TEMPO, Sabtu, 06 Januari 2007 | 02:48 WIB
Indonesia Tanpa Radar
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sudah dua bulan ini, Indonesia sama sekali tak bisa
menangkap sinyal darurat yang terpancar dari pesawat atau kapal yang mengalami
kecelakaan. Itu semua karena radar penangkap sinyal darurat (emergency locator
beacon aircraft atau ELBA) di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang,
dan di Bandara Pattimura, Ambon, rusak.
"Radar yang berada di Ambon itu (malah) sudah rusak lebih dari setahun," kata
Kepala Badan Search and Rescue Jakarta Dadang Arkuni kepada Tempo.
Radar penangkap sinyal darurat, atau yang biasa disebut penangkap sinyal
emergency locator transmitter (ELT), yang ada di Jakarta bertugas memantau wilayah
Indonesia bagian barat. Adapun radar di Ambon untuk memonitor wilayah Indonesia
bagian timur.
Menurut Kepala Badan Search and Rescue Jakarta Dadang Arkuni, Indonesia
memiliki radar ini sejak 1995. Itu pun berkat kebaikan hati pemerintah Kanada.
Dengan demikian, setiap ada kecelakaan pesawat atau kapal laut, radar ini akan
mendapat informasi tentang lokasi kecelakaan.
Namun, sejak radar di Cengkareng mengalami kerusakan, alat itu tak bisa lagi
membaca koordinat lokasi kecelakaan. Radar masih tetap bisa menerima laporan
kecelakaan dari alat yang sama milik Singapura, Australia, dan Thailand.
Dadang mengaku sudah melaporkan radar penangkap sinyal darurat yang mengalami
kerusakan sejak dua bulan lalu itu ke kantor pusat Badan Search and Rescue
Nasional. "Tapi belum juga diperbaiki karena biayanya mahal," kata Dadang tanpa
memerinci besar ongkosnya.
Dia menambahkan, dengan menggunakan radar itu, Indonesia tergabung dalam
sistem Cospas-Sarsat. Ini adalah sistem pencarian korban kecelakaan yang
menggunakan bantuan 12 satelit, yang didirikan Kanada, Inggris, Amerika, dan Uni
Soviet pada 1979. Konsorsium ini kini anggotanya terdiri atas puluhan negara.
Indonesia tergabung dalam satu wilayah bersama Singapura, Australia, dan Thailand,
dengan Australia sebagai koordinator wilayah. Bila terjadi kecelakaan di wilayah
empat negara ini, masing-masing radar akan menampilkan koordinat lokasi
kecelakaan. Radar membaca kecelakaan berdasarkan sinyal ELT di pesawat yang
muncul jika terjadi benturan. Sinyal yang keluar akan terbaca oleh radar dalam
hitungan detik.
Menurut Dadang, Indonesia seharusnya memiliki cadangan radar. Tapi, karena alat ini
memakai teknologi tinggi dan harganya mahal, pemerintah belum bisa menyediakan.
Padahal alat ini penting untuk keselamatan.
Di tempat terpisah, kemarin Direktur Utama PT Angkasa Pura II Edie Haryoto
menjelaskan sistem pengendalian lalu lintas udara di Soekarno-Hatta saat ini
berfungsi dengan baik, termasuk pada hari hilangnya pesawat Adam Air Boeing
737-400 dengan nomor penerbangan KI 574.
"Fasilitas pengendalian di FIR Jakarta termasuk modern dan berfungsi dengan prima,"
ujar Edie. Dia menambahkan, pada peristiwa kecelakaan Adam Air, fasilitas FIR
Jakarta dapat merekam posisi terakhir pesawat. "Tapi sayangnya, posisi pesawat
Adam Air saat itu bukan masuk dalam wilayah pengendalian FIR Jakarta."
Pramono/Joniansyah/Harun Mahbub/Raden Rachmadi
copyright TEMPO 2003
|