Model Struktural Inflasi

dan Pertumbuhan Ekonomi Sumut

Oleh: Edy Sahputra Sitepu

ABSTRAK

Penelitian ini akan mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempegaruhi pertumbuhan dam inflasi di Sumut. Selanjutnya juga akan diidentifikasikan berapa besar pengaruh yang diberikan faktor tersebut dalam mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi Sumut.Adapun fakor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi (PDRB) adalah inflasi (INFL), total pengeluaran pembangunan (TPP), kredit yang disalurkan bank-bank umum (KBU), investasi yang terdiri dari penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri (INVS) dan selisih ekspor dikurangi dengan import atau ekspor netto (EKSNET). Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi adalah PDRB, TPP, KBU, INVST dan EKSNET.Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia Medan, kemudian dianalisis dengan merode Two Stage Least Qquare (TSLS) dengan menggunakan sofware Eviews 3.0.

 Hasil penelitian menunjukkan keseluruhan variabel bebas INFL, TPP, KBU, INVST dan EKSNETmampu menjelaskan variasi pertumbuhan ekonomi Sumut (PDRB93) dengan R2 sebesar 97,98% dan semua variabel memberikan pengaruh yang signifikan..Demikian pula dengan INFLASI yang variasinya juga dapat dijelaskan oleh faktor-faktor yang ditentukan seperti PDRB93, TPP, KBU, INVST dan EKSNE dengan R2 sebesar 81,62%. Khusus berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi, ditemukan bahwa PDRB3, KBU dan EKSNET signifikan mempengaruhi inflasi sedangkan TPP dan INVST tidak signifikan mempengaruhi inflasi. Laju perkembangan inflasi (INFL) di Sumut sangat terpengaruh oleh PDRB93 dan ini sesuai dengan hasil estimasi PDRB93 yang menunjukkan hubungan terbalik antara tingkat harga (inflasi) dan output regional (pertumbuhan ekonomi).    

BAB I PENDAHULUAN

A.     Pendahuluan

Pembangunan  jangka panjang yang dilaksanakan di Indonesia bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur dengan mengacu pada trilogi pembangunan. Untuk mewujudkan tujuan tersebut perlu adanya pembangunan di segala bidang, terutama pembangunan di bidang ekonomi.Secara umum tujuan pembangunan ekonomi adalah mencapai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, menjaga tingkat kestabilan harga, mengatasi masalah penganggaruan, menjaga keseimbangan neraca pembayaran dan pendistribusian pendapatan yang adil dan merata. Masalah pertumbuhan ekonomi merupakan tema klasik dalam literatur ilmu ekonomi. Banyak pemerhati masalah ekonomi yang telah bicara mengenai teori pertumbuhan ekonomi. Begitu pula berbagai konsep yang diutarakan, yang menghasilkan berbagai aliran dalam masalah pertumbuhan ekonomi.

Menurut Lincolin Arsyad (1992) pertumbuhan ekonomi dalam suatu negara diartikan sebagai kenaikan GDP/GNP tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari pertumbuhan penduduk atau apakah terjadi perubahan struktur atau tidak dalam negara tersebut. Sementara itu menurut Sadono Sukirno (1995) bahwa pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat.

Pada tingkat regional, pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja dan stabilitas harga merupakan sasaran dari kebijakan-kebijakan moneter dan fiskal nasional, tetapi juga sebagian dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan regional di bidang keuangan  dan fiskal (anggaran). Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi  (sekaligus pertumbuhan kesempatan kerja) dan pengekangan laju inflasi merupakan sasaran dari berbagai kebijakan pada tingkat nasional dan regional.

Sebagaimana dipropinsi-propinsi lainnya, Sumatera Utara masih bergelut dalam dua masalah pokok yang sangat merisaukan, yaitu tingginya angka pengangguran dan tidak stabilnya harga-harga. Pengangguran di Sumatera Utara pada tahun 2001 mencapai 456.700 orang yang sebagian merupakan perngangguran tidak terdidik dan sebagian lagi merupakan pengangguran terdidik. Sementara itu stabilitas harga juga merupakan barometer stabilitas pertumbuhan ekonomi riil karena inflasi yang dapat dikendalikan akan menjamin peningkatan daya beli masyarakat. Dari uraian yang dikemukakan di atas, maka penulis merasa tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara dengan menggunakan model ekonometrika yang sederhana.

