MEDIA PEMBELAJARAN
MENENTUKAN JARAK PADA BANGUN RUANG[1]
Oleh :
Dwi Joko Asmoro[2]
Website : www.geocities.com/dwijoeas
ABSTRAK
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Salah satunya pengembangan potensi
peserta didik dalam bidang matematika. Mata pelajaran matematika pada satuan
pendidikan SMA antara lain meliputi aspek geometri. Pokok bahasan yang
diajarkan adalah Dimensi Tiga, dengan sub pokok bahasan menentukan jarak pada
bangun ruang. Materi ini diajarkan di kelas X semester dua. Kompetensi dasar yang harus dicapai adalah
menentukan jarak titik ke garis dan jarak titik ke bidang. Banyak sekali
strategi dan pendekatan yang dilakukan
untuk menunjang keberhasilan guru dalam mengajarkan sub pokok bahasan ini. Baik
dalam menciptakan pembelajaran yang interaktif dan efektif. Salah satu
strateginya adalah dengan penggunaan media pembelajaran. Dengan media
pembelajaran memberikan kesempatan kepada peserta didik terlibat langsung
(firshand learning), seperti menyentuhnya (touch), mengamati (observe),
mengujicoba (experiment), menumbuhkan rasa ingin tahu (wonder) dan mengambil
keputusan (decide). Pembelajaran dengan menggunakan media membangun suatu
pendidikan yang berarti dan relevan dalam kehidupan peserta didik. Sehingga
membantu ketercapaian kompetensi dasar peserta didik dan meningkatkan
keefektifan pembelajaran.
Kata kunci : Media
pembelajaran, Kompetensi dasar,Jarak
Pendahuluan
Matematika sebagai wahana pendidikan tidak
hanya dapat digunakan untuk mencapai satu tujuan, misalnya mencerdaskan peserta
didik, tetapi dapat pula membentuk kepribadian siswa serta mengembangkan
keterampilan tertentu. Hal ini mengarahkan perhatian kepada pembelajaran
nilai-nilai dalam kehidupan melalui matematika seperti jujur, disiplin, tepat
waktu dan tanggung jawab. Untuk itu siswa perlu memiliki kemampuan memperoleh,
memilih dan mengelola informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu
berubah, tidak pasti dan kompetitif. Kemampuan ini membutuhkan pemikiran
kritis, sistematis, logis dan kreatif, dan kemampuan bekerjasama yang efektif.
Cara berpikir seperti ini dapat dikembangkan melalui belajar matematika karena
matematika memiliki struktur dan keterkaitan yang kuat dan jelas antar
konsepnya, sehingga memungkinkan siswa berpikir rasional.
Implikasinya peserta didik perlu memiliki
penguasaan matematika pada tingkat tertentu, yang merupakan penguasaan
kecakapan matematika untuk dapat ditumbuhkan pada perseta didik merupakan
pelajaran matematika kepada pencapaian kecakapan hidup yang ingin dicapai
melalui pembelajaran matematika.
Bagaimana seorang guru berusaha menguasai
matematika yang akan diajarkannya serta bagaimana mengajarkannya kepada peserta
didik merupakan seni atau kiat tersendiri. Tidak benar kalau ada anggapan
seorang yang telah menguasai matematika dengan baik akan dengan sendirinya
mengajarkannya dengan baik pula.
Ciri utama matematika adalah penalaran
deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat
logis dari kebenaran sebelumnya, sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan
dalam matematika bersifat konsisten. Namun pembelajaran dan pemahaman konsep
dapat diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi.
Proses induktif-deduktif dapat juga bersama-sama digunakan untuk mempelajari
konsep matematika. Penerapan cara kerja matematika diharapkan dapat membentuk sikap
kritis, kreatif, jujur dan komunikatif.
Keabstrakan objek-objek matematika perlu
diupayakan agar dapat diwujudkan secara lebih kongkret, sehingga akan
mempermudah peserta didik memahaminya. Inilah kunci penting yang harus
diketahui guru matematika, dan diharapkan dapat dijadikan pendorong lebih
kreatif dalam merencanakan pembelajaran.
Mata pelajaran matematika pada satuan
pendidikan SMA meliputi aspek-aspek : logika, aljabar, geometri, trigonometri,
kalkulus, statistika dan peluang. Pada pokok bahasan geometri terdapat sub
pokok bahasan menentukan jarak pada bangun ruang.Sub pokok bahasan ini
diajarkan dikelas X semester dua.Kompetensi dasar yang harus dicapai peserta
didik pada sub pokok bahasan ini adalah peserta didik dapat menentukan jarak
titik ke garis dan jarak titik ke bidang.
Guru biasanya dalam mengajarkan sub pokok
bahasan ini tanpa menggunakan media sebagai alat bantu dalam memvisualisasikan
konsep dasar menentukan jarak pada bangun ruang ini. Sehingga kebanyakan
peserta didik belum banyak mengerti cara menentukan jarak pada bangun ruang.
Seperti menentukan jarak titik ke garis, siswa banyak kesulitan menentukan
/membuat garis lurus melalui titik yang diketahui, tegak lurus garis yang
diketahui. Dan siswa juga kesulitan menentukan/membuat garis lurus dari titik
yang diketahui, tegak lurus bidang yang diketahui. Sehingga kompetensi dasar
pada materi menentukan jarak pada bangun ruang ini belum tercapai secara
maksimal.
Salah satu strategi untuk mempermudah peserta
didik dalam menentukan jarak pada bangun ruang ini adalah dengan bantuan media
pembelajaran. Dengan penggunaan media pembelajaran menentukan jarak pada bangun
ruang ini, diharapkan dapat membantu peserta didik dalam menentukan jarak titik
ke garis dan jarak titik ke bidang.
Sehingga
dengan harapan dapat memantapkan konsep anak dalam menentukan jarak pada
bangun ruang. Selain itu dengan
penggunaan media pembelajaran, memberikan kesempatan kepada peserta
didik terlibat langsung (firshand learning), seperti menyentuhnya (touch),
mengamati (observe), mengujicoba (experiment), menumbuhkan rasa ingin tahu
(wonder) dan mengambil keputusan (decide).
Hal
ini sejalan dengan pendidikan, seperti yang dituangkan dalam Undang-Undang No.20
tahun 2003, tentang Sisdiknas sebagai berikut:
Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Rumusan Masalah
Dari uraian diatas penulis mencoba
mengangkat suatu masalah yang dirumuskan sebagai berikut :
. Bagaimana
Penggunaan media pembelajaran untuk membantu peserta didik dalam menentukan jarak pada
bangun ruang ?
Tujuan dan Manfaat
Tujuan Penulisan Makalah ini adalah :
Untuk mengetahui penggunaan media pembelajaran
dalam menentukan jarak pada bangun ruang.
Manfaat Penulisan Makalah ini adalah :
1. Untuk
memberikan masukan bagi guru dalam mengajarkan materi ”menentukan jarak
pada bangun ruang” ini dengan penggunaan media pembelajaran.
2. Mempermudah peserta didik
dalam menentukan jarak pada bangun ruang melalui penggunaaan media pembelajaran.
Telaah Pustaka
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang berarti ’tengah’,
’perantara’,atau ’perantara’, bentuk jamak dari medium. Menurut Heinich dkk
(1982) dalam (Azhar, 1997:4) ”Medium sebagai perantara yang mengantar informasi
antara sumber dan penerima”. Media tersebut berupa antara lain buku,tape
recorder, kaset, video recorder, film, slide, foto , gambar, grafik, televisi,
komputer dan lain-lain. Media pendidikan yaitu media yang digunakan sebagai
alat dan bahan kegiatan pembelajaran. Dan jika media tersebut mengandung atau
membawa pesan atau informasi yang bertujuan instruksional/pengajaran maka media
itu disebut media pembelajaran.
Ciri-ciri umum dari batasan tentang media
pendidikan yang telah dirangkum dari pendapat beberapa ahli menurut (Azhar,
1997:6-7) sebagai berikut :
Landasan teoritis penggunaan media menurut
Dale (1969) tentang Dale’s cone of Experience (kerucut pengalaman
Dale)...........

