Analisis Inflasi Sumatera Utara 1980-2000

Oleh : Edy Sahputra Sitepu

ABSTRAK: Penelitian ini merupakan sebuah penelitian yang ingin mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi di Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan data sekunder, kemudian di analisis dengan metode ordinary least square (OLS). Adapun alat bantu dalam mengolah data sekunder ini adalah Program Eviews 3.0. Dengan menggunakan data time series untuk rentang waktu 1980-2000. Hasil penelitian menemukan bahwa Inflasi Sumut dipengaruhi oleh pengeluaran pemerintah, investasi, jumlah kredit yang disalurkan bank umum, ekspor neto, kurs (Rp/US$) dan ekspektasi masyarakat.Dari sejumlah variabel tersebut, secara umum hasil estimasi memperlihatkan bahwa total pengeluaran pemerintah, kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum, eskpor neto dan kurs rupiah terhadap US$ mempunyai pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap perkembangan inflasi  di Sumut. Sedangkan soal investasi dan inflasi  tahun sebelumnya tidak memberikan pengaruh signifikan secara statistik. 

KATA KUNCI: Inflasi, pengeluaran pemerintah, investasi, kredit, ekspor netto, kurs  dan ekspektasi masyarakat.

LATAR BELAKANG:

Setiap negara di dunia, baik negara maju maupun negara berkembang  sangat mendambakan stabilitas ekonomi. Sebab stabilitas ekonomi merupakan prasyarat bagi hadirnya stabilitas sosial dan stabilitas politik. Dengan kata lain tanpa stabilitas ekonomi, sangat sulit menciptakan stabilitas sosial dan stabilitas politik. Stabilitas ekonomi justru menjadi pilar penting yang menunjang proses realisasi rencana-rencana pembangunan. Untuk dunia investasi misalnya, investor tidak akan tertarik menanamkan modalnya di suatu negara yang kondisi ekonominya tidak stabil. Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat kondisi Indonesia sendiri, pasca krisis 1998. Krisis ekonomi telah mengakibatkan perekonomian nasional menjadi sangat tidak stabil, ini ditandai dengan terus terdepresiasinya rupiah hingga di atas Rp 15.000/US$, sementara di sisi lain, inflasi terus merangkak naik menembus level 80%.

Uraian di atas semakin menegaskan tentang pentingnya stabilitas ekonomi. Hanya dengan kondisi yang stabil investor akan tertarik untuk menginvestasikan dananya di suatu negara. Sehingga akan tercipta pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, lapangan kerja yang banyak, dan tersedia barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Stabilitas ekonomi suatu negara di antaranya tercermin dari adanya stabilitas harga, dalam arti tidak terdapat gejolak harga yang besar yang dapat merugikan masyarakat, baik konsumen maupun produsen dan merusak sendi-sendi perkonomian. Gejolak harga atau naiknya harga-harga secara umum dan terus menerus oleh para ahli ekonomi moneter disebut sebagai inflasi (Samuelson, 1989:296).

Bagi Indonesia inflasi merupakan penyakit ekonomi makro yang selalu merugikan perekonomian Indonesia sejak merdeka. Pada tahun 1966 sejarah Indonesia juga telah mencatat, bagaimana inflasi menjadi suatu penyakit ekonomi yang sangat ditakuti, yaitu mencapai triple digits inflations sebesar 650% tersebut menunjukkan betapa tragisnya perekonomian Indonesia saat itu. Sejak awal PJPT I sampai PJPT II pemerintah Orde Baru telah berupaya dengan berbagai kebijaksanaan anti inflasi untuk menjaga jangan sampai penyakit ekonomi tahun 1966 tersebut terulang kembali. Walupun demikian perekonomian Indonesia tetap saja dibebani oleh tingkat inflasi yang tinggi. Data menunjukkan bahwa rata-rata inflasi era sebelum pembangunan lima tahun dilaksanakan mencapai 284,7%. Sedangkan pada Pelita I rata-rata inflasi adalah 14,9%, Pelita II sebesar 19,7%, Pelita III sebesar 13,2%, Pelita IV sebesar 7,3% dan Pelita V sebesar 8,0%. Kemudian pada tahun ke dua Pelita VI inflasi kembali naik menjadi 8,6%. Bahkan pada krisis ekonomi 1997-1998 tingkat inflasi membengkak hingga level sekitar 80% (Jambak, 1998:49).

Besarnya inflasi yang terjadi di Indonesia menurut Hermanto (1990:34) mempunyai dampak pada kesenjangan distribusi pendapatan, berkurangnya tabungan pemerintah, defisit neraca perdagangan dan ketidakstabilan politik. Berkaitan dengan itu, hingga saat ini Sumatera Utara  masih bergelut dengan dua masalah pokok yang sangat merisaukan, yaitu tingginya angka pengangguran dan tidak stabilnya harga-harga. Pengangguran di Sumatera Utara mencapai 426.000 orang, sebagian merupakan pengangguran tidak terdidik, sebagian lagi merupakan pengangguran terdidik. Pengangguran selain bersifat struktural juga merupakan akibat dari fluktuasi permintaan agregat, khususnya investasi dan ekspor. Pertumbuhan ekonomi yang tidak selaju pertumbuhan angkatan kerja pada gilirannya akan memperparah angka pengangguran.

Di sisi lain, stabilitas harga juga merupakan barometer stabilitas pertumbuhan ekonomi riil karena inflasi yang dapat dikendalikan menjamin peningkatan daya beli masyarakat dari waktu ke waktu. Tetapi harga-harga di Sumatera Utara juga sangat fluktuatif. Pada waktu-waktu tertentu, harga-harga kebutuhan pokok naik dan turun tergantung pasokan (supply). Beras dan telur misalnya pada waktu-waktu tertentu didatangkan dari luar daerah atau luar negeri. Dengan permintaan yang tidak berubah, maka demand pull inflation dapat terjadi. Tetapi karena sebagian industri pengolahan juga menggunakan bahan baku impor, maka imported inflation juga merupakan gejala yang selalu mungkin terjadi di Sumatera Utara. Selain itu juga kenaikan harga-harga karena kenaikan biaya produksi di dalam negeri (cost push inflation), misalnya karena kenaikan harga BBM (Nazamuddin, 2001 : 102).

Dengan demikian, inflasi yang besar dapat menimbulkan dampak negatif terhadap perekonomian. Oleh karena itu perlu diupayakan jangan sampai penyakit ekonomi itu menjadi penghambat bagi pembangunan yang sedang dilaksanakan. Untuk itu perlu dicari jalan keluarnya dengan melakukan identifikasi terhadap variabel-variabel yang mempengaruhi inflasi tersebut. Berkaitan dengan kondisi riil perkembangan inflasi baik dalam lingkup Indonesia tersebut, penulis merasa sangat tertarik untuk melakukan kajian tentang inflasi dalam konteks wilayah Sumatera Utara, khususnya mengkaji lebih jauh tentang faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi di Sumatera Utara. Masalah inflasi masih menjadi salah satu masalah utama dalam perekonomian Indonesia.

Berbagai upaya dan kebijakan telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut. Berpijak dari sejumlah teori umum tentang inflasi seperti Klasik, Keynes, Moneterisme, pandangan ekspektasi masyarakat, tentu kajian tentang inflasi menjadi sangat luas, dan memungkinkan untuk dipandang dari berbagai sisi. Pandangan Klasik misalnya melihat bahwa faktor utama yang mempengaruhi inflasi adalah jumlah uang beredar dan kredit. Pandangan ini oleh Keynes kemudian dilengkapi, yakni dengan menambahkan  beberapa variabel seperti pengeluaran pemerintah, suku bunga dan investasi. Sehingga pandangan Keynes mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi, lengkapnya terdiri dari jumlah uang beredar, pengeluran pemerintah, suku bunga dan investasi.

Kedua pandangan baik Klasik maupun Keynes kemudian oleh kelompok Moneterisme  direduksi menjadi sebuah analisis yang lebih komperhensif, dengan melihat inflasi dari sisi kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah, yakni kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Sehingga inflasi kemudian dapat diturunkan  dengan cara menahan dan menghilangkan kelebihan permintaan melalui kebijakan moneter dan fiskal yang bersifat kontraktif, atau melalui kontrol terhadap peningkatan upah serta penghapusan terhadap subsidi. Selanjutnya pandangan tentang inflasi disempurnakan dengan munculnya teori ekspektasi, yang mengungkapkan bahwa para pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi rasional. Berbagai teori ini lebih jauh akan dipaparkan pada berikutnya.

