The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

Modus


Modus, Rabu, 5/4/06 08:45 WIB

Perang propaganda Iindonesia vs Separatis, siapa yang KO?

Oleh M. Khalid Sudibyo dan Tony Priyono *)

Disadari atau tidak, saat ini keutuhan atau integrasi NKRI sangat dipertaruhkan karena "penyakit lepra" berupa ancaman separatisme dan disintegrasi bangsa masih tetap terbuka lebar tidak hanya di Nanggroe Aceh Darussalam, melainkan juga terjadi di Papua, Irian Jaya Barat termasuk Poso Sulawesi Tengah.

Di Nanggroe Aceh Darussalam misalnya, belum adanya itikad baik dari GAM untuk membubarkan diri tetap menjadi pertanyaan besar apakah mereka sudah memiliki grand strategy baru di NAD bisa RUU PA ataupun pilkada chaos ? Tampaknya yang dapat diprediksikan sementara ini adalah GAM akan kembali mengangkat senjata dan mengobarkan semangat separatisme. Bukti kuat lainnya adalah permintaan Aceh Monitoring Mission (AMM) agar GAM dan SIRA merubah singkatan organisasi mereka karena masih mengandung kata-kata "Merdeka" dan "Referendum" juga tidak digubris baik oleh Muzakir Manaf Cs maupun M Nazar Cs.

Tidak hanya itu saja, di 21 Kota/Kabupaten yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam terjadi aktivitas eks GAM yang masih mengobarkan permintaan "merdeka" termasuk tuntutan yang macam-macam. Namun disisi yang lain petinggi GAM sedang asyik melakukan bisnis berskala internasional seperti mengimpor gula ataupun barang elektronik dari Singapura walaupun izinnya belum dikeluarkan BPKS Sabang.

Disisi yang lain, simpatisan politik dan sayap politik eks GAM juga telah gencar melakukan perang propaganda terhadap Indonesia dengan melalui sejumlah media antara lain rapat-rapat, sosialisasi MoU Helsinki yang sepihak dll dimana sering kepada masyarakat Aceh yang dipedalaman, eks GAM menyatakan bahwa situasi di NAD bisa damai dan membaik saat ini karena perjuangan GAM bukan hasil pemerintah RI, Gubernur NAD, Camat ataupun Geuchik. Perang propaganda memang sudah dilakukan mereka, sementara aparat Indonesia masih diam seribu bahasa! Sangat disayangkan.

Sementara itu, di Poso Sulteng kemungkinan besar disintegrasi bangsa yang diawali dengan kerusuhan sosial bisa terjadi manakala terhadap kelompok Tibo Cs tidak segera diberlakukan eksekusi hukuman mati dan malah sebaliknya diampuni karena Tibo Cs mengajukan grasi kedua setelah grasi pertama ditolak Presiden. Kredibilitas hukum di Indonesia dan sikap tegas pemerintah menegakkan law enforcement ditentukan dalam kasus Tibo cs ini dan sebaiknya segera lakukan eksekusi hukuman mati terhadap mereka !

Sedangkan di Papua, gerakan politik OPM atau Free Papua Movement melakukan perang propaganda, agitasi bahkan berada di belakang kerusuhan Abepura baru-baru ini juga cepat harus disikapi pemerintah, dimana pemerintah perlu menyebar luaskan artikel tandingan dengan esensi status Papua ketika Proklamasi, secara historis Papua adalah bagian dari Proklamasi, seperti termuat dalam Risalah Rapat-rapat Panitia Penyelidik Upaya Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPUPKI), rapat-rapat tersebut meyimpulkan wilayah yang akan menjadi Negara Indonesia Merdeka adalah semua bekas Hindia Belanda termasuk Papua (Nederlandse Niew Guinea). Setelah Konferensi Meja Bundar, Papua adalah wilayah RI. Belanda secara formal berada di Papua sebagai daerah pemunduran sesuai kesepakatan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) bahwa Belanda harus meninggalkan Indonesia. Operasi Mandala Siaga merebut Irian Barat (Papua) tahun 1962 karena ternyata Belanda ingkar janji bahkan memperkuat diri di Papua. OPM hampir pasti kreasi Belanda seperti juga RMS di Maluku.

PEPERA adalah Program PBB dan hasilnya sudah diakui syah oleh lembaga internasional tersebut. Keputusan tersebut oleh karenanya tidak dapat dipersoalkan lagi sekarang. Upaya mempersoalkan kembali PEPERA oleh sekelompok anggota Kongres AS dan Sejarahwan Belanda yang menerbitkan Buku penelitian tentang PEPERA jelas skenario golongan liberalist konservatif yang masih berangan-angan menjadikan Papua sebagai koloni Negara Barat. Golongan inilah yang berusaha terus membina OPM dan munculnya berbagai LSM yang mendukung separatisme. Issue yang paling cepat untuk mendiskreditkan aparatur keamanan dan TNI adalah pelanggaran HAM.

Australia yang berhasil menanamkan peranan dan pengaruhnya di Salomon dan Papua Niew Guinea (PNG) juga berkepentingan dengan Papua yang memiliki berbagai posisi strategis baik untuk kepentingan ekonomi maupun pertahanan. Oleh sebab itu Australia sangat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat subversif di Papua.

Namun disisi yang lain, pelaksanaan proses dan hasil PILKADA di Propinsi Papua dan Propinsi Irian Jaya Barat menunjukkan rakyat Papua sudah sadar bahwa mereka bagian dari Indonesia.

Memang tidak ada jalan lain bagi Indonesia sekarang ini, bahwa perang opini publik, perang propaganda dan perang-perang urat syaraf lainnya yang dilakukan oleh kelompok oposisi aktif dan oposisi pasif terhadap Indonesia harus segera disikapi secara cepat, professional dan berdasarkan fakta, dimana keterlibatan dan rasa nasionalisme media massa juga turut dipertaruhkan. Dan biasanya, media massa yang kurang memiliki nasionalisme yang kuat tidak akan mau bersama-sama bahu membahu dengan pemerintah melakukan perang opini publik dan perang propaganda dengan lawan Indonesia, baik berasal dari luar negeri maupun dari internal Indonesia sendiri. Kalau hal ini tidak segera cepat dilakukan, pasti kita akan KO dan harga yang dibayar dari knockout tersebut cukup besar yaitu Indonesia akan terpecah belah. *)

Kedua penulis adalah pemerhati masalah polkam. Tinggal di Lamno, Aceh Jaya Nanggroe Aceh Darussalam.

Copyright © 2004 modus.or.id | email: modus18704@yahoo.com
 


Copyright © 1999-2002 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/batoegajah
Send your comments to alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044