Dasar pengembangan kerucut diatas
berdasarkan tingkat keabstrakan, jumlah jenis indera yang turut serta selama
penerimaan isi pengajaran atau pesan. Pengalaman langsung akan memberikan kesan
paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman
itu. Sampai dengan penyampaian pesan kedalam lambang-lambang seperti
bagan,grafik, atau kata akan semakin tinggi tingkat keabstrakannya. Tingkat partisipasi
fisik berkurang, namun tingkat imajinatif semakin bertambah dan berkembang.
Dijelaskan dalam diagram kerucut
pengalaman Dale yang memberi penekanan terhadap pentingnya media dalam
pendidikan. Secara umum media mempunyai kegunaan:
Selain itu, manfaat media
pembelajaran :
Dari uraian diatas media pembelajaran
merupakan salah satu faktor pendukung untuk mencapai kualitas pembelajaran yang
diharapkan.
Pokok
bahasan yang dipilih adalah dimensi tiga dengan sub pokok bahasan menentukan
jarak pada bangun ruang, seperti kubus, balok, dan limas. Materi ini diberikan
di kelas X semester dua. Adapun kompetensi dasar yang akan dicapai adalah:
1.Menentukan jarak dari titik ke garis.
2.Menentukan jarak dari titik ke bidang.
Untuk mengajarkan sub pokok bahasan ini ada beberapa hal yang harus di
persiapkan oleh guru :