Dengan berpijak dari keempat teori dasar tentang inflasi tersebut berbagai penelitian telah dilakukan di banyak negara. Namun jika diklasifikasikan secara umum ada dua sudut pandang dalam melihat faktor-faktor inflasi yakni, dari sisi permintaan (demand) dan sisi penawaran (supply). Hal inilah yang kemudian memunculkan pandangan-pandangan tentang penyebab inflasi seperti policy induced inflation (inflasi karena faktor kebijakan), cost push inflation (inflasi karena kenaikan biaya), demand pull inflation (inflasi karena tarikan permintaan) dan inertial inflation sebagai core inflation.

PERUMUSAN MASALAH:

Terkait dengan uraian di atas dan untuk melihat batasan yang jelas, penelitian ini akan diarahkan untuk melihat inflasi dari sisi permintaan (demand side). Dimana sejumlah hasil penelitian yang telah dilakukan di dalam negeri maupun di luar negeri menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari ; total pengeluaran pemerintah (X1), total investasi (X2), jumlah kredit yang disalurkan bank umum (X3) kepada masyarakat, ekspor netto (X4), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (X5), dan ekspektasi masyarakat terhadap inflasi (X6) di Sumatera Utara. Dikaitkan dengan kondisi Sumatera Utara, penulis lebih jauh ingin mengetahui :

  1. Apakah total pengeluaran pemerintah (X1) berpengaruh terhadap inflasi di Sumatera Utara?

  2. Apakah total investasi (X2) berpengaruh terhadap inflasi Sumatera Utara?

  3. Apakah kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3) berpengaruh terhadap inflasi di Sumatera Utara?

  4. Apakah ekspor netto (X4) berpengaruh terhadap inflasi di Sumatera Utara?

  5. Apakah  nilai tukar rupiah (X5) terhadap dolar AS berpengaruh terhadap inflasi di Sumatera Utara?

  6. Apakah ekspektasi masyarakat (X6) berpengaruh terhadap inflasi di Sumatera Utara?

TUJUAN PENELITIAN: (1) Untuk mengetahui berapa besar pengaruh total pengeluaran pemerintah (X1)  terhadap inflasi di Sumatera Utara.(2)  Untuk mengetahui berapa besar pengaruh total investasi (X2) terhadap inflasi Sumatera Utara. (3) Untuk mengetahui berapa besar pengaruh jumlah kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3) terhadap inflasi di Sumatera Utara. (4).Untuk mengetahui berapa besar pengaruh ekspor netto (X4) terhadap inflasi di Sumatera Utara. (5). Untuk mengetahui berapa besar pengaruh nilai tukar rupiah per dolar AS (X5)  terhadap inflasi di Sumatera Utara. (6).Untuk mengetahui berapa besar pengaruh ekspektasi masyarakat (X6) terhadap inflasi di Sumatera Utara.

MANFAAT PENELITIAN: Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut: (1).Menambah khasanah ilmu pengetahuan, khususnya tentang inflasi di Sumatera Utara. (2).Bahan pertimbangan dan masukan bagi pemerintah dalam menetapkan menanggulangi inflasi di Sumatera Utara. (3). Sebagai masukan bagi peneliti lain yang berminat meneliti dan mengkaji persoalan yang terkait dengan inflasi di Sumatera Utara.

KERANGKA TEORITIS:Berkaitan dengan  urgensi  teori  dalam  aplikasi penelitian dan penyusunan hipotesis maka penulis mengambil beberapa teori umum berkenaan   dengan inflasi. Milton Friedman seorang ekonom besar yang memenangkan hadiah nobel dalam ilmu ekonomi pada tahun 1976 agaknya lebih cenderung memandang bahwa inflasi merupakan bagian dari ekonomi moneter, sebagaimana diungkapkannya dalam sebuah tulisannya, bahwa “Inflasi selalu dan dimana pun merupakan fenomena moneter,” (Mankiw, 2000:154).

Analisis ekonomi dan kebijakan ekonomi terhadap inflasi sejak tahun 1970-an dapat dibedakan menjadi dua kelompok aliran, yakni Keynesian dan Monetaris. (Prawirohardjono, 1988:35). Meskipun demikian dalam beberapa literatur juga disebutkan versi yang berbeda, dimana  aliran inflasi dibagi menjadi, Klasik, Keynesian, Moneterisme, dan Ekspektasi.

Teori inflasi Klasik berpendapat bahwa tingkat harga terutama ditentukan oleh jumlah uang beredar, yang dapat dijelaskan melalui hubungan antara nilai uang dengan jumlah uang, serta nilai uang dan harga. Bila jumlah uang bertambah lebih cepat dari pertambahan barang maka nilai uang akan merosot dan ini sama dengan kenaikan harga. Jadi menurut Klasik, inflasi berarti terlalu banyak uang beredar atau terlalu banyak kredit dibandingkan dengan volume transaksi maka obatnya adalah membatasi jumlah uang beredar dan kredit (Gilarso, 1986:390). Pendapat Klasik tersebut lebih jauh dapat dirumuskan sebagai berikut :

Inflasi = f(jumlah uang beredar, kredit)

Teori inflasi Keynes mengasumsikan  bahwa perekonomian sudah berada pada tingkat full employment. Menurut Keynes kuantitas uang tidak berpengaruh terhadap tingkat permintaan total, karena suatu perekonomian dapat mengalami inflasi walaupun tingkat kuantitas uang tetap konstan. Jika uang beredar bertambah maka harga akan naik.  Kenaikan harga ini akan menyebabkan bertambahnya permintaan uang untuk transaksi, dengan demikian akan menaikkan suku bunga. Hal ini akan mencegah pertambahan permintaan untuk investasi  dan akan melunakkan tekanan inflasi.

Analisa Keynes mengenai inflasi permintaan dirumuskan berdasarkan konsep inflationary gap. Menurut Keynes, inflasi permintaan yang benar-benar penting adalah yang ditimbulkan oleh pengeluran pemerintah, terutama yang berkaitan dengan peperangan, program investasi yang besar-besaran dalam kapital sosial (Ackly, 1973:534). Dengan demikian pemikiran Keynes tentang inflasi dapat dirumuskan menjadi :

Inflasi = f(jumlah uang beredar, pengeluaran pemerintah, suku bunga, investasi)

Teori inflasi Moneterisme berpendapat bahwa, inflasi timbul disebabkan oleh kebijaksanaan moneter dan fiskal yang ekspansif, sehingga jumlah uang beredar di masyarakat sangat berlebihan. Kelebihan uang beredar di masyarakat akan menyebabkan terjadinya kelebihan permintaan barang dan jasa di sektor riil. Menurut golongan moneteris, inflasi dapat diturunkan dengan cara menahan dan menghilangkan kelebihan permintaan melalui kebijakan moneter dan fiskal yang bersifat kontraktif, atau melalui kontrol terhadap peningkatan upah serta penghapusan terhadap subsidi atas nilai tukar valuta asing. Sehingga teori inflasi menurut Moneterisme dapat dinotasikan sebagai berikut :

Inflasi = f(kebijakan moneter ekspansif, kebijakan fiskal ekspansif)

Teori Ekspektasi, menurut Dornbusch (1994:470) bahwa pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi rasional. Ekspektasi rasional adalah ramalan optimal mengenai masa depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian rasional adalah suatu tindakan yang logik untuk mencapai tujuan berdasarkan informasi yang ada. Artinya secara sederhana teori ekspektasi dapat dinotasikan menjadi :

Inflasi = f(ekspektasi adaftif,ekspektasi rasional)

Inflasi sendiri didefenisikan sebagai kondisi apabila tingkat harga-harga dan biaya-biaya umum naik, harga beras, bahan bakar mobil, tingkat upah, harga tanah, sewa barang-barang modal juga mengalami kenaikan. Kebalikannya adalah deflasi dimana harga-harga dan biaya-biaya secara umum turun. (Samuelson, 1989:196).

Sedangkan Lerner (Gunawan, 1991:1)  mendefenisikan inflasi sebagai suatu keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (excess demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian, secara keseluruhan dan terus-menerus. Kelebihan permintaan tersebut dapat diartikan ganda yaitu, pengeluaran yang diharapkan terlalu banyak dibandingkan dengan barang yang tersedia, atau barang yang tersedia terlalu sedikit bila dibandingkan dengan tingkat pengeluaran yang diharapkan.

