Analisis Inflasi Sumatera Utara 1980-2000
Oleh : Edy Sahputra Sitepu
ABSTRAK: Penelitian ini merupakan sebuah penelitian yang ingin mengidentifikasikan
faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi di Sumatera Utara. Penelitian ini
menggunakan data sekunder, kemudian di analisis dengan metode ordinary least square
(OLS). Adapun alat bantu dalam mengolah data sekunder ini
adalah Program Eviews 3.0.
KATA KUNCI: Inflasi, pengeluaran pemerintah, investasi, kredit, ekspor netto, kurs dan ekspektasi masyarakat.
LATAR BELAKANG:
Setiap negara di dunia, baik negara maju maupun negara berkembang sangat mendambakan stabilitas ekonomi. Sebab stabilitas ekonomi merupakan prasyarat bagi hadirnya stabilitas sosial dan stabilitas politik. Dengan kata lain tanpa stabilitas ekonomi, sangat sulit menciptakan stabilitas sosial dan stabilitas politik. Stabilitas ekonomi justru menjadi pilar penting yang menunjang proses realisasi rencana-rencana pembangunan. Untuk dunia investasi misalnya, investor tidak akan tertarik menanamkan modalnya di suatu negara yang kondisi ekonominya tidak stabil. Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat kondisi Indonesia sendiri, pasca krisis 1998. Krisis ekonomi telah mengakibatkan perekonomian nasional menjadi sangat tidak stabil, ini ditandai dengan terus terdepresiasinya rupiah hingga di atas Rp 15.000/US$, sementara di sisi lain, inflasi terus merangkak naik menembus level 80%.
Uraian di atas semakin menegaskan tentang pentingnya stabilitas ekonomi.
Hanya dengan kondisi yang stabil investor akan tertarik untuk menginvestasikan
dananya di suatu negara. Sehingga akan tercipta pertumbuhan ekonomi yang
diharapkan, lapangan kerja yang banyak, dan tersedia barang dan jasa untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat. Stabilitas ekonomi suatu negara di antaranya
tercermin dari adanya stabilitas harga, dalam arti tidak terdapat gejolak harga
yang besar yang dapat merugikan masyarakat, baik konsumen maupun produsen dan
merusak sendi-sendi perkonomian. Gejolak harga atau naiknya harga-harga secara
umum dan terus menerus oleh para ahli ekonomi moneter disebut sebagai inflasi
(Samuelson, 1989:296).
Bagi Indonesia inflasi merupakan penyakit ekonomi makro yang selalu
merugikan perekonomian Indonesia sejak merdeka. Pada tahun 1966 sejarah
Indonesia juga telah mencatat, bagaimana inflasi menjadi suatu penyakit ekonomi
yang sangat ditakuti, yaitu mencapai triple digits inflations sebesar 650%
tersebut menunjukkan betapa tragisnya perekonomian Indonesia saat itu. Sejak
awal PJPT I sampai PJPT II pemerintah Orde Baru telah berupaya dengan berbagai
kebijaksanaan anti inflasi untuk menjaga jangan sampai penyakit ekonomi tahun
1966 tersebut terulang kembali. Walupun demikian perekonomian Indonesia tetap
saja dibebani oleh tingkat inflasi yang tinggi. Data menunjukkan bahwa rata-rata
inflasi era sebelum pembangunan lima tahun dilaksanakan mencapai 284,7%.
Sedangkan pada Pelita I rata-rata inflasi adalah 14,9%, Pelita II sebesar 19,7%,
Pelita III sebesar 13,2%, Pelita IV sebesar 7,3% dan Pelita V sebesar 8,0%.
Kemudian pada tahun ke dua Pelita VI inflasi kembali naik menjadi 8,6%. Bahkan
pada krisis ekonomi 1997-1998 tingkat inflasi membengkak hingga level sekitar
80% (Jambak, 1998:49).
Besarnya inflasi yang terjadi di Indonesia menurut Hermanto (1990:34) mempunyai dampak pada kesenjangan distribusi pendapatan, berkurangnya tabungan pemerintah, defisit neraca perdagangan dan ketidakstabilan politik. Berkaitan dengan itu, hingga saat ini Sumatera Utara masih bergelut dengan dua masalah pokok yang sangat merisaukan, yaitu tingginya angka pengangguran dan tidak stabilnya harga-harga. Pengangguran di Sumatera Utara mencapai 426.000 orang, sebagian merupakan pengangguran tidak terdidik, sebagian lagi merupakan pengangguran terdidik. Pengangguran selain bersifat struktural juga merupakan akibat dari fluktuasi permintaan agregat, khususnya investasi dan ekspor. Pertumbuhan ekonomi yang tidak selaju pertumbuhan angkatan kerja pada gilirannya akan memperparah angka pengangguran.
Di sisi lain, stabilitas harga juga merupakan barometer stabilitas
pertumbuhan ekonomi riil karena inflasi yang dapat dikendalikan menjamin
peningkatan daya beli masyarakat dari waktu ke waktu. Tetapi harga-harga di
Sumatera Utara juga sangat fluktuatif. Pada waktu-waktu tertentu, harga-harga
kebutuhan pokok naik dan turun tergantung pasokan (supply). Beras dan telur misalnya pada
waktu-waktu tertentu didatangkan dari luar daerah atau luar negeri. Dengan
permintaan yang tidak berubah, maka demand pull inflation dapat terjadi.
Tetapi karena sebagian industri pengolahan juga menggunakan bahan baku impor,
maka imported inflation juga
merupakan gejala yang selalu mungkin terjadi di Sumatera Utara. Selain itu juga
kenaikan harga-harga karena kenaikan biaya produksi di dalam negeri (cost push inflation), misalnya karena
kenaikan harga BBM (Nazamuddin, 2001 : 102).
Dengan demikian, inflasi yang besar dapat menimbulkan dampak negatif terhadap perekonomian. Oleh karena itu perlu diupayakan jangan sampai penyakit ekonomi itu menjadi penghambat bagi pembangunan yang sedang dilaksanakan. Untuk itu perlu dicari jalan keluarnya dengan melakukan identifikasi terhadap variabel-variabel yang mempengaruhi inflasi tersebut. Berkaitan dengan kondisi riil perkembangan inflasi baik dalam lingkup Indonesia tersebut, penulis merasa sangat tertarik untuk melakukan kajian tentang inflasi dalam konteks wilayah Sumatera Utara, khususnya mengkaji lebih jauh tentang faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi di Sumatera Utara. Masalah inflasi masih menjadi salah satu masalah utama dalam perekonomian Indonesia.
Berbagai upaya dan kebijakan telah dilakukan oleh
pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut. Berpijak dari sejumlah teori umum
tentang inflasi seperti Klasik, Keynes, Moneterisme, pandangan ekspektasi
masyarakat, tentu kajian tentang inflasi menjadi sangat luas, dan memungkinkan
untuk dipandang dari berbagai sisi. Pandangan Klasik misalnya melihat bahwa
faktor utama yang mempengaruhi inflasi adalah jumlah uang beredar dan kredit.
Pandangan ini oleh Keynes kemudian dilengkapi, yakni dengan menambahkan beberapa variabel seperti pengeluaran
pemerintah, suku bunga dan investasi. Sehingga pandangan Keynes mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi, lengkapnya terdiri dari jumlah uang
beredar, pengeluran pemerintah, suku bunga dan investasi.
Kedua pandangan baik Klasik maupun Keynes kemudian oleh kelompok Moneterisme direduksi menjadi sebuah analisis yang lebih komperhensif, dengan melihat inflasi dari sisi kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah, yakni kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Sehingga inflasi kemudian dapat diturunkan dengan cara menahan dan menghilangkan kelebihan permintaan melalui kebijakan moneter dan fiskal yang bersifat kontraktif, atau melalui kontrol terhadap peningkatan upah serta penghapusan terhadap subsidi. Selanjutnya pandangan tentang inflasi disempurnakan dengan munculnya teori ekspektasi, yang mengungkapkan bahwa para pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi rasional. Berbagai teori ini lebih jauh akan dipaparkan pada berikutnya.