Kerangka
Bangun Ruang


TALI MISTAR SIKU
DAN KARTON
(Gambar.1)
Sebelum
membahas masalah menentukan jarak pada bangun ruang, tahap pertama guru
membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk memahami terlebih dahulu tentang
garis tegak lurus bidang. Adapun media yang dipergunakan adalah karton dan
mistar siku.
Ambil sebuah karton dan
letakkan mendatar di atas meja belajar. Kemudian, ambil sebuah mistar siku dan
letakkan dalam posisi berdiri tegak di atas karton (perhatikan gbr 2). Misalkan,
karton merupakan bidang
dan kedudukan awal
mistar, yaitu BOA, dengan sudut BOA = 90 . Kita dapat mengatakan bahwa garis BO
berdiri tegak lurus terhadap bidang
. Selanjutnya, ubahlah kedudukan mistar terhadap karton
dengan memutar kedudukan A kedudukan A’, dengan O sebagai pusat. Anda akan
memperoleh garis BO tegak lurus terhadap garis OA’ ( BOA’ = 90 ) dan terletak pada bidang
. Jika kita putar kedudukan A’ ke kedudukan A’’ , akan
diperoleh garis BO tegak lurus terhadap garis OA’’ ( BOA’’ = 90 ) dan terletak pada bidang.
Demikian seterusnya.


![]()
( Gambar 2 )
Kegiatan ini berguna untuk peserta didik menemukan
tiga dalil sebagai berikut :
Dalil 1 : Jika sebuah garis tegak lurus pada
sebuah bidang, garis ini akan tegak lurus pada setiap garis yang terletak pada
bidang itu.
Dalil 2 :
Sebuah garis tegak lurus bidang, apabila garis tersebut sedikitnya tegak
lurus dengan dua garis yang berpotongan pada bidang
.
Dalil 3 : Jika salah satu dari dua buah garis
sejajar tegak lurus pada sebuah bidang, garis lainnya juga tegak lurus pada
bidang itu.
Setelah peserta didik memahami
tentang garis tegak lurus bidang. Kemudian guru membimbing dan mengarahkan peserta
didik untuk menemukan konsep/cara menentukan jarak titik ke garis. Di sini guru
berkesempatan memberikan pengalaman langsung pada peserta didik terhadap permasalahan
yang sesuai dengan situasi (contextual problem), melalui pengamatan langsung
pada kondisi ruang kelasnya. Dari sini
peserta digiring untuk mengenal jarak titik terhadap garis.
Menurut Marhen Kanginan dalam
bukunya Cerdas Belajar Matematika mendefinisikan jarak titik ke garis adalah :
” Jarak antara titik dan garis merupakan panjang
garis yang ditarik dari titik tersebut sampai memotong garis secara tegak lurus. Hal ini diambil karena
jarak tersebut merupakan jarak terdekat antara titik dan garis ”.
Perhatikan gambar 3. PA, PB
dan PC adalah garis-garis yang menghubungkan titik P dan garis g. PB adalah
garis yang ditarik dari P tegak lurus
pada garis g sehingga PB disebut jarak
dari titik P ke garis g. Q merupakan titik lain yang terletak pada garis g .
Adapun jarak titik Q ke garis g adalah nol.

