The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

KOMPAS


KOMPAS, Selasa, 02 Mei 2006

Warga Pulau Buru Takut untuk Kembali ke Desa

Namlea, Kompas - Sebanyak 701 warga Desa Pela, Kecamatan Batabual, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku-yang meninggalkan desa mereka saat dilanda gempa dan gelombang pasang beberapa waktu lalu-hingga kini belum berani kembali ke desa tersebut. Mereka bahkan meminta direlokasi ke daerah yang lebih aman.

Ratusan warga itu sampai Senin (1/5) tinggal di tempat pengungsian di dataran yang agak tinggi, sekitar 1,5 kilometer dari tepi pantai yang merupakan permukiman mereka yang hancur dilanda gempa dan tsunami. Mereka membangun rumah-rumah darurat dari kayu dan papan, serta beratapkan tenda sumbangan Dinas Sosial Kabupaten Buru dan Palang Merah Indonesia.

"Penduduk tak mau lagi tinggal di permukiman yang dulu karena takut akan terkena bencana jika gempa, apalagi sampai sekarang masih terjadi gempa meski (kekuatannya) kecil. Penduduk sudah sepakat agar direlokasi," kata Kepala Desa Pela Burhan Nuhuyanan saat ditemui di Pela.

Pemantauan Kompas di desa tersebut menunjukkan rumahrumah terlihat kosong. Tidak ada aktivitas sama sekali di antara reruntuhan 40-an rumah yang hancur akibat gempa. Sebagian besar rumah itu pun terlihat retak-retak selebar 1-2 sentimeter. Hanya ada beberapa penghuni yang menengok rumah mereka. Namun, sebagian besar warga tinggal di lokasi pengungsian.

Perkampungan yang memiliki 116 rumah itu tampak lengang, sehingga permukiman itu seperti desa mati. Aktivitas 145 murid sekolah dasar dialihkan ke tenda darurat di lapangan. Satu tenda digunakan untuk dua kelas.

Desa Pela terletak di pesisir pantai sebelah timur Pulau Buru. Dari ibu kota Namlea, Desa Pela bisa dicapai dengan menggunakan speedboat kira-kira 45 menit. Sarana laut merupakan jalur utama transportasi penduduk Pela dengan kawasan sekitar, terutama ke Namlea. Sebab, jalan darat yang menghubungkan Namlea dan Pela sangat jauh. Selain itu, tidak mudah menggunakan kendaraan roda empat karena jalan baru yang tersedia masih berupa tanah.

Hal lain yang juga membuat orang enggan menggunakan jalan darat adalah karena sungai-sungai sepanjang jalan itu belum memiliki jembatan sehingga jalan tersebut tak bisa berfungsi ketika air sungai pasang naik.

Desa Pela dilanda gempa pada 14 Maret lalu. Gempa itu diikuti gelombang pasang setinggi 50 sentimeter. Gelombang pasang yang datang dua kali itu menerjang permukiman penduduk, hingga 150 meter ke daratan. "Tetapi tidak ada korban jiwa karena sebelumnya sudah ada sosialisasi dari pihak BMG sehingga warga waspada," kata Kadir Alamudi, Ketua Badan Pengawas Desa Pela. (MZW/SSD)

Copyright © 2002 Harian KOMPAS
 


Copyright © 1999-2002 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/batoegajah
Send your comments to alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044