PENELITIAN TERDAHULU:

1.  Uma Ranakrishnan dan Athanasios Vamvakidis (2002), dalam sebuah jurnal IMF (Internasional Monetary Fund)  berjudul Forecasting Inflation in Indonesia, memaparkan sebuah model untuk meramalkan inflasi di Indonesia secara lebih akurat. Penelitian ini menggunakan data time series 1980-2000, hasil estimasi menunjukkan perubahan nilai tukar secara statistik memberikan pengaruh yang signifikan terhadap inflasi, jika rupiah terdepresiasi 1% akan meningkatkan inflasi secara kumulatif lebih dari 0,3%. Inflasi di luar negeri juga memberikan pengaruh signifikan, jika inflasi di luar negeri naik 1% maka akan meningkatkan inflasi di Indonesia lebih dari 0,6%. Demikian pula dengan jumlah uang beredar, meskipun memberikan kontribusi kecil tetapi tetap memiliki arti yang signifikan, dalam hal ini jika jumlah uang beredar naik 1% maka akan mengakibatkan inflasi naik 0,04%. Sementara itu, perubahan upah minimum, tingkat produktivitas, tingkat suku bunga, dan output gap  secara statistik tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap inflasi.

2.  Prakash Laungani dan Phillip Swagel (2001) melakukan penelitian dengan menggunakan data time series 53 negara tahun 1964 – 1998 untuk  menguji sebuah model mengenai sumber-sumber inflasi di negara-negara berkembang. Adapun varibel-variabel yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah : pertumbuhan harga minyak, pertumbuhan harga komoditi selain minyak, gap output, pertumbuhan uang beredar, pergerakan nilai kurs.

Penelitian ini secara umum memberikan beberapa kontribusi, dimana ditemukan bahwa sumber-sumber inflasi cukup bermacam-macam (berbeda) untuk negara-negara Afrika dan Asia. Variabel fiskal direfleksikan oleh pertumbuhan jumlah uang beredar dan nilai kurs. Selain itu   faktor harga minyak, harga komoditi selain minyak dan output gap juga sangat   berpengaruh (Loungani dan Sagel , 2001:13).

3.  Sementara itu, Djambak (1998) dalam sebuah tulisan berjudul “Inflasi di Indonesia” menggunakan variabel-variabel sebagai berikut sebagai faktor yang mempengaruhi   inflasi di Indonesia.  Beberapa faktor tersebut antara lain ; jumlah uang beredar (M1), velositas uang (V), kurs (Kr), dan ekspektasi inflasi (Pe). Berdasarkan hasil estimasi, dalam penelitian tersebut, ada tiga variabel secara statistik signifikan, yaitu variabel ekspektasi masyarakat (Pe) terhadap inflasi, jumlah uang beredar (M1), dan kecepatan peredaran uang (V), sedangkan variabel kurs dollar AS terhadap rupiah (Kr) tidak signifikan.

4.  Ilker Domac (1998:29) dalam tulisannya berjudul The Main Determinants of Inflation in Albania menguraikan, bahwa penelitiannya meguji proses inflasi di Albania dengan menggunakan tiga alternatif pendekatan. Pendekatan pertama adalah mengkomposisikan inflasi pada empat komponen ; menurut musim, berdasarkan siklus, trend dan secara acak. Pendekatan kedua bersandar secara mendalam berdasarkan test hubungan kausalitas  Granger dengan menggunakan data non agregat pada indeks harga konsumen (IHK) dan beberapa variabel ekonomi kunci. Akhirnya, pendekatan ketiga adalah dengan menggunakan teknik co-integration dan error corection model. Dari hasil analisis pendekatan pertama, disimpulkan bahwa inflasi menunjukkan pola musiman yang kuat dipengaruhi oleh musim tanam. Hasilnya menunjukkan bahwa posisi puncak dan hingga kembali ke posisi semula dari agregat moneter berhubungan dengan inflasi dengan jangka waktu lag selama dua bulan.  Tingkat nilai tukar juga menunjukkan musiman/posisi yang stabil.Hasil dari test kausalitas Granger mengindikasikan bahwa M1 dan nilai tukar memiliki nilai prediktif penting untuk hampir semua item CPI.  Sebagai tambahan, penemuan lebih lanjut menunjukkan bahwa pinjaman pemerintah adalah prediksi yang baik untuk melihat kesehatan, komunikasi dan harga transportasi. 

5.  Kusumayadi (1998) melakukan analisis faktor yang mempengaruhi inflasi dengan menggunakan variabel-variabel seperti, pengeluaran pemerintah (G), jumlah uang beredar (Ms) dan tingkat suku bunga (i). Hasil estimasi yang diperoleh menyimpulkan bahwa ketiga variabel tersebut signifikan mempengaruhi inflasi. Pengeluaran pemerintah berpengaruh positif terhada inflasi dengan tingkat kepercayaan 99%. Dengan kata lain jika pengeluaran pemerintah bertambah Rp 1 miliar, mengakibatkan tingkat inflasi naik 27%. Jumlah uang beredar berpengaruh positif terhadap inflasi, dengan kata lain kalau jumlah uang beredar bertambah Rp 1 miliar mengakibatkan tingkat inflasi naik 15% (signifikan pada tingkat kepercayaan 99%). Tingkat suku bunga mempengaruhi inflasi secara negatif, dimana ketka tingkat suku bunga bertambah 1% mengakibatkan tingkat inflasi turun 11% (signifikn pada tingkat kepercayaan 99%).   

6.  Nazamuddin (2001) dengan penelitian berjudul Model Struktural Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Regional Sumatera Utara.Hasil estimasi yang diperoleh berkaitan dengan inflasi menjelaskan variasi dalam INFK dengan proporsi yang baik . Probability mengindikasikan bahwa semua variabel seperi total pengeluaran pemerintah (TPP), jumlah kredit yang disalurkan bank umum (KBU) dan PDRB93. Inflasi kumulatif sangat dipengaruhi oleh PDRB93 dan ini konsisten dengan hasil estimasi PDRB93 yang menunjukkan hubungan terbalik antara tingkat harga dan output regional. Pergeseran kurva  AD dapat dilihat dari koefisien positif dari total pengeluaran pemerintah (TPP) dan jumlah kredit yang disalurkan. Hal ini mengandung arti bahwa ekspansi fiskal dan moneter regional selain berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi regional Sumatera Utara, juga berdampak inflasioner.

1. Dalam sebuah penelitian Bennedict Braumann pada Jurnal International Monetery Fund (IMF) yang diterbitkan tahun 2000 lalu, berjudul Real Effects of High Inflation, dipaparkan bahwa inflasi memiliki delapan pengaruh negatif terhadap perekonomian di suatu negara. Setidaknya hal ini diperoleh Bennedict dari penelitiannya terhadap Ghana, Mexico dan Costa Rica dimana negara-negara ini kerap dililit inflasi yang tinggi. Kedelapan efek negatif tersebut antara lain, penurunan tajam pada nilai uang riil, dampak negatif terhadap pertumbuhan output, penurunan pada konsumsi swasta, penurunan tajam pada investasi, pengaruh negatif pada ketenagakerjaan, penurunan tajam pada upah riil, penurunan pada tingkat harga-harga beberapa barang dan perbaikan pada neraca perdagangan dan jasa.  

Hipotesis Penelitian: Berdasarkan perumusan masalah dan beberapa kajian empiris yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut : (1).Total pengeluaran pemerintah (X1) berpengaruh positif terhadap inflasi di Sumatera Utara, ceteris paribus.(2).Total nilai investasi (X2) berpengaruh positif terhadap inflasi di Sumatera Utara, ceteris paribus. (3). Jumlah kredit yang disalurkan bank umum (X3) berpengaruh positif  terhadap inflasi di Sumatera Utara, ceteris paribus. (4). Ekspor netto (X4)  berpengaruh positif terhadap inflasi di Sumatera Utara, ceteris paribus.(5).Nilai kurs rupiah per dolar AS (X5)  berpengaruh positif terhadap inflasi di Sumatera Utara, ceteris paribus. (6).Ekspektasi masyarakat (X6)  berpengaruh positif terhadap inflasi di Sumatera Utara, ceteris paribus.

RUANG LINGKUP: Penelitian ini merupakan kajian tentang inflasi Sumatera Utara melalui model ekonometrik sederhana. Penelitian ini akan mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi di Sumatera Utara, seperti total pengeluaran pemerintah, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor netto, jumlah kredit yang disalurkan bank umum, nilai kurs rupiah per dolar AS dan ekspektasi masyarakat yang direfresentasikan oleh tingkat inflasi tahun sebelumnya. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersifat kuantitatif runtut waktu (time series) mulai dari tahun 1980 sampai dengan tahun 2000. Selanjutnya data yang ada akan diestimasi dengan menggunakan metode ekonometrik yang mengacu pada literatur ekonomi seperti Gujarati (1995), Nakhrowi (2002), Arief (1993) dan lain-lain.