B.     Perumusan Masalah

Dalam penelitian ini ada beberapa pokok permasalahan yang akan ditelaah lebih lanjut. Beberapa permasalahan tersebut adalah sebagai berikut (1).Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara? (2).     Seberapa besarkan pengaruh yang diberikan faktor-faktor tersebut dalam mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara?

C.  Tujuan Penelitian

Penelitian ini lebih jauh bertujuan (1).Mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Sumut (2). Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh yang diberikan faktor-faktor tersebut dalam mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi Sumut.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai berikut, (1).Menambah khasanah ilmu pengetahuan, khususnya tentang inflasi di Sumatera Utara. (2).Bahan pertimbangan dan masukan bagi pemerintah dalam menetapkan menanggulangi inflasi di Sumatera Utara. (3).Sebagai masukan bagi peneliti lain yang berminat meneliti dan mengkaji persoalan yang terkait dengan inflasi dan    pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.     Kerangka Teoritis

Berkaitan dengan  urgensi  teori  dalam  aplikasi penelitian dan penyusunan hipotesis maka penulis mengambil beberapa teori umum berkenaan   dengan inflasi. Milton Friedman seorang ekonom besar yang memenangkan hadiah nobel dalam ilmu ekonomi pada tahun 1976 agaknya lebih cenderung memandang bahwa inflasi merupakan bagian dari ekonomi moneter, sebagaimana diungkapkannya dalam sebuah tulisannya, bahwa “Inflasi selalu dan dimana pun merupakan fenomena moneter,” (Mankiw, 2000:154)

Analisis ekonomi dan kebijakan ekonomi terhadap inflasi sejak tahun 1970-an dapat dibedakan menjadi dua kelompok aliran, yakni Keynesian dan Monetaris. (Prawirohardjono, 1988:35). Meskipun demikian dalam beberapa literatur juga disebutkan versi yang berbeda, dimana  aliran inflasi dibagi menjadi, Klasik, Keynesian, Moneterisme, dan Ekspektasi.

Teori inflasi Klasik berpendapat bahwa tingkat harga terutama ditentukan oleh jumlah uang beredar, yang dapat dijelaskan melalui hubungan antara nilai uang dengan jumlah uang, serta nilai uang dan harga. Bila jumlah uang bertambah lebih cepat dari pertambahan barang maka nilai uang akan merosot dan ini sama dengan kenaikan harga. Jadi menurut Klasik, inflasi berarti terlalu banyak uang beredar atau terlalu banyak kredit dibandingkan dengan volume transaksi maka obatnya adalah membatasi jumlah uang beredar dan kredit (Gilarso, 1986:390). Pendapat Klasik tersebut lebih jauh dapat dirumuskan sebagai berikut :

Inflasi = f(jumlah uang beredar, kredit)

Teori inflasi Keynes mengasumsikan  bahwa perekonomian sudah berada pada tingkat full employment. Menurut Keynes kuantitas uang tidak berpengaruh terhadap tingkat permintaan total, karena suatu perekonomian dapat mengalami inflasi walaupun tingkat kuantitas uang tetap konstan. Jika uang beredar bertambah maka harga akan naik.  Kenaikan harga ini akan menyebabkan bertambahnya permintaan uang untuk transaksi, dengan demikian akan menaikkan suku bunga. Hal ini akan mencegah pertambahan permintaan untuk investasi  dan akan melunakkan tekanan inflasi.

Analisa Keynes mengenai inflasi permintaan dirumuskan berdasarkan konsep inflationary gap. Menurut Keynes, inflasi permintaan yang benar-benar penting adalah yang ditimbulkan oleh pengeluran pemerintah, terutama yang berkaitan dengan peperangan, program investasi yang besar-besaran dalam kapital sosial (Ackly, 1973:534). Dengan demikian pemikiran Keynes tentang inflasi dapat dirumuskan menjadi :

Inflasi = f(jumlah uang beredar, pengeluaran pemerintah, suku bunga, investasi)

