Mengarahkan Sikap Hati Anak


 EDISI 17  
Juli - September 1999 

Menu Utama


Daftar Isi
Renungan Bagi Orang Tua
Mengarahkan Sikap Hati ...
4 Langkah Mengendalikan ...
Membolos Sekolah, ...
Membuat Semua Anak ...
Kesehatan: Benda Asing ...
Menjadi Seorang Ayah
Siap Untuk Latihan ke WC ...
Kebutuhan & Perkembangan...
Serba-Serbi: Jalan Kaki ...


Email
Email:
emailbox@cbn.net.id

Mengarahkan Sikap Hati Anak

Oleh : Ev. Anne Kartawijaya, MDiv.

etiap orangtua menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang mempunyai perilaku baik. Akan tetapi, yang sering terjadi adalah anak mempunyai perilaku yang baik tergantung situasi. Pada situasi tertentu ia dapat berperilaku yang diharapkan, di situasi yang lain ia seperti menjadi orang yang berbeda.

     Bukankah itu juga yang terjadi dalam gereja saat ini. Banyak orang Kristen yang mempunyai kepribadian ganda. Di gereja ia sangat dihormati karena kesalehan dan talenta serta kesetiaan dalam pelayanan. Akan tetapi di rumah atau di lingkungannya ia seolah-olah menjadi orang yang berbeda.

     Salah satu penyebab dari semua ini adalah karena banyak orangtua Kristen tidak mengerti darimana harus mulai mengarahkan perilaku anak.

     Tedd Tripp, yang menulis buku “Shepherding a child’s heart” mengatakan bahwa kepribadian anak kita adalah produk dari 2 hal, yaitu:

1. Pengalaman hidupnya.

2. Bagaimana dia berinteraksi dengan pengalaman.


Sebagai contoh:
Ketika Sally masih kecil, ia mempunyai pengalaman hidup yang sangat indah. Segala keperluannya selalu terpenuhi. Kedua orangtuanya senantiasa mengatur dan mengambil banyak keputusan untuknya. Hidupnya sebelum pernikahan adalah sebagai seseorang yang selalu dilayani oleh kedua orangtuanya.
Pengalaman hidup semasa kecilnya ini membentuk kebutuhan dan harapannya juga terhadap suaminya.
Ketika Sally mendapatkan pengalaman hidup yang berbeda dengan suaminya, ia merasa tidak dikasihi. Di dalam benak Sally sudah terbentuk suatu konsep bahwa dikasihi berarti dilayani sepenuhnya, hidupnya diatur orang lain, dan orang lain yang mengambil keputusan baginya.

     Sudah barangtentu kita tidak bisa mengamati kasus ini hanya dari sisi luar (pengaruh pengalaman itu sendiri). Sally bukanlah makhluk netral yang dapat dengan mudah dibentuk oleh pengalaman atau lingkungannya. Sally adalah individu unik yang ber-rasio dan ber-kehendak. Dia juga makhluk rohani yang diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah, dia juga adalah manusia berdosa yang cara berpikir dan kehendaknya sudah dicemari oleh dosa. Dengan demikian, pembentukan dari sebuah pribadi tidak hanya melulu ditentukan oleh pengaruh luar, akan tetapi bagaimana Sally sendiri berinteraksi dengan pengalaman yang berada di luarnya.

      Dengan demikian, kita melihat ada bagian dalam diri anak yang memang tidak dapat disentuh oleh siapapun kecuali Tuhan, yaitu: bagian jiwanya. Orangtua tidak dapat menentukan temperamen anak yang akan dilahirkannya, orangtua kadang tidak dapat menduga reaksi apa yang akan diberikan oleh anak terhadap suatu pengalaman. Akan tetapi ada bagian yang orangtua dapat lakukan, yaitu: mengarahkan orientasi (Sikap Hati) seorang anak.

HATI ANAK (ORIENTASI HIDUP)

     Tuhan menciptakan manusia dengan banyak keajaiban di dalam dirinya. Manusia memiliki tenaga magnetik, sehingga ia dapat berdiri di atas bumi setelah bereaksi dengan gaya gravitasi bumi. Manusia memiliki daya penghantar listrik, mempunyai kemampuan untuk berkembang, jaringan otak dapat berkembang (sparkling) ketika distimulasi, dapat meningkatkan taraf hidup (berbudaya), beretika dan manusia dapat berkreasi menciptakan sesuatu yang baru dari apa yang ada. Dan hal yang paling membedakan manusia dari makhluk lain, adalah manusia memiliki ‘sense of worship’ (kecenderungan untuk menyembah sesuatu)

     Seorang anak tidak pernah netral. Anak kita akan menyaring segala pengalamannya dengan konsep penyembahan yang ia miliki.
Roma 1:18,19: “Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.”
Melalui Roma 1 ini kita melihat suatu konsep bahwa seorang anak hanya memiliki 2 alternatif/pilihan: (1) memberikan respon kepada Allah dengan iman, atau (2) menindas kebenaran dengan ketidakbenaran.

