Radio Vox Populi [Ambon], 24-Mei-2006
Suara Damai, Sebuah Majalah Berita dari Kampung
Rudi Fofid - Ambon
DIAM-diam, orang-orang Kei di Malra punya sebuah majalah yang terbit secara
teratur, dwi mingguan. Majalah bertajuk Suara Damai itu, terbit sejak 2004. Sampai
sekarang, sudah beredar 19 edisi.
Suara Damai dicetak dengan format majalah berita seperti Tempo. Cover kertas luks,
menampilkan foto atau terkadang grafis bahkan karikatur. Selain cover full colour,
empat halaman dalam juga full colour. Selebihnya hitam putih.
Menilik isi Suara Damai yang menyajikan artikel, straight news dan feature tentang
orang-orang Kei, juga distribusinya untuk orang Kei di Malra dan di tanah rantau,
majalah ini terlihat ingin memadukan jurnalisme mainstream dengan jurnalisme
alternatif.
Meskipun para pengelolanya mengaku tidak punya banyak referensi mengenai
manajemen majalah berita, namun setiap kali terbit Suara Damai mencoba bersikap
kritis. Edisi terakhir misalnya, covernya memuat foto fondasi Jembatan Rossenberg
yang sedang terbengkalai, dengan judul laporan utama Wajah Suram Pembangunan
Maluku Tenggara.
Masih di edisi ini, bisa dilihat pula foto jurnalistik yang standar. Sekelompok barisan
demo pengungsi yang berjalan kaki, pada barisan depannya terdapat beberapa
anggota DPRD. Pada bagian lain, ada tulisan berjudul Misil-Masal, Liat-Dalil,
Sukat-Sarang Evav. Isinya adalah peribahasa dalam bahasa Kei, disertai
penjelasannya.
Secara rutin, Suara Damai menurunkan dua kolumnis tetap. Satunya Aleks Ngamel,
seorang raja di Kei yang mengepalai Ratschap Nuhvit. Dia bergelar Rat Mantilur Kisu
Wait. Kolumnis lainnya adalah Otis Jamlean, seorang guru dan pegiat LSM senior di
Malra. Ngamel banyak menuturkan sejarah sedangkan Jamlean banyak mengkaji
filosofi di balik simbol-simbol adat setempat. Meskipun menulis dengan gaya
berbeda, namun paparan keduanya selalu mencengangkan orang-orang Kei sendiri.
Ada juga rubric Kei Tempoe Doeloe. Di sini, setiap kali potret orang Kei pada masa
lalu ditampilkan dengan riwayatnya. Sumbernya, Suara Damai mengutip dari referensi
Museum Leiden, Belanda.
Suara Damai kini terbit dengan oplah 1.000 eksampelar, dicetak di Makassar.
Konsekuensinya, biaya produksi menjadi tinggi. Sebab itulah setiap eksampelar
Suara Damai diecer dengan harga Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu.
Meskipun berkantor di Langgur, desa di pinggir Kota Tual, namun Suara Damai juga
melakukan ekspansi pasar. Distribusinya menjangkau Ambon, Sorong, Merauke,
Fak-Fak, Kaimana, Jayapura, Manado dan Jakarta. Rata-rata setiap kota dikirim 50
sampai 100 eksampelar.
Untung Ada Suara Damai
Tual adalah sebuah kota yang terletak di atas tiga pulau yakni Pulau Dullah, Pulau
Nuhuroa, dan Pulau Fair. Di kota nomor dua terbesar di Maluku ini, tidak ada media
cetak mainstream. Maklum, tak ada percetakan dan tak ada investor yang berani
mengadu untung. Sebab itu, masyarakat hanya mengenal jurnalistik dan
kewartawanan melalui media-media alternatif yang diterbitkan LSM. Selebihnya, ada
RRI dan Radio Gelora Tavlul. Beberapa media cetak di Ambon seperti Suara Maluku,
Ambon Ekspres, Dewa, Siwalima, Info Baru memang beredar di Tual, bahkan
menempatkan wartawannya di kota mutiara tersebut. Tapi masalah transportasi
masih tetap menjadi kendala sehingga media-media Ambon kerap menghilang dalam
waktu yang lama.
Untung saja, di Tual ada Suara Damai, yang terbit dua mingguan dan isinya
memenuhi unsur kedekatan dengan masyarakat. Berbagai kalangan merespons
secara positif media ini. Umumnya, mereka merasa Suara Damai telah mengisi
kekosongan jurnalistik selama berabad-abad di Malra.
Arkad Setitit MSC, pastor asal Kei yang bertugas di Jakarta menyatakan sangat
berterima kasih sebab ada keberanian untuk menerbitkan majalah yang mau
mengulas pembangunan dan adat-istiadat Kei. "Apa yang ditampilkan Suara Damai
sangat berkenaan dengan kondisi Kei terkini dan perpektif masa depannya. Semua
pihak perlu mendukung Suara Damai," ungkapnya.
Dari Papua, seorang perantau asal Tanimbar Kei yang menjadi dosen di Sorong
ketika pulang kampung, kaget melihat ada majalah dengan format dan isi seperti
Suara Damai. "Sebagai anak rantau, saya tidak banyak tahu tentang pembangunan
dan adat di sini. Tapi berkat Suara Damai, saya bisa menemukan informasi itu,"
ungkap pria yang juga menjadi Ketua Ikatan Cendekiawan Katolik di Sorong.
Di Ambon, Ros Farfar, tokoh perempuan Kei yang menjabat Karo Personalia Pemprov
Maluku mengungkapkan, Suara Damai harus mempertahankan independensinya, dan
harus tetap kritis.
Di Tual, anggota DPRD Malra yang mantan wartawan Suara Maluku Agus Jaftoran
juga memuji Suara Damai. Menurut dia, Suara Damai mempunyai berita yang cukup
berimbang. Dia berharap, kekritisan media ini tetap dipertahankan karena masyarakat
Malra membutuhkan sebuah media yang berpihak kepada rakyat.
Suara Damai juga sangat berkenaan di hati para guru SD hingga SMA di Kei. Sebab
dalam pelajaran muatan lokal, para guru mengaku kesulitan mendapatkan referensi
tentang adat-istiadat Kei. "Untung ada Suara Damai, jadi bisa menambah bahan
bacaan bagi guru kami untuk mengajar muatan lokal kepada anak-anak. Materi
hukum adat Larvul Ngabal misalnya, kami kutip dari Suara Damai," ungkap Renjaan,
Kepala SMP Ohoira.
Seorang warga Desa Kelanit Thomas Lefteuw yang berkunjung ke Kantor Redaksi
Suara Damai juga punya kesan tersendiri. Dia menyebutkan, berkat Suara Damai, dia
bisa mendapat inspirasi untuk memboyong keluarganya berziarah ke Desa Somlain,
untuk menelusuri kembali asal-usul nenek moyangnya.
"Setelah membaca tulisan Raja Aleks Ngamel, keluarga kami mengumpulkan uang
untuk biaya perjalanan ke Somlain. Di sana, kami bisa menapak kembali perjalanan
leluhur kami," terangnya.(VP)
Copyright © 2005 RadioVoxPopuli.com. All right reserved.
|