Radio Nederland Wereldomroep, 24-01-2007
Mencari Akar Poso Berdarah
Listen (Dengarkan George Junus Aditjondro)
Hari-hari belakangan, polisi dan warga Poso beberapa kali terlibat bentrokan. !
Kerusuhan mencapai titik puncaknya ketika belasan orang tewas dalam insiden
tembak-menembak. Kerusuhan di Poso tampaknya tidak berhenti juga. Apa yang
sebenarnya terjadi di daerah konflik ini? Apa sebenarnya akar masalah di Poso? Dan
apa pula peran Jemaah Islamiyah di sana? Berikut jawaban George Junus Aditjondro
dari Poso Centre.
Islam militan fraksi tentara
George Junus Aditjondro [GJA]: "Kalau saat ini yang sedang terjadi adalah
persaingan antara polisi dengan tentara. Dan kelompok Islam militan ini merupakan
fraksi dari tentara. Mereka juga dilatih dan dipersenjatai secara langsung atau tidak
langsung oleh unsur-unsur militer. Ini sudah berlangsung sejak tahun 2002-lah paling
tidak, sesudah pertemuan Malino. Justru kelompok Islam garis keras ini yang sedang
dicoba dibongkar oleh polisi, dan oleh karena itu mereka melawan dengan cukup
keras."
Pelbagai akar konflik
Radio Nederland Wereldomroep: "Tapi apa sebenarnya akar masalah dari konflik di
Poso, Pak?"
GJA: "Ada akar lokal, dan kemudian ada manipulasi dari kekuatan-kekuatan nasional.
Akar lokalnya memang adalah persaingan di antara intra elit tentang suksesi bupati
Poso akhir 1990an sampai dengan awal 2000an begitu. Ini kemudian dimanfaatkan
oleh tiga pihak. Satu dari angkatan bersenjata sendiri, baik TNI dan Polri, di mana
kedua kekuatan bersenjata ini berusaha mengeksplotir ini sebagai suatu proyek untuk
korupsi secara besar-besaran. Ditambah lagi belakangan ini ada usaha dari pihak
fraksi-fraksi tertentu di militer untuk melakukan delegitimasi terhadap polisi, karena
tidak rela bahwa polisi diberikan kekuasaan yang lebih besar."
"Yang kedua adalah bahwa dengan adanya kerusuhan maka ada pengungsi. Dengan
adanya pengungsi maka ada dana besar yang dialokasi. Ini kemudian menimbulkan
kepentingan dari orang-orang di Departemen Kesejahteraan Sosial untuk
mempertahankan keberadaan pengungsi, supaya mereka tidak bisa kembali ke Poso.
Dan anggaran itu bisa dikorupsi."
"Yang ketiga sesudah menjadi suatu kerusuhan dan kemudian deployment pasukan
secara besar-besaran, baik dari tentara, dan makin lama makin banyak dari polisi,
khususnya Brimob, maka ini menguntungkan calon-calon investor yang memerlukan
penggusuran penduduk secara besar-besaran, atau juga mematahkan kemungkinan
perlawanan penduduk terhadap pembebasan tanah untuk proyek-proyek besar itu.
Termasuk juga untuk PLTA Poso yang sedang dibangun oleh perusahaan milik wakil
Presiden Jusuf Kalla. Yang semuanya diuntungkan dari rekrutment pasukan yang
bisa dipakai untuk menteror rakyat."
Tapi kalau melihat fakta-fakta di lapangan, maka juga terlihat keterlibatan Jemaah
Islamiyah. Klik logo untuk mendengarkan tanggapan George Junus Aditjondro
© Hak cipta Radio Nederland 2007 Disclaimer
|