Radio Vox Populi [Ambon], 07-Sep-2006
Sekilas Perjalanan Sejarah Kota Ambon
Novi Pinontoan - Ambon
HARI ini, Kamis 7 September 2006, Kota Ambon berumur 431 tahun. Usia yang
sudah tua dalam perjalanan panjang sejarahnya. Kota yang berjuluk Manis e ini,
meski masuk kategori kota sedang di Indonesia, namun terkenal karena keindahan
alamnya yang dikelilingi perbukitan, laut dan teluk yang indah. Sayang keindahan itu
hancur lebur baik fisik maupun non fisik, ketika dilanda konflik sosial pada 19 Januari
1999 sampai sekitar awal 2004.
Kota Ambon bukan hanya dikenal sebagai ibukota Provinsi Maluku (termasuk Maluku
Utara ketika belum dimekarkan), namun jauh sebelumnya ratusan tahun lalu, kota ini
sudah menjadi markas atau ibukota dari penjajah Portugis, Belanda dan Spanyol.
Menjadi pusat pemerintahan Gubernur Jenderal Belanda selain Batavia yang kini
dikenal dengan nama Jakarta, ibukota Republik Indonesia. Bahkan para saudagar dari
negeri Cina, Arab dan India, pun sudah berdatangan sejak saat itu.
Bila diulas, sejarah Kota Ambon terlalu panjang lebar. Tentunya dengan episode
tersendirinya. Yang pasti, Ambon sebelum dimekarkan wilayahnya pada tahun 1979,
luasnya hanya sekitar 4 kilometer persegi. Atau kurang lebih dari Batugantung
sampai jembatan Batumerah saja. Waktu itu penduduknya sekitar 100.000 lebih jiwa.
Akibatnya Kota Ambon saat itu dikenal sebagai salah satu kota terpadat di dunia!
Setelah dimekarkan, luas wilayah Kota Ambon adalah 377 kilometer dari Latuhalat,
Waitatiri, Laha, termasuk kampung-kampung di pegunungan. Penduduknya sebelum
konflik 1999 berjumlah kurang lebih 350.000 jiwa, kini diperkirakan sekitar 250.000
sampai 300.000 jiwa.
Terbentuk
Berdasarkan fakta sejarah dan hasil kajian yang dilakukan para ahli dan Universitas
Pattimura, cikal bakal lahirnya Kota Ambon dimulai dari Benteng Nieuw Victoria, yang
terletak di depan Lapangan Merdeka, bekas Markas Yonif Linud 733/Masariku kini
markas Detasemen Kavaleri.
Hal itu, ditandai dengan dibangunnya Benteng Portugis di Pantai Honipopu (sekarang
kawasan Belakang Kota) pada tahun 1775, yang kemudian disebut Benteng Kota
Laha atau Ferangi, yang diikuti kehadiran kelompok-kelompok masyarakat yang
mendiami sekitar benteng lantaran dijadikan sebagai pekerja benterng tersebut.
Selanjutnya, setelah Belanda berhasil menguasai Kepulauan Maluku dan Ambon
khususnya dari kekuasaan Portugis, benteng tersebut lantas menjadi pusat
pemerintahan beberapa Gubernur Jenderal Belanda sekaligus mengontrol jalur
perdagangan melalui badan perdagangannya VOC, dan benteng itu diubah namanya
menjadi Nieuw Victoria yang dikenal sampai saat ini.
Kelompok-kelompok masyarakat ini kemudian dikenal dengan nama Soa Ema, Soa
Kilang, Soa Silale, Hative, Urimessing dan Mardika disusul Kampung Cina (kawasan
A.Y. Patty) dan lain-lain, di mana kelompok masyarakat inilah yang menjadi cikal
bakal pembentukan Kota Ambon tahun 1775.
Tanggal 7 September 1921 masyarakat Kota Ambon diberi hak yang sama dengan
pemerintah kolonial sebagai manifestasi hasil perjuangan rakyat Indonesia asal
Maluku dibawah pimpinan Alexander Yacob Patty, untuk menentukan jalannya
pemerintahan kota melalui wakil-wakil dalam Gemeenstraad (dewan kota)
berdasarkan keputusan Gubernur General No.7 (Staadblad 1921 nomor.524)
tertanggal 7 September 1921. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai
tanggal kelahiran Kota Ambon. (dari berbagai sumber)
Copyright © 2005 RadioVoxPopuli.com. All right reserved.
|