      Jika kita memberikan respon kepada Allah dengan iman, ia memperoleh kepuasan dalam pengenalan dan pelayanannya kepada Allah. Jika ia menindas kebenaran, pada akhirnya ia menyembah dan melayani “ciptaan” dan bukan “Pencipta” itu sendiri.
Dengan demikian, yang penting dilakukan oleh orangtua adalah bagaimana menolong anak untuk memiliki sikap hati yang mengarah kepada Allah (To have Godward orientation)

IMPLIKASI TUGAS PRAKTIS ORANGTUA

     Konsep Dasar prinsip ini berada di dalam Amsal 4:23: “Dari hati terpancar kehidupan”. Ada beberapa hal yang orangtua dapat lakukan untuk mengarahkan sikap hati anak kepada Allah:

1.Membimbing anak untuk menjadi ciptaan yang menyembah Allah.
Jadikanlah suatu kebiasaan rutin di dalam keluarga untuk senantiasa menyembah Tuhan. Family altar ataupun puji-pujian yang spontan dan natural pada saat bermain dengan anak, dan sudah barangtentu keterlibatan anak dalam ibadah di gereja baik bersama orangtua dalam kebaktian keluarga ataupun tanpa orangtua dalam kebaktian sekolah minggu.

2. Mengarahkan hatinya untuk menghormati dan mengutamakan Allah.
Dalam menentukan acara hari minggu, bagaimana orangtua mengutamakan ibadah daripada rekreasi. Mengingatkan anak untuk menyebut nama Tuhan dengan sikap hormat, berdoa dengan sikap hormat, juga mengutamakan Tuhan di atas segala mainan, film, atau acara yang ia sukai. Senantiasa menunjuk kepada Tuhan pada saat suka maupun duka.

3. Mengajarkan anak untuk mengetahui standard kehendak Tuhan.
Orangtua harus fleksibel terhadap ketidak matangan anak, misalnya: anak 1 tahun memecahkan barang (karena ia belum bisa betul-betul memegang suatu objek dengan kuat), atau cerita imaginasi untuk anak 2 tahun yang nampaknya seperti kebohongan (karena anak belum bisa membedakan realita dan imaginasi). Akan tetapi orangtua harus tegas menunjukkan kepada anak hal-hal yang pada naturnya adalah keberdosaan manusia. Misalnya: keegoisan, pemberontakan terhadap otoritas, kebohongan. Hal-hal tersebut bukan menunjukkan kekanakkan anak, akan tetapi pusat penyembahan di dalam hati anak.

4. Menunjukkan kepada anak bahwa orangtua adalah agen Allah.
Dalam memberikan teguran atau disiplin. Orangtua harus menunjukkan kepada anak bahwa yang mereka lakukan (bahkan jika harus memukul sekalipun) adalah pertanggung jawaban orangtua kepada Tuhan, dan bukan karena kemarahan orangtua.
Sebagai contoh suatu percakapan yang lembut dan tegas:
“Apakah kamu tidak mau menuruti perintah papa?”
“Tidak”
“Apakah kamu ingat apa yang Tuhan katakan kepada papa jika kamu tidak taat?”
“Memakai tongkat?”
“Betul! Papa harus memukul kamu. Kalau tidak, berarti papa tidak taat pada Tuhan. Kamu dan papa bersalah kepada Tuhan. Tuhan mau papa ingatkan kamu dengan tongkat bagaimana seharusnya menjadi anak yang sesuai kemauan Tuhan. Tuhan sayang kamu dan Tuhan ingin menunjukkan dengan segala cara melalui papa bagaimana kamu hidup seharusnya”.

Melalui percakapan ini anak mengerti bahwa ia dipukul bukan karena orangtuanya membencinya atau jahat kepadanya, akan tetapi karena orangtua berusaha taat pada Tuhan.

5. Berdoa untuk hati anak
Dan yang terpenting dari kesemuanya adalah mendoakan hati anak. Sejak dalam kandungan, bahkan sebelum ia diciptakan, doakanlah supaya anak anda dikaruniakan anugerah iman untuk mengarahkan seluruh hidupnya kepada Allah.

Pentingnya sikap hati yang mengarah kepada Tuhan

      Kejadian-kejadian dalam Alkitab menunjukkan bahwa penentu utama dalam pembentukan anak bukanlah lingkungan akan tetapi bagaimana seseorang mempunyai sikap hati kepada Allah.

      Yusuf mempunyai pengalaman hidup masa kecil yang jauh dari ideal. Ibunya meninggal pada saat ia masih muda. Ia menjadi anak yang khusus bagi ayahnya. Mimpi-mimpinya menjengkelkan saudara-saudaranya, dia dibuang, digoda oleh wanita kaya, dan masuk dalam penjara. Jika manusia hanyalah hasil dari pengaruh lingkungan, apakah yang akan kita dapatkan? Tentu yang kita peroleh adalah orang yang sinis, penuh kepahitan, kemarahan dan kecurigaan kepada lingkungannya. Tapi apa yang akhirnya terjadi? Yusuf yang diberikan anugerah iman untuk mengarahkan hati kepada Allah berkata kepada orang-orang yang sudah membuat hidupnya sengsara: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Di tengah-tengah pengaruh lingkungan yang sulit, Yusuf mempercayakan dirinya kepada Allah. Allah membuat dia menjadi seseorang yang memberikan responnya berdasarkan sikap hati yang menyembah Allah. Orientasi hidupnya bukanlah dirinya sendiri tapi maksud Allah yang besar dan yang tidak terduga.


Diambil dari bahan diskusi kelompok orangtua murid SAHABAT KRISTUS
1