DATA: Data yang digunakan adalah data runtut waktu (time series) yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sumatera Utara, Bank Indonesia (BI) Medan, dan sumber-sumber lain, yaitu jurnal-jurnal dan hasil-hasil penelitian dan kemudian diolah sesuai kebutuhan estimasi model. Data yang dikumpulkan mencakup semua variabel yang relevan untuk keperluan estimasi selama kurun waktu 1980-2000.

Model Analisis

Untuk mengetahui hasil dari penelitian ini, akan digunakan perhitungan analisis regresi dengan menggunakan model sebagai berikut : It =  β0  + β1  X1t + β2   X2t + β3  X3t + β4  X4t + β5 X5t + β 6 X6t-1 + ut..............................(1)

Di  mana : I= laju inflasi di Sumatera Utara , X1= pengeluaran pemerintah Sumatera Utara , X2= total investasi di Sumatera Utara , X3= jumlah kredit yang disalurkan bank umum di Sumatera Utara, X4= ekspor netto (selisih antara ekspor dikurangi dengan impor) di Sumatera Utara, X5= nilai tukar kurs rupiah terhadap dolar AS di Sumatera Utara , X6= inflasi tahun sebelumnya di Sumatera Utara , ut= error term , β0 = konstanta . Kemudian sesuai kebutuhan penelitian model tersebut ditransformasikan dengan transformasi yang biasa digunakan pada data time series, menjadi :

It-1 = β0 + β1X1t-1 + β2X2t-1 + β3X3t-1 + β4X4t-1 + β5X5t-1 + β6X6t-1 + ut-1.............................................(2) 

I-It-1 = β1(X1t-X1t-1) + β2(X2t-X2t-1)  + β3(X3t-X3t-1) + β4(X4t-X4t-1)  + β5(X5t-X5t-1) + β6(X6t-X6t-1) + (ut-ut-1) ....(3)

It* = β0* + β1X1t* + β2X2t* + β3X3t* + β4X4t* + β5X5t* + β6X6t* + ut* .................................................(4)

VARIABEL PENELITIAN: Variabel terikat (dependent variabel) adalah tingkat inflasi di Sumatera Utara (I), sedangkan variabel bebasnya (independent variabel) adalah total pngeluaran pemerintah Sumatera Utara dalam satuan jutaan rupiah  (X1), total investasi baik PMA maupun PMDN dalam satuan jutaan rupiah (X2), jumlah kredit yang disalurkan bank-bank umum di Sumatera Utara dalam satuan jutaan rupiah (X3) dan ekspor bersih Sumatera Utara dalam satuan jutaan rupiah (X4), nilai tukar rupiah per dolar AS dalam satuan jutaan rupiah (X5) dan inflasi tahun sebelumnya (X6).

BATASAN OPERASIONAL: Untuk memudahkan pemahaman terhadap istilah dan variabel yang digunakan dalam penelitian ini maka, perlu diberikan batasan operasional sebagai berikut : I= tingkat inflasi kumulatif tahunan Sumatera Utara (dalam persen), X1= total pengeluaran pemerintah yang merupakan penjumlahan antara pengeluaran rutin dengan pengeluaran pembangunan (dalam Rp juta). X2 = total investasi di Sumatera Utara merupakan penjumlahan antara PMA dan PMDN (dalam Rp juta), X3= jumlah kredit yang disalurkan bank umum di Sumatera Utara (dalam Rp juta), X4= ekspor netto merupakan selisih antara ekspor dikurangi dengan impor di Sumatera Utara (dalam Rp juta), X5=  nilai kurs rupiah per dolar AS rata-rata pertahun (dalam Rp.), X6= inflasi tahun sebelumnya atau inflasit-1 (dalam persen).

METODEK ANALISIS: Penelitian ini menggunakan  data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik Sumatera Utara dan Bank Indonesia Medan, untuk kemudian di analisis dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Adapun alat bantu dalam mengolah data sekunder ini adalah Program Eviews 3.0.

HASIL DAN PEMBAHASAN

INFLASI DI SUMUT: Sebagaimana lazimnya inflasi, inflasi yang ada di Sumatera Utara adalah pergerakan harga-harga umum yang sifatnya stationary. Inflasi bukan merupakan trend, melainkan gerakan naik turunnya harga-harga umum akibat perubahan-perubahan variabel yang mempengaruhi, yang umumnya terkait erat dengan meningkatnya jumlah uang beredar. Kenaikan jumlah uang beredar dalam perkonomian Sumatera Utara dapat  terjadi karena meningkatnya pengeluaran agregat yang dipicu oleh ekspansi kredit (ekspansi moneter secara umum) dan peningkatan pengeluaran pemerintah.

Berdasarkan hasil observasi dari data perkembangan inflasi di Sumatera Utara, yang dihimpun penulis dari BPS, dapat diketahui bahwa Sumatera Utara memiliki perkembangan harga-harga yang relatif stabil.  Hal itu ditandai dengan laju inflasi yang senantiasa berada di bawah dua digit untuk jangka waktu lama. Tentu saja dalam beberapa kasus tertentu, ada pengecualian, seperti yang terjadi pada tahun 1983, 1986, 1988. Pada tahun-tahun tersebut inflasi menembus angka dua digit. Kondisi yang paling parah adalah ketika tahun 1998, tatkala perekonomian nasional terpuruk dalam krisis moneter. Pada saat itu inflasi mencapai angka tertinggi yakni 83,81%. Inflasi pada tahun 1998 sendiri lebih banyak disebabkan oleh imported inflation, karena depresiasi rupiah yang besar selama 1997-1998. Pada tahun tersebut banyak perusahaan industri mengalami kenaikan biaya produksi.

Selanjutnya seiring dengan kebijakan-kebijakan stabilisasi yan dilakukan secara nasional, misalnya pengetatan jumlah uang beredar (tight money politic), menurunkan suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia), maka inflasi Sumatera Utara turun drastis dari 83,81% pada tahun 1998 menjadi 1,37% pada tahun 1999 dan 5,73% pada tahun 2000. Yang perlu diingat kemudian bahwa pada dasarnya inflasi merupakan gejala yang umum terjadi, terutama ketika perekonomian semakin bergairah sehingga memicu pengeluaran agregat. Jika dilihat dari tingkat penyaluran kredit, maka kenaikan harga-harga tersebut dapat diasosiasikan dengan demand full inflation.

Inflasi secara sistematis adalah gejala yang mengikuti kenaikan yang konsisten dalam jumlah uang beredar (ekspansi kredit) dan pengeluaran pemerintah di daerah. Akan tetapi dalam masa krisis inflasi yang tinggi pada tahun 1998 merupakan gejala cost push inflation yang tidak hanya karena faktor-faktor struktural dalam negeri dan di daerah sendiri, tetapi juga karena biaya produksi yang tinggi.

HASIL PENELITIAN: Dalam penelitian ini model yang digunakan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi di Sumatera Utara adalah bentuk persamaan regresi linear berganda. Dimana sebagai variabel terikat (dependent variabel) adalah inflasi (I) dalam satuan persen (%) dengan variabel-variabel bebasnya (independent variabel) adalah total pengeluaran pemerintah dalam satuan jutaan rupiah (X1), total investasi dalam satuan jutaan rupiah (X2), total kredit yang disalurkan bank umum satuan jutaan rupiah (X3) dan ekspor bersih Sumatera Utara dalam satuan jutaan rupiah (X4), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (X5) dan Inflasi tahun sebelumnya (X6). Tentu saja masih banyak faktor selain dari faktor yang disebutkan di atas yang juga mempengaruhi inflasi, akan tetapi penulis membatasi analisis pada beberapa variabel yang telah disebutkan. 