( Gambar 3 )
Berdasarakan definisi tersebut,
tahap kedua guru menyiapkan media yang digunakan untuk menentukan jarak titik
ke garis. Dengan penggunaan media ini, secara tidak langsung guru telah
menggunakan benda tiruan yang dapat diamati secara langsung oleh peserta didik
dalam menentukan jarak titik ke garis. Media yang digunakan adalah : kerangka
kubus, kerangka balok dan kerangka limas , tali dan mistar siku. Kerangka
kubus, kerangka balok dan kerangka limas dipergunakan untuk memvisualisasikan
beberapa bangun ruang yang digunakan dalam bentuk nyata. Tali sangat berguna
sekali untuk memvisualisasikan garis lurus yang dapat dibentuk/ditarik dari
titik tertentu. Tali juga elastis sifatnya sehingga jika ditarik akan kencang
dan lurus. Sedangkan mistar siku digunakan untuk membantu memvisualisasikan
titik tegak lurus garis.
Sekarang akan kita praktekkan
cara penggunaan media tersebut, dari contoh soal yang sederhana berikut ini.
Contoh soal : Diketahui kubus ABCD.EFGH , AB = 4 cm.
Tentukan jarak titik A ke garis BD.
Penyelesaian : Tanpa menggunakan media
Dari contoh soal yang sederhana
ini, tanpa menggunakan media peserta didik masih kesulitan dan salah dalam
menentukan jarak titik A ke garis BD. Sebagian besar mereka menjawab jarak
titik A ke garis BD adalah : AD atau AB. Hal ini dimungkinkan karena tidak
adanya media sebagai alat bantu mereka dalam mengamati bangun ruang secara
nyata. Seperti terlihat pada gambar 4.

( Gambar 4 )
Penyelesaian : Dengan menggunakan media
Sekarang kita selesaikan soal tersebut dengan menggunakan media yang disediakan.
Pertama ambil kerangka kubus,
kemudian amati titik A yang ditentukan. Selanjutnya buatlah garis BD dengan
mempergunakan tali, ikat ujung B dan
ujung D dengan tali sehingga kencang dan lurus.Maka terbentuklah garis BD.
Kemudian peserta didik dapat mengamati dari titik A ke garis BD untuk membuat/menarik
tali dari titik A tegak lurus garis BD. Untuk membantu terbentuknya garis
melalui titik A tegak lurus garis BD digunakanlah mistar siku. Sehingga
diperoleh garis melalui/ditarik dari
titik A tegak lurus garis BD berpotongan ditengah-tengah garis BD
(terlihat pada gbr 5). Katakanlah titik potong itu titik O. Sehingga jika AO di
perpanjang akan tepat memotong di titik C. Akhirnya diperoleh jarak titik A ke
garis BD adalah AO. Langkah berikutnya tinggal menghitung berapa panjang garis
AO tersebut.

( Gambar 5 )
Berikutnya , setelah peserta
didik memahami betul cara menentukan jarak titik ke garis, guru membimbing dan
mengarahkan peserta didik untuk memahami konsep jarak titik ke bidang. Langkah
pertama guru menggiring peserta didik melakukan pengamatan terhadap ruang
kelasnya. Dari sini guru dapat menanyakan hal-hal yang berkaitan tentang
tentang jarak titik terhadap bidang. Mulai mengenalkan mana yang merupakan
titik dan mana yang merupakan bidang. Dari sini guru mulai menggiring peserta
didik dalam menentukan jarak titik ke bidang.
Menurut Marhen Kanginan dalam
bukunya ”Cerdas Belajar Matematika” mendefinisikan jarak titik ke bidang
sebagai berikut :
” Jarak titik ke bidang merupakan panjang ruas
garis yang ditarik dari suatu titik sampai memotong tegak lurus suatu bidang ”.
Misalkan, kita akan menentukan
jarak titik T yang terletak di luar bidang
ke bidang
. Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut
:
Untuk titik yang terletak pada
bidang, misalnya titik P yang terletak pada bidang
, jarak titik ke bidang adalah nol.

