Kristiani Pos, Friday, May. 12, 2006
Ekstremis Ancam Tutup Yayasan Sosial Kristen
Yayasan Apostolik Bangun Bangsa (ABB) yang beroperasi di sebuah rumah di
kompleks perumahan Griya Bintara Indah di Bintara, Bekasi, didatangi sekitar 70
anggota Majlis Taklim pada 9 April lalu dan diminta untuk menghentikan seluruh
kegiatannya.
Sebuah kelompok Muslim yang bernama Majlis Taklim pada 9 April memasuki
halaman sebuah yayasan sosial Kristen di Jawa Barat, Indonesia, dan menuntut
penutupan tempat itu untuk yang kelima kalinya pada tahun ini, lapor sebuah agen
berita Kristiani yang khusus melaporkan tentang masalah-masalah penganiayaan
umat Kristiani di seluruh dunia.
Compass Direct melaporkan bahwa Yayasan Apostolik Bangun Bangsa (ABB) yang
beroperasi di sebuah rumah di kompleks perumahan Griya Bintara Indah di Bintara,
Bekasi, didatangi sekitar 70 anggota Majlis Taklim pada 9 April lalu dan diminta untuk
menghentikan seluruh kegiatannya. Mereka menuduh yayasan itu menjalankan gereja
ilegal dan melakukan "Kristenisasi" terhadap lingkungan disitu.
Para staf kemudian cepat-cepat menghubungi polisi, yang kemudian datang dan
memonitor keadaan. Dilaporkan bahwa tidak ada kekerasan terjadi.
Koordinator Majlis Taklim, Radesman Saragih, mengatakan bahwa kelompok itu telah
mengamat-amati orang-orang masuk ke bangunan itu untuk mengikuti kebaktian pada
Minggu pagi. "Yayasan itu hanyalah samaran untuk menutupi kegiatan sebenarnya
dari gereja itu," kata Saragih.
Saragih juga mengatakan bahwa yayasan itu tidak mempunyai ijin yang layak. "Kami
meminta yayasan untuk mengembalikan fungsi sebenarnya dari rumah itu - yaitu
untuk tempat tinggal, bukan gereja," lanjutnya. Saragih mengatakan bahwa
peringatan itu harus dianggap serius atau bersiap-siap menghadapi konsekuensi
negatif yang tidak dapat diprediksi.
Sarah Fifi, direktur ABB, membantah klaim bahwa yayasan yang dijalankan dari
rumahnya itu, berfungsi sebagai gereja. "Kami adalah sebuah yayasan sosial
Kristiani, non-profit dan independen," katanya. "Kami mempunyai visi untuk
memperkuat bangsa kami melalui pendidikan, pengobatan gratis dan
program-program lingkungan - aktivitas apapun yang dapat menolong masyarakat."
Fifi mengatakan bahwa pihak berwenang setempat telah memberikan ijin agar
rumahnya dapat digunakan sebagai tempat yayasan. Ia menambahkan, sekitar 20
orang staf berkumpul di rumahnya setiap Minggu pagi mulai dari 7-9 pagi untuk
pertemuan doa, diikuti dengan sesi briefing dan evaluasi.
Kegiatan para anggota staf setiap hari adalah menyediakan kelas-kelas pendidikan
untuk pelajar taman kanak-kanak dan sekolah dasar. ABB juga memberikan
pengobatan cuma-cuma untuk keluarga yang membutuhkan dan para tahanan di
penjara, dan kadang-kadang mengadakan workshop mengenai nutrisi dan kesehatan
umum.
Didirikan pada 2001, yayasan itu juga menawarkan program-program agrikultural, dan
beasiswa bagi anak-anak yang keluarganya tidak mampu.
ABB secara resmi didaftarkan dibawah akte notaris bertanggal 19 Juni 2001. Yayasan
itu juga terdaftar di Pengadilan Negeri Bekasi pada 22 Oktober 2001 dengan nomor
231/Y/2001/PN.Bekasi. ABB juga mempunyai sebuah kantor cabang di Ambon,
Maluku.
Fifi mengatakan bahwa yayasan itu selalu mengedepankan kepentingan masyarakat
bersama. "Kami selalu menaruh perhatian terhadap sensitivitas agama dari
orang-orang di sekitar kami," katanya. ABB juga mendapatkan ijin dari pihak
berwenang setempat sebelum mengadakan program-programnya.
Sementara itu, Compass Direct juga melaporkan bahwa pemerintah setempat berjanji
untuk mengadakan pertemuan negosiasi antara staf ABB dengan anggota Majlis
Taklim, tapi mereka belum menentukan tanggalnya.
Menurut Fifi, tetangga-tetangga Muslim telah mengekspresikan dukungan dan
penghargaan mereka terhadap pekerjaan yayasan itu. Ia mencurigai sikap
bermusuhan itu datang dari kelompok Muslim yang lebih ekstrim di daerah lain di
Jawa Barat yang selama dua tahun belakangan ini semakin mengobarkan kampanye
mereka menentang gereja-gereja dan aktivitas umat Kristiani.>
Sandra Pasaribu
sandra@christianpost.co.id
Copyright © 2004 Christianpost.co.id
|