Untuk melihat seberapa besar faktor-faktor yang pengaruhi inflasi (I) di Sumatera Utara, dapat digunakan analisis overall-test dan analisis partial-test (individual-test). Berikut ini hasil pengolahan data sekunder (Lampiran 1) yang telah ditransformasikan dengan menggunakan program Eviews versi 3.0 seperti Tabel berikut:

Tabel . Hasil Regresi Data Transformasi

Dependent Variable : INF

Method : Ordinary Least Squares (OLS)

Date : 07/07/03   Time  : 23:40

Sample (adjusted) : 1982 -  2000

Included observations : 19 after adjusting endpoints

Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

C

0.068961

2.896483

0.023808

0.9814

X1

-0.000124

1.75E-05

-7.104870

0.0000

X2

6.93E-06

4.32E-06

1.606485

0.1341

X3

7.58E-06

3.51E-06

2.161130

0.0516

X4

9.80E-06

3.10E-06

3.163886

0.0082

X5

-0.021665

0.007920

-2.735571

0.0181

X6

0.130586

0.121968

1.070658

0.3054

R-squared

0.940801

    Mean dependent var

-0.081579

Adjusted R-squared

0.911201

    S.D. dependent var

25.83610

S.E. of regression

7.698921

    Akaike info criterion

7.197347

Sum squared resid

711.2807

    Schwarz criterion

7.545298

Log likelihood

-61.37480

    F-statistic

31.78434

Durbin-Watson stat

2.592178

    Prob(F-statistic)

0.000001

Sumber  :  Hasil regresi data transformasi, dari hasil pengolahan data lampiran 2

Dari tabel di atas dapat dilihat nilai koefisien regresi, nilai standard error, nilai T-hitung, nilai F-hitung, nilai R-squared dan nilai Durbin-Watson test yang dapat digunakan untuk menganalisis overall - test dan partial - test. Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan Program Eviews tersebut diperoleh model estimasi sebagai berikut  :

            INF     =    0,06896   -   0,000124 X1   +   0,00000693 X­2   +   0,00000758 X3        

                             (0,0238)         (-7,1049) a               (1,6065)                             (2,1611) c                

                            +   0.0000098 X4    -   0,0217 X5   +   0,1306 X6

                                    (3,1639) a            (-2,7356) b         (1,0707)       

Catatan: Angka dalam kurung adalah nilai statistik  t

a.       Signifikan pada alpa  1%     =   3,055

b.      Signifikan pada  alpa  5%     =   2,179

c.       Signifikan pada alpa  10%   =   1,782

Untuk melihat seberapa besar faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi (INF) di Sumatera Utara, maka berikut ini akan dijelaskan sebagai berikut :

INTERPRETASI: Dari hasil estimasi persamaan inflasi (INF) diperoleh nilai koefisien determinasi (R2)  sebesar 94,08% yang berarti secara keseluruhan variabel bebas yang ada dalam persamaan tersebut cukup mampu menjelaskan variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara. Selanjutnya bila dianalisis secara lebih mendalam lagi dengan melihat variabel bebasnya secara simultan, maka pengaruhnya terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada tingkat kepercayaan 99%. Hal ini bisa dilihat dari “uji F" dimana nilai F stat  sebesar 31,78  yang lebih besar dari  nilai F tabel  sebesar 4,86 {F stat  (31,78) > F tabel (4,86)}. 

Namun bila dilakukan pengujian secara parsial (uji masing-masing variabel bebas), secara umum hasil estimasi memperlihatkan bahwa total pengeluaran pemerintah provinsi Sumatera Utara (X1), kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3), ekspor netto (X4), dan kurs rupiah terhadap dollar AS (X5) mempunyai pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap perkembangan inflasi (INF) di Sumatera Utara. Sedangkan total investasi (X2) dan inflasi tahun sebelumnya (X6) tidak memberikan pengaruh yang signifikan secara statistik. Berikut ini akan dilakukan "uji T" dari masing-masing variabel bebas, yakni :

Total Pengeluaran Pemerintah (X1)

Berdasarkan hasil estimasi di atas dapat diketahui bahwa total pengeluaran pemerintah (X1) mempunyai pengaruh yang negatif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,000124. Hal ini berarti, jika total pengeluaran pemerintah provinsi Sumatera Utara (X1) meningkat sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka akan menurunkan inflasi (INF) sebesar 0,124%. Dengan demikian koefisien regresi bertanda negatif tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan “apabila total pengeluaran pemerintah meningkat, ceteris paribus, akan meningkatkan inflasi”, tidak dapat diterima. Namun dari hasil pengujian terhadap nilai t – statistiknya sebesar  – 7,1049 menunjukkan bahwa variabel ini memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 99%.

Dalam menghadapi masalah inflasi, mengurangi pengeluaran pemerintah merupakan kebijakan fiskal diskresioner yang efektif untuk menekan inflasi.  Pengurangan ini akan menimbulkan efek multiplier yaitu kegiatan ekonomi yang erat hubungannya dengan belanja pemerintah akan merosot dan seterusnya mempengaruhi kegiatan ekonomi lain. Dengan kata lain, jika pengeluaran pemerintah semakin besar maka inflasi juga akan mengalami peningkatan (Sukirno, 2000:525).

Hasil penelitian ini memang menemukan bahwa pengeluaran pemerintah berkorelasi negatif dengan inflasi, hal ini dimungkinkan karena pemerintah Sumatera Utara tidak menerapkan kebijakan defisit anggaran. Dengan demikian pengeluaran pemerintah tidak memiliki efek inflatoir yang menyebabkan inflasi, melainkan efek deflatoir. Selain itu hal ini juga dikarenakan jumlah total investasi di Sumatera Utara relatif tinggi dibandingkan dengan pengeluaran pemerintah. Sepanjang tahun observasi, seperti yang disajikan pada Grafik 5,  tercatat bahwa  dalam enam tahun, masing-masing tahun 1986, 1988, 1990, 1993, 1995 dan 1998 tingkat investasi berada di atas tingkat pengeluaran pemerintah. Sedangkan pada tahun-tahun selain itu, tingkat invetasi bergerak moderat dengan proporsi di bawah total pengeluaran pemerintah, namun dalam selisih yang tidak terlalu jauh. Hal ini mengakibatkan, ketika investasi cenderung lebih tinggi, akan mengakibatkan output akan meningkat. Peningkatan output (supply) tentu saja lebih jauh akan menetralisir tarikan permintaan (demand full inflation), sehingga mereduksi inflasi.

Total Investasi (X2)

Berdasarkan hasil regresi di atas dapat dilihat bahwa total investasi (X2) memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,00000693 terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara. Ini mengandung arti apabila investasi di Sumatera Utara meningkat sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka inflasi (INF) akan meningkat sebesar 0,00693%. Nilai koefisien regresi bertanda positif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan “apabila investasi meningkat, ceteris paribus, maka akan meningkatkan inflasi”, dapat diterima. Dari hasil uji t sebesar 1,6065 menunjukkan bahwa variabel ini memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 90% (baru signifikan pada tingkat kepercayaan 80%). Tidak signifikannya tingkat investasi terhadap inflasi dikarenakan sejak tahun 1996 tingkat invetasi terus mengalami tekanan, terutama hal ini dipengaruhi oleh tingkat kurs dan suku bunga yang cukup tinggi. Faktor lain yang mengakibatkan surutnya investasi ketika itu adalah karena pasca 1996 Indonesia mulai terperangkap dalam krisis ekonomi. Krisis telah menggiring Indonesia melakukan gerakan reformasi di segala bidang. Masa-masa transisi yang penuh kerusuhan massal dan demonstrasi mahasiswa dan buruh, mengakibatkan tingkat risiko untuk berinvestasi di Indonesia menjadi tinggi (country risk), tak terkecuali di Sumatera Utara.   

Mankiw (2001:53) menyebutkan, jumlah barang-barang modal (investasi) yang diminta bergantung pada tingkat bunga. Jika suku bunga meningkat, maka investasi akan mengalami penurunan.  Jika dikaitkan dengan inflasi maka ketika peningkatan investasi merupakan dampak langsung dari turunnya tingkat suku bunga. Sedangkan menurut Milton Friedman dalam sebuah penelitian dengan menggunakan error corection model, menemukan bahwa ketika suku bunga naik 1% maka inflasi akan turun sebesar 0,5%. Artinya bila suku bunga turun, dana yang terhimpun pada perbankan akan mengalir ke masyarakat dalam bentuk kredit investasi. Mengalirnya dana keluar berarti juga menambah jumlah uang beredar, asumsi ini menguatkan bahwa ketika investasi mengalami kenaikan maka inflasi juga naik.

Jumlah Kredit yang Disalurkan oleh Bank-bank Umum (X3)

Variabel kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3) menunjukkan pengaruh yang positif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,00000758. Ini memberi arti apabila kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3) yang ada di Sumatera Utara meningkat sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka inflasi (INF) akan meningkat sebesar 0,00758%. Dengan  koefisien regresi yang bertanda positif, secara tegas mendukung hipotesis yang menyatakan “apabila kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum meningkat, ceteris paribus, maka akan meningkatkan inflasi”, dapat diterima. Berdasarkan uji t dengan nilai 2,1611 menunjukkan bahwa variabel ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 90%.

