Manajemen dan Kepemimpinan

Oleh : Edy Sahputra Sitepu

Belakangan ini kita sering mendengar perdebatan-perdebatan tetang peran mahasiwa pasca gerakan reformasi. Perdebatan tersebut tersebut terdorong oleh pandangan bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis dan peran menentukan. Di samping itu ada juga yang berpendapat bahwa mahasiswa hanya sebagai “alat” pendukung kekuatan atau menjadi “kuda tunggangan.” Terlepas dari beragamnya opini tentang polarisasi gerakan mahasiswa, sejarah mencatat warna-warni gerakan mahasiswa mulai tahun 1908 (Budi Utomo) sampai tahun 1998 (reformasi) memberi suatu justifikasi pada kita semua bahwa gerakan mahasiswa adalah gerakan oposisi yang konstan dan berkesinambungan.

Peran terpenting mahasiswa pada prinsipnya adalah, sebagai sumber insani pembangunan (generasi penerus), di samping itu mahasiswa juga harus mengaktualisasikan dirinya sebagai penjaga arah bagi perjalanan bangsa, dalam upaya rekontruksi wawawan kemanusiaan bagi mahasiswa itu sendiri (secara individual) dalam bentuk moral force. Sebagai kekuatan moral force mahasiswa dituntut untuk memiliki kualifikasi personal baik dari sudut intelektualitas, moral, kepekaan terhadap berbagai fenomena yang berkembang di masyarakat sebagai lingkungan sosial. Dalam konteks inilah mahasiswa harus senantiasa menginternalisasikan aspek-aspek manajemen dan kepemimpinan (leadership) efektif dalam berbagai aktitivitasnya.

Ilustrasi Varibale Diskusi

 

 

 

 

 

 

Defenisi Organisasi : Chester Burnard ; sistem kerjasama antara orang-orang. Dwigh Waldo ; struktur hubungan antar pribadi berdasarkan wewenang formal dan kebiasaan-kebiasaan dalam suatu sistem organisasi. James D Money ; kerjasama orang-orang untuk mencapai tujuan 

Unsur organisasi : ada dua orang atau lebih, ada kerjasama, ada tujuan, ada pengaturan hubungan,  

Azaz organisasi (Hayne & Massie) :(1) azas koordinasi (mengintegrasikan antar sub departeman) (2) azas hierarki (tangga-tangga pembagian wewenang) (3) azas kesatuan komando (no man can serve two boss). (4) azas rentang kendali (keterbatasan mengontrol bawahan, seorang atasan idealnya dibatasi untuk mengorganisasikan 5-8 orang bawahan-VA Graigun)

Fungsi-fungsi organisasi : (1). Fungsi Lini ; pelaksanaan tugas pokok organisasi-langsung berkenaan dengan pelayanan pada masyarakat. (2). Fungsi Staf ; merencanakan – menasehati – mengamati dan tidak berwenang memimpin pelaksaan tugas secara langsung (dalam tugasnya boleh menyilang melintas garis hierarki). Jenis-jenis antara lain general staf (paling dekat dengan pejabat lini), technical staf (membantu dalam hal kebijakan), auxiliary staf (menangani masalah pendanaan, administrasi, perlengkapan dan lain-lain). (3). Fungsi Auxiliary ; memberikan bantuan pada manajer lini dalam bentuk pembiayaan, tenaga pegawai/administrasi, perintah-perintah atas nama manajer lini.

Manajemen

Dalam banyak literatur manajemen didefenisikan sebagai suatu perpaduan antara ilmu dan semi dalam mencapai tujuan dengan menggunakan orang lain sesuai dengan prosedur umum manajemen yakni Planning, Organzing, Actuating dan Controling. Dalam pengertian faktual, para pakar manajemen sering menyebutkan ; manajemen adalah ilmu memper”kuda”kan orang lain di mana orang lain tersebut terlepas dari perasaan tertekan (under preasure) dan intimidasi. Dewasa ini peran manajemen kian penting karena manusia  hidup dalam berbagai kondisi yang sangat perlu dicermati, seperti : (1).Penuh dengan tantangan (challenge). (2).Penuh dengan persaingan (competitive). (3). Penuh dengan ketidakpastian (uncertainty). (4).Penuh dengan  perubahan (change).(5).Problem dan perubahan yang komplek (complex).(6).Situasi yang kacau dan  banyak intervensi yang susah dikendalikan (crowded).

