The Cross

 

Ambon Berdarah On-Line
News & Pictures About Ambon/Maluku Tragedy

 

 


 

 

 

KOMPAS


KOMPAS, Selasa, 17 Oktober 2006

Polisi Masih Sulit Identifikasi Pelaku
Pembunuh Pendeta Kongkoli Gunakan Penutup Wajah

Palu, Kompas - Pendeta Irianto Kongkoli (43), Sekretaris Umum Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah, tewas ditembak di depan Toko Sinar Sakti di Jalan Monginsidi, Palu, Senin (16/10) pukul 08.30 Wita. Hingga saat ini, polisi masih kesulitan mengidentifikasi pelaku penembakan itu.

"Identifikasi sulit dilakukan karena tak seorang pun saksi melihat jelas bagaimana wajah pelaku penembakan Pendeta Kongkoli. Pelaku menggunakan penutup wajah," kata Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah (Sulteng) Brigadir Jenderal (Pol) Badrodin Haiti, Senin.

Badrodin menyatakan, polisi tidak bertumpu pada keterangan saksi. Banyak cara lain untuk mengetahui identitas pelaku. Hingga Senin malam, sedikitnya enam saksi diperiksa.

Pendeta Kongkoli tewas ditembak di depan Toko Sinar Sakti, toko bangunan, saat hendak membeli tegel keramik. Di toko itu, Pendeta Kongkoli datang bersama istrinya yang juga anggota Kepolisian Resor Kota Palu, Inspektur Satu Rita Kupa (40), dan anak bungsunya, Galatea Polika (5), serta seorang sopir.

Rita Kupa mengatakan, karena belum menemukan motif tegel yang cocok, ia dan anaknya masuk ke dalam mobil, sementara Pendeta Kongkoli masih melihat-lihat tegel yang dipajang di pelataran Toko Sinar Sakti. "Ketika sudah berada di dalam mobil, saya mendengar suara letusan. Lalu saya melihat suami saya terjatuh bersimbah darah. Anak saya juga melihatnya. Saya langsung berteriak histeris minta tolong," kata Rita.

Rita langsung membawa suaminya ke Rumah Sakit Bala Keselamatan, Palu. Namun, Kongkoli yang dikenal sebagai salah seorang tokoh perdamaian Poso telah tewas di lokasi kejadian. Dua butir peluru menembus kepala dan lehernya. Pendeta yang kerap mengkritisi kinerja aparat keamanan di Poso itu meninggalkan seorang istri dan tiga anak.

Sejumlah saksi mengatakan, pelaku penembakan adalah seorang pria mengenakan jaket dan tutup kepala. Setelah menembak Kongkoli, pria itu berlari ke arah sepeda motor Honda Supra yang dikemudikan pria lainnya. Wajah pengemudi tertutup helm.

Karena minimnya ciri-ciri pelaku yang diperoleh, Badrodin mengatakan, polisi akan memeriksa para pelaku penembakan yang pernah beraksi di wilayah Sulteng. Mereka yang segera akan diperiksa adalah Hasanudin, Haris, Irwanto, dan Jendra.

Empat warga Poso dan Palu itu saat ini ditahan di Markas Besar Polri. Saat ditangkap, Juni lalu, mereka mengaku sebagai pelaku pemenggalan kepala tiga siswi SMA Kristen Poso, penembakan Pendeta Susianti Tinulele, dan Jaksa Ferry Silalahi. Mereka mengaku sebagai pelaku peledakan bom di Pasar Tentena dan beberapa gereja di Palu. "Kami belum dapat memastikan apakah ada hubungan antara pelaku penembakan Kongkoli dan pelaku penembakan sebelumnya di Sulteng," kata Badrodin.

Di tempat terpisah, Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutanto menyatakan, polisi mengenali ciri- ciri pelaku. Polisi sedang berupaya menangkap pelaku karena sudah "mengenali ciri-ciri anatomi penembak Pendeta Kongkoli".

"Anatomi (pelaku) kami sudah mengetahui. Tinggal kami mencari mereka," kata Sutanto menjelaskan hasil kerja intelijen.

Soal motif penembakan, apakah terkait eksekusi Tibo cs, Sutanto belum mau mengungkapkan. "Setelah tertangkap, kita baru tahu. Kalau sekarang menduga-duga," ucapnya.

