The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

Radio Vox Populi


Radio Vox Populi [Ambon], 01-Mei-2006

Setelah Lama Diam, Shanty Akhirnya Lapor Kalau Dibakar Suami

Merlin Patty Nussy - Ambon

TIDAK seorang pun di dunia ini, yang membayangkan hidupnya akan berakhir tragis. Justru hidup bahagia bersama keluarga tercintalah yang selalu menjadi harapan semua orang. Begitu pula yang diidamkan Shanty Sambono (23 tahun). Namun nasib berkata lain. Kehidupan rumah tangga ibu satu anak ini, bersama sang suami Reymond Rianthoby (28 tahun) ternyata berakhir tragis. Ia harus mengalami cacat seumur hidup, akibat perbuatan yang diduga dilakukan oleh suaminya.

Ditemui di kediamannya yang berada di Kawasan Batu Gajah, Kecamatan Nusaniwe, Ambon, Shanty menceritakan kisah sedihnya. Perkenalannya dengan Reymond berlangsung pertengahan tahun 1999, saat konflik sosial melanda Maluku. Ketika itu, Shanty bersama keluarga mengungsi dan menetap di rumah salah satu warga Dusun Wae Lawa II, Desa Laha, Kecamatan Baguala Ambon. Sejak itulah Shanty yang masih duduk di bangku kelas I SMEAN 2 Ambon, mengenal Reymond yang kebetulan tinggal di tempat yang sama dengannya.

Dengan terbata-bata Shanty menuturkan, pada suatu malam sekitar bulan Oktober 1999 lalu, Reymond datang dalam keadaan mabuk dan menyatakan cintanya kepada Shanty dan memintanya ikut bersamanya ke Flores (NTT). ''Malam itu, dia langsung utarakan cintanya dan mengajak saya ikut ke Flores,'' tutur Shanty.

Besoknya, Reymond membuktikan ucapannya. Dia mengajak Shanty yang ketika itu masih duduk di bangku sekolah untuk ke kampung halamannya di Desa Klibang, Flores NTT dengan menumpang kapal KM Dobonsolo. Tiba di Klibang, Reymond mengaku kalau Shanty adalah istrinya. Awalnya sikap Reymond sangat baik dan penuh pengertian. Namun seiring bertambahnya waktu, perangai Reymond mulai berubah, bahkan dia menunjukkan sikap cemburu tak beralasan kepada sang istri. ''Pertama-tama dia baik sama saya, tapi kemudian dia mulai mabuk-mabukan. Suka memukul bahkan meludahi saya,'' terangnya.

Akibat mengalami berbagai tindakan kekerasan itu, Shanty lantas meminta pulang kembali kepada orangtuanya di Ambon. Namun Reymond tidak mau dan berbalik mengancam akan meminta biaya ganti rugi. "Saat itu, saya tidak memiliki uang sama sekali,'' ucapnya lirih.

Pernah suatu kesempatan, ujar Shanty, saat dirinya sedang mengandung janin mereka berusia 2 bulan, entah setan apa yang merasuki diri Reymond, karena merasa cemburu, dirinya memukul Shanty dengan menggunakan dayung (penggayu) sebanyak dua kali pada bagian punggungnya. Akibatnya Shanty langsung terjatuh dan mengalami keguguran. ''Saya kira dia orang baik-baik, ternyata dia jahat,'' ucap Shanty menahan beban penderitaan.

Semua yang dialami ini, kata Shanty, tidak pernah dia sampaikan, baik kepada keluarga suaminya maupun keluarganya sendiri. ''Saya hanya pasrah saja ketika diperlakukan kasar setiap hari oleh Reymond,'' paparnya.

Setelah lima bulan tinggal di Flores, pada Februari 2000 dirinya kembali ke Ambon, setelah mendapat kabar kalau ibunya, Ny Yoke Sambono sedang sakit. ''Mama saya kirim surat dengan uang agar saya bisa kembali ke Ambon karena dia sedang sakit,''ungkapnya sementara Reymond ikut ke Ambon dengan rute kapal berikutnya. Ketika di Ambon, kata Shanty, perangai Reymond kembali baik dan terlihat santun.