Teori inflasi Moneterisme berpendapat bahwa, inflasi timbul disebabkan oleh kebijaksanaan moneter dan fiskal yang ekspansif, sehingga jumlah uang beredar di masyarakat sangat berlebihan. Kelebihan uang beredar di masyarakat akan menyebabkan terjadinya kelebihan permintaan barang dan jasa di sektor riil. Menurut golongan moneteris, inflasi dapat diturunkan dengan cara menahan dan menghilangkan kelebihan permintaan melalui kebijakan moneter dan fiskal yang bersifat kontraktif, atau melalui kontrol terhadap peningkatan upah serta penghapusan terhadap subsidi atas nilai tukar valuta asing. Sehingga teori inflasi menurut Moneterisme dapat dinotasikan sebagai berikut :

Inflasi = f(kebijakan moneter ekspansif, kebijakan fiskal ekspansif)

Teori Ekspektasi, menurut Dornbusch (1994:470) bahwa pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi rasional. Ekspektasi rasional adalah ramalan optimal mengenai masa depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian rasional adalah suatu tindakan yang logik untuk mencapai tujuan berdasarkan informasi yang ada. Artinya secara sederhana teori ekspektasi dapat dinotasikan menjadi :

Inflasi = f(ekspektasi adaftif,ekspektasi rasional)

Inflasi sendiri didefenisikan sebagai kondisi apabila tingkat harga-harga dan biaya-biaya umum naik, harga beras, bahan bakar mobil, tingkat upah, harga tanah, sewa barang-barang modal juga mengalami kenaikan. Kebalikannya adalah deflasi dimana harga-harga dan biaya-biaya secara umum turun. (Samuelson, 1989:196).

Sedangkan Lerner (Gunawan, 1991:1)  mendefenisikan inflasi sebagai suatu keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (excess demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian, secara keseluruhan dan terus-menerus. Kelebihan permintaan tersebut dapat diartikan ganda yaitu, pengeluaran yang diharapkan terlalu banyak dibandingkan dengan barang yang tersedia, atau barang yang tersedia terlalu sedikit bila dibandingkan dengan tingkat pengeluaran yang diharapkan.

BAB III METODE PENELITIAN            

A.  Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan kajian parsial tentang ekonomi makro Sumatera Utara. Yang dianalisis adalah faktor-faktor yang mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi di Suamatera Utara dengan menggunakan data ekonomi makro untuk periode 1981-2000. Analisis dibatasi pada interpretasi hubungan antara dua variabel endogen (PDRB dan Inflasi) dengan variabel eksogen yang dibatasi pada variabel yang mewakili kebijakan moneter dan fiskal  pada tingkat regional (total pengeluaran pembangunan, kredit yang disalurkan bank umum, investasi dan ekspor netto). Model yang digunakan adalah model ekonomi makro yang disesuaikan dengan ruang lingkup regional sehingga dapat untuk melihat variabel-variabel mana yang signifikan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi (PDRB) di Sumatera Utara, kendati model sederhana ini tidak dapat menggambarkan secara utuh keterkaitan antar variabel.

B.  Data

Data yang digunakan adalah data runtun waktu (time series)  yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sumatera Utara, dan sumber-sumber lain, yaitu jurnal-jurnal hasil penelitian yang kemudian dilakukan pengolahan sesuai kebutuhan estimasi model. Data yang dikumpulkan mencakup semua variabel yang relevan untuk keperluan estimasi selama kurun waktu 1981-2000 sesuai dengan ketersediaan data untuk semua series.

C.  Metode Analisis

Model pertumbuhan ekonomi dan inflasi di Sumatera Utara dapat digambarkan sebagai sebuah model struktural yang merepresentasikan tingkat output regional dan tingkat harga. Dalam hal ini output regional didefenisikan sebagai PDRB riil, yakni PDRB atas dasar harga konstan tahun 1993 dan tingkat harga di approksimasi dengan laju inflasi (INFL). Sementara variabel-variabel independen adalah variabel yang merepresentasikan kebijakan ekonomi makro regional yakni kebijakan fiskal daerah dengan total pengeluaran pembangunan (TPP) oleh pemerintah propinsi Sumatera Utara, investasi baik PMA maupun PMDN (INVS), ekspor netto (EKSNET) dan jumlahuang beredar di Sumatera Utara yang di-proxy dari data jumlah kredit yang disalurkan bank-bank umum di Sumatera Utara (KBU). Model struktural sederhana yang disajikan dalam tulisan ini adalah :

PDRBt = β0 + β1 INFLt + β2 TPPt + β3 KBUt + β4 INVSTt + β4 EKSNETt + Є1t…………….(1)

INFLt = α0 + α1 PDRBt + α2 TPPt + α3 KBUt + α4 INVSTt + α4 EKSNETt + Є1t……………(2)

Di mana : PDRB = Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan ‘93 , INFL = Laju inflasi Sumatera Utara, TPP            = Total pengeluaran pembangunan, KBU = Kredit yang disalurkan bank umum di Sumatera Utara , INVST = Total invetasi (PMA + PMDN) di Sumatera Utara, EKSNET= Ekspor netto (selisih ekspor dikurangi impor) .