Dengan berpijak dari keempat teori dasar tentang inflasi tersebut berbagai penelitian telah dilakukan di banyak negara. Namun jika diklasifikasikan secara umum ada dua sudut pandang dalam melihat faktor-faktor inflasi yakni, dari sisi permintaan (demand) dan sisi penawaran (supply). Hal inilah yang kemudian memunculkan pandangan-pandangan tentang penyebab inflasi seperti policy induced inflation (inflasi karena faktor kebijakan), cost push inflation (inflasi karena kenaikan biaya), demand pull inflation (inflasi karena tarikan permintaan) dan inertial inflation sebagai core inflation.
PERUMUSAN MASALAH:
Terkait dengan uraian di atas dan untuk melihat batasan yang jelas, penelitian ini akan diarahkan untuk melihat inflasi dari sisi permintaan (demand side). Dimana sejumlah hasil penelitian yang telah dilakukan di dalam negeri maupun di luar negeri menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari ; total pengeluaran pemerintah (X1), total investasi (X2), jumlah kredit yang disalurkan bank umum (X3) kepada masyarakat, ekspor netto (X4), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (X5), dan ekspektasi masyarakat terhadap inflasi (X6) di Sumatera Utara. Dikaitkan dengan kondisi Sumatera Utara, penulis lebih jauh ingin mengetahui :
Apakah total pengeluaran pemerintah (X1) berpengaruh
terhadap inflasi di Sumatera Utara?
Apakah total investasi (X2) berpengaruh terhadap inflasi
Sumatera Utara?
Apakah kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum
(X3) berpengaruh terhadap inflasi di Sumatera Utara?
Apakah ekspor netto (X4) berpengaruh terhadap inflasi di
Sumatera Utara?
Apakah nilai tukar rupiah
(X5) terhadap dolar AS berpengaruh terhadap inflasi di Sumatera
Utara?
Apakah ekspektasi masyarakat (X6) berpengaruh terhadap inflasi di Sumatera Utara?
TUJUAN PENELITIAN: (1) Untuk mengetahui berapa besar pengaruh total pengeluaran pemerintah
(X1) terhadap inflasi di
Sumatera Utara.(2) Untuk mengetahui berapa besar pengaruh total investasi (X2)
terhadap inflasi Sumatera Utara. (3) Untuk mengetahui berapa besar pengaruh
jumlah kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3) terhadap
inflasi di Sumatera Utara.
MANFAAT
PENELITIAN: Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut: (1).Menambah
khasanah ilmu pengetahuan, khususnya tentang inflasi di Sumatera Utara.
(2).Bahan pertimbangan dan masukan bagi pemerintah dalam menetapkan
menanggulangi inflasi di Sumatera Utara. (3). Sebagai masukan bagi peneliti lain
yang berminat meneliti dan mengkaji persoalan yang terkait dengan inflasi di
Sumatera Utara.
KERANGKA TEORITIS:Berkaitan dengan
urgensi teori dalam aplikasi penelitian dan penyusunan
hipotesis maka penulis mengambil beberapa teori umum berkenaan dengan inflasi. Milton Friedman
seorang ekonom besar yang memenangkan hadiah nobel dalam ilmu ekonomi pada tahun
1976 agaknya lebih cenderung memandang bahwa inflasi merupakan bagian dari
ekonomi moneter, sebagaimana diungkapkannya dalam sebuah tulisannya, bahwa
“Inflasi selalu dan dimana pun merupakan fenomena moneter,” (Mankiw,
2000:154).
Analisis ekonomi dan kebijakan ekonomi terhadap inflasi sejak tahun
1970-an dapat dibedakan menjadi dua kelompok aliran, yakni Keynesian dan
Monetaris. (Prawirohardjono, 1988:35). Meskipun demikian dalam beberapa
literatur juga disebutkan versi yang berbeda, dimana aliran inflasi dibagi menjadi, Klasik,
Keynesian, Moneterisme, dan Ekspektasi.
Teori inflasi Klasik berpendapat bahwa tingkat harga terutama ditentukan
oleh jumlah uang beredar, yang dapat dijelaskan melalui hubungan antara nilai
uang dengan jumlah uang, serta nilai uang dan harga. Bila jumlah uang bertambah
lebih cepat dari pertambahan barang maka nilai uang akan merosot dan ini sama
dengan kenaikan harga. Jadi menurut Klasik, inflasi berarti terlalu banyak uang
beredar atau terlalu banyak kredit dibandingkan dengan volume transaksi maka
obatnya adalah membatasi jumlah uang beredar dan kredit (Gilarso, 1986:390).
Pendapat Klasik tersebut lebih jauh dapat dirumuskan sebagai berikut :
Inflasi = f(jumlah uang beredar, kredit)
Teori inflasi Keynes mengasumsikan
bahwa perekonomian sudah berada pada tingkat full employment. Menurut Keynes
kuantitas uang tidak berpengaruh terhadap tingkat permintaan total, karena suatu
perekonomian dapat mengalami inflasi walaupun tingkat kuantitas uang tetap
konstan. Jika uang beredar bertambah maka harga akan naik. Kenaikan harga ini akan menyebabkan
bertambahnya permintaan uang untuk transaksi, dengan demikian akan menaikkan
suku bunga. Hal ini akan mencegah pertambahan permintaan untuk investasi dan akan melunakkan tekanan inflasi.
Analisa Keynes mengenai inflasi permintaan dirumuskan berdasarkan konsep
inflationary gap. Menurut Keynes,
inflasi permintaan yang benar-benar penting adalah yang ditimbulkan oleh
pengeluran pemerintah, terutama yang berkaitan dengan peperangan, program
investasi yang besar-besaran dalam kapital sosial (Ackly, 1973:534). Dengan
demikian pemikiran Keynes tentang inflasi dapat dirumuskan menjadi :
Inflasi = f(jumlah uang
beredar, pengeluaran pemerintah, suku bunga, investasi)
Teori inflasi Moneterisme berpendapat bahwa, inflasi timbul disebabkan
oleh kebijaksanaan moneter dan fiskal yang ekspansif, sehingga jumlah uang
beredar di masyarakat sangat berlebihan. Kelebihan uang beredar di masyarakat
akan menyebabkan terjadinya kelebihan permintaan barang dan jasa di sektor riil.
Menurut golongan moneteris, inflasi dapat diturunkan dengan cara menahan dan
menghilangkan kelebihan permintaan melalui kebijakan moneter dan fiskal yang
bersifat kontraktif, atau melalui kontrol terhadap peningkatan upah serta
penghapusan terhadap subsidi atas nilai tukar valuta asing. Sehingga teori
inflasi menurut Moneterisme dapat dinotasikan sebagai berikut :
Inflasi = f(kebijakan moneter ekspansif, kebijakan fiskal ekspansif)
Teori Ekspektasi, menurut Dornbusch (1994:470) bahwa pelaku ekonomi
membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi
rasional. Ekspektasi rasional adalah ramalan optimal mengenai masa depan dengan
menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian rasional adalah suatu tindakan
yang logik untuk mencapai tujuan berdasarkan informasi yang ada. Artinya secara
sederhana teori ekspektasi dapat dinotasikan menjadi :
Inflasi = f(ekspektasi adaftif,ekspektasi rasional)
Inflasi sendiri didefenisikan sebagai kondisi apabila tingkat harga-harga
dan biaya-biaya umum naik, harga beras, bahan bakar mobil, tingkat upah, harga
tanah, sewa barang-barang modal juga mengalami kenaikan. Kebalikannya adalah
deflasi dimana harga-harga dan biaya-biaya secara umum turun. (Samuelson,
1989:196).
Sedangkan Lerner (Gunawan, 1991:1) mendefenisikan inflasi sebagai suatu keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (excess demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian, secara keseluruhan dan terus-menerus. Kelebihan permintaan tersebut dapat diartikan ganda yaitu, pengeluaran yang diharapkan terlalu banyak dibandingkan dengan barang yang tersedia, atau barang yang tersedia terlalu sedikit bila dibandingkan dengan tingkat pengeluaran yang diharapkan.