Beberapa peneliti mengaitkan antara kredit yang disalurkan perbankan dengan inflasi untuk merefresentasikan kaitan antara jumlah uang beredar dengan inflasi, terutama ketika data jumlah uang berdedar tidak bisa diperoleh, seperti yang dilakukan Nazamuddin (2001). Friedman dan Schwartz  (1976) menulis dua makalah tentang sejarah moneter, paper terebut mendokumentasikan sumber dan pengaruh perubahan kuantitas uang selama dari tahun 1870-1980. Data tersebut memverifikasi hubungan antara inflasi dan pertumbuhan kuantitas uang. Hasilnya menunjukkan, dekade-dekade dengan pertumbuhan uang tinggi cenderung memiliki inflasi yang tinggi. Sebaliknya dekade-dekade dengan pertumbuhan uang rendah cenderung memiliki inflasi yang rendah. (Mankiw, 2000:154-155).

Lebih jauh teori kuantitas dan persamaan Fisher sama-sama menyatakan bagaimana pertumbuhan uang mempengaruhi tingkat bunga nominal. Menurut terori kuantitas, kenaikan dalam tingkat pertumbuhan uang 1% menyebabkan kenaikan 1% inflasi. Menurut persamaan Fisher, kenaikan 1% dalam tingkat inflasi sebaliknya menyebabkan kenaikan 1% dalam tingkat bunga nominal. Hubungan satu untuk satu antara tingkat inflasi dan tingkat bunga nominal disebut Fisher Effect.

Ekspor Netto (X4)

Berdasarkan hasil estimasi, ekspor netto (X4) mempunyai tanda koefisien regresi yang positif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,0000098. Artinya jika ekspor netto (X4) mengalami peningkatan sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka akan mendorong inflasi (INF) meningkat sebesar 0,0098% dan tanda koefisien regresi yang positif ini sesuai dengan hipotesis yang mengatakan “apabila ekspor netto meningkat, ceteris paribus, akan meningkatkan inflasi”, dapat diterima. Dengan nilai t sebesar 3,1639 menunjukkan bahwa variabel ini memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 99%. Ekspor Netto merupakan selisih antara ekspor dikurangi dengan impor. McEachern (2001 :151) menyebutkan bahwa ekpor netto memberikan injeksi pada Gross Domestic Product (GDP), sehingga meningkatkan jumlah uang beredar di dalam negeri, artinya dengan meningkatnya jumlah uang beredar berarti ekspor netto memiliki peluang untuk meningkatkan inflasi.

Kurs Rupiah Terhadap Dolar AS (X5)

Dari hasil estimasi tersebut, bahwa variabel kurs rupiah terhadap dolar AS (X5) memberikan pengaruh yang positif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,0217. Ini memberi arti jika kurs rupiah terhadap dolar AS (X5) mengalami apresiasi (penguatan) sebesar Rp. 1, ceteris paribus, maka akan menurunkan inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,0217%. Dengan demikian tanda koefisien yang negatif mendukung hipotesis yang menyatakan “apabila kurs rupiah menguat terhadap dollar AS, ceteris paribus, maka akan menurunkan inflasi”, dapat diterima. Berdasarkan hasil uji t dengan nilai -2,7356 menunjukkan bahwa variabel ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 95%. Sejak tahun 1966 Indonesia menganut sistem devisa bebas dan sejak tahun 1986 Indonesia menetapkan kebijakan kurs mengambang terkendali. Karena adanya kedua kebijakan inilah maka perubahan nilai kurs yang sulit dikendalikan pemerintah  berpotensi untuk mempengaruhi stabilitas ekonomi dalam negeri. Pengaruh perubahan kurs terhadap ketidakstabilan ekonomi melalui mekanisme perdagangan luar negeri yaitu impor dan ekspor. Bila kurs meningkat berarti terjadi penurunan nilai rupiah dibandingkan US$. Penurunan ini menyebabkan harga barang ekspor Indonesia harganya turun sehingga meningkatkan daya saing, yang memicu peningkatan ekspor. Tetapi dengan naiknya kurs juga mengakibatkan harga barang impor menjadi mahal. Bila produksi dalam negeri masih banyak menggunakan komponen yang berasal dari impor, maka kenaikan tersebut mendorong terjadinya inflasi di dalam negeri.

Inflasi Tahun Sebelumnya (X6)

Berdasarkan hasil estimasi tersebut diketahui bahwa inflasi tahun sebelumnya (X6) memiliki tanda koefisien yang positif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,1306. Hal ini memberi arti bila inflasi tahun sebelumnya (INF) meningkat sebesar 1%, ceteris paribus, maka akan meningkatkan laju inflasi (INF) sebesar 0,1306%. Dengan demikian tanda koefisien regresi yang positif mendukung hipotesis yang menyatakan “apabila inflasi tahun sebelumnya relatif tinggi, ceteris paribus, maka akan meningkatkan inflasi yang akan datang”, dapat diterima. Dari hasil pengujian nilai t – statistiknya sebesar 1,0707 menunjukkan bahwa variabel inflasi tahun sebelumnya memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 90% (baru signifikan pada tingkat kepercayaan 50%). Tidak signifikannya pengaruh ekspektasi masyarakat terhadap inflasi dikarenakan, masyarakat tidak menginternalisasi unsur ekspektasi dalam prilakunya mengkonsumsi barang dan jasa. Untuk kasus Sumatera Utara kita dapat melihat, justru ketika krisis, konsumsi secara kasat mata mengalami peningkatan, misalnya bisa dilihat dari semakin berkembangnya perumahan elit, ruko-ruko yang menjamur ditengah dan pinggiran kota, semakin padatnya jalan raya dengan mobil-mobil baru built up dan lain-lain. Dengan kata lain, fakta ini menunjukkan bahwa memang masyarakat belum menginternalisir aspek ekspektasi dalam prilaku ekonominya.    Menurut Dornbusch (1994:470) bahwa pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaftif dan ekspektasi rasional. Ekspektasi rasional adalah ramalan optimal mengenai masa depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian rasional adalah suatu tindakan yang logik untuk mencapai tujuan berdasarkan informasi yang ada. Menurut Lucas (Sheffrin, 1983:42) pada model ekspektasi rasional, ekspektasi harga tidaklah tetap atau predetermine, tetapi dipengaruhi oleh perubahan uang beredar. Sedangkan uang beredar pada waktu “t” adalah fungsi dari tingkat output periode sebelumnya ditambah dengan gangguan yang tidak dapat diramalkan. Djambak (1998:52) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap inflasi di Indonesia didasarkan pada teori ekspektasi rasional. Menurut teori ini ekspektasi masyarakat terhadap inflasi terbentuk berdasarkan semua informasi yang tersedia yang berhubungan dengan perkembangan inflasi di Indonesia, seperti jumlah uang beredar, tingkat suku bunga, kecepatan peredaran uang, dan nilai tukar rupiah/US$.

ANALISIS OVERALL TEST: Yaitu suatu analisis yang digunakan untuk mengetahui apakah variabel total pengeluaran pemerintah (X1), kurs rupiah terhadap dolar AS (X5), total investasi (X2), kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3), ekspor netto (X4), nilai kurs rupiah terhadap dollar AS (X5) dan inflasi tahun sebelumnya (X6) mampu secara bersama-sama mempengaruhi inflasi (INF) di Sumatera Utara. Untuk itu dapat di ketahui melalui Uji "F" sebagai berikut :

a.       Hipotesis, H 0       :  b1 = b2 = b3 =  b4 = b5 = b6 = 0, dan H A         :  b1 ¹ b2 ¹  b3 ¹   b4 ¹  b5 ¹  b6 ¹  0 

b.      a = 1 % ; n = 19 ; k = 6 ; df (k-1 ; n-k) = 5 ;13 maka, F – tabel = 4,86

c.       Statistik penguji :

F-hitung =  maka, 

F – hitung  =  31,78

d.  Kriteria, Terima  H0 apabila F - hitung <  F- tabel dan Terima HA apabila F - hitung > F- tabel

d.  Kesimpulan, terima HA, karena F-hitung > F-tabel ( 31,78 > 4,86 )

Berdasarkan hasil perhitungan di atas dimana F - hitung > F - tabel (31,78 > 4,86) dengan demikian Ha diterima, artinya bahwa variabel total pengeluaran pemerintah (X1), total investasi (X2), kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3), ekspor netto (X4), nilai kurs rupiah terhadap dolar AS (X5) dan inflasi tahun sebelumnya (X6) secara bersama-sama mampu menjelaskan variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan  99%.