Persamaan (1) pada dasarnya merupakan persamaan permintaan agregat dengan elemen-elemennya adalah pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran investasi swasta, pengeluaran pemerintah, ekspor dan impor. Permintaan agregat dapat berubah meningkat atau menurun dari waktu ke waktu disebabkan shock kebijakan makro nasional dan regional. Sedangkan persamaan dua merupakan hasil interaksi agregat demand (AD) dan agregat supply (AS) yang dapat naik atau turun sebagai respon atas shock kebijakan atau gejolak yang di luar kontrol model.

Tingkat harga diapproksimasi dengan laju inflasi (INFL) dan output regional dengan PDRB adalah hasil dari interaksi pasar yang memberikan output regional dan tingkat keseimbangan (equilibrium). Dengan demikian model ini adalah model persamaan simultan (Simultaneous Equation Model) yang terdiri dari hanya dua persamaan. Oleh karena itu, estimasi dilakukan dengan menggunakan metode Two Stage Least Square (TSLS) dengan seluruh variabel  dijadikan sebagai variabel instrumental.

D. Hipotesis

Beberapa hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini antara lain : (1) Pertumbuhan ekonomi (PDRB) dan laju inflasi saling berhubungan negatif, (2) Total pengeluaran pembangunan dan jumlah kredit yang disalurkan  bank umum (KBU) berpengaruh positif terhadap inflasi di Sumatera Utara. (3)  Ekspor netto (EKSNET)  dan investasi (INVST) berpengaruh positif terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara.

F.  Metode Analisis

Penelitian ini menggunakan  data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik Sumatera Utara dan Bank Indonesia Medan, untuk kemudian di analisis dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Adapun alat bantu dalam mengolah data sekunder ini adalah Program Eviews 3.0.

BAB II HASIL PENELITIAN

A. Pertumbuhan ekonomi (PDRB) di Sumut

Tingkat perekonomian di suatu wilayah/daerah dapat diukur dengan menggunakan besaran nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang merupakan jumlah dari nilai tambah dari seluruh sektor ekonomi. Melalui angka PDRB dapat diketahui pertumbuhan dan struktur perekonomian suatu wilayah. Pertumbuhan ekonomi Sumut dpat dianggap berasal dari dua komponen. Pertama, ekonomi tumbuh sebagai akibat dari peningkatan produktivitas modal, tenaga kerja dan penerapan teknologi. Ini dapat dianggap sebagai pertumbuhan alami (natural growth), termasuk akibat pertumbuan penduduk. Kedua, pertumbuhan ekonomi terjadi sebagai akibat dari kebijakan-kebijakan atau variabel eksternal yang mempengaruhi pengeluaran (spending) oleh pelaku-pelaku ekonomi, yang kedua ini yang menjadi fokus penelitian ini.

Perekonomian Sumut yang dicerminkan oleh PDRB atas dasar harga konstan 1993 menunjukkan trend yang meningkat. Pada pertengahan tahun 1990-an pertumbuhan ekonomi mencapai lebih 9% dan mulai menurun pada tahun 1997 menjadi 5,59% hingga mencapai puncaknya dari dampak resesi (krisis ekonomi) pada pertengahan tahun 1998 dengan pertumbuhan -10,9% dan tahun 1999 (masa recovery) pertumbuhan mulai nampak kembali positif sebesar 2,53%. Secara rata-rata ekonomi Sumut tumbuh sebesar 5,76 persen selama dasawarsa 1990-an, jauh lebih rendah dari keadaan tahun 1980-an dengan rata-rata pertumbuhan 25,78%, yang menandai booming ekonomi regional. Hal ini dapat dilihat pada trend yang meningkat tajam mulai tahun 1983 seperti yang terlihat pada grafik 1 di atas.