PENELITIAN TERDAHULU:
1. Uma Ranakrishnan
dan Athanasios Vamvakidis (2002), dalam sebuah jurnal IMF (Internasional Monetary Fund) berjudul Forecasting Inflation in
Indonesia, memaparkan sebuah model untuk meramalkan inflasi di Indonesia secara
lebih akurat. Penelitian ini menggunakan data time series 1980-2000, hasil estimasi
menunjukkan perubahan nilai tukar secara statistik memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap inflasi, jika rupiah terdepresiasi 1% akan meningkatkan
inflasi secara kumulatif lebih dari 0,3%. Inflasi di luar negeri juga memberikan
pengaruh signifikan, jika inflasi di luar negeri naik 1% maka akan meningkatkan
inflasi di Indonesia lebih dari 0,6%. Demikian pula dengan jumlah uang beredar,
meskipun memberikan kontribusi kecil tetapi tetap memiliki arti yang signifikan,
dalam hal ini jika jumlah uang beredar naik 1% maka akan mengakibatkan inflasi
naik 0,04%. Sementara itu, perubahan upah minimum, tingkat produktivitas,
tingkat suku bunga, dan output
gap secara statistik tidak
memberikan pengaruh signifikan terhadap inflasi.
2. Prakash Laungani dan
Phillip Swagel (2001) melakukan penelitian dengan menggunakan data time series 53 negara tahun 1964 – 1998
untuk menguji sebuah model mengenai
sumber-sumber inflasi di negara-negara berkembang. Adapun varibel-variabel yang
digunakan dalam penelitian tersebut adalah : pertumbuhan harga minyak,
pertumbuhan harga komoditi selain minyak, gap output, pertumbuhan uang beredar,
pergerakan nilai kurs.
Penelitian ini secara umum memberikan beberapa kontribusi, dimana
ditemukan bahwa sumber-sumber inflasi cukup bermacam-macam (berbeda) untuk
negara-negara Afrika dan Asia. Variabel fiskal direfleksikan oleh pertumbuhan
jumlah uang beredar dan nilai kurs. Selain itu faktor harga minyak, harga
komoditi selain minyak dan output gap
juga sangat berpengaruh
(Loungani dan Sagel , 2001:13).
3. Sementara itu, Djambak
(1998) dalam sebuah tulisan berjudul “Inflasi di Indonesia” menggunakan
variabel-variabel sebagai berikut sebagai faktor yang mempengaruhi inflasi di Indonesia. Beberapa faktor tersebut antara lain ;
jumlah uang beredar (M1), velositas uang (V), kurs (Kr), dan
ekspektasi inflasi (Pe). Berdasarkan hasil estimasi, dalam penelitian tersebut,
ada tiga variabel secara statistik signifikan, yaitu variabel ekspektasi
masyarakat (Pe) terhadap inflasi, jumlah uang beredar (M1), dan kecepatan
peredaran uang (V), sedangkan variabel kurs dollar AS terhadap rupiah (Kr) tidak
signifikan.
4. Ilker Domac (1998:29)
dalam tulisannya berjudul The Main Determinants of Inflation in Albania
menguraikan, bahwa penelitiannya meguji proses inflasi di Albania dengan
menggunakan tiga alternatif pendekatan. Pendekatan pertama adalah
mengkomposisikan inflasi pada empat komponen ; menurut musim, berdasarkan
siklus, trend dan secara acak. Pendekatan kedua bersandar secara mendalam
berdasarkan test hubungan kausalitas
Granger dengan menggunakan data non agregat pada indeks harga konsumen
(IHK) dan beberapa variabel ekonomi kunci. Akhirnya, pendekatan ketiga adalah
dengan menggunakan teknik co-integration dan error corection model. Dari hasil
analisis pendekatan pertama, disimpulkan bahwa inflasi menunjukkan pola musiman
yang kuat dipengaruhi oleh musim tanam. Hasilnya menunjukkan bahwa posisi puncak
dan hingga kembali ke posisi semula dari agregat moneter berhubungan dengan
inflasi dengan jangka waktu lag
selama dua bulan. Tingkat nilai
tukar juga menunjukkan musiman/posisi yang stabil.Hasil dari test kausalitas
Granger mengindikasikan bahwa M1 dan nilai tukar memiliki nilai prediktif
penting untuk hampir semua item CPI.
Sebagai tambahan, penemuan lebih lanjut menunjukkan bahwa pinjaman
pemerintah adalah prediksi yang baik untuk melihat kesehatan, komunikasi dan
harga transportasi.
5. Kusumayadi (1998)
melakukan analisis faktor yang mempengaruhi inflasi dengan menggunakan
variabel-variabel seperti, pengeluaran pemerintah (G), jumlah uang beredar (Ms)
dan tingkat suku bunga (i). Hasil estimasi yang diperoleh menyimpulkan bahwa
ketiga variabel tersebut signifikan mempengaruhi inflasi. Pengeluaran pemerintah
berpengaruh positif terhada inflasi dengan tingkat kepercayaan 99%. Dengan kata
lain jika pengeluaran pemerintah bertambah Rp 1 miliar, mengakibatkan tingkat
inflasi naik 27%. Jumlah uang beredar berpengaruh positif terhadap inflasi,
dengan kata lain kalau jumlah uang beredar bertambah Rp 1 miliar mengakibatkan
tingkat inflasi naik 15% (signifikan pada tingkat kepercayaan 99%). Tingkat suku
bunga mempengaruhi inflasi secara negatif, dimana ketka tingkat suku bunga
bertambah 1% mengakibatkan tingkat inflasi turun 11% (signifikn pada tingkat
kepercayaan 99%).
6. Nazamuddin (2001) dengan
penelitian berjudul Model Struktural Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Regional
Sumatera Utara.Hasil estimasi yang diperoleh berkaitan dengan inflasi
menjelaskan variasi dalam INFK dengan proporsi yang baik . Probability
mengindikasikan bahwa semua variabel seperi total pengeluaran pemerintah (TPP),
jumlah kredit yang disalurkan bank umum (KBU) dan PDRB93. Inflasi kumulatif
sangat dipengaruhi oleh PDRB93 dan ini konsisten dengan hasil estimasi PDRB93
yang menunjukkan hubungan terbalik antara tingkat harga dan output
regional. Pergeseran kurva AD
dapat dilihat dari koefisien positif dari total pengeluaran pemerintah (TPP) dan
jumlah kredit yang disalurkan. Hal ini mengandung arti bahwa ekspansi fiskal dan
moneter regional selain berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi regional
Sumatera Utara, juga berdampak
inflasioner.
1.
Dalam sebuah penelitian Bennedict Braumann pada Jurnal International
Monetery Fund (IMF) yang diterbitkan tahun 2000 lalu, berjudul Real Effects of High Inflation,
dipaparkan bahwa inflasi memiliki delapan pengaruh negatif terhadap perekonomian
di suatu negara. Setidaknya hal ini diperoleh Bennedict dari penelitiannya
terhadap Ghana, Mexico dan Costa Rica dimana negara-negara ini kerap dililit
inflasi yang tinggi. Kedelapan efek negatif tersebut antara lain, penurunan
tajam pada nilai uang riil, dampak negatif terhadap pertumbuhan output, penurunan pada konsumsi swasta,
penurunan tajam pada investasi, pengaruh negatif pada ketenagakerjaan, penurunan
tajam pada upah riil, penurunan pada tingkat harga-harga beberapa barang dan
perbaikan pada neraca perdagangan dan jasa.
Hipotesis Penelitian
RUANG LINGKUP: Penelitian ini merupakan kajian tentang inflasi Sumatera Utara melalui
model ekonometrik sederhana. Penelitian ini akan mengidentifikasikan
faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi di Sumatera Utara, seperti total
pengeluaran pemerintah, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor netto, jumlah
kredit yang disalurkan bank umum, nilai kurs rupiah per dolar AS dan ekspektasi
masyarakat yang direfresentasikan oleh tingkat inflasi tahun sebelumnya.