Untuk tidak tergilas oleh enam paradigma di atas, implementasi dasar manajemen yang harus dilakukan adalah dengan melakun evaluasi diri secara cermat, dan dalam konteks manajemen hal itu dilakukan dengan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity dan Threat).

Analisis SWOT dipahami sebagai suatu pendekatan yang dimaksudkan untuk mengetahui dan menyeimbangkan kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan internal dari sebuah lembaga/organisasi dengan berbagai peluang serta ancaman yang dimiliki atau terdapat di dalam lingkungan eksternal. Sebagai sebuah pendekatan, analisis SWOT ini agaknya telah cukup banyak digunakan oleh berbagai organisasi, baik organisasi yang bersifat mencari keuntungan maupun yang non profit motive seperti misalnya kalangan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dan sebagainya. Analisis SWOT atau analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman ini dilakukan dengan maksud agar suatu organisasi dapat  mengetahui secara lebih tepat “dimana” posisinya sekarang, sehingga memperjelas dan mempermudah untuk menentukan gerak ke depan ke arah yang diidamkan organisasi bersangkutan.

Dengan maksud seperti itu, analisis ini dilakukan dengan cara mengenali atau mengidentifikasi faktor-faktor kekuatan (S – Strengths) dan kelemahan (W – Weaknesses) dari internal organisasi, serta mengidentifikasi faktor-faktor peluang (O – Opportunities) dan ancaman (T – Threats). eksternal. Faktor-faktor kekuatan dan kelemahan adalah merupakan faktor-faktor yang terdapat di dalam organisasi, sementara faktor-faktor peluang dan ancaman adalah faktor-faktor eksternal yang dapat memberikan ruang pengaruh dan sekaligus batas-batas dari gerak organisasi bersangkutan.

Melalui cara ini, maka diharapkan isu-isu utama yang dihadapi oleh suatu organisasi dapat dipilah-pilah dengan menganalisis keempat unsur tersebut secara cermat dan teliti. Tentu saja, agar upaya mengenali atau mengidentifikasi terhadap masing-masing keempat unsur tersebut dapat berlangsung dan dilakukan secara cermat dan teliti, maka pelibatan semua pihak dalam organisasi tersebut menjadi sangat penting dan menentukan. Lebih dari itu, bahwa pemahaman mengenai “dimana” posisi organisasi,  selanjutnya tidak hanya menjadi dominasi sejumlah orang saja, akan tetapi secara luas menjadi pemahaman dan milik bersama seluruh unsur yang ada dalam organisasi.

Mengapa Penting Dilakukan?

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa analisis SWOT dilakukan sebagai upaya untuk memahami dan mengetahui secara lebih tepat kondisi sesungguhnya dari suatu organisasi. Faktor-faktor apa saja yang dimiliki dan dirasakan sebagai kekuatan dan kelemahan internal organisasi, disamping faktor-faktor eksternal yang mungkin bisa menjadi peluang dan membuka kesempatan bagi pengembangan organisasi maupun faktor-faktor yang sebaliknya mungkin justru dapat mengancam kelangsungan organisasi.

Dengan mengidentifikasi faktor-faktor kekuatan organisasi berarti kita akan mengetahui dan memahami sejumlah potensi yang dimiliki oleh organisasi sebagai modal dasar bagi pengembangan dan keberlanjutan organisasi. Demikian halnya dengan upaya melakukan identifikasi faktor-faktor kelemahan yang terdapat dalam organisasi, berarti kita akan mengetahui dan memahami berbagai aspek yang menjadi penyebab organisasi tersebut mengalami kemandegan atau bahkan kemunduran.

Sementara itu, faktor-faktor eksternal yang mungkin dapat memberikan peluang dan membuka kesempatan bagi peningkatan dan keberlanjutan organisasi, atau sebaliknya juga ancaman-ancaman dari luar yang mungkin dapat mengganggu atau menghambat perjalanan dan perkembangan organisasi; merupakan hal penting untuk diidentifikasi.

Bagi suatu organisasi, mengetahui dan memahami secara lebih rinci tiap aspek (dari keempat aspek) melalui analisis SWOT tersebut dipandang sangat penting, karena hasil dari analisis SWOT ini selanjutnya akan bermakna sebagai pemahaman dan kesamaan perspektif segenap unsur dari organisasi mengenai kondisi organisasi yang mereka miliki dan kelola. Hasil analisis SWOT ini selanjutnya akan menjadi bahan acuan bagi organisasi untuk melakukan kajian dan merumuskan sejumlah issu strategis atau hal-hal yang dipandang penting untuk dibenahi atau diperbaiki, karena hal-hal tersebut merupakan faktor yang sangat menentukan bagi pengembangan dan keberlanjutan organisasi di masa depan. Lebih jauh setelah melakukan SWOT analisis beberapa tugas penting dari manajemen adalah menderivasikan dan memformulasikan sebuah kerangka/sistem manajemen perencanaan strategis (VMOS) yang terdiri dari rencana strategis  dan rencana operasional (COT).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kepemimpinan

Konsep tentang kepemimpinan tidak dapat dipisahkan dari konsep kepemimpinan secara umum. Secara formal, kegiatan pemimpin harus diselenggarakan oleh seorang yang menduduki posisi atau jabatan tertentu yang dilingkungannya terdapat sejumlah orang yang harus bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan. Sehubungan dengan itu dikenal beberapa istilah sebagai berikut :

  1. Pemimpin (leader) dengan kegiatannya disebut leadership

  2. Manajer (manager) dengan kegiatannya disebut management

  3. Adminnistrator dengan kegiatannya disebut administration

Secara kuantitatif perbedaannya terletak pada luas sempitnya ruang lingkup kegiatan masing-masing. Kegiatan administrasi mencakup ruang lingkup yang paling luas, berikutnya adalah manajemen, dan ruang lingkupnya yang paling kecil adalah kegiatan kepemimpinan. Namun demikian ketiga-tiganya berintikan pada kegiatan  kemampuan pengambilan keputusan.(decision making).

Kegiatan administrasi memerlukan kemampuan manajemen dan kepemimpinan, sedangkan kegiatan manajemen memerlukan kemampuan kepemimpinan yang seluruhnya diwujudkan oleh kemampuan mengambil keputusan.

Penelitian terhadap proses kepemimpinan telah banyak dilakukan para ahli, namun sampai dengan saat ini masih belum ditemukan kesamaan pandangan. Hal ini dimungkinkan karena berbedanya ajaran, falsafah, latar belakang lingkungan dan lain-lain.Dari pendapat-pendapat yang ada, tentang proses kepemimpinan dapat disimpulkan menjadi tiga teori yang dapat menyebabkan seseorang menjadi pemimpin yaitu :

a.       Teori keturunan (leader are born and not made)

b.      Teori kejiwaan (leader are made not born)

c.       Teori lingkungan

Pengertian dan Fungsi Kepemimpinan

Kepemimpinan dalam setiap organisasi memegang peranan penting dalam menjalankan roda organisasi. Oleh karena di dalamnya termasuk proses memimpin dan mengarahkan sejumlah orang untuk bekerjasama menjalankan tugas-tugas organisasi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Ada beberapa pengertian kepemimpinan yakni :

  1. Kepemimpinan adalah proses mengarahkan, membimbing, mempengaruhi atau mengawasi pikiran, perasaan atau tindakan dan tingkah laku orang lain.

  2. Kepemimpinan adalah tindakan/perbuatan di antara perseorangan dan kelompok yang menyebabkan baik seorang maupun kelompok bergerak ke arah tujuan tertentu.

  3. Kepemimpinan dadalah kemampuan menggerakkan, memberikan motivasi dan mempengaruhi orang-orang agar bersedia melakukan tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan melalui keberanian mengambil keputusan tentang kegiatan yang harus dilakukan.

Dari beberapa pengertian di atas, maka kegiatan yang harus dilakukan oleh pimpinan adalah :

  1. Kegiatan menggerakkan orang-orang, yang berarti keseluruhan proses pemberian motivasi agar bekerja secara iklash dan sungguh-sungguh demi tercapainya tujuan organisasi secara efisien dan efektif.

  2. kegiatan tersebut dilakukan oleh seseorang yang berani tampil ke depan dengan memberikan bimbingan, mempengaruhi mendorong terwujudnya tindakan-tindakan atau tingkah laku yang terarah pada tujuan.

  3. Inti dari kegiatannya adalah kemampuan mengambil keputusan dengan menetapkan dan mempertimbangkan 5w + how.

Beranjak dari kegiatan yang dilakukan oleh pemimpin di atas, maka fungsi kepemimpinan adalah :

  1. Mengembangkan dan menyalurkan kebebesan berfikir dan mengeluarkan pendapat, baik secara perorangan maupun kelompok sebagai usaha mengumpulkan data/bahan dari anggota kelompok  dan menetapkan keputusan.

  2. Mengembangkan suasana kerjasama yang efektif dengan memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap kemampuan orang-orang yang dipimpin sehingga timbul kepercayaan pada dirinya sendiri dan kesediaan menghargai orang lain sesuai dengan kemampuan masing-masing.

  3. mengusahakan dan mendorong agar terjadinya pertemuan pendapat/buah fikiran dengan sikap harga-menghargai sehingga timbul perasaan ikut terlibat di dalam kegiatan kelompok/organisasi dan tumbuh perawsaan bertanggung jawab atas terwujudnya pekerjaan masing-masing sebagai bagian dari usaha mencapai tujuan.

  4. mebantu menyelesaikan masalah-masalah baik yang dihadapi secara perseorangan maupun kelompok dan memberikan petunjuk-petunjuk dalam mengatasinya sehingga berkembang kesediaan untuk memcahkannya dengan kemampuan sendiri.

Dalam beberpa literatur fungsi pemimpin dapat juga diderivasikan menjadi ;

1.       Fact finding: menemukan visi dan misi

2.       Aligning: menselaraskan orang untuk mencapai tujuan organisasi

3.        Empowering: memberdayakan orang untuk mencapai cita-cita

Syarat-syarat Kepemimpinan

Persyaratan kepemimpinan dimaksud  bukanlah persyaratan bagi seseorang untuk menduduki suatu jabatan, tetapi persyaratan yang diinginkan oleh fungsi kepemimpinan, yakni dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut

  1. Memiliki kecerdasan atau inteligensi yang cukup baik

  2. Percaya pada diri sendiri dan bersisifat membership

  3. Cajap bergaul dan ramah tamah (human relationship)

  4. Kreatif, penuh inisiatif dan memiliki hasrat/kemauan untuk maju dan berkembang menjadi lebih baik

  5. Organisatoris  yang berpengaruh dan berwibawa

  6. Memiliki keahlian  atau keterampilan di bidangnya

  7. Suka menolong, memberi petunjuk dan dapat menghukum secara konsekwen dan bijaksana

  8. Memiliki keseimbangan/kestabilan emosional dan bersifat sabar

  9. Memiliki  semangat pengabdian dan kesetian yang tinggi

  10. Berani mengambil keputusan  dan bertangung jawab

  11. Jujur, rendah hati, sederhana dan dapat dipercaya

  12. Bijaksana dan selalu berprilaku adil

  13. Disiplin

  14. Berpengetahuan dan berpandangan luas

  15. Sehat jasmani dan rohani

Tipe-tipe Kepemimpinan

Dalam kegiatan menggerakkan atau memberi motivasi orang lain agar melakukan tindakan-tindakan yang selalu terarah pada pencapaian tujuan organisasi, berbagai cara dapat dilakukan oleh seorang pemimpin. Cara itu mencerminkan sikap dan pandangan pemimpin terhadap orang yang dipimpinnya yang memberikan gambaran pula tentang tipe kepemimpinan yang dijalankannya. Secara teoritis dapat dibedakan tiga bentuk kepemimpinan yang dalam prakteknya mungkin dijalankan secara murni dan mungkin pula mewujudkan secara bersama-sama sehingga terbentuk kombinasi. Adapun bentuk-bentuk kepemimpinan tersebut antara lain :

  1. Kepemimpinan otoriter. Kepemimpinan ini nemempatkan kekuasaan ditangan seseorang atau sekelompok kecil orang yang disebut atasan sebagai penguasa. Pihak atasan memandang dirinya lebih dalam segala hal dibandingkan dengan pihakbawahan yang kualitas kemampuannya dipandang jauh di bawah kemampuan atasannya. Selanjutnya pihak atasan bertindak sebagai penguasa atau penentu yang tidak dapat dibantah, dan orang lain harus tunduk pada kekuasaannya dengan mempergunakan ancaman dan hukuman sebagai alat dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Bawahan tidak diberikan kesempatan untuk berinisiatif dan mengeluarkan pendapat-pendapatnya. Kreativitas dalam bekerja dipandang sebagai penyimpangan, walaupun tidak mustahil kegiatan-kegiatan yang dilakukan lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan perintah yang telah diberikan. Bilamana melimpahkan wewenang tidak lain dari wewenang melaksanakan instruksi, yang pada dasarnya tidak mengandung hak untuk menetapkan jenis dan cara melaksanakan pekerjaan. Secara sederhana bentuk ini, dalam pelimpahan tangung jawab tidak disertai pelimpahan wewenang.   

  2. Kepemimpinan Laissez Faire. Kepemimpinan ini pada dasarnya tidak melaksanakan kegiatan dengan cara apapun. Pemimpin berkedudukan sebagai simbol karena dalam realitasnya kepemimpinannya dilakukan dengan memberikan kebebasan sepenuhnya pada orang yang dipimpinnya untuk berbuat dan mengambil keputusan secara perorangan. Pucuk pimpinan dalam menjalankan kepemimpinannya hanya berfungsi sebagai penasehat dengan memberikan kesempatan bertanya bila merasa perlu. Dengan demikian sepanjang orang yang dipimpin merasa perlu mengambil keputusan sendiri dan melaksanakan sendiri pula, maka pemimpin tidak berfungsi. Kebebasan diberikan menurut kemauan orang-orang yang dipimpin, tidak terarah sehingga perwujudan kerja menjadi simpang siur dan wewenang menjadi tidak jelas dan tanggung jawab juga kabur.

  3. Kepemimpinan demokratis. Bentuk kepemimpinan ini menempatkan manusia sebagai faktor utama yang terpenting. Hubungan antara pimpinan dan bawahan diwujudkan dalam human relationship yang didasari prinsip menghargai  dan saling menghormati. Pemimpin memandang oarng lain sebagai subyek yang memiliki sifat-sifat manusiawi sebagaimana dirinya. Setiap orang dihargai dan dihormati sebagai individu yang yang memiliki kemampuan, kemauan, kehendak, fikiran, minat dan perhatian, pendapat yang berbeda antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu setiap oarang harus dimanfaatkan dengan mengikutsertakannya dalam semua kegiatan organisasi.

Selanjutnya, dalam prakteknya proses kepemimpinan dapat dibedakan dalam tiga tingkatan, yakni : top leader (pimpinan puncak), middle leader (pimpinan tingkat menengah) dan lower leader (pimpinan tingkat bawah). Di samping bentuk-bentuk kepemimpinan di atas, maka kepemimpinan juga dapat dibedakan jenisnya sbb :

  1. Pimpinan formal/resmi, yakni pemimpin yang diangkat datu ditunjuk oleh suatu kekuasaan atau badan tertentu yang lebih tinggi untuk menjalankan tugas-tugas kepemimpinan dilingkungan kekuasaan dan badan yang lebih rendah.

  2. pemimpin informal, yakni pemimpin yang muncul  dari dalam kelompok dan diterima anggota kelompok sebagai oarang yang mampu menggerakkan dan mempengaruhi sehingga disegani, dihormati dan dipatuhi keputusan-keputusannya.

Menurut sifatnya, kepemimpinan dapat dibedakan pula sbb: pemimpin karismatik (alim ulama, guru, pemuka adat dll), pemimpin simbol (seperti raja), pemimpin headmanship (pejabat suatu instansi yang ditempatkan menjadi ketua KONI), pemimpin ahli/expert (guru diangkat menjadi kepala sekolah), pemimpin organisatoris dan administrator, pemimpin agitator (misalnya pemimpin partai-partai politik).

Analisa Komponen-komponen Kepemimpian

Kepemimpinan adalah situasi yang dinamis dan muncul karena dukungan berbagai faktor yang berinteraksi satu dengan yang lain. Semua faktor terserbut memungkinkan terwujudnya rangkaian kegiatan yang rasional, objektif  dan sistematis dalam menggerakkan orang-orang untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk memahami proses kepemimpinan itu perlu dilakukan approach yang terintegrasi terhadap komponen-komponen kepemimpinan  agar dapat dilakukan pengembangan kepemimpinan secara tepat. Seorang pemimpin sebagai manajer  atau administrator harus mampu mendayagunakan secara efisien dengan analisa secara menyeluruh sbb:

  1. Setiap pemimpin harus mampu memahami dan mampu menjelaskan tujuan yang menjadi missi organisasi  yang dipimpinnya, baik berupa tujuan umum maupun tujuan khusus.

  2. Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai, pemimpin harus mampu menetapkan fungsi-fungsi yang di dalamnya mengandung berbagai jenis kegiatan. Suatu fungsi harus mengandung bebagai kegiatan – kegiatan sejenis sehingga terwujud satuan-satuan kerja  yang menjadi bagian  di dalam suatu struktur.

  3. Berdasarkan satuan kerja itu, pemimpin harus menetapkan wewenang dan tanggung jawab sesuai dengan jenis kegiatan-kegiatan yang selanjutnya dijabarkan dalam bentuk tugas-tugas. Dengan demikian berarti struktur harus disusun dengan memperhatikan semua fungsi agar memungkinkan terlaksananya pencapaian tujuan.

  4. Dengan memperhatikan jenis, sifat, volume dan beban kerja dapat dibentuk di unit-unit kerja yang merupakan pembagian kerja tersebut tidak boleh mengakibatkan pengotakan kerja.

  5. Setiap unit kerja harus jelas kedudukannya di dalam struktur organisasi, sehingga jelas pula wewenang dan tangung jawabnya dalam mewujudkan fungsi-fungsi organisasi, yang secara keseluruhan merupakan total sistem.

  6. Berdasarkan beban tugas yang dijabarkan di unit-unit kerja selanjutnya ditetapkan perioritas kegiatan dengan pentahapan penyediaan anggaran yang diperlukan.

  7. Setiap pemimpin harus mampu pula memilih dan menetapkan prosedur kerja yang menyangkut cara tau metode kerja yang tidak bersifat statis dan harus terus dikembangkan dan disempurnakan guna mencapai efisiensi kerja yang semakin tinggi.

  8. Prosedur kerja formal yang ditetapkan tidak boleh menutup kemungkinan dikembangkannya hubungan kerja informal antar personal dalam suatu unit kerja atau antar unit kerja yang ada. Di samping hubungan kerja ke dalam, pemimpin juga harus mampu menetapkan batas-batas wewenang dalam melakukan hubungan kerja  ke luar sebagai usaha meningkatkan efisiensi kerja.

  9. Selanjutnya apabila kerja sudah diwujudkan dengan mempergunakan prosedur yang tepat maka harus dijaga agar berlangsung secara kontinu dan tetap terarah pada pencapaian tujuan. Untuk itu perlu dikontrol dan pengendalian yang efektif.

  10. Keseluruhan komponen yang berintegrasi itu merupakan input yang sangat besar pengaruhnya terhadap output atau hasil yang direncanakan. Pemimpin harus berusaha agar interaksi antar komponen di dalam organisasi merupakan input yang minimal untuk memperoleh output maksimal.

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ke Halaman Utama

Ke Indeks Artikel Ilmiah