Kelenteng Sam Po Kong,
Semarang
Gedung batu Sam Po Kong adalah sebuah petilasan. yaitu bekas
tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana China bernama Zheng Ho (Cheng
Ho) atau lebih lazim dikenal sebagai Sam Po Tay Djien. Terletak di daerah Simongan,
sebelah barat daya Kota Semarang.
Disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan sebuah Gua Batu besar yang terletak pada
sebuah bukit batu. Sekarang tempat tersebut dijadikan tempat peringatan dan tempat
pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut,
didalam gua batu itu diletakan sebuah altar, serta patung-patung Sam Po Tay Djien.
Menurut cerita, Laksamana China bernama Zheng Ho sedang mengadakan pelayaran menyusuri
pantai laut Jawa dan sampai pada sebuah teluk atau semenanjung. Karena ada awak kapalnya
yang sakit, ia memerintahkan membuang sauh. Kemudian ia menyusuri sungai yang sampai
sekarang dikenal dengan sungai Kaligarang. Ia mendarat disebuah desa, Simongan. Setelah
sampai didaratan, ia menemukan sebuah gua batu dan dipergunakan untuk tempat bersemedi dan
bersembahyang. karena ia tertarik dan merasa tenang ditempat itu, ia memutuskan untuk
sementara waktu beristirahat dan menetap ditempat tersebut. Sedangkan awak kapalnya yang
sakit dirawat dan diberi obat dari ramuan dedaunan yang ada disekitar tempat itu.
Konon, setelah Zheng ho meninggalkan tempat tersebut karena ia harus melanjutkan
pelayarannya, banyak awak kapalnya yang tinggal di desa Simongan dan kawin dengan penduduk
setempat. Mereka bersawah dan berladang ditempat itu. Zheng Ho memberikan pelajaran
bercocok-tanam dan dimalam hari mereka berkumpul didalam gua batu dan Zheng Ho memberikan
pelajaran serta ajaran-ajaran tata cara pergaulan hidup di dunia. Cara bersyukur kepada
Sang Pencipta serta menghormati para leluhur - nenek moyang.
Sehingga setalah Zheng Ho meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan pelayarannya,
mereka yang tinggal di Simongan, secara teratur melakukan pemujaan dan penghormatan kepada
Zheng Ho guna menghormati jasa-jasanya. Sekarang peringatan atau sembahyang dilakukan pada
setiap tanggal satu dan lima belas.
Siapakah Zheng Ho?
Dalam buku Amen Budiman 'Semarang Riwayatmu Dulu I' hal.10 ditulis bahwa Zheng Ho adalah
seorang Islam, dilahirkan di daerah K'un Yang di kawasan Yunnan tengah. Dari sebuah batu
bersurat yeng terukir diatas makam ayahnya yang berada didaerah itu dapat diketahui dahwa
ayahnya adalah seorang Ha-tche, sedang nam keluarganya adalah Ma. Seperti juga ayahnya,
kakeknya juga disebut Ha-tche. Adapun nama Ha-tche tidak lain adalah merupakan salinan
dari kata Haji. Dengan demikian jelas sekali, bahwa baik ayah maupun kakek Zheng Ho adalah
orang Islam dan Telah menunaikan rukun Islam yang kelima.
Menurut Ir. Setiawan dalam bukunya 'Mengenal Kelenteng Sam Po Kong Gedung Batu
Semarang', dikatakan bahwa Kelenteng Sam Po Kong dulunya merupakan sebuah Masjid.
Zheng Ho mendapat penghargaan dengan diangkat menjadi Thai Kam dengan gelar San Po atau
Sam Po. Seorang Thai Kam adalah seorang pejabat yang dekat dengan keluarga Kaisar. Dan
sejak itu Zheng Ho lebih dikenal dengan sebutan Sam Po Thai kam. Karenanya Zheng Ho sering
juga di sebut Sam Po Tay Djien atau Sam Po Toa Lang. Tay Djien dan Toa Lang artinya orang
besar.
Meskipun diatas disebut bahwa petilasan itu dulunya merupakan sebuah Masjid akan tetapi
sekarang di dalam gua diletakan sebuah altar besar, untuk keperluan sembahyang dan
pemujaan. Mereka memuja Sam Po Kong sebagai orang yang patut dihormati dan dijunjung
tinggi serta dimohon berkahnya.
Disebelah kiri gua batu itu terdapat sebuah batu piagam, batu berukir tersebut diukir
dalam tiga bahasa: China, Indonesia dan Inggris. Baru berukir tersebut dibuat khusus untuk
memperingati kedatangan Zheng Ho di Kota Semarang. dan merupakan sumbangan dari keluarga
Liem Djing Tjie pada tahun 1960.
|