Hanya saja, kata Shanty, dirinya tidak merasa nyaman tinggal di lingkungan tersebut, karena banyak yang tidak suka dengan dirinya, tanpa dia tahu jelas mengapa mereka bersikap begitu. Akhirnya Shanty dan Reymond membeli sebuah rumah di Pensip, Desa Tawiri, Kacamatan Baguala,Kota Ambon. Reymond yang sehari-harinya menjadi pekerja lepas ini, rupanya tidak lepas dari kebiasaan mengkonsumsi minuman keras. ''Dia itu selalu berubah, kadang-kadang baik, kadang-kadang juga jahat terhadap saya,'' kenang Shanty.

Pernah suatu ketika, waktu usia anak mereka Reza baru tujuh bulan, Reymond menuduhnya berbuat selingkuh dengan laki-laki lain. ''Saya sampai bersumpah tidak pernah melakukan hal itu,'' tandas Shanty.

Akhirnya pada dinihari 25 Februari 2003, sekitar pukul 02.00 Wit, Reymond pulang dalam keadaan mabuk dan menendang pintu. Dia kemudian memecahkan piring, gelas dan barang-barang rumah tangga lainnya. Shanty yang sedang tidur lelap lantas terbangun dan sempat ribut suaminya itu. Reymond memang kemudian menjadi tenang dan langsung tidur.

Pagi harinya, sekitar pukul 06.00 Wit, Shanty yang tidak senang dengan sikap Reymond, menyiapkan pakaiannya untuk pergi ke rumah orang tuanya. Saat itulah, tiba-tiba Reymond mengambil pelita (lampu yang memakai kaleng dan memakai sumbu) dan dari arah belakang menyiram minyak tanah dari dalam pelita itu ke sekujur tubuh Shanty. Ketika Shanty membalikkan tubuhnya ke arah Reymond, lelaki itu tengah menyalakan korek api gas yang berada di genggamannya dan mengarahkan ke tubuh Shanty.

Tragisnya lagi, Reymond bahkan menutupi kepala Shanty dengan sebuah ember. ''Saya sempat berlari ke arah pintu, namun ada anak saya di situ. Saya kembali lagi ke kamar dan mengambil air dari dalam panci untuk menyiram tubuh saya sampai apinya padam,'' kenang Shanty.

Padamnya api tidak berarti membuat Shanty lantas terbebas dari ancaman. Sebab ketika itu, Reymond sudah memegang termos air panas dengan maksud hendak menyiramkan airnya ke tubuh Shanty. Untunglah seorang tetangga bernama Vency Saleky yang melihat Reymond yang sedang kalap itu, lantas berteriak mencegahnya. Shanty kemudian dilarikan ke rumah sakit TNI-AU dan selanjutnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Haulussy Ambon.

Di rumah sakit Shanty dirawat selama delapan bulan. Selama masa perawatan itu pula, perhatian Reymond terhadapnya semakin berkurang. Reymond bahkan mengancam agar tidak menceritakan jika peristiwa itu terjadi akibat perbuatannya. ''Reymond minta saya agar mengatakan kebakaran itu terjadi akibat kompor yang meledak,'' ucapnya. Karena rasa cintanya kepada reymond, Shanty rela berbohong dan mengaku kalau dirinya terbakar akibat kompor yang meledak.

Keluar dari rumah sakit, Shanty tetap tinggal bersama Reymond di rumah mereka. Namun sikap Reymond tetap tidak berubah. Hingga suatu saat Reymond mendapat pekerjaan dari pamannya Shanty di Desa Waai, Kecamatan Salahutu Kabupaten Maluku Tengah. Reymond akhirnya berangkat dan menetap di sana.

Setelah lama menunggu tanpa ada khabar dari suaminya itu, Shanty akhirnya menyusul ke Desa Waai. Ironisnya, setibanya dia di sana, ternyata suaminya sudah menikah lagi. Merasa dikecewakan dan ditipu oleh Reymond, tahun 2004 Shanty melaporkan tindakan penganiayaan oleh suaminya itu ke Polsek Baguala. Namun karena kurang bukti, serta kondisi keamanan di Ambon yang belum stabil, polisi belum berhasil menangani kasus ini.

''Saya ungkapkan kasus ini, karena saya kecewa dengan perlakuan Reymond yang menghianati saya. Padahal selama ini saya berbohong hanya karena dia,'' ungkap Shanty. Untuk itu, dirinya mengharapkan agar kasus ini dapat dituntaskan oleh polisi karena dia hanya ingin keadilan dan pertanggungjawaban suaminya atas perbuatannya.(VP)

Copyright © 2005 RadioVoxPopuli.com. All right reserved.
 


Copyright © 1999-2002 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/batoegajah
Send your comments to alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044