The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

Radio Vox Populi


Radio Vox Populi [Ambon], 24-Mei-2006

Robert Remetwa: Wartawan Kami Tidak Tahu 5 W + 1 H

Rudi Fofid - Ambon

KISAH Suara Damai di Malra tidak lepas dari sosok pemuda drop out Fisip Universitas Pattimura Robert Remetwa. Dia bahkan menjadi identik dengan Suara Damai. Tiap kali Robert datang di sebuah acara di Tual, orang selalu menyapanya, falbe (apa kabar) Suara Damai.

Robert mengaku tak punya pengalaman atau pengetahuan khusus di bidang jurnalistik. Secuil pengalamannya hanyalah sebagai staf redaksi bulletin gereja di Paroki Santo Yoseph Rumahtiga. "Itupun cuma tiga edisi," ujarnya.

Robert mengaku dirinya termasuk tipe pemberontak. Ketika kuliah, dia bersama sejumlah rekannya memprotes sistem perkuliahan. Akibatnya, dia harus berhadapan dengan pimpinan fakultas. Konflik ini berbuntut panjang. Dia mengaku tidak nyaman kuliah. Sebab itu, Robert memilih putus kuliah. Dia lalu pulang kampung. Di sana, sebagai orang yang pernah kuliah sampai semester VII, Robert seperti merasa tidak punya tempat. Waktu itu, di Tual belum ada perguruan tinggi. Sebab itu, mahasiswa atau pun eks mahasiswa di Kei selalu menjadi tumpuan harapan orang kampung. Setidaknya menjadi tempat bertanya. Robert merasakan beban itu.

Setelah berkutat dengan gejolak batinnya, Robert terinspirasi membuat media. Ide awal menerbitkan media bermula dari proses panjang keterlibatan dia bersama masyarakat. Pengalaman selama di LSM Lus Doan (1997) dan Yayasan Sevav Ratut (1999), masyarakat dan LSM membutuhkan alat perjuangan yang efektif. Pilihannya adalah media.

Berbagai pertimbangan kemudian dilakukan. Cukup sulit bagi Robert sebab selain tak ada pengalaman jurnalistik, di Tual juga pekerjaan wartawan tidaklah populer. Orang lebih doyan menjadi pegawai negeri ketimbang menjadi wartawan kota kecil. Tapi dia tak kehilangan akal. Dengan hanya menggandeng kawannya Any Namsa dan Evert Jamrevav, mereka menerbitkan Suara Damai edisi perdana yang dicetak secara fotokopi dan dijilid pakai hekter pada ujung kanan atas. Sederhana sekali.

"Waktu terbit perdana, kami edarkan untuk kalangan aktivis. Mereka gembira ada wahana antar LSM," ungkap Robert tentang respons awal.

Ketika Suara Damai berjalan sampai enam edisi, barulah beberapa kawan bergabung. Mereka umumnya para perantau yang pulang kampung dan belum punya pekerjaan tetap. Sampai edisi ke-10, Suara Damai sudah berani mencetak di Makassar sampai sekarang.

Membongkar arsip Suara Damai dan menyimak isinya, para wartawan professional mungkin akan merasa geli dengan gaya jurnalistik Suara Damai. Sebab, berbagai tulisan disajikan dengan tidak bergaya jurnalistik. "Fakta dan opini dicampur aduk dalam straight news. Wartawan kami tidak tahu teori berita. Tidak tahu teori lead, tidak tahu 5w + 1h, tidak tahu isi kode etik jurnalistik. Kami jalan saja dari nol bahkan minus," ungkap Robert kepada Suara Maluku dan Radio Vox Populi di Kantor Redaksi Jalan Televar Langgur, beberapa waktu lalu.

Tapi Robert mengaku, dengan referensi, pengetahuan dan pengalaman yang serba minus, spirit perjuangan sebagai pendamping rakyat yang digeluti para wartawan sebelumnya, menjadi modal yang berharga. "Mulanya kami mengutamakan content. Yang penting kami bisa menulis pesan, kritik, ide dan itu bisa sampai ke pembaca baik pemerintah maupun masyarakat. Belakangan, baru kami sadari, jurnalistik itu punya seni dan gaya. Perlahan-lahan, kami menyesuaikan diri. Kami belajar dari diri sendiri dan dari kritik banyak orang," ungkapnya.

Kini, dari hanya tiga personil, Suara Damai sudah mempekerjakan lima jurnalis dan tujuh agen. Dengan dana sendiri dan pemasukan dari iklan kecil-kecilan, Suara Damai bisa terbit rutin dan menyalurkan aspirasi rakyat.

Robert menyebutkan, dengan berbagai kekurangan, Suara Damai tetap menanggung beban berat karena mengusung visi-misi yang cukup ideal yakni mendorong penegakan keadilan dan mengangkat nilai budaya lokal dalam rangka mewujudkan kesejahteraan dan perdamaian. "Tub-tub nubur ub lalai lor enmav," begitulah motto Suara Damai Damai. Artinya, tumbuh subur di tengah perbedaan.

Robert mengaku, menerbitkan Suara Damai tidaklah gampang. Sebab, dia tak hanya berpusing diri soal berita tapi juga soal produksi, distribusi, pembinaan wartawan dan menjaga relasi. Tapi di tengah keruwetan itu, Robert punya obsesi menjadikan Suara Damai menjadi semacam Tempo bagi orang-orang Kei. "Mudah-mudahan kelak Suara Damai bisa menjadi media bagi semua level masyarakat. Saya ingin Suara Damai ada dalam hati setiap orang Malra," cetusnya.

Saat ini saja, kehadiran Suara Damai memang mulai terasa, bukan hanya dalam masyarakat tapi juga di lembaga legislatif. Pernah dalam sebuah sidang DPRD, seorang anggota DPRD Safarudin Fakaubun menuntut DPRD membuat klarifikasi soal dana lapter Ibra tahap pertama. "Harus ada klarifikasi melalui berbagai media, sebab Suara Damai sudah mempublikasikan kasus ini," ujar Fakaubun.

Menurut Robert, ketika Suara Damai disebut saja di dalam sidang DPRD, itu berarti Suara Damai sudah memberi sedikit kontribusi. (VP)

Copyright © 2005 RadioVoxPopuli.com. All right reserved.
 


Copyright © 1999-2002 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/batoegajah
Send your comments to alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044