DATA: Data yang digunakan adalah data runtut waktu (time series) yang bersumber dari Badan
Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah
(BKPMD) Sumatera Utara, Bank Indonesia (BI) Medan, dan sumber-sumber lain, yaitu
jurnal-jurnal dan hasil-hasil penelitian dan kemudian diolah sesuai kebutuhan
estimasi model. Data yang dikumpulkan mencakup semua variabel yang relevan untuk
keperluan estimasi selama kurun waktu 1980-2000.
Model Analisis
Untuk mengetahui hasil dari penelitian ini, akan digunakan perhitungan
analisis regresi dengan menggunakan model sebagai berikut :
Di mana : I= laju inflasi di Sumatera Utara
It-1 = β0 + β1X1t-1 +
β2X2t-1 + β3X3t-1 +
β4X4t-1 + β5X5t-1 +
β6X6t-1 +
ut-1.............................................(2)
I-It-1 = β1(X1t-X1t-1) +
β2(X2t-X2t-1) +
β3(X3t-X3t-1) +
β4(X4t-X4t-1) +
β5(X5t-X5t-1) +
β6(X6t-X6t-1) + (ut-ut-1)
....(3)
It* = β0* + β1X1t* + β2X2t* + β3X3t* + β4X4t* + β5X5t* + β6X6t* + ut* .................................................(4)
VARIABEL PENELITIAN: Variabel terikat (dependent variabel) adalah tingkat inflasi di Sumatera Utara (I), sedangkan variabel bebasnya (independent variabel) adalah total pngeluaran pemerintah Sumatera Utara dalam satuan jutaan rupiah (X1), total investasi baik PMA maupun PMDN dalam satuan jutaan rupiah (X2), jumlah kredit yang disalurkan bank-bank umum di Sumatera Utara dalam satuan jutaan rupiah (X3) dan ekspor bersih Sumatera Utara dalam satuan jutaan rupiah (X4), nilai tukar rupiah per dolar AS dalam satuan jutaan rupiah (X5) dan inflasi tahun sebelumnya (X6).
BATASAN OPERASIONAL: Untuk memudahkan pemahaman terhadap istilah dan variabel yang digunakan
dalam penelitian ini maka, perlu diberikan batasan operasional sebagai berikut :
I= tingkat
inflasi kumulatif tahunan Sumatera Utara (dalam persen),
X1= total pengeluaran pemerintah yang merupakan
penjumlahan antara pengeluaran rutin dengan pengeluaran pembangunan (dalam Rp
juta).
METODEK ANALISIS: Penelitian ini menggunakan
data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik Sumatera Utara
dan Bank Indonesia Medan, untuk kemudian di analisis dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Adapun alat
bantu dalam mengolah data sekunder ini adalah Program Eviews 3.0.
HASIL DAN PEMBAHASAN
INFLASI DI SUMUT: Sebagaimana lazimnya inflasi, inflasi yang ada di Sumatera Utara adalah
pergerakan harga-harga umum yang sifatnya stationary. Inflasi bukan
merupakan trend, melainkan gerakan
naik turunnya harga-harga umum akibat perubahan-perubahan variabel yang
mempengaruhi, yang umumnya terkait erat dengan meningkatnya jumlah uang beredar.
Kenaikan jumlah uang beredar dalam perkonomian Sumatera Utara dapat terjadi karena meningkatnya pengeluaran
agregat yang dipicu oleh ekspansi kredit (ekspansi moneter secara umum) dan
peningkatan pengeluaran pemerintah.
Berdasarkan hasil observasi dari data perkembangan inflasi di Sumatera
Utara, yang dihimpun penulis dari BPS, dapat diketahui bahwa Sumatera Utara
memiliki perkembangan harga-harga yang relatif stabil. Hal itu ditandai dengan laju inflasi
yang senantiasa berada di bawah dua digit untuk jangka waktu lama.
Selanjutnya seiring dengan
kebijakan-kebijakan stabilisasi yan dilakukan secara nasional, misalnya
pengetatan jumlah uang beredar (tight
money politic), menurunkan suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia), maka
inflasi Sumatera Utara turun drastis dari 83,81% pada tahun 1998 menjadi 1,37%
pada tahun 1999 dan 5,73% pada tahun 2000.
Inflasi secara sistematis adalah gejala yang mengikuti kenaikan yang
konsisten dalam jumlah uang beredar (ekspansi kredit) dan pengeluaran pemerintah
di daerah. Akan tetapi dalam masa krisis inflasi yang tinggi pada tahun 1998
merupakan gejala cost push inflation
yang tidak hanya karena faktor-faktor struktural dalam negeri dan di daerah
sendiri, tetapi juga karena biaya produksi yang tinggi.
HASIL PENELITIAN: Dalam penelitian ini model yang digunakan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi di Sumatera Utara adalah bentuk persamaan regresi linear berganda. Dimana sebagai variabel terikat (dependent variabel) adalah inflasi (I) dalam satuan persen (%) dengan variabel-variabel bebasnya (independent variabel) adalah total pengeluaran pemerintah dalam satuan jutaan rupiah (X1), total investasi dalam satuan jutaan rupiah (X2), total kredit yang disalurkan bank umum satuan jutaan rupiah (X3) dan ekspor bersih Sumatera Utara dalam satuan jutaan rupiah (X4), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (X5) dan Inflasi tahun sebelumnya (X6). Tentu saja masih banyak faktor selain dari faktor yang disebutkan di atas yang juga mempengaruhi inflasi, akan tetapi penulis membatasi analisis pada beberapa variabel yang telah disebutkan.
Untuk melihat seberapa besar faktor-faktor yang pengaruhi inflasi (I) di Sumatera Utara, dapat digunakan analisis overall-test dan analisis partial-test (individual-test). Berikut ini hasil pengolahan data sekunder (Lampiran 1) yang telah ditransformasikan dengan menggunakan program Eviews versi 3.0 seperti Tabel berikut:
Tabel . Hasil Regresi Data Transformasi
Dependent Variable : INF | ||||
|
Method : Ordinary Least Squares (OLS) | ||||
|
Date : 07/07/03
Time : 23:40 | ||||
|
Sample (adjusted) : 1982 -
2000 | ||||
|
Included observations : 19 after adjusting endpoints | ||||
|
Variable |
Coefficient |
Std. Error |
t-Statistic |
Prob. |
|
C |
0.068961 |
2.896483 |
0.023808 |
0.9814 |
X1 |
-0.000124 |
1.75E-05 |
-7.104870 |
0.0000 |
|
X2 |
6.93E-06 |
4.32E-06 |
1.606485 |
0.1341 |
|
X3 |
7.58E-06 |
3.51E-06 |
2.161130 |
0.0516 |
|
X4 |
9.80E-06 |
3.10E-06 |
3.163886 |
0.0082 |
|
X5 |
-0.021665 |
0.007920 |
-2.735571 |
0.0181 |
|
X6 |
0.130586 |
0.121968 |
1.070658 |
0.3054 |
|
R-squared |
0.940801 |
Mean dependent var |
-0.081579 | |
|
Adjusted R-squared |
0.911201 |
S.D. dependent var |
25.83610 | |
|
S.E. of regression |
7.698921 |
Akaike info criterion |
7.197347 | |
|
Sum squared resid |
711.2807 |
Schwarz criterion |
7.545298 | |
|
Log likelihood |
-61.37480 |
F-statistic |
31.78434 | |
|
Durbin-Watson stat |
2.592178 |
Prob(F-statistic) |
0.000001 | |
Sumber :
Hasil regresi data transformasi, dari hasil pengolahan
data lampiran 2
Dari tabel di atas dapat dilihat nilai koefisien regresi,
nilai standard error, nilai T-hitung,
nilai F-hitung, nilai R-squared dan nilai Durbin-Watson test yang dapat
digunakan untuk menganalisis overall -
test dan partial -
test. Dari
hasil pengolahan data dengan menggunakan Program Eviews tersebut diperoleh model
estimasi sebagai berikut :
INF = 0,06896 - 0,000124 X1 + 0,00000693 X2 + 0,00000758 X3
(0,0238)
(-7,1049) a
(1,6065) (2,1611)
c
+ 0.0000098 X4 - 0,0217 X5 + 0,1306 X6
(3,1639)
a
(-2,7356) b
(1,0707)
Catatan:
a.
