untuk yang beragama selain Islam pun, saya anjurkan bersikap seperti itu. Jadi kalau saya memutuskan memilih calon yang Islam, yang lain harus menghormatinya. Kenapa saya harus dipaksa melanggar Al Quran? Saya lebih baik mati. Keimanan saya tidak bisa dibeli. Jangan paksa saya untuk memilih yang tidak cocok dengan keimanan saya.

 

Bagaimana soal kekhawatiran sebagian orang tentang Islam fundamentalis?

Paus Katholik itu fundamentalis bukan? Datang ke sini memakai jubahnya, mencium tanah dulu. Menurut pandangan saya, ia seorang fundamentalis. Orang yang teguh keimanannya. Tapi, menurut pandangan orang Barat, fundamentalis itu teroris. Saya suka kalau orang Buddha jadi fundamentalis, dalam pengertian jangan mempermainkan agamanya. Faktor perekatnya adalah negara ini. Apa ajaran semua agama berbeda soal sikap kita terhadap korban kebanjiran atau kebakaran? Kan tidak. Kita bersatu dan bekerja sama dalam hal itu. Tapi kita berbeda dalam hal-hal yang memang tidak sama. Misalnya anda bertamu, karena suka minum bir lalu minta saya menyediakannya. Yang bener aja. Jangan harap saya menyediakannya, karena agama saya melarangnya. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

 

Benarkah ada juga yang menyesalkan anda minta maaf?

Ya, silakan. Itu kan hak mereka. Saya sudah katakan kepala sama berbulu, di bawah bulu, lain-lain.

1