Paras Indonesia, August, 17 2006 @ 10:59 am
Indonesia Pernah Seperti Israel
By: Tri Agus Siswowiharjo
Invasi tentara Israel ke Lebanon tiga pekan lalu, mendapat kutukan dan kecaman
dunia. Ibarat anjing menggonggong kafilah tetap berlalu, Israel tak menggubris apa
kata dunia. Bagi Israel, hanya satu negara yang ia dengar yaitu Amerika Serikat (AS).
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), badan dunia paling bergengsi dengan lebih dari
200 negara, juga dianggap angin lalu. Tahukah Anda, ternyata, Indonesia juga pernah
melakukan hal yang sama, seperti Israel?
Pada tanggal 7 Desember 1975, ribuan tentara Indonesia menginvasi Timor Leste.
Serangan yang dilakukan prajurit Indonesia rupanya telah mendapat restu atau
setidaknya didiamkan oleh pemerintah AS. Dua hari sebelum penyerangan, Presiden
Gerald Ford bertemu dengan Presiden Soeharto di Jakarta. Soeharto menyatakan
kerisauannya tentang akan adanya 'Kuba' (baca: komunis) di pekarangan Indonesia.
Kini dokumen-dokumen tentang pembiaran (dan dukungan) AS terhadap invasi
Jakarta ke Timor Leste sudah mulai dibuka di AS.
Dewan Keamanan PBB pada 22 Desember 1975 mengeluarkan resolusi No. 384,
menyerukan agar Indonesia segera menarik seluruh angkatan bersenjatanya dari
Timor Portugis. Merasa diberi angin oleh Paman Sam, Indonesia cuek saja
membunuhi rakyat Timor Leste, baik yang memegang senjata maupun kalangan sipil.
Penggunaan senjata-senjata buatan AS makin menambah jumlah korban di pihak
rakyat Timor Leste yang pada 28 November 1975 memproklamirkan kemererdekaan,
meski hanya segelintir negara yang mengakui.
Tanggal 22 April 1976, Dewan Keamanan PBB mengulagi seruannya, agar Indonesia
keluar dari Timor Leste, setelah menerima laporan dari Utusan Khusus Sekjen PBB
Winspeare Guicciardi, yang dihalangi oleh militer Indonesia untuk berkunjung ke
seluruh wilayah. Selanjutnya, pada 19 November 1976, Majelis Umum PBB menolak
aneksasi Timor Leste oleh Indonesia, dan perlunya tindakan menentukan nasib
sendiri. Resolusi itu didukung 75 negara, 20 menolak, dan 53 abstain.
Tahun-tahun selanjutnya, yaitu 1977, 1978, 1979, 1980, 1981 dan 1982 Majelis
Umum PBB mengulangi dan mengulangi kembali resolusi mengutuk Indonesia agar
segera keluar dari bumi lorosae. Namun, seperti Israel, Indonesia cuek bebek, karena
Paman Sam ada di belakang Indonesia. Sikap melecehkan PBB yang dilakukan
Indonesia pada era Soeharto, selain karena PBB tak punya gigi, juga ada beberapa
negara besar selain AS, Australia dan Jepang yang mendukung Indonesia.
Pada awal 2006 ini CAVR (Komisi Penerimaan dan Rekonsiliasi) di Timor Leste
mengumumkan temuannya bahwa selama invasi dan penjajahan Indonesia di Timor
Leste, yang disampaikan Presiden Xanana Gusmao ke Sekjen PBB Kofi Annan.
Dalam laporan itu, sekitar 183.000 orang Timor Leste tewas karena perang,
kelaparan, penyiksaan, diperkosa dan dianiaya oleh TNI yang menduduki negeri itu.
Rakyat Indonesia selama 24 tahun diam seribu bahasa atas kekejaman tentaranya
yang dibiayai dari hasil pajak mereka. Memang rakyat sengaja tak diberi tahu oleh
rezim Soeharto tentang apa yang terjadi di Timor Leste. Publik Indonesia hanya tahu
TNI dengan gemilang telah memerangi Fretilin yang beraliran komunis! Titik. Sebuah
ancaman yang dibesar-besarkan, karena belum terbukti negara beraliran kiri itu akan
menyerang atau mengganggu kepentingan Indonesia.
Israel melakukan invasi dan serangan membabi-buta dengan dalih memberantas milisi
Hizbullah yang sering menyerang Israel bagian utara, dan terakhir menyandera dua
tentara Israel. Seolah Israel ingin mengatakan, "Loe jual, gua borong!" TNI pada 1975
menginvasi Timor Leste tanpa didahului ancaman berarti dari prajurut bekas jajahan
Portugis itu terhadap Indonesia. Tak ada moncong meriam atau mortir yang diarahkan
ke NTT, seperti roket-roket Hizbullah yang mengarah ke Haifa, termasuk di
pemukiman sipil.
Sekali lagi, sejarah membuktikan bahwa Indonesia pernah melakukan kejahatan
(malah mungkin lebih jahat) dari apa yang dilakukan Israel terhadap Lebanon dan
Palestina. Salah satu sebabnya karena ada faktor AS dibelakangnya. Kini, kita tentu
sedih dan bersimpati terhadap penderitaan masyarakat sipil Lebanon dan Palestina.
Solidaritas kita terhadap mereka hendaknya merupakan utang kita yang belum
terbayar karena kita membiarkan TNI selama 24 tahun menganiaya bangsa Timor
Lorosae. Solidaritas hendaknya tanpa batas. Apakah bangsa, etnis, atau agama.
Copyright (c) 2005 - PT Laksamana Global International. All rights reserved
|