Signifikan pada alpa
1% = 3,055
b.
Signifikan pada alpa
5% = 2,179
c.
Signifikan pada alpa
10% = 1,782
Untuk melihat seberapa besar
faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi (INF) di Sumatera Utara, maka berikut
ini akan dijelaskan sebagai berikut :
INTERPRETASI: Dari hasil estimasi persamaan inflasi (INF) diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 94,08% yang berarti secara keseluruhan variabel bebas yang ada dalam persamaan tersebut cukup mampu menjelaskan variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara. Selanjutnya bila dianalisis secara lebih mendalam lagi dengan melihat variabel bebasnya secara simultan, maka pengaruhnya terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada tingkat kepercayaan 99%. Hal ini bisa dilihat dari “uji F" dimana nilai F stat sebesar 31,78 yang lebih besar dari nilai F tabel sebesar 4,86 {F stat (31,78) > F tabel (4,86)}.
Namun bila dilakukan pengujian secara parsial (uji masing-masing variabel bebas), secara umum hasil estimasi memperlihatkan bahwa total pengeluaran pemerintah provinsi Sumatera Utara (X1), kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3), ekspor netto (X4), dan kurs rupiah terhadap dollar AS (X5) mempunyai pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap perkembangan inflasi (INF) di Sumatera Utara. Sedangkan total investasi (X2) dan inflasi tahun sebelumnya (X6) tidak memberikan pengaruh yang signifikan secara statistik. Berikut ini akan dilakukan "uji T" dari masing-masing variabel bebas, yakni :
Total Pengeluaran Pemerintah
(X1)
Berdasarkan hasil estimasi di atas dapat diketahui bahwa total pengeluaran pemerintah (X1) mempunyai pengaruh yang negatif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,000124. Hal ini berarti, jika total pengeluaran pemerintah provinsi Sumatera Utara (X1) meningkat sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka akan menurunkan inflasi (INF) sebesar 0,124%. Dengan demikian koefisien regresi bertanda negatif tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan “apabila total pengeluaran pemerintah meningkat, ceteris paribus, akan meningkatkan inflasi”, tidak dapat diterima. Namun dari hasil pengujian terhadap nilai t – statistiknya sebesar – 7,1049 menunjukkan bahwa variabel ini memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 99%.
Dalam menghadapi masalah inflasi, mengurangi
pengeluaran pemerintah merupakan kebijakan fiskal diskresioner yang efektif
untuk menekan inflasi. Pengurangan
ini akan menimbulkan efek multiplier
yaitu kegiatan ekonomi yang erat hubungannya dengan belanja pemerintah akan
merosot dan seterusnya mempengaruhi kegiatan ekonomi lain. Dengan kata lain,
jika pengeluaran pemerintah semakin besar maka inflasi juga akan mengalami
peningkatan (Sukirno, 2000:525).
Hasil penelitian ini memang menemukan bahwa
pengeluaran pemerintah berkorelasi negatif dengan inflasi, hal ini dimungkinkan
karena pemerintah Sumatera Utara tidak menerapkan kebijakan defisit anggaran.
Dengan demikian pengeluaran pemerintah tidak memiliki efek inflatoir yang menyebabkan inflasi,
melainkan efek deflatoir.
Total Investasi (X2)
Berdasarkan hasil regresi di atas dapat dilihat bahwa total investasi (X2) memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar 0,00000693 terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara. Ini mengandung arti apabila investasi di Sumatera Utara meningkat sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka inflasi (INF) akan meningkat sebesar 0,00693%. Nilai koefisien regresi bertanda positif sesuai dengan hipotesis yang menyatakan “apabila investasi meningkat, ceteris paribus, maka akan meningkatkan inflasi”, dapat diterima. Dari hasil uji t sebesar 1,6065 menunjukkan bahwa variabel ini memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 90% (baru signifikan pada tingkat kepercayaan 80%). Tidak signifikannya tingkat investasi terhadap inflasi dikarenakan sejak tahun 1996 tingkat invetasi terus mengalami tekanan, terutama hal ini dipengaruhi oleh tingkat kurs dan suku bunga yang cukup tinggi. Faktor lain yang mengakibatkan surutnya investasi ketika itu adalah karena pasca 1996 Indonesia mulai terperangkap dalam krisis ekonomi. Krisis telah menggiring Indonesia melakukan gerakan reformasi di segala bidang. Masa-masa transisi yang penuh kerusuhan massal dan demonstrasi mahasiswa dan buruh, mengakibatkan tingkat risiko untuk berinvestasi di Indonesia menjadi tinggi (country risk), tak terkecuali di Sumatera Utara.
Mankiw (2001:53) menyebutkan, jumlah barang-barang
modal (investasi) yang diminta bergantung pada tingkat bunga. Jika suku bunga
meningkat, maka investasi akan mengalami penurunan. Jika dikaitkan dengan inflasi maka
ketika peningkatan investasi merupakan dampak langsung dari turunnya tingkat
suku bunga. Sedangkan menurut Milton Friedman dalam sebuah penelitian dengan
menggunakan error corection model, menemukan bahwa ketika suku bunga
naik 1% maka inflasi akan turun sebesar 0,5%. Artinya bila suku bunga turun,
dana yang terhimpun pada perbankan akan mengalir ke masyarakat dalam bentuk
kredit investasi. Mengalirnya dana keluar berarti juga menambah jumlah uang
beredar, asumsi ini menguatkan bahwa ketika investasi mengalami kenaikan maka
inflasi juga naik.
Jumlah Kredit yang Disalurkan oleh
Bank-bank Umum (X3)
Variabel kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3) menunjukkan pengaruh yang positif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,00000758. Ini memberi arti apabila kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3) yang ada di Sumatera Utara meningkat sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka inflasi (INF) akan meningkat sebesar 0,00758%. Dengan koefisien regresi yang bertanda positif, secara tegas mendukung hipotesis yang menyatakan “apabila kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum meningkat, ceteris paribus, maka akan meningkatkan inflasi”, dapat diterima. Berdasarkan uji t dengan nilai 2,1611 menunjukkan bahwa variabel ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 90%.
Beberapa peneliti mengaitkan antara kredit yang
disalurkan perbankan dengan inflasi untuk merefresentasikan kaitan antara jumlah
uang beredar dengan inflasi, terutama ketika data jumlah uang berdedar tidak
bisa diperoleh, seperti yang dilakukan Nazamuddin (2001). Friedman dan
Schwartz (1976) menulis dua makalah
tentang sejarah moneter, paper terebut mendokumentasikan sumber dan pengaruh
perubahan kuantitas uang selama dari tahun 1870-1980. Data tersebut
memverifikasi hubungan antara inflasi dan pertumbuhan kuantitas uang. Hasilnya
menunjukkan, dekade-dekade dengan pertumbuhan uang tinggi cenderung memiliki
inflasi yang tinggi. Sebaliknya dekade-dekade dengan pertumbuhan uang rendah
cenderung memiliki inflasi yang rendah. (Mankiw, 2000:154-155).
Lebih jauh teori kuantitas dan persamaan Fisher sama-sama menyatakan bagaimana pertumbuhan uang mempengaruhi tingkat bunga nominal. Menurut terori kuantitas, kenaikan dalam tingkat pertumbuhan uang 1% menyebabkan kenaikan 1% inflasi. Menurut persamaan Fisher, kenaikan 1% dalam tingkat inflasi sebaliknya menyebabkan kenaikan 1% dalam tingkat bunga nominal. Hubungan satu untuk satu antara tingkat inflasi dan tingkat bunga nominal disebut Fisher Effect.
Ekspor Netto (X4)
Berdasarkan hasil estimasi, ekspor netto (X4) mempunyai tanda koefisien regresi yang positif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,0000098. Artinya jika ekspor netto (X4) mengalami peningkatan sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka akan mendorong inflasi (INF) meningkat sebesar 0,0098% dan tanda koefisien regresi yang positif ini sesuai dengan hipotesis yang mengatakan “apabila ekspor netto meningkat, ceteris paribus, akan meningkatkan inflasi”, dapat diterima. Dengan nilai t sebesar 3,1639 menunjukkan bahwa variabel ini memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 99%. Ekspor Netto merupakan selisih antara ekspor dikurangi dengan impor. McEachern (2001 :151) menyebutkan bahwa ekpor netto memberikan injeksi pada Gross Domestic Product (GDP), sehingga meningkatkan jumlah uang beredar di dalam negeri, artinya dengan meningkatnya jumlah uang beredar berarti ekspor netto memiliki peluang untuk meningkatkan inflasi.