Tabel 1 Perkembangan Pengeluaran Pemerintah Propinsi Sumatera Utara (dalam ribuan rupiah)

 

Tahun

EXPEM

EXPRUTIN

EXP

1980

21600618

87809364

109409982

1981

20984685

104168619

125153304

1982

23171566

119950608

143122174

1983

21209980

134165450

155375430

1984

20008205

129589193

149597398

1985

26219783

173234025

199453808

1986

31037086

186463751

217500837

1987

36348363

205201104

241549467

1988

44674044

290355502

335029546

1989

58476967

267151211

325628178

1990

73516903

313923761

387440664

1991

81319550

336880196

418199746

1992

84183517

383137707

467321224

1993

93512935

458581800

552094735

1994

93518182

515626862

609145044

1995

127100000

584000000

711100000

1996

169300000

660800000

830100000

1997

195000000

771000000

966000000

1998

141800000

432600000

484400000

1999

246800000

449000000

695800000

2000

219568931

197203716

416772647

Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS)

Jika dilihat dari faktor-fakor yang menentukan pertumbuhan ekonomi, maka peningkatan pengeluaran agregat mendorong pertumbuhan yang tinggi pada tahun-tahun tertentu. PDRB riil tertinggi terjadi pada  tahun 1983 dan 1993. Faktor terpenting yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara adalah meningkatnya jumlah kredit yang disalurkan bank-bank umum yang secara konstan naik, keculai pada tahun 1999 dimana terjadi penurunan secara drastis. Total pengeluaran pembangunan oleh pemerintah propinsi dan kabupaten/kota juga meningkat secara terus menerus, kecuali pada tahun 1995, yang mengalami penurunan (lihat Tabel 1).

Pertumbuhan ekonomi juga didorong oleh investasi-investasi baru yang tercermin dari naiknya penanaman modal swasta dalam negeri (PMDN) yang mencapai puncaknya dengan nilai realisasi investasi sebesar Rp 647 miliar pada tahun 1995 dan investasi asing (PMA) yang mencapai  Rp 978 miliar pada tahun 1990. Padahal sebelumnya PMDN tiap tahunnya hanya berada di bawah Rp 400 miliar dan PMA tidak lebih dari Rp 100 miliar per tahun.

B. Laju inflasi di Sumut

Inflasi merupakan salah satu indikator dalam perencanaan perekonomian pembangunan suatu daerah. Tinggi rendahnya angka inflasi akan memberikan dampak bagi perekonomian. Terlalu tingginya angka inflasi lebih dari 2 digit dapat menghambat pembangunan, karena dapat memperkecil nilai pendapatan riil.

Inflasi di Sumut adalah gejala inflasi pada umumnya yang merupakan pergerakan harga-harga umum yang sifatnya stationary. Inflasi bukan merupakan trend melainkan gerakan naik turunnya harga-harga umum sebagai akibat dari perubahan-perubahan variabel bebas, yang umumnya terkait erat dengan meningkatnya jumlah uang beredar. Kenaikan jumlah uang beredar dalam perekonomian Sumut dapat terjadi karena meningkatnya pengeluaran agregat yang dipicu oleh ekspansi kredit (ekspansi moneter secara umum) dan peningkatan pengeluaran oleh pemerintah daerah propinsi, kabupaten atau kota.

Berdasarkan gambar di atas bahwa stabilitas harga di Sumut berada pada laju inflasi di bawah dua digit untuk waktu yang lama. Kecuali pada tahun 1983, 1986, dan 1988 angkan inflasi menembus dua digit dan yang terparah teradi pada tahun 1998 dengan laju inflasi mencapai angka  tertinggi, yakni 83,56%. Tetapi seiring dengan kebijakan-kebijakan stabilisasi yang dilakukan secara nasional, misalnya pengetatan jumlah uang beredar (tigh money policy), menurunkan suku bunga SBI, maka inflasi tahun 1999 di Sumut turun drastis hingga hanya 1,69%. Tetapi perlu diingat bahwa inflasi sebenarnya merupakan gejala lumrah perekonomian yang bergairah dengan naiknya pengeluaran agregat, tetapi inflasi pada tahun 1998 lebih banyak disebabkan oleh imported inflation karena depresiasi nilai rupiah yang besar selama 1997-1998. Banyak perusahaan industri mengalami kenaikan biaya produksi akibat naiknya harga bahan baku impor dalam rupiah.

