KOMPAS, Rabu, 31 Januari 2007
Pasar Maesa Sedianya Dibom Menjelang Natal
Palu, Kompas - Rekonstruksi sejumlah kasus teror yang terjadi di Palu, Sulawesi
Tengah, terus dilakukan. Setelah rekonstruksi penembakan Pendeta Irianto Kongkoli,
Senin lalu, Selasa (30/1) kemarin polisi melakukan rekonstruksi peledakan bom di
Pasar Maesa.
Dari rekonstruksi yang dilaksanakan mulai pukul 08.00 sampai 11.00 Wita itu,
terungkap bahwa Pasar Maesa sedianya akan dibom sehari menjelang Natal, 24
Desember 2005. Namun, karena tidak meledak, pelaku memperbaiki bom tersebut
dan meletakkannya kembali di Pasar Maesa pada 31 Desember 2005.
Rekonstruksi kemarin menghadirkan Abdul Muis, satu dari tiga pelaku peledakan
bom Pasar Maesa. Dua pelaku lainnya, Dedi Parsan dan Icang, tewas dalam baku
tembak dengan polisi di Kelurahan Gebang Rejo, Poso, pada 11 Januari dan 22
Januari.
Tidak meledak
Kepala Bidang Humas Polda Sulteng Ajun Komisaris Besar M Kilat mengatakan,
Muis memperoleh bahan bom dari Dedi Parsan. Muis bersama Icang merakit bom itu
di kamar belakang kantor sebuah yayasan di Jalan Anoa, Palu.
Setelah dirakit, pada 24 Desember 2005 sekitar pukul 07.00 Muis membeli sayur
kangkung di Pasar Masomba Palu, tidak jauh dari Pasar Maesa. Bom tersebut
dimasukkan ke kantong plastik berisi sayur itu.
Sekitar pukul 08.00 Muis tiba di Pasar Maesa dan membeli daging babi untuk
memberi kesan ia seorang pelanggan. Kepada seorang pedagang, Muis menitipkan
kantong plastik berisi bom dan sayur kangkung, tetapi bom yang diberi pengatur
waktu dan sakelar itu tidak meledak.
Siangnya Muis kembali ke Pasar Maesa untuk mengambil kantong berisi bom
tersebut dan kemudian bersama Icang memperbaiki sakelar bom yang tak meledak
itu.
Pada 31 Desember 2005, sekitar pukul 08.00, dengan modus serupa Muis kembali
membawa bom ke Pasar Maesa dan menitipkan kantong berisi bom kepada seorang
pedagang. Sekitar 15 menit Muis meninggalkan Pasar Maesa, bom itu meledak,
mengakibatkan sembilan tewas dan puluhan luka.
Walaupun diguyur hujan, rekonstruksi kemarin mendapat perhatian warga. Salah
seorang keluarga korban bom yang tidak mampu menahan haru sempat berusaha
memukul Muis, tetapi dihalangi polisi.
Saat polisi dan kelompok bersenjata di Gebang Rejo baku tembak pada 22 Januari,
polisi menangkap 23 tersangka yang kemudian disusul dengan penyerahan diri 6
tersangka lainnya. Dari mereka, polisi berhasil mengungkap 20 kasus teror dan
kekerasan bersenjata yang terjadi di Palu dan Poso tahun 2004-2007.
Pernah dibaiat
Di Jakarta, Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Anton Bachrul Alam,
mengemukakan, tersangka Abdul Muis belakangan mengaku sebagai anggota
Kelompok Jemaah Islamiyah yang telah dibaiat (disumpah) oleh Mustofa alias Abu
Tholut. Mustofa saat ini masih ditahan di LP Cipinang, Jakarta, dalam kasus
kepemilikan senjata api dan bahan peledak di Semarang.
"Muis juga mengaku pernah dibaiat oleh Firmansyah yang sekarang ditahan di LP
Petobo Palu dalam kasus pemilikan senjata api. Pengakuan Muis itu masih akan
kami dalami lagi," kata Anton, Selasa.
Menurut Anton, rekonstruksi kemarin berlangsung di delapan tempat yang berkaitan
dengan kasus peledakan bom tersebut. (REI/SF)
Copyright © 2002 Harian KOMPAS
|