Kurs Rupiah Terhadap Dolar AS
(X5)
Dari hasil estimasi tersebut, bahwa variabel kurs rupiah terhadap dolar AS (X5) memberikan pengaruh yang positif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,0217. Ini memberi arti jika kurs rupiah terhadap dolar AS (X5) mengalami apresiasi (penguatan) sebesar Rp. 1, ceteris paribus, maka akan menurunkan inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,0217%. Dengan demikian tanda koefisien yang negatif mendukung hipotesis yang menyatakan “apabila kurs rupiah menguat terhadap dollar AS, ceteris paribus, maka akan menurunkan inflasi”, dapat diterima. Berdasarkan hasil uji t dengan nilai -2,7356 menunjukkan bahwa variabel ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 95%. Sejak tahun 1966 Indonesia menganut sistem devisa bebas dan sejak tahun 1986 Indonesia menetapkan kebijakan kurs mengambang terkendali. Karena adanya kedua kebijakan inilah maka perubahan nilai kurs yang sulit dikendalikan pemerintah berpotensi untuk mempengaruhi stabilitas ekonomi dalam negeri. Pengaruh perubahan kurs terhadap ketidakstabilan ekonomi melalui mekanisme perdagangan luar negeri yaitu impor dan ekspor. Bila kurs meningkat berarti terjadi penurunan nilai rupiah dibandingkan US$. Penurunan ini menyebabkan harga barang ekspor Indonesia harganya turun sehingga meningkatkan daya saing, yang memicu peningkatan ekspor. Tetapi dengan naiknya kurs juga mengakibatkan harga barang impor menjadi mahal. Bila produksi dalam negeri masih banyak menggunakan komponen yang berasal dari impor, maka kenaikan tersebut mendorong terjadinya inflasi di dalam negeri.
Inflasi Tahun Sebelumnya
(X6)
Berdasarkan hasil estimasi tersebut diketahui bahwa inflasi tahun sebelumnya (X6) memiliki tanda koefisien yang positif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,1306. Hal ini memberi arti bila inflasi tahun sebelumnya (INF) meningkat sebesar 1%, ceteris paribus, maka akan meningkatkan laju inflasi (INF) sebesar 0,1306%. Dengan demikian tanda koefisien regresi yang positif mendukung hipotesis yang menyatakan “apabila inflasi tahun sebelumnya relatif tinggi, ceteris paribus, maka akan meningkatkan inflasi yang akan datang”, dapat diterima. Dari hasil pengujian nilai t – statistiknya sebesar 1,0707 menunjukkan bahwa variabel inflasi tahun sebelumnya memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 90% (baru signifikan pada tingkat kepercayaan 50%). Tidak signifikannya pengaruh ekspektasi masyarakat terhadap inflasi dikarenakan, masyarakat tidak menginternalisasi unsur ekspektasi dalam prilakunya mengkonsumsi barang dan jasa. Untuk kasus Sumatera Utara kita dapat melihat, justru ketika krisis, konsumsi secara kasat mata mengalami peningkatan, misalnya bisa dilihat dari semakin berkembangnya perumahan elit, ruko-ruko yang menjamur ditengah dan pinggiran kota, semakin padatnya jalan raya dengan mobil-mobil baru built up dan lain-lain. Dengan kata lain, fakta ini menunjukkan bahwa memang masyarakat belum menginternalisir aspek ekspektasi dalam prilaku ekonominya. Menurut Dornbusch (1994:470) bahwa pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaftif dan ekspektasi rasional. Ekspektasi rasional adalah ramalan optimal mengenai masa depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian rasional adalah suatu tindakan yang logik untuk mencapai tujuan berdasarkan informasi yang ada. Menurut Lucas (Sheffrin, 1983:42) pada model ekspektasi rasional, ekspektasi harga tidaklah tetap atau predetermine, tetapi dipengaruhi oleh perubahan uang beredar. Sedangkan uang beredar pada waktu “t” adalah fungsi dari tingkat output periode sebelumnya ditambah dengan gangguan yang tidak dapat diramalkan. Djambak (1998:52) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa ekspektasi masyarakat terhadap inflasi di Indonesia didasarkan pada teori ekspektasi rasional. Menurut teori ini ekspektasi masyarakat terhadap inflasi terbentuk berdasarkan semua informasi yang tersedia yang berhubungan dengan perkembangan inflasi di Indonesia, seperti jumlah uang beredar, tingkat suku bunga, kecepatan peredaran uang, dan nilai tukar rupiah/US$.
ANALISIS OVERALL TEST: Yaitu suatu analisis yang digunakan
untuk mengetahui apakah variabel total pengeluaran pemerintah (X1),
kurs rupiah terhadap dolar AS (X5), total investasi (X2),
kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3), ekspor netto
(X4), nilai kurs rupiah terhadap dollar AS (X5) dan
inflasi tahun sebelumnya (X6) mampu secara bersama-sama mempengaruhi
inflasi (INF) di Sumatera Utara. Untuk itu dapat di ketahui melalui Uji "F"
sebagai berikut :
a. Hipotesis, H 0 : b1 = b2 = b3 = b4 = b5 = b6 = 0, dan H A : b1 ¹ b2 ¹ b3 ¹ b4 ¹ b5 ¹ b6 ¹ 0
b. a = 1 % ; n = 19 ; k = 6 ; df (k-1 ; n-k) = 5 ;13 maka, F – tabel = 4,86
c. Statistik penguji :
F-hitung =
maka,
F – hitung = 31,78
d. Kriteria, Terima H0 apabila F - hitung < F- tabel dan Terima HA apabila F - hitung > F- tabel
d. Kesimpulan, terima HA, karena F-hitung > F-tabel ( 31,78 > 4,86 )
Berdasarkan hasil perhitungan di atas
dimana F - hitung > F - tabel (31,78 > 4,86) dengan demikian Ha diterima,
artinya bahwa variabel total pengeluaran pemerintah (X1), total
investasi (X2), kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum
(X3), ekspor netto (X4), nilai kurs rupiah terhadap dolar
AS (X5) dan inflasi tahun sebelumnya (X6) secara
bersama-sama mampu menjelaskan variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara pada
tingkat kepercayaan
99%.
KOEFISIEN DETERMINASI(R2): Nilai koefisien determinasi (R2) menunjukkan nilai 0,9408 artinya variabel total pengeluaran pemerintah (X1), total investasi (X2), kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3), ekspor netto (X4), nilai kurs rupiah terhadap dolar AS (X5) dan inflasi tahun sebelumnya (X6) secara bersama-sama cukup mampu menjelaskan pengaruh perubahan terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 94,08 % sedangkan sisanya sebesar 5,92% di jelaskan oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam persamaan tersebut.
UJI H-STATISTIK: Pada umumnya untuk mengetahui ada tidaknya gejala autokorelasi dalam model persamaan dilakukan uji Durbin Watson test atau biasa disebut dengan uji "D-W" test. Namun uji ini hanya berlaku untuk model regresi dimana variabel-variabel bebasnya tidak mengandung lagged dependent variable. Sedangkan dalam model regresi ini mengandung lagged dependent variable yakni variabel inflasi tahun sebelumnya. Untuk itu test yang dilakukan adalah h-statistics. Dari hasil pengujian h-statistics diperoleh nilai sebesar –1,524 dan berada di antara –1,96 dan +1,96. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam model tersebut tidak terdapat autocorrelation.