KOEFISIEN DETERMINASI(R2): Nilai koefisien determinasi (R2) menunjukkan nilai 0,9408 artinya variabel total pengeluaran pemerintah (X1), total investasi (X2), kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3), ekspor netto (X4), nilai kurs rupiah terhadap dolar AS (X5) dan inflasi tahun sebelumnya (X6) secara bersama-sama cukup mampu menjelaskan pengaruh perubahan terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 94,08 % sedangkan sisanya sebesar 5,92% di jelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam persamaan tersebut.

UJI  H-STATISTIK: Pada umumnya untuk mengetahui ada tidaknya gejala autokorelasi dalam model persamaan dilakukan uji Durbin Watson test atau biasa disebut dengan uji "D-W" test. Namun uji ini hanya berlaku untuk model regresi dimana variabel-variabel bebasnya tidak mengandung lagged dependent variable. Sedangkan dalam model regresi ini mengandung lagged dependent variable yakni variabel inflasi tahun sebelumnya. Untuk itu test yang dilakukan adalah h-statistics. Dari hasil pengujian h-statistics diperoleh nilai sebesar –1,524 dan berada di antara  –1,96 dan  +1,96. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam model tersebut tidak terdapat autocorrelation.

KORELASI SERIAL: Untuk mendiagnosis ada tidaknya korelasi serial (autokorelasi), dapat juga digunakan LM Test. Uji ini lebih baik daripada Durbin – Watson Test karena lebih muda diinterpretasikan dan dapat diterapkan untuk regresi yang menggunakan variabel dependen lagged sekalipun. Hasil pengujiannya adalah seperti yang ditampilkan di bawah ini :

                  Tabel 3

Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test :

F-statistic

 1.697706

    Probability

 0.231857

Obs*R-squared

 4.816040

    Probability

 0.089993

Sumber  :  Lampiran 11

Berdasarkan hasil uji LM Test (Tabel 2) di atas, memperlihatkan bahwa besarnya nilai    c2 - hitung (Obs R-squared) = 4,816 lebih kecil dari nilai c2 - tabel  = 12,59 ( c2 - hitung < c2 tabel) pada level signifikansi 5 %. Dengan demikian hipotesis nol (Ho) yang mengatakan bahwa tidak ada autokorelasi diterima. Artinya dalam model yang diestimasi tersebut tidak mengandung korelasi serial (autokorelasi) antar faktor pengganggu (error term).

Multicollinearity

Untuk mendeteksi ada tidaknya multicollinearity dalam suatu model estimasi dapat dilakukan dengan melihat nilai R2  yang dihasilkan dari estimasi model. Angka R2  yang tinggi disertai koefisien regresi yang tidak signifikan biasanya menandakan terdapatnya multicollinearity. Dari hasil estimasi model diatas diperoleh nilai R2 sebesar 94,08% dan tingkat signifikansi variabel bebas berdasarkan uji t-statistik menunjukkan pengaruh yang signifikan. Dengan demikian dalam model estimasi tersebut dapat disimpulkan tidak terdapat multicollinearity. Di samping itu untuk mendeteksi masalah multicollinearity ini, Farrar dan Glauber menyarankan untuk menggunakan metode koefisien korelasi parsial. Hasil dari uji ini seperti tabel di bawah ini :

Tabel 4 Hasil Uji R

Variabel

Nilai R2

R2 {X1 = f (X2,X3,X4,X5,X6)}

0,5434

R2 {X2 = f (X1,X3,X4,X5,X6)}

0,1306

R2 {X3 = f (X1,X2,X4,X5,X6)}

0,8119

R2 {X4 = f (X1,X2,X3,X5,X6)}

0,8492

R2 {X5 = f (X1,X2,X3,X4,X6)}

0,8426

R2 {X6 = f (X1,X2,X3,X4,X5)}

0,6696

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai R2 INF, X1 X2 X3 X4 X5 X6 = 0,9408 lebih besar dari nilai R2 dalam regresi parsial maka mengikuti rule of thumb dari metode ini dapat disimpulkan bahwa dalam model tersebut tidak ditemukan adanya multicollienerity.

IMPLIKASI PADA KEBIJAKAN INFLASI: Dari pembahasan terhadap variabel-variabel yang dibentuk dalam model dapat dilihat bahwa inflasi yang terjadi di Sumatera Utara pada dasarnya merupakan inflasi yang bersifat stationary (statis). Dari sisi permintaan, inflasi lebih cenderung disebabkan oleh perubahan masing-masing variabel yang mempengaruhi inflasi seperti total pengeluaran pemerintah, kredit yang disalurkan bank  umum, kurs, eskpor netto, investasi dan ekspektasi masyarakat.

Sebagaimana telah uraikan sebelumnya bahwa hasil penelitian ini menemukan bahwa pengeluaran pemerintah berkorelasi negatif dengan inflasi, hal ini dimungkinkan karena pemerintah Sumatera Utara tidak menerapkan kebijakan defisit anggaran. Dengan demikian pengeluaran pemerintah tidak memiliki efek inflatoir yang menyebabkan inflasi, melainkan efek deflatoir.

Selain itu hal ini juga dikarenakan jumlah total investasi di Sumatera Utara relatif tinggi dibandingkan dengan pengeluaran pemerintah. Sepanjang tahun observasi  tercatat bahwa  dalam enam tahun, masing-masing tahun 1986, 1988, 1990, 1993, 1995 dan 1998 tingkat investasi berada di atas tingkat pengeluaran pemerintah. Sedangkan pada tahun-tahun selain itu, tingkat investasi bergerak moderat dengan proporsi di bawah total pengeluaran pemerintah, namun dalam selisih yang tidak terlalu jauh. Hal ini mengakibatkan, ketika investasi cenderung lebih tinggi, akan mengakibatkan output akan meningkat. Peningkatan output (supply) tentu saja lebih jauh akan menetralisir tarikan permintaan (demand full inflation), sehingga mereduksi inflasi.

Berkaitan dengan pengaruh kredit yang disalurkan bank umum terhadap inflasi di Sumatera Utara, peneliti mengaitkan antara kredit yang disalurkan perbankan dengan inflasi untuk merefresentasikan kaitan antara jumlah uang beredar dengan inflasi, terutama ketika data jumlah uang berdedar tidak bisa diperoleh, seperti yang dilakukan Nazamuddin (2001). Friedman dan Schwartz  (1976). Data tersebut memverifikasi hubungan antara inflasi dan pertumbuhan kuantitas uang. Hasilnya menunjukkan, dekade-dekade dengan pertumbuhan uang tinggi cenderung memiliki inflasi yang tinggi. Sebaliknya dekade-dekade dengan pertumbuhan uang rendah cenderung memiliki inflasi yang rendah. Ini juga berarti variabel jumlah kredit bank umum merupakan sebuah variabel penggeser laju inflasi kumulatif atau dapat juga disebut sebagai parameter penggeser (shift parameter) terhadap permintaan agregat. Di sisi lain jumlah kredit yang disalurkan bank umum, juga mengindikasikan sejauh mana daya serap pasar. Pada umumnya kredit yang disalurkan bank umum tersebut digunakan untuk dua hal, yakni investasi dan konsumsi, dan keduanya juga dapat memicu inflasi.

Demikian pula halnya dengan ekspor netto. Ekpor netto memberikan injeksi pada Gross Domestic Product (GDP), sehingga meningkatkan jumlah uang beredar di dalam negeri, artinya dengan meningkatnya jumlah uang beredar berarti ekspor netto juga memiliki peluang untuk meningkatkan inflasi.Lantas bagaimana dengan kurs? Sejak tahun 1966 Indonesia menganut sistem devisa bebas dan sejak tahun 1986 Indonesia menetapkan kebijakan kurs mengambang terkendali. Karena adanya kedua kebijakan inilah maka perubahan nilai kurs yang sulit dikendalikan pemerintah  berpotensi untuk mempengaruhi stabilitas ekonomi dalam negeri.

Pengaruh perubahan kurs terhadap ketidakstabilan ekonomi melalui mekanisme perdagangan luar negeri yaitu impor dan ekspor. Bila kurs meningkat berarti terjadi penurunan nilai rupiah dibandingkan US$. Penurunan ini menyebabkan harga barang ekspor Indonesia harganya turun sehingga meningkatkan daya saing, yang memicu peningkatan ekspor. Tetapi dengan naiknya kurs juga mengakibatkan harga barang impor menjadi mahal. Bila produksi dalam negeri masih banyak menggunakan komponen yang berasal dari impor, maka kenaikan tersebut mendorong terjadinya inflasi di dalam negeri.