Penembakan Pendeta Kongkoli mengejutkan banyak orang, termasuk tokoh Muslim yang juga Ketua Pokja Deklarasi Malino Prof Sulaiman Mamar. "Penembakan itu sangat mengejutkan kami karena Pendeta Kongkoli dikenal sebagai pendeta yang netral, moderat, tidak ekstrem. Dalam pernyataannya, dia tidak menyudutkan agama lain. Hubungannya dengan tokoh-tokoh Islam cukup bagus. Inilah yang menjadi tanda tanya, siapa yang melakukan penembakan?" katanya.

Yang berbahaya, kata Sulaiman, adalah apabila masing-masing pihak menduga-duga siapa pelaku penembakan itu. "Ada pihak ketiga yang ingin terus memprovokasi supaya kedua kelompok berkelahi lagi," katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, teror di Palu tidak pernah sepi. Penembakan berulang kali terjadi dalam tiga tahun terakhir, antara lain menewaskan Jaksa Ferry Silalahi dan Pendeta Susianti Tinulele (2004). Sejumlah teror dan peledakan bom yang terjadi juga mengkhawatirkan, antara lain di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Immanuel di Jalan Masjid Raya dan GKST Anugerah Masomba di Jalan Tanjung Manimbaya pada malam yang sama, Desember 2004, serta peledakan bom di Pasar Maesa yang menewaskan delapan warga, akhir Desember 2005. Tak heran jika banyak yang khawatir Palu akan jadi seperti Poso.

Kematian Pendeta Kongkoli membuat warga Tentena, Kecamatan Pamona Utara, Poso, berduka. Di hampir semua kecamatan di Poso, warga menaikkan bendera setengah tiang di depan rumah. Sore harinya, gereja-gereja di Palu dan Poso mengadakan kebaktian untuk mendoakan Kongkoli dan keluarga.

Mantan Ketua Umum Majelis Sinode GKST Pendeta Rinaldy Damanik mengatakan, penembakan Kongkoli menjadi bukti kegagalan pemerintah dan aparat keamanan dalam mewujudkan keamanan di Sulteng yang selama ini dikacaukan para provokator.

Menurut Kepala Polda Sulsel Inspektur Jenderal Aryanto Boedihardjo di Makassar, pascapenembakan itu, pasukan pengamanan di perbatasan Sulsel-Sulteng ditambah satu kompi. Sebelumnya juga sudah ditempatkan dua SSK di perbatasan itu.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sulteng Gumyadi mengirimkan surat kawat ke Mendagri mengenai laporan penembakan Sekretaris Umum GKST Pendeta Kongkoli. Surat itu diterima Kantor Departemen Dalam Negeri pada Senin siang.

Dalam poin A surat kawat itu, Sekda Provinsi Sulteng menceritakan kronologi penembakan Pendeta Kongkoli. Selain itu disebutkan, penembak terdiri atas dua orang menggunakan penutup kepala dan helm yang selanjutnya melarikan diri mengendarai sepeda motor.

Bukan kekerasan biasa

Sikap pemerintah atas peristiwa ini tampak dari pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Widodo AS. Pemerintah, katanya, menyatakan penembakan Pendeta Kongkoli bukan tindakan kekerasan biasa, tetapi aksi teror. Atas dasar itu, selain menyampaikan belasungkawa, pemerintah memerintahkan seluruh aparat, khususnya intelijen, kepolisian, dengan dukungan TNI, segera mengambil langkah dan mengungkap kasus ini.

"Setiap pelanggaran hukum, termasuk tindakan anarkis dan teror, aparat akan melakukan upaya-upaya penegakan hukum secara konsisten dan tegas," kata Widodo seusai rapat kerja dengan Tim Pemantau Penyelesaian Masalah Poso di DPR.

Saat ditanya mengapa konflik Poso tidak pernah selesai, Widodo menegaskan, Komando Operasi Pemulihan Keamanan Sulteng yang berada di bawah tanggung jawabnya melakukan tugas dengan baik dan menunjukkan kemajuan.

Rapat dipimpin Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno. Selain Widodo, hadir mewakili pemerintah adalah Mendagri Moh Ma'ruf, Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutanto, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, Kepala Badan Intelijen Negara Syamsir Siregar, Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, dan Sekjen Departemen Agama Faisal Ismail. Rapat berlangsung tertutup karena alasan keamanan. (REI/DOE/SSD/SIE/SUT/DWA)

Copyright © 2002 Harian KOMPAS
 


Copyright © 1999-2002 - Ambon Berdarah On-Line * http://www.go.to/ambon
HTML page is designed by
Alifuru67 * http://www.oocities.org/batoemerah
Send your comments to alifuru67@yahoogroups.com
This web site is maintained by the Real Ambonese - 1364283024 & 1367286044