KORELASI SERIAL: Untuk mendiagnosis ada tidaknya korelasi serial (autokorelasi), dapat juga digunakan LM Test. Uji ini lebih baik daripada Durbin – Watson Test karena lebih muda diinterpretasikan dan dapat diterapkan untuk regresi yang menggunakan variabel dependen lagged sekalipun. Hasil pengujiannya adalah seperti yang ditampilkan di bawah ini :
Tabel 3
|
Breusch-Godfrey
Serial Correlation LM Test : | |||
|
F-statistic |
1.697706 |
Probability |
0.231857 |
|
Obs*R-squared |
4.816040 |
Probability |
0.089993 |
Sumber :
Lampiran 11
Berdasarkan hasil uji LM Test (Tabel 2) di atas, memperlihatkan bahwa besarnya nilai c2 - hitung (Obs R-squared) = 4,816 lebih kecil dari nilai c2 - tabel = 12,59 ( c2 - hitung < c2 – tabel) pada level signifikansi 5 %. Dengan demikian hipotesis nol (Ho) yang mengatakan bahwa tidak ada autokorelasi diterima. Artinya dalam model yang diestimasi tersebut tidak mengandung korelasi serial (autokorelasi) antar faktor pengganggu (error term).
Multicollinearity
Untuk mendeteksi ada tidaknya multicollinearity dalam suatu model estimasi dapat dilakukan dengan melihat nilai R2 yang dihasilkan dari estimasi model. Angka R2 yang tinggi disertai koefisien regresi yang tidak signifikan biasanya menandakan terdapatnya multicollinearity. Dari hasil estimasi model diatas diperoleh nilai R2 sebesar 94,08% dan tingkat signifikansi variabel bebas berdasarkan uji t-statistik menunjukkan pengaruh yang signifikan. Dengan demikian dalam model estimasi tersebut dapat disimpulkan tidak terdapat multicollinearity. Di samping itu untuk mendeteksi masalah multicollinearity ini, Farrar dan Glauber menyarankan untuk menggunakan metode koefisien korelasi parsial. Hasil dari uji ini seperti tabel di bawah ini :
Tabel 4 Hasil Uji R
Variabel |
Nilai R2 |
|
R2 {X1 = f (X2,X3,X4,X5,X6)} |
0,5434 |
|
R2 {X2 = f (X1,X3,X4,X5,X6)} |
0,1306 |
|
R2 {X3 = f (X1,X2,X4,X5,X6)} |
0,8119 |
|
R2 {X4 = f (X1,X2,X3,X5,X6)} |
0,8492 |
|
R2 {X5 = f (X1,X2,X3,X4,X6)} |
0,8426 |
|
R2 {X6 = f (X1,X2,X3,X4,X5)} |
0,6696 |
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa nilai R2 INF, X1 X2 X3 X4 X5 X6 = 0,9408 lebih besar dari nilai R2 dalam regresi parsial maka mengikuti rule of thumb dari metode ini dapat disimpulkan bahwa dalam model tersebut tidak ditemukan adanya multicollienerity.
IMPLIKASI PADA KEBIJAKAN INFLASI: Dari pembahasan terhadap variabel-variabel yang dibentuk dalam model dapat dilihat bahwa inflasi yang terjadi di Sumatera Utara pada dasarnya merupakan inflasi yang bersifat stationary (statis). Dari sisi permintaan, inflasi lebih cenderung disebabkan oleh perubahan masing-masing variabel yang mempengaruhi inflasi seperti total pengeluaran pemerintah, kredit yang disalurkan bank umum, kurs, eskpor netto, investasi dan ekspektasi masyarakat.
Sebagaimana telah uraikan sebelumnya bahwa hasil
penelitian ini menemukan bahwa pengeluaran pemerintah berkorelasi negatif dengan
inflasi, hal ini dimungkinkan karena pemerintah Sumatera Utara tidak menerapkan
kebijakan defisit anggaran. Dengan demikian pengeluaran pemerintah tidak
memiliki efek inflatoir yang
menyebabkan inflasi, melainkan efek deflatoir.
Selain itu hal ini juga dikarenakan jumlah total investasi di Sumatera Utara relatif tinggi dibandingkan dengan pengeluaran pemerintah. Sepanjang tahun observasi tercatat bahwa dalam enam tahun, masing-masing tahun 1986, 1988, 1990, 1993, 1995 dan 1998 tingkat investasi berada di atas tingkat pengeluaran pemerintah. Sedangkan pada tahun-tahun selain itu, tingkat investasi bergerak moderat dengan proporsi di bawah total pengeluaran pemerintah, namun dalam selisih yang tidak terlalu jauh. Hal ini mengakibatkan, ketika investasi cenderung lebih tinggi, akan mengakibatkan output akan meningkat. Peningkatan output (supply) tentu saja lebih jauh akan menetralisir tarikan permintaan (demand full inflation), sehingga mereduksi inflasi.
Berkaitan dengan pengaruh kredit yang disalurkan bank
umum terhadap inflasi di Sumatera Utara, peneliti mengaitkan antara kredit yang
disalurkan perbankan dengan inflasi untuk merefresentasikan kaitan antara jumlah
uang beredar dengan inflasi, terutama ketika data jumlah uang berdedar tidak
bisa diperoleh, seperti yang dilakukan Nazamuddin (2001). Friedman dan
Schwartz (1976). Data tersebut
memverifikasi hubungan antara inflasi dan pertumbuhan kuantitas uang. Hasilnya
menunjukkan, dekade-dekade dengan pertumbuhan uang tinggi cenderung memiliki
inflasi yang tinggi. Sebaliknya dekade-dekade dengan pertumbuhan uang rendah
cenderung memiliki inflasi yang rendah. Ini juga berarti variabel jumlah kredit
bank umum merupakan sebuah variabel penggeser laju inflasi kumulatif atau dapat
juga disebut sebagai parameter penggeser (shift parameter) terhadap permintaan
agregat. Di sisi lain jumlah kredit yang disalurkan bank umum, juga
mengindikasikan sejauh mana daya serap pasar. Pada umumnya kredit yang
disalurkan bank umum tersebut digunakan untuk dua hal, yakni investasi dan
konsumsi, dan keduanya juga dapat memicu inflasi.
Demikian pula halnya dengan ekspor netto. Ekpor netto memberikan injeksi pada Gross Domestic Product (GDP), sehingga meningkatkan jumlah uang beredar di dalam negeri, artinya dengan meningkatnya jumlah uang beredar berarti ekspor netto juga memiliki peluang untuk meningkatkan inflasi.Lantas bagaimana dengan kurs? Sejak tahun 1966 Indonesia menganut sistem devisa bebas dan sejak tahun 1986 Indonesia menetapkan kebijakan kurs mengambang terkendali. Karena adanya kedua kebijakan inilah maka perubahan nilai kurs yang sulit dikendalikan pemerintah berpotensi untuk mempengaruhi stabilitas ekonomi dalam negeri.
Pengaruh perubahan kurs terhadap ketidakstabilan ekonomi melalui mekanisme perdagangan luar negeri yaitu impor dan ekspor. Bila kurs meningkat berarti terjadi penurunan nilai rupiah dibandingkan US$. Penurunan ini menyebabkan harga barang ekspor Indonesia harganya turun sehingga meningkatkan daya saing, yang memicu peningkatan ekspor. Tetapi dengan naiknya kurs juga mengakibatkan harga barang impor menjadi mahal. Bila produksi dalam negeri masih banyak menggunakan komponen yang berasal dari impor, maka kenaikan tersebut mendorong terjadinya inflasi di dalam negeri.
Selanjutnya adalah investasi dan inflasi tahun sebelumnya (ekspektasi masyarakat). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kedua variabel ini pada dasarnya tidak signifikan mempengaruhi inflasi. Tidak signifikannya tingkat investasi terhadap inflasi dikarenakan sejak tahun 1996 tingkat investasi terus mengalami tekanan, terutama hal ini dipengaruhi oleh tingkat kurs dan suku bunga yang cukup tinggi. Faktor lain yang mengakibatkan surutnya investasi ketika itu adalah karena pasca 1996 Indonesia mulai terperangkap dalam krisis ekonomi. Krisis telah menggiring Indonesia melakukan gerakan reformasi di segala bidang. Masa-masa transisi yang penuh kerusuhan massal dan demonstrasi mahasiswa dan buruh, mengakibatkan tingkat risiko untuk berinvestasi di Indonesia menjadi tinggi (country risk), tak terkecuali di Sumatera Utara.