Selanjutnya adalah investasi dan inflasi tahun sebelumnya (ekspektasi masyarakat).  Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kedua variabel ini pada dasarnya tidak signifikan mempengaruhi inflasi.  Tidak signifikannya tingkat investasi terhadap inflasi dikarenakan sejak tahun 1996 tingkat investasi terus mengalami tekanan, terutama hal ini dipengaruhi oleh tingkat kurs dan suku bunga yang cukup tinggi. Faktor lain yang mengakibatkan surutnya investasi ketika itu adalah karena pasca 1996 Indonesia mulai terperangkap dalam krisis ekonomi. Krisis telah menggiring Indonesia melakukan gerakan reformasi di segala bidang. Masa-masa transisi yang penuh kerusuhan massal dan demonstrasi mahasiswa dan buruh, mengakibatkan tingkat risiko untuk berinvestasi di Indonesia menjadi tinggi (country risk), tak terkecuali di Sumatera Utara.

Lebih lanjut inflasi tahun sebelumnya memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 90% (baru signifikan pada tingkat kepercayaan 50%). Tidak signifikannya pengaruh ekspektasi masyarakat terhadap inflasi dikarenakan, masyarakat tidak menginternalisasi unsur ekspektasi dalam prilakunya mengkonsumsi barang dan jasa. Untuk kasus Sumatera Utara kita dapat melihat, justru ketika krisis, konsumsi secara kasat mata mengalami peningkatan, misalnya bisa dilihat dari semakin berkembangnya perumahan elit, ruko-ruko yang menjamur ditengah dan pinggiran kota, semakin padatnya jalan raya dengan mobil-mobil baru built up dan lain-lain. Dengan kata lain, fakta ini menunjukkan bahwa memang masyarakat belum menginternalisir aspek ekspektasi dalam prilaku ekonominya.    

KESIMPULAN :Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab terdahulu  maka diambil kesimpulan sebagai berikut :

1.   Hasil estimasi persamaan inflasi (INF) diperoleh nilai koefisien determinasi (R2)  sebesar 94,08% yang berarti secara keseluruhan variabel bebas yang ada dalam persamaan tersebut cukup mampu menjelaskan variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara. Selanjutnya bila dianalisis secara lebih mendalam lagi dengan melihat variabel bebasnya secara simultan, maka pengaruhnya terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada tingkat kepercayaan 99%.

2. Berdasarkan hasil estimasi di atas dapat diketahui bahwa total pengeluaran pemerintah (X1) mempunyai pengaruh yang negatif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,000124. Hal ini berarti, jika total pengeluaran pemerintah provinsi Sumatera Utara (X1) meningkat sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka akan menurunkan inflasi (INF) sebesar 0,124%. hal ini dimungkinkan karena pemerintah Sumatera Utara tidak menerapkan kebijakan defisit anggaran. Dengan demikian pengeluaran pemerintah tidak memiliki efek inflatoir yang menyebabkan inflasi, melainkan efek deflatoir.

3.   Variabel kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3) menunjukkan pengaruh yang positif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,00000758. Ini memberi arti apabila kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3) yang ada di Sumatera Utara meningkat sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka inflasi (INF) akan meningkat sebesar 0,00758%.

4.   Berdasarkan hasil estimasi, ekspor netto (X4) mempunyai tanda koefisien regresi yang positif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,0000098. Artinya jika ekspor netto (X4) mengalami peningkatan sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka akan mendorong inflasi (INF) meningkat sebesar 0,0098%.

5.  Kurs rupiah terhadap dolar AS (X5) memberikan pengaruh yang negatif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,0217. Ini memberi arti jika kurs rupiah terhadap dolar AS (X5) mengalami apresiasi (penguatan) sebesar Rp. 1, ceteris paribus, maka akan menurunkan inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,0217%.

6.   Variabel yang tidak signifikan antara lain adalah total investasi (X2) dan inflasi tahun sebelumnya (X6). Total investasi memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,00000693 terhadap variasi inflasi (INF), ini mengandung arti apabila investasi meningkat sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka inflasi (INF) akan meningkat sebesar 0,00693%. Sedangkan inflasi tahun sebelumnya (X6) memiliki tanda koefisien yang positif terhadap variasi inflasi (INF) sebesar 0,1306. Hal ini memberi arti bila inflasi tahun sebelumnya (INF) meningkat sebesar 1%, ceteris paribus, maka akan meningkatkan laju inflasi (INF) sebesar 0,1306%.

DAFTAR PUSTAKA

Ackley, Gardner. 1983. Teori Ekonomi Makro. Diterjemahkan Oleh Paul Sitohang-Fakultas Ekonomi Universitas Lampung Teluk Betung. Diperiksa dan disempurnakan oleh Joedono - Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. Hal.534.

Arief, Sritua. 1993. Metode Penelitian Ekonomi. Penerbit Universitas Indonesia (UI Press). Jakarta.

Afifuddin, Sya’ad. 2002 : Pengaruh Permintaan Dalam Negeri dan Luar Negeri Minyak Kelapa Sawit Terhadap Luas Lahan Kelapa Sawit di Sumatera Utara. Ringkasan Desertasi Doktor Ekonomi Program  Pasca Sarjana Universitas Airlangga. Surabaya. Hal.10. 

Braumann, Benedikt. 2000. Real Effects of High Inflation. Western Hemisphere Deapartement International Monetary Fund (IMF). Working Paper. Website, www.imf.org.

Domac, Ilker. 2002. The Main Determinants of Inflation in Albania. The World Bank Poverty Reduction and Economic Management East Asia and Pacific Region. Working Paper. Washington DC. Website, www.worldbank.org. p. 4-25.

Dornbusch, Rudiger; Stanley Fischer. 1994. Macroeconomics. McGraw-Hill,Inc. p.470.

Gilarso, T. 1986. Ekonomi Indonesia Sebuah Pengantar. Kanisius. Yogyakarta. Hal. 390. 

Gunawan, Hermanto, Anton, 1995. Anggaran Pemerintah dan Inflasi di Indonesia. PAN Ekonomi UI. Gramedia. Jakarta. Hal. 1-34.  

Gujarati, Damodar, N.1995. Basic Econometric. International Edition. Third Edition.  United Sates Military Academy West Point. McGraw-Hill, Inc.  

Jambak, Syaifan, 1998. Inflasi di Indonesia. Jurnal  Ekonomi Sriwijaya. No I Tahun I. Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya. Palembang. Hal.49-58.

Kusumayadi, Adi, 1998. Analisis Inflasi dan Pengangguran di Sumatera Utara. Skripsi. Fakultas   Ekonomi   Universitas  Sumatera Utara. Medan. Hal.37-87.

Laugani, Prakash; Phillip Swagel. 2000. Source Inflation in Developing Countries. External Relations Departement International Monetary Fund (IMF). Working Paper. Website, www.imf.org. p.13. 

Mankiw, N Gregory ; Harvard University. 2000. Teori Makro Ekonomi. Edisi Keempat. Alih Bahasa  Imam Nurmawan. Editor Yati Sumiharti. Penerbit Erlangga, Jakarta. Hal. 154-338.

McEachern, William.A. 2001. Ekonomi Makro, Pendekatan Kontemporer. Penerbit Salemba Empat, Jakarta. Hal.134.

Nakhrowi, Djalal Nakhrowi; Hardius Usman. 2002. Penggunaan Teknik Ekonometri, Pendekatan Populer dan Praktis Dilengkapi Teknik Analisis dan Pengolahan Data dengan Menggunakan Paket Program SPSS. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Nazamuddin, 2001. Model Struktur Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Regional Sumatera Utara. Kantor Bank Indonesia Medan. Hal.1-26.

Prawirohardjono, Soetrisno. Ekonomi Publik II. Universitas Terbuka. Penerbit Kurnia. Jakarta. Hal. 35.

Samuelson, Paul, A; William D, Nordhaus. 1995. Ekonomi. Edisi Keduabelas. Jilid 1. Terjemahan dari Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen. Oleh A. Jaka Wasana. Penerbit Erlangga. Jakarta. Hal.296-319. 

Sheffrin, Steven M. 1989 : Rational Expectation, Cambridge University Press, New York. p.42.

Sukirno, Sadono. 2000.  Makroekonomi Modern, Perkembangan dari Klasik Hingga Keynesian Baru. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Hal. 525.

Susanti, Hera; Moh, Ikhsan; Widyanti. 1995. Indikator-indikator Makroekonomi. Edisi Kedua. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 1995. Hal. 47-48.

Ramakrishnan, Uma; Athanasios Vamvakidis. 2002. Forecasting Inflation in Indonesia. Asia and Pacific Departement International Monetary Fund (IMF). Working Paper.Website, www.imf.org. 

Ke Halaman Utama

Ke Indeks Artikel Ilmiah