Jika dilihat dari pergerakan kurs dan penyaluran kredit, maka kenaikan harga-harga tersebut dapat diasosiasikan dengan demand full inflation an imported inflaton. Namun demikian inflasi secara sistematik adalah  gejala yang mengikuti kenaikan yang konsisten dalam jumlah uang beredar (ekspansi kredit) dan pengeluaran pemerintah di daerah. Tetapi dalam masa krisis (resesi) inflasi yang tinggi pada tahun 1998 merupakan gejala cost push inflation yang tidak saja karena faktor-faktor struktural dalam negeri dan di daerah sendiri, tetapi juga karena kenaikan biaya produksi yang menggunakan bahan baku impor dan barang konsumsi impor.       

C. Hasil Estimasi

Pada tahap ini dari data yang sudah dikumpulkan selam kurun waktu tersebut, kemudian dilaukkan pengolahan data dengan metode TSLS (Two Stage Least Sqare) dan diolah dengan menggunakan program Eviews versi 3,0. Dari hasil estimasi tersebut akan dilihat apakah variabel-variabel bebas (eksogen) yakni total pengeluran pembangunan (TPP), kredit yang disalurkan bank umum (KBU), total investasi (INVST) dan ekspor netto (EKSNET) secara signifikan mempengaruhi kedua variabel terikat (endogen) yakni pertubuhan ekonomi (PDRB93) dan inflasi di Sumut.

D. Estimasi PDRB93

Hasil estimasi TSLS untuk PDRB93 adalah sebagai berikut :

Tabel 2 Dependent Variabel : PDRB93, Method : Two Stage Least Squares (TSLS), Sample (adjusted) : 1981-2000, Included observations : 21 after adjusting endpoints. Instrument list : INFL C TPP KBU INVST EKSNET

Variable

Coefficient

Std Error

t-Statistic

Prob.

C

INFL

TPP

KBU

INVST

EKSNET

6075560.

-78398.85

70.44611

493.1084

2.540228

0.244331

547031.4

27213.21

9.611483

120.7148

0.914113

0.096013

11.10642

-2.880912

7.329369

4.084902

2.778898

2.544779

0.0000

0.0121

0.0000

0.0011

0.0148

0.0234

R-squared

Adjusted R-squared

S.E. of regression

F-statistic

Prob (F-statistic)

0.979783

0.972563

1099386.

135.7005

0.000000

Mean dependent var

S.D. dependent var

Sum squared resid

Durbin-Watson stat

15123122

6637186.

1.69E+13

1.415707

Keterangan : PDRB 93 = PDRB atas harga konstan 1993 (jutaan rupiah), INFL = Laju perkembangan inflasi (%), TPP = Total pengeluaran pembangunan (jutaan rupiah), KBU = Kredit bank umum (jutaan rupiah), INVST = Penanaman modal dalam negeri (jutaan rupiah), EKSNET=Nilai ekspor netto (jutaan rupiah), C = Konstanta. Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan program Eviews diperoleh moodel estimasi sebagai berikut :

PDRB93 = 6075560 – 78398,85INF – 70,446TPP + 493,108KBU + 2,540INVST + 0,244 EKSNET

                   (11,106)     (-2,881)b                (7,329)a           (4,085)a              (2,779)b             (2,545)b

Catatan : Angka dalam kurung adalah nilai t statistik, (a). signifikan pada α1%   = 2,977, (b). signifikan pada α5%   = 2,145, (b). signifikan pada α10% = 1,761 .

Dari hasil estimasi di atas, diperoleh koefisien determinasi (R2) sebesar 97,98% yang berarti secara keseluruhan variabel bebas (INFL, TPP, KBU, INVST, EKSNET) dalam persamaan tersebut cukup mampu menjelaskan variasi pertumbuhan ekonomi (PDRB93) di Sumut dan sisanya dijelaskan oleh faktor lain di luar model persamaan tersebut. Selanjutnya bila dianalisis secara lebih mendalam lagi dengan melihat variabel bebasnya secara simultan, maka pengaruhnya terhadap variabel pertumbuhan ekonomi (PDRB93) di Sumut mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada tingkat kepercayaan 99%. Hal ini bisa dilihat dari Fstat sebesar 135,70 yang lebih besar dari Ftabel  sebesar 4,69 {Fstat (135,70) > Ftabel (4,69)}. Namun bila dilakukan pengujian secara parsial (uji masing-masing variabel bebas) ternyata semua variabel bebasnya berpengaruh nyata (signifikan) terhadap PDRB93 Sumut.