Lebih lanjut inflasi tahun sebelumnya memberikan pengaruh yang tidak signifikan terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara pada tingkat kepercayaan 90% (baru signifikan pada tingkat kepercayaan 50%). Tidak signifikannya pengaruh ekspektasi masyarakat terhadap inflasi dikarenakan, masyarakat tidak menginternalisasi unsur ekspektasi dalam prilakunya mengkonsumsi barang dan jasa. Untuk kasus Sumatera Utara kita dapat melihat, justru ketika krisis, konsumsi secara kasat mata mengalami peningkatan, misalnya bisa dilihat dari semakin berkembangnya perumahan elit, ruko-ruko yang menjamur ditengah dan pinggiran kota, semakin padatnya jalan raya dengan mobil-mobil baru built up dan lain-lain. Dengan kata lain, fakta ini menunjukkan bahwa memang masyarakat belum menginternalisir aspek ekspektasi dalam prilaku ekonominya.
KESIMPULAN :Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dalam bab terdahulu maka diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Hasil estimasi persamaan inflasi (INF) diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 94,08% yang berarti secara keseluruhan variabel bebas yang ada dalam persamaan tersebut cukup mampu menjelaskan variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara. Selanjutnya bila dianalisis secara lebih mendalam lagi dengan melihat variabel bebasnya secara simultan, maka pengaruhnya terhadap inflasi (INF) di Sumatera Utara mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada tingkat kepercayaan 99%.
2. Berdasarkan hasil estimasi di atas dapat diketahui bahwa total pengeluaran pemerintah (X1) mempunyai pengaruh yang negatif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,000124. Hal ini berarti, jika total pengeluaran pemerintah provinsi Sumatera Utara (X1) meningkat sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka akan menurunkan inflasi (INF) sebesar 0,124%. hal ini dimungkinkan karena pemerintah Sumatera Utara tidak menerapkan kebijakan defisit anggaran. Dengan demikian pengeluaran pemerintah tidak memiliki efek inflatoir yang menyebabkan inflasi, melainkan efek deflatoir.
3. Variabel kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3) menunjukkan pengaruh yang positif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,00000758. Ini memberi arti apabila kredit yang disalurkan oleh bank-bank umum (X3) yang ada di Sumatera Utara meningkat sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka inflasi (INF) akan meningkat sebesar 0,00758%.
4. Berdasarkan hasil estimasi, ekspor netto (X4) mempunyai tanda koefisien regresi yang positif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,0000098. Artinya jika ekspor netto (X4) mengalami peningkatan sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka akan mendorong inflasi (INF) meningkat sebesar 0,0098%.
5. Kurs rupiah terhadap dolar AS (X5) memberikan pengaruh yang negatif terhadap variasi inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,0217. Ini memberi arti jika kurs rupiah terhadap dolar AS (X5) mengalami apresiasi (penguatan) sebesar Rp. 1, ceteris paribus, maka akan menurunkan inflasi (INF) di Sumatera Utara sebesar 0,0217%.
6.
Variabel yang tidak signifikan antara lain
adalah total investasi (X2) dan inflasi tahun sebelumnya
(X6). Total investasi memiliki tanda koefisien regresi yang positif
sebesar 0,00000693 terhadap variasi inflasi (INF), ini mengandung arti apabila
investasi meningkat sebesar Rp 1 miliar, ceteris paribus, maka inflasi
(INF) akan meningkat sebesar 0,00693%. Sedangkan inflasi tahun sebelumnya
(X6) memiliki tanda koefisien yang positif terhadap variasi inflasi
(INF) sebesar 0,1306. Hal ini memberi arti bila inflasi tahun sebelumnya (INF)
meningkat sebesar 1%, ceteris paribus, maka akan meningkatkan laju
inflasi (INF) sebesar 0,1306%.
DAFTAR PUSTAKA
Ackley, Gardner. 1983. Teori
Ekonomi Makro. Diterjemahkan Oleh Paul Sitohang-Fakultas Ekonomi Universitas
Lampung Teluk Betung. Diperiksa dan disempurnakan oleh Joedono - Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Hal.534.
Arief, Sritua. 1993. Metode
Penelitian Ekonomi. Penerbit Universitas Indonesia (UI Press). Jakarta.
Afifuddin, Sya’ad. 2002 : Pengaruh Permintaan Dalam Negeri dan Luar
Negeri Minyak Kelapa Sawit Terhadap Luas Lahan Kelapa Sawit di Sumatera
Utara. Ringkasan Desertasi Doktor Ekonomi Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga.
Surabaya. Hal.10.
Braumann, Benedikt. 2000. Real
Effects of High Inflation. Western Hemisphere Deapartement International
Monetary Fund (IMF). Working Paper. Website, www.imf.org.
Domac, Ilker. 2002. The Main
Determinants of Inflation in Albania. The World Bank Poverty Reduction and
Economic Management East Asia and Pacific Region. Working Paper. Washington DC.
Website, www.worldbank.org.
p. 4-25.
Dornbusch, Rudiger; Stanley Fischer. 1994. Macroeconomics. McGraw-Hill,Inc.
p.470.
Gilarso, T. 1986. Ekonomi
Indonesia Sebuah Pengantar. Kanisius. Yogyakarta. Hal. 390.
Gunawan, Hermanto, Anton, 1995. Anggaran Pemerintah dan Inflasi di
Indonesia. PAN Ekonomi UI. Gramedia. Jakarta. Hal. 1-34.
Gujarati, Damodar, N.1995. Basic
Econometric. International Edition. Third Edition. United Sates Military Academy West
Point. McGraw-Hill, Inc.
Jambak, Syaifan, 1998. Inflasi di
Indonesia. Jurnal Ekonomi
Sriwijaya. No I Tahun I. Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya. Palembang.
Hal.49-58.
Kusumayadi, Adi, 1998. Analisis
Inflasi dan Pengangguran di Sumatera Utara. Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. Medan. Hal.37-87.
Laugani, Prakash; Phillip Swagel. 2000. Source Inflation in Developing
Countries. External Relations Departement International Monetary Fund (IMF).
Working Paper. Website, www.imf.org. p.13.
Mankiw, N Gregory ; Harvard University. 2000. Teori Makro Ekonomi. Edisi Keempat.
Alih Bahasa Imam Nurmawan. Editor
Yati Sumiharti. Penerbit Erlangga, Jakarta. Hal. 154-338.
McEachern, William.A. 2001. Ekonomi Makro, Pendekatan Kontemporer.
Penerbit Salemba Empat, Jakarta. Hal.134.
Nakhrowi, Djalal Nakhrowi; Hardius Usman. 2002. Penggunaan Teknik Ekonometri, Pendekatan
Populer dan Praktis Dilengkapi Teknik Analisis dan Pengolahan Data dengan
Menggunakan Paket Program SPSS. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Nazamuddin, 2001. Model Struktur
Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Regional Sumatera Utara. Kantor Bank
Indonesia Medan. Hal.1-26.
Prawirohardjono, Soetrisno. Ekonomi Publik II. Universitas Terbuka.
Penerbit Kurnia. Jakarta. Hal. 35.
Samuelson, Paul, A; William D, Nordhaus. 1995. Ekonomi. Edisi Keduabelas. Jilid 1.
Terjemahan dari Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen. Oleh A. Jaka
Wasana. Penerbit Erlangga. Jakarta. Hal.296-319.
Sheffrin, Steven M. 1989 : Rational Expectation, Cambridge
University Press, New York. p.42.
Sukirno, Sadono. 2000. Makroekonomi Modern, Perkembangan dari
Klasik Hingga Keynesian Baru. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Hal. 525.
Susanti, Hera; Moh, Ikhsan; Widyanti. 1995. Indikator-indikator Makroekonomi. Edisi
Kedua. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. 1995. Hal.
47-48.
Ramakrishnan, Uma; Athanasios Vamvakidis. 2002. Forecasting Inflation in Indonesia.
Asia and Pacific Departement International Monetary Fund (IMF). Working
Paper.Website, www.imf.org.