The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

Banjarmasin Post


Banjarmasin Post, Senin, 14 Mei 2007 02:53

RMS dan Gerakan Separatis

Oleh: Adi Sartono SH MH, Pemerhati masalah hukum dan politik

Boleh jadi ini adalah hari-hari yang sangat menegangkan bagi petinggi baik dari sipil maupun militer di Ambon. Persoalan awal, hanya karena ulah sekelompok penari tradisional nekad memasuki Lapangan Merdeka Ambon, saat berlangsung peringatan Hari Keluarga Nasional yang dihadiri Presiden SBY dan rombongan. Persoalan selanjutnya bukan lagi menyangkut makna dan keindahan Tarian Cakalele yang disuguhkan. Dalam hitungan detik saja, tarian itu berubah menjadi drama yang bersuasana penghianatan kepada bangsa dan NKRI, ketika penarinya berusaha mengibarkan bendera perjuangan Rakyat Maluku Selatan (RMS).

Drama pengibaran Bendara RMS di Lapangan Merdeka Ambon itu menghentak kesadaran kita semua. Bagaimana penyusup dapat begitu mudahnya memasuki ring pengamanan kepala negara, yang mestinya sangat ketat dan berlapis. Insiden pengibaran Bendera RMS itu, memicu pertengkaran di antara petinggi di Ambon maupun di pusat tentang siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kecolongan tersebut. Masalah pertanggungjawaban atas insiden itu memang harus segera dituntaskan, guna memperbaiki sistem pengamanan kepala negara yang lebih baik di kemudian hari. Pihak yang harus bertanggungjawab atas kelalaian itu, mesti diminta pertanggungjawabannya sesuai mekanisme hukum yang ada.

Pengibaran Bendera RMS tentu tidak bisa disetarakan dengan tindakan kriminal biasa. Sebab, insiden itu memiliki implikasi sosial dan politik yang sangat luas, bahkan sampai ke dunia Internasional. Oleh karena itu, pengibaran Bendera RMS atau apa pun namanya sudah pasti bukan insiden yang bersifat insidentil semata. Tetapi melalui sebuah rencana yang sangat matang, dan memiliki motif politik yang jelas serta terkait dengan suatu gerakan terorganisasi oleh aktor intelektual tertentu yang bersuasan separatis. Tindakan itu jelas mengarah kepada makar sebagaimana diatur Pasal 106 KUHP.

Jika kita mau belajar dari kasus gerakan separatis yang terjadi di negara lain di Asia, seperti Gerakan Moro di Filipina Selatan, Tamil Ealam di Srilangka, selalu mengangkat isu ketidakadilan, kemiskinan dan latar belakang ideologi sebagai landasan perjuangan mereka. Namun sebenarnya, isu tersebut hanya sebagai instrumen politik dari sekelompok orang yamg memiliki ambisi kekuasaan untuk menghimpun kekuatan sosial guna mencapai tujuan akhirnya: kekuasaan atas sebuah negara baru yang terpisah dan berdaulat. Hal ini senada dengan pendapat Prof Kranenburg. Bahwa, hakikat dari sebuah negara adalah organisasi kekuasaan yang diciptakan oleh sekelompok orang yang kemudian di sebut bangsa.

Kembali ke insiden pengibaran Bendara RMS di Ambon, pemerintah hendaknya tidak boleh terjebak oleh pemikiran bahwa selalu ada hubungan kausalitas yang jelas dan langsung antara isu ketidakadilan dan kemiskinan dengan gerakan separatis di Tanah Air. Kalau kita mau jujur melihat kondisi masyarakat kita saat ini dari Sabang sampai Marauke, maka secara kasat mata pun akan terlihat lebih banyak rakyat miskin daripada yang sejahtera. Kalau isu ketidakadilan dan kemiskinan selalu memiliki hubungan kausalitas yang pasti dengan gerakan separatis, maka seluruh Rakyat Indonesia akan mengadakan gerakan separatis untuk berpisah dari NKRI.

Oleh karena itu, akar persoalan sebenarnya bukan semata terletak pada ketidakadilan dan sosial ekonomi masyarakat setempat. Tetapi lebih dominan kepada bagaimana kemampuan pemerintah dan segala atribut pendukungnya secara represif lewat regulasi hukum mampu menekan aktor intelektual yang memiliki paham separatis, serta secara preventif memberikan public education kepada masyarakat agar selalu menjaga keutuhan bangsa dan NKRI.

Dengan demikian, Pemerintah Indonesia harus bersikap tegas secara represif terhadap aktor intelektual yang memiliki ambisi kekuasaan dan berada di balik setiap gerakan separatis, sebelum mereka berkembang sedemikian rupa sampai memiliki akses dan dukungan dari negara lain berupa dana, suaka politik, bahkan peralatan perang seperti separatis Moro, Tamil Ealam maupun yang pernah terjadi di Aceh. Kalau hal seperti ini terjadi, maka segala upaya untuk merangkul kembali mereka ke pangkuan Ibu Pertiwi harus dibayar 'sangat mahal' oleh republik ini.

e-mail: adishmh@yahoo.com

Copyright © 2003 Banjarmasin Post
 


Copyright © 1999-2002 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/aboroe
Send your comments to alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044