( Gambar 6 )
Berikut ini akan diberikan
sebuah contoh soal dalam menentukan jarak titik ke bidang.
Contoh soal :
Diketahui kubus ABCD.EFGH dengan panjang AB = 4 cm. Titik P tengah-tengah garis
EH. Tentukanlah jarak titik P ke bidang BDG.
Penyelesaian : Tanpa
menggunakan media
Setelah peserta didik
menggambarkan bangun ruang kubus ABCD.EFGH dan meletakkan titik P pada
tengah-tengah garis EH. Lalu peserta didik menggambarkan bidang BDG. Peserta
didik sangat kesulitan sekali dalam menentukan jarak titik P pada bidang BDG.
Terutama dalam menentukan garis lurus yang ditarik dari titik P tegak lurus
bidang BDG. Hal ini dikarenakan tidak adanya media yang dapat diamati secara
nyata oleh peserta didik, sehingga membantu peserta didik dalam memvisualisasikan
jarak titik P ke bidang BDG (perhatikan gbr.7).

( Gambar 7 )
Penyelesaian : Dengan
menggunakan media
Sekarang kita akan mencoba
menyelesaikan soal tersebut dengan menggunakan media yang telah disediakan.
Pertama-tama ambil kerangka
kubus, lalu tentukan titik P dan buat bidang BDG dengan mengikat ujung-ujung
titik B, titik D dan titik G dengan tali secara kencang, sehingga terbentuk
bidang BDG berupa segitiga sama sisi BDG. Pada bidang BDG ini, kita buat garis
lurus-garis lurus dengan tali sehingga akan terlihat jelas bidang BDG (terlihat
pada gbr.8a). Selanjutnya kita membuat/menarik garis lurus dari titik P
sehingga tegak lurus dengan dua garis yang berpotongan pada bidang BDG.
Katakanlah titik potongnya titik O. Dengan menggunakan mistar siku, kita dapat
mengamati bahwa garis lurus yang ditarik dari titik P tegak lurus dengan dua
garis yang berpotongan pada bidang BDG (perhatikan gbr.8b). Sehingga diperoleh
jarak titik P ke bidang BDG yaitu garis PO. Kemudian baru kita dapat menghitung
panjang garis PO tersebut.


( Gambar 8a ) (
Gambar 8b )
Dari uraian dan contoh-contoh
soal diatas, dalam pembelajarannya nanti penggunaan media dalam menentukan
jarak pada bangun ruang ini, dapat diselaraskan/dituangkan pada RPP (Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran) dan LKS (Lembar Kegiatan Siswa) yang telah disiapkan.
Mudah-mudahan dengan menggunakan media pembelajaran
dalam menentukan jarak pada bangun ruang ini, peserta didik akan lebih mudah dan
pandai menentukan jarak titik ke garis dan jarak titik ke bidang. Akhirnya
dengan menggunakan media pembelajaran dalam menentukan jarak pada bangun ruang,
akan terwujud pembelajaran yang interaktif antara guru dan peserta didik. Sehingga
terbentuk pembelajaran matematika yang berkwalitas dan dapat mengembangkan
potensi peserta didik dalam mencapai kompetensi dasar yang diharapkan.
Simpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan :
Daftar Pustaka
_______. Undang-undang
SISDIKNAS 2003 ( UU RI NO.20 TH.2003). Jakarta : Sinar Grafika. 2006.
Budiarto,Mega Teguh dkk, 2004. Matematika (Materi Pelatihan Terintegrasi)
: Jakarta.
Darhim, 1986.
Media dan Sumber Belajar Matematika. Jakarta : Karunika Jakarta Universitas Terbuka.
Heinich, R.
Molenda, M. Russlell, James D. Smaldino, Sharon E. 1996. Instructional Media and Technologies for learning. Prentice-Hall,
Inc.
Mulyasa, 2005. Menjadi Guru Profesional ; Menciptakan
Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan.
http://www.pustekkom.go.id/bahanajar/mat.pdf/Mat.15/09.pdf diakses tanggal
http://www.pustekkom.go.id/bahanajar/mat.pdf/Mat.15/10.pdf diakses tanggal
Kanginan, Marthen. Cerdas Belajar Matematika