Berdasarkan hasil estimasi di atas, variabel inflasi (INFL)  memiliki tanda koefisien regresi yang negatif terhadap variasi pertumbuhan ekonomi di Sumut sebesar 78398,85. Ini memberi arti apabila inflasi meningkat sebesar 1%, ceteris paribus, maka akan mengurangi PDRB93  Sumut sebesar Rp 78,39885 miliar. Hal ini sesuai dengan hipotesis yang mengatakan bahwa inflasi akan memberikan pengaruh yang negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Dan dari hasil uji t, ternyata variabel inflasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap PDRB Sumut pada tingkat kepercayaan 95%.

Dari estimasi tersebut, variabel total pengeluaran pembangunan (TPP) pemerintah provinsi Sumut memiliki tanda koefisien regresi yang positif sebesar  70,446 terhadap variasi pertumbuhan ekonomi Sumut. Ini memberi arti jika TPP meningkat sebesar Rp 1 juta, ceteris paribus, akan meningkatkan PDRB93 sebesar Rp 70,446 juta. Hasil ini sesuai dengan hipotesis bahwa TPP berpengaruh positif terhadap PDRB93 Sumut. Berdasarkan hasil uji t memperlihatkan bahwa TPP memberikan pengaruh yang sangat signifikan pada taraf nyata 1%.

Variabel kredit yang disalurkan bank umum (KBU) di Sumut menunjukkan pengaruh positif sebesar 493,108 terhadap variasi PDRB93 Sumut. Ini memberi arti jika KBU meningkat sebesar Rp 1 juta, ceteris paribus, maka PDRB Sumut akan meningkat sebesar Rp 493,108 juta, sesuai dengan hipotesis yang mengatakan bahwa KBU berpengaruh postif terhadap PDRB93 Sumut. Dari hasil uji t menunjukkab bahwa variabel KBU memberikan pengaruh yang sangat signifkan {Fstat (2,303) > Ftabel (2,131)} terhadap PDRB93 Sumut pada tingkat kepercayaan 99%.

Sedangkan variabel investasi (INVST) menunjukkan pengaruh yang positif sebesar 2,540 terhadap variasi pertumbuhan ekonomi (PDRB) Sumut. Ini memberi arti apabila investasi meningkat sebesar Rp 1 juta, ceteris paribus, maka pertumbuhan ekonomi di Sumut meningkat Rp 2,540 juta dan ini sesuai dengan hipotesis dalam penelitian ini. Dari hasil uji t menunjukkan bahwa variabel investasi memberikan pengaruh yang berarti terhadap pertumbuhan ekonomi pada tingkat kepercayaan 95%.

Sementara itu dari hasil perhitungan estimasi tersebut, variabel ekspor netto Sumut (EKSNET) menunjukkan pengaruh yang positif terhadap variasi pertumbuhan ekonomi di Sumut dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,244. Ini memberi arti apabila ekspor netto Sumut mengalami peningkatan sebesar Rp 1 juta, ceteris paribus, maka pertumbuhan ekonomi di Sumut akan akan meningkat Rp 0,244 juta, dan ini sesuai dengan hipotesis penelitian, Dari hasil uji t menunjukkan bahwa variabel ekspor netto memberikan pengaruh yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi di Sumut pada taraf 95%. Estimasi TSLS untuk inflasi (INFL) di Sumut memberikan hasil sebagaimana yang terlihat pada tabel 3 berikut ini :

Tabel 3 Dependent Variabel : INFLASI , Method : Two Stage Least Squares (TSLS), Sample (adjusted) : 1981-2000, Included observations : 21 after adjusting endpoints, Instrument list : PDRB93 C INFL TPP KBU INVST EKSNET

Variable

Coefficient

Std Error

t-Statistic

Prob.

C

PDRB93

TPP

KBU

INVST

EKSNET

34.60261

-4.75E-06

0.000185

0.003726

1.40E-05

2.90E-06

9.604826

1.65E-06

0.000157

0.000971

8.04E-06

4.64E-07

3.602628

-2.880912

1.176171

3.838814

1.736962

6.244316

0.0029

0.0121

0.2591

0.0018

0.1043

0.0000

R-squared

Adjusted R-squared

S.E. of regression

F-statistic

Prob (F-statistic)

0.816287

0.750676

8.555026

12.44118

0.000097

Mean dependent var

S.D. dependent var

Sum squared resid

Durbin-Watson stat

11.84300

17.13322

1024.639

2.512661

 

Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan program Eviews diperoleh moodel estimasi sebagai berikut :

INFLASI= 34,60261– 4,75E-06PDRB93 + 0,000185TPP + 0,003726KBU +1,40E-05INVST + 2,90E-05 EKSNET

                  (3,602)            (-2,881)b                   (1,176)a           (3,838)a              (1,736)b             (2,512)b

Catatan : Angka dalam kurungt adalah nilai t statistik, (a). signifikan pada α1%   = 2,977, (b). signifikan pada α5%   = 2,145, (c). signifikan pada α10% = 1,761 . Dari hasil estimasi di atas (tabel 3), diperoleh nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 81,63% yang berarti secara keseluruhan variabel bebas (PDRB93, TPP, KBU, INVST, EKSNET) dalam persamaan tersebut cukup mampu menjelaskan variabel inflasi di Sumut. Selanjutnya bila dianalsis secara lebih mendalam lagi dengan melihat variabel bebasnya secara simultan, maka pengaruhnya terhadap variabel inflasi di Sumut mempunyai pengaruh yang sangat signifikan pada tingkat kepercayaan 99%. Hal ini bisa dilihat dari Fstat sebesar 4,69 {Fstat (12,441) >F tabel (4,69)}.

Berdasarkan hasil perhitungan estimasi tersebut (tabel 3), probability memberikan indikasi bahwa pertumbuhan ekonomi (PDRB93), kredit yang disalurkan bank-bank umum (KBU) dan ekspor netto (EKSNET) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap inflasi di Sumut. Sedangkan variabel total pengeluaran pembangunan (TPP) dan total investasi baik PMDN maupun PMA tidak memberikan pengaruh pada inflasi di Sumut.

Laju perkembangan inflasi di Sumut sangat terpengaruh oleh PDRB93 dan ini konsisten dengan hasil estimasi PDRB93 yang menunjukkan hubungan terbalik antara tingkat harga (inflasi) dan output regional (pertumbuhan ekonomi). Pergeseran kurva AD dapat dilihat dari koefisien positif dari variabel TPP, KBU, INVST, dan EKSNET. Hal ini mengandung arti bahwa ekspansi fiskal dan moneter regional selain berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Sumut, juga membawa dampak inflasioner walaupun tidak semua variabel tersebut memberikan pengaruh yang signifikan.

BAB III K E S I M P U L A N

Dari uraian di atas dpatlah ditarik beberapa kesimpulan antara lain : (1) Perekonomian Sumut telah menunjukkan trend pertumbuhan yang tinggi dan konsisten selama dua dasawarsa terakhir, kecuali sejak tahun 1997 mengalami penurunan akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia. (2) Pertumbuhan ekonomi terjadi dengan tingkat harga yang realtif stabil, kecuali pada tahun 1998, kemudian inflasi berada pada level yang rendah. (3)Hasil estimasi TSLS menunjukkan bahwa PDRB93 dan inflasi di Sumut saling berhubungan negatif dan signifikan. (4) Variabel-variabel bebas yang merupakan variabel kebijakan fiskal dan moneter yakni TPP, KBU, INVST, dan EKSNET berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB93) dan laju inflasi (INFL) di Sumut.

DAFTAR PUSTAKA

Gujarati,D. 1978. Ekonometrika Dasar. Alih Bahasa Sumarno Zain. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Insukindro. 1993. Ekonomi Uang dan Bank. Teori Pengalaman di Indonesia. BPFE-Yogyakarta.

Insukindro. 2000. Dasar-dasar Ekonometrika. Kerjasama Bank Indonesia dan Program Studi MEP UGM. Yogyakarta.

Kuncoro. 1989. Dampak Arus Modal