Perang Sebagai Instrumen Ekonomi AS
Oleh: Edy Sahputra Sitepu
Masyarakat
internasional tentu masih ingat betapa dahsyatnya Operasi Desert Storm (badai gurun), dalam perang
Teluk ketika itu. Sebuah catatan yang berasal dari Harian Kompas menyebutkan,
perang yang berlangsung selama 43 hari tersebut, pasukan sekutu (30 negara) di
bawah pimpinan AS telah melancarkan setidaknya 109.876 serangan atau rata-rata
2.555 serangan setiap harinya. Selanjutnya pada tahun 1991 itu juga, PBB
menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Irak. Sanksi ekonomi dijatuhkan oleh Dewan
Keamanan (DK) PBB lewat Resolusi Nomor 661 Tahun 1990 atas Irak beberapa hari
setelah menginvasi Kuwait, Agustus 1990. Irak, tidak hanya dibelenggu dengan
sanksi ekonomi, tetapi ditelikung dengan diberlakukannya "zona larangan terbang"
berdasarkan Resolusi 670 (1990) DK PBB.
Segala
bentuk sanksi itu dijatuhkan DK PBB-dengan sponsor AS dan negara-negara
Barat-terhadap Irak itu dimaksudkan sebagai hukuman. Akan tetapi, hingga kini,
Saddam masih tetap berkuasa! Bahkan, kekuatan-kekuatan oposisi di Irak yang
didanai pihak luar, termasuk AS, pun tidak berkutik menghadapi Saddam.
Barangkali, antara lain kenyataan seperti itu yang mendorong AS-kali ini,
terutama George W Bush-tetap bernafsu ingin menyingkirkan Saddam. Memang, belum
ada kesatuan pendapat mengenai rencana agresi militer yang diagendakan
berlangsung dalam waktu dekat ini, bahkan di Washington sendiri. Apalagi, di
kalangan bekas sekutunya.
Harian
The New York Times, misalnya, beberapa waktu lalu memberitakan para pakar
memperingatkan bahwa serangan terhadap Irak akan memberi risiko signifikan,
yakni mulai dari meluasnya serangan teroris terhadap AS hingga melonjaknya harga
minyak. Para pejabat pemerintah, diplomat, dan ekonom juga memperingatkan bahwa
ongkos yang harus dikeluarkan AS begitu besar bila menggempur Irak saat ini.
Apalagi bila tanpa mendapat dukungan dari negara-negara yang dulu tergabung
dalam koalisi multinasional tahun 1991.
Namun
kondisinya berbeda dalam agresi kali ini, seluruh biaya yang akan dikeluarkan
dalam upaya mendongkel Saddam Hussein, biayanya harus ditanggung AS sendirian.
Sebab ternyata dukungan tidak seramai dulu. Arab Saudi, Kuwait, dan Jepang pada
tahun 1991 ikut menanggung biaya perang. Sekarang, mereka tidak lagi mau
mengeluarkan uang, hingga saat ini hanya Inggris yang mendukung penuh ide AS
tersebut.Para ekonom, seperti dikutip harian International Herald Tribune
beberapa hari lalu mengingatkan, serangan militer dapat memiliki efek psikologis
substansial terhadap pasar uang, investasi bisnis, travel, dan
elemen-elemen ekonomi dan finasial penting lainnya. Jika akibat perang, cadangan
minyak berkurang, seperti yang terjadi pada tahun 1991, dan harga melonjak naik,
akibatnya akan dirasakan bukan hanya oleh AS, tetapi juga negara-negara lain di
dunia ini.
Tetapi
AS memang sudah mempersiapkan untuk menghadapi kemungkinan buruk seperti itu.
Harian Guardian memberitakan, kini AS sedang gencar memenuhi
gudang-gudang minyaknya. Sejak November 2001 lalu, AS rata-rata setiap harinya
menyedot 150.000 barrel minyak mentah. Konon, gudang minyak AS dapat menyimpan
700 juta barrel. Dengan itu, AS berharap andaikan perang berkobar dan harga
minyak naik, mereka tidak akan kesulitan.
Lantas
apakah dengan melimpahnya cadangan minyak strategis AS itu dapat mencegah
melonjaknya harga minyak? Itu yang diragukan banyak pihak. Ada skenario yang
lebih buruk, misalnya, bila perang berkepanjangan, akibatnya akan dirasakan
negara-negara di kawasan Teluk yang kini dikenal sebagai pro-Barat. Demo anti-AS
akan merebak, dan kerusuhan bisa tak terhindarkan. Lagi-lagi pertanyaannya
mengapa AS terus berkeras untuk menyerang Irak?
Dua
Tinjuan Ekonomi
Ada hal
menarik yang patut di simak di seputar pro dan kontra rencana agresi militer
terhadap Irak ini. Di balik kecaman para ekonom, dan kekawatiran akan terjadinya
resesi di AS dan dunia, seperti yang ditulis banyak media, justru tim penasehat
gedung putih melontarkan bahwa perang dunia dapat mendorong pertumbuhan ekonomi
AS khususnya dan dunia pada umumnya.
Teori
Solow
Untuk
melihat persoalan tersebut dari sisi ekonomi, kita akan mulai dari teori
pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Terutama teori yang paling dekat dengan AS.
Dari Adam Smith Prof Robert J Solow, seorang ekonom besar AS, telah
mengembangkan sebuah model pertumbuhan ekonomi yang baru. Solow menunjukkan
bagaimana tabungan, pertumbuhan populasi, dan kemajuan teknologi mempengaruhi
tingkat output perekonomian dan
pertumbuhannya sepanjang waktu. Dari sisi tabungan, rencana agresi militer
tersebut tentu saja membutuhkan dana yang sangat besar jumlahnya. Tentu saja
kita bisa membayangkan, berapa mahal kira-kira harga sebuah rudal scud misalnya (sebuah senjata AS yang
sangat populer pada perang teluk lalu. Tentu kali ini AS akan memakai
senjata-senjata dengan teknologi lebih canggih.
Sekian
lama AS mengendapkan sebagian tabungan masyarakatnya dalam investasi di bidang
pengembangan senjata-senjata perang canggih, baik itu tabungan masyarakat maupun
tabungan pemerintah. Invetasi tersebut praktis, untuk sekian lama tidak memiliki
return investment yang memadai,
karena senjata-senjata tersebut tidak digunakan, dan disimpan saja
dipangkalan-pangkalan rahasia AS. Lagi pula penjualan senjata ke luar negeri
belakangan semakin seret, karena dunia semakin mementingkan dan mengedepankan
perdamaian global.
Namun
AS tentu masih mendapat sejumlah income dari perdagangan senjata dengan
memobilisasi kekacauan di sejumlah negara, misalnya di Timur Tengah, antara
Israel dan Palestina. Amerika terkesan terus membiarkan pertikaian kedua negara
berlarut-larut agar “jualannya” tetap laku. Lumayan untuk menutupi biaya
operasional industri senjatanya. Berangkat dari keberhasilan agresi penghamburan
dana di Israel dan Afganistan dalam
memburu Osama bin Laden. Kini AS semakin percaya dengan teori peningkatan
belanja pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sudah semakin
mentok pada level 2%.
Begitu
parlemen setuju untuk membuka cek baru buat Bush. Senjata dan amunisi mulai
bergerak, dari pabrik-pabrik rahasia, menuju pangkalan-pangkalan militer. Itu
artinya deal dan transaksi sudah
terjadi antara produsen senjata dengan user, dan pajak juga sudah dipungut.
Roda perekonomian mulai bergerak lebih cepat. Industri senjata yang tadinya
setengah tertidur tiba-tiba bangun, dan kembali berproduksi, untuk memenuhi
kebutuhan saat ini dan mengisi stok di masa depan. Impor bahan-bahan baku mentah
pun digalakkan, terutama baja, dan minyak serta beberapa barang-barang lain.
Agar biayanya lebih murah, maka barang-barang tersebut didatangkan dari
negara-negara berkembang seperti Indonesia misalnya. Tentu saja ini berarti
aliran dana mulai terbagi ke luar untuk dicicipi negara-negara yang bermitra
bisnis dengan AS.
Instrumen
pertumbuhan ekonomi versi Solow berikutnya adalah pertumbuhan populasi. Bukan
hanya Solow, jauh sebelum Solow juga telah disepakati bahwa untuk mencapai
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, hal yang perlu dilakukan adalah bagaimana agar pertumbuhan pendapatan
tersebut dapat lebih tinggi dari pertumbuhan jumlah penduduk. Semakin jauh lebih
tinggi pertumbuhan pendapatan ketimbang penduduk semakin baiklah perekonomian
berikut pertumbuhannnya secara agregat. Dalam kaitan ini penulis memiliki
pretensi, Bush sedang menekan angka pertumbuhan penduduknya sebab perang akan
banyak memakan korban, dan itu berarti menekan pertumbuhan penduduk.
Sementara
itu hal ini juga diikuti dengan mobilisasi angkatan kerja yang luar biasa.
Bagaimana pun, sebuah perang, mau tak mau harus diakui sebagai sebuah industri
raksasa. Selain membutuhkan dana besar, perang juga membutuhkan banyak tenaga
kerja, baik mereka yang akan dipekerjakan sebagai tentara itu sendiri, buruh di
pabrik senjata, dan mereka yang terlibat dalam sistem informasi managemen
perang. Paling tidak angka unemployment bisa sedikit ditekan.
Berkaitan dengan ini, kabar terakhir menurut harian Los Angeles Times, saat ini Gedung Putih
telah merekrut lebih 10.000 orang anggota oposisi Irak untuk dilatih sebagai
persiapan perang menyerang Irak.
Yang
ketiga adalah instrumen kemajuan teknologi. Perang menjadi sesuatu yang
spektakuler karena, perang juga memobiliasi teknologi-teknologi baru, tidak
hanya sampai di sana. Perang juga akan mengintegrasikan teknologi-teknologi
baru. Jepang dan Jerman adalah dua kisah pertumbuhan ekonomi yang berhasil.
Meskipun dewasa ini kedua negara itu merupakan adidaya ekonomi, pada tahun 1945
perekonomian kedua negara tersebut carut-marut. Perang Dunia II telah
menghancurkan sejumlah besar persediaan modal mereka. Namun dalam beberapa
dekade setelah perang, kedua negara ini mengalami tingkat pertumbuhan paling
pesat dalam catatan sejarah. Antara tahun 1948 dan 1972, output perorang tumbuh 8,2% per tahun di
Jepang dan 5,7% per tahun di
Jerman, sementara di AS hanya 2,2%.
Apakah
pengalaman pasca perang Jepang dan Jerman begitu mengejutkan dari sudut Solow?
Kita bisa membayangkan sebuah perokonomian dalam kondisi mapan, lantas perang
menghancurkan sebagian persedian modal. Tidak mengherankan tingkat output langsung jatuh, sebagai
akibatnya. Tetapi jika tingkat tabungan, bagian output yang dimasukkan ke tabungan dan
investasi tidak berubah, perekonomian kemudian akan mengalami pertumbuhan
ekonomi yang tinggi. Output tumbuh
karena, pada persediaan modal yang lebih rendah, lebih banyak modal yang
ditambahkan melalui investasi ketimbang yang digerogoti melalui penyusutan.
Pertumbuhan ekonomi ini terus menerus terjadi sampai perekonomian mendekati
mapannya. Maka, meskipun bagian persediaan modal yang hancur langsung mengurangi
output, hal itu diikuti dengan
pertumbuhan yang lebih tinggi dari
tingkat normal.
“Keajaiban”
pertumbuhan pesat di Jepang dan Jerman, sebagaimana digambarkan dalam banyak
media bisnis, sesuai dengan prediksi model Solow untuk negara-negara yang
persediaan modalnya mengalami penurunan besar-besaran akibat perang. Ini
merupakan alasan pertama bagi AS.
Stagflasi
1970
Alasan
berikutnya adalah Irak merupakan resource strategis penghasil minyak
terbesar dunia. Di bawah Sadam, Irak menjadi liar dan tidak bisa didikte oleh
AS. Bahkan Irak memiliki Obsesi politis untuk menyatukan seluruh wilayah Arab di
bawah kepemimpinan Saddam Hussein. Ini juga merupakan hal yang membuat pusing
Gedung Putih. Dalam sebuah literatur disebutkan, guncangan penawaran minyak
terburuk disebabkan oleh negara-negara pengeskpor minyak yang tergabung dalam
OPEC. Pada awal tahun 1970-an, pengurangan suplai minyak OPEC hampir
melipatgandakan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak ini menyebabkan
stagflasi di sebagian besar negara-negara industri, puncaknya tahun 1974 di mana
harga minyak naik 68%. Tentu saja guncangan ini menyebabkan inflasi dan tingkat
pengangguran. Kondisi demikian terus terjadi berulang-ulang.
Dewasa
ini, OPEC tidak lagi menjadi penyebab utama fluktuasi ekonomi. Dengan
pengecualian dari periode singkat setelah Irak menyerbu Kuwait pada musim panas
1990, harga minyak relatif stabil. Tapi bagi AS, kejadian seperti tahun 70-80-an
bisa saja terulang, dan ambisi Irak bisa menjadi bencana bagi AS. Dan potensi
fluktuasi industri tersebut bisa diatasi bila kawasan Teluk bisa dikuasai AS,
namun selama Sadam berkuasa, nampaknya itu hanya menjadi impian bagi AS. Itulah
sebabnya Bush begitu geram dengan Sadam. Itulah yang ingin dipragmentasikan AS
melalui agresi militernya terhadap Irak dalam waktu dekat. Kalau memang benar
demikian adanya sungguh kapitalisme itu sangat kejam, demi pertumbuhan ekonomi,
jiwa manusia dikorbankan, dana yang besar di hamburkan. Kalau demikian AS-lah
sebenarnya yang menjadi teroris sejati, yang selama ini maling teriak
maling.(eddie stp)
***Artikel
ini ditulis
terkait dengan invasi Militer AS terhadap Irak Tahun
2003.