ANTARA, 26 September 2006 10:15
Mira Agustina Ingin Konsultasi Dengan Pengacara Soal Kematian
Umar Al-Faruq
Cijeruk, Bogor (ANTARA News) - Berita mengenai tewasnya Umar Al-Faruq, yang
selama ini dituduh badan intelijen AS (CIA) dan pihak Barat terlibat jaringan terorisme,
bahkan disebut-sebut sebagai tokoh jaringan Al Qaidah di Asia Tenggara, membuat
istrinya, Ny Mira Agustina (28), bingung dan belum dapat mengambil sikap.
"Soal (kematian Al-Faruk) itu, saya masih ingin konsultasi dengan Pak Eggy
Sudjana, jadi bagaimana menyikapinya, tentu masih harus men! unggu (konsultasi itu
", katanya, saat ditemui di kediamannya, Kampung Cijambu, Desa Cisalada,
Kecamamatan Cijeruk, perbatasan Kabupaten Bogor-Sukabumi, demikian dilaporkan
wartawan ANTARA, Selasa pagi.
Kantor berita Reuters melaporkan bahwa tentara Inggris di Irak telah membunuh satu
dari sejumlah wakil penting pemimpin Al Qaidah, Usamah bin Ladin, yang lari dari
sebuah penjara AS di Afghanistan tahun lalu.
Umar Al Faruq ditembak mati ketika melawan penangkapan Senin (25/9) dalam satu
serangan dini hari oleh sekitar 200 tentara Inggris di kota terbesar kedua Irak, Basrah,
kata jurubicara militer Inggris Mayor Charlie Burbridge.
Mira Agustina sendiri -- yang saat diwawancarai disertai dua anaknya hasil
perkawinan dengan Umar Al-Faruq, yakni Gholiah dan Hanum, serta adik laki-lakinya
yang hanya mau dipanggil "Daeng" -- sebenarnya tidak bersedia memberikan
komentar lebih jauh, terlebih kabar itu belum dapat dikonfirmasi.
Gholia, saat ini tercatat sebagai siswi SD Cisalada kelas 2, dan Al Hanum, siswi TK
Amelia Cigombong.
Namun, setelah ANTARA mencoba mengubungi Eggy Sudjana -- yang selama ini
menjadi kuasa hukum Mira Agustina -- dan langsung mendengar dialog, ia kemudian
bersedia memberikan komentar singkat.
"Sebenarnya saya tidak mau memberikan 'statement', karena dari awal pun, saya
tidak pernah diberi kesempatan apa bisa ketemu atau tidak (dengan Al-Faruk) sampai
akhirnya ada kabar dia meninggal, saya tidak bisa membuktikan apakah dia benar
atau bersalah," katanya dengan suara parau dan akhirnya meneteskan air mata.
"Jadi, saya pribadi (sampai saat ini) belum yakin dia telah meninggal," katanya.
Mengenai perasaan tertentu setelah mendengar kabar kematian itu, ia menyatakan
bahwa memang sempat ada kebimbangan, karena ketika dirinya diberi kabar
wartawan pukul 04:00 WIB, Selasa dini hari -- yang bersamaan dengan waktu sahur --
suasana hatinya diliputi suasana khawatir.
"Namun, hati saya yang lain bilang, dan juga disetujui kedua anak saya, mereka
bilang `abi` (ayah)-nya, Insya Allah masih ada, jadi saya cuma bisa bilang, sampai
saat ini belum yakin, dan kita pastikan terlebih dahulu berita itu," katanya.
"Saya masih akan konsultasi dulu dengan Pak Eggy Sudjana dulu, dan sementara ini
akan menenangkan hati dulu," katanya.
Tetap misterius
Ikhwal "kemisteriusan" sosok Umar Al-Faruq, hingga kabar terbaru soal kematiannya
di Basrah, Irak, masih belum diketahui dengan jelas, apakah benar terkait dengan
jaringan Al-Qaidah seperti dituduhkan pihak Barat.
Pengamat dan peneliti masalah internasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI), Dewi Fortuna Anwar -- ketika mengomentari kaburnya Al-Faruk dari penjara
"super ketat" yang dijaga tentara AS di Baghram, Afghanistan sejak Juli, namun
berita pelariannya itu baru diketahui umum pada November tahun lalu -- tetap melihat
soal Al-Faruk itu "penuh dengan misteri".
Sejak semula, kata dia, persoalan Umar Al Faruq itu penuh dengan misteri karena
sejak ia ditangkap aparat intelijen dan keamanan Indonesia di Kota Bogor 5 Juli 2002
lalu, publik negeri ini dibuat "terkaget-kaget" karena aparat langsung menyerahkan
dirinya ke pihak berwenang AS kendati dia berkewarganegaraan Indonesia.
"Seandainya pihak intelijen kita tidak gegabah menyerahkan Umar Al Faruq (kepada
AS), hal ini tidak akan terjadi. Aneh sekali, WNI (warganegara Indonesia) kok
diserahkan ke negara lain, padahal kita tahu negara itu justru tidak mudah
menyerahkan warganegaranya kepada kita," katanya.
Menurut Dewi Fortuna, persoalan Al Faruq itu tidak hanya menyisakan misteri di saat
ia ditangkap tiga tahun lalu, tetapi juga di saat ia diberitakan berbagai media massa
melarikan diri dari penjara.
"Yang lebih aneh lagi kita tidak tahu di mana ia dipenjarakan... apakah di Amerika
atau di mana. Namun tiba-tiba kita dengar sejak Juli lalu dia melarikan diri... Kok
bisa-bisanya dia kabur di tengah basis Amerika Serikat dengan puluhan ribu
pasukannya," katanya.
Karena berbagai misteri yang belum terjawab itulah, Jakarta pantas mendesak
Washington untuk menjelaskan secara terpadu perihal Al Faruq.
Sementara itu, anggota Komisi I DPR-RI, Suripto -- berkaitan dengan misteri yang
menyelimuti Al-Faruq -- dalam wawancara dengan ANTARA saat menilai kaburnya
Al-Faruq dari penjara "super ketat" AS di Afghanistan --berpendapat bahwa bisa jadi
Al-Faruq adalah "planted agent"(agen yang ditanam) oleh badan intelijen asing ke
dalam apa yang disebut jaringan Al Qaidah untuk Asia Tenggara.
Menurut Suripto, pelarian Al Faruq -- kala itu -- semakin memperkuat prediksi dan
kecurigaan bahwa tokoh misterius itu adalah agen yang dipelihara CIA, karena hanya
orang yang dibantu oleh "organisasi yang rapi" saja yang dapat kabur dari penjara
yang dijaga super ketat seperti itu.
"Tak gampang untuk bisa lolos (dari penjara Amerika Serikat). Tentu ada organisasi
yang rapi dan menguasai informasi yang cukup cermat dalam mempelajari
seluk-beluk penjara dan terlibat dalam upaya pelarianya itu," kata pendiri Lembaga
Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi) itu.
Sedangkan penasihat hukum Mira Agustina, Eggy Sudjana, melihat mencuatnya
kasus Al-Faruq lebih banyak akibat intervensi negara asing dalam urusan dalam
negeri Indonesia.
"Saya yakin semua peristiwa yang terjadi saat ini (menyangkut Al-Faruk) hanya
pesanan dan 'setting'-an dari luar negeri yang sedang mengintervensi urusan dalam
negeri di Indonesia yang didominasi oleh masyarakat Muslim," katanya.
Eggi Sudjana adalah penasihat hukum Mira Agustina, sejak suaminya, Umar
Al-Faruk, hilang dan ditangkap pada 5 Juni 2002.
Ia menegaskan bahwa posisinya adalah penasihat hukum bagi istri Umar Al-Faruk,
dan bukan kepada sosok Umar Al-Faruk yang masih misterius itu.
"Saya mewakili kepentingan klien saya Mira Agustina, jadi jangan salah, bukan untuk
Al-Faruk, harusnya tanggung jawab (memberi perlindungan hukum) adalah tugas
pemerintah, kalau ada yang tidak bisa bayar (kepada penasihat hukum), pemerintah
yang menyediakan, ini pemerintah membiarkan warganya, jadi jangan terus dipelintir
'mbelain' teroris," katanya, tahun lalu.
Ia mengatakan dirinya tergerak menjadi penasihat hukum Mira Agustina, karena
merasa peran pemerintah untuk menyediakan pengacara untuk orang miskin tidak
ada.
Menurut dia, selama dirinya menjadi pengacara istri dari Al-Faruk guna
menghubungkan kliennya itu kepada instansi terkait di pemerintahan, hingga kini
tidak ada hasilnya, meski sudah mencoba untuk bekerja sama guna mendapat
kejelasan mengenai hal-ikhwal suami Mira Agustina yang hingga kini masih miterius
itu.
Ia khawatir, dengan ketidakjelasan tersebut, jangan-jangan pemerintah ikut mendisain
atau mensetting larinya Al-Faruk untuk mengambinghitamkan Al-Faruk atas
peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia pada saat lalu itu. (*)
COPYRIGHT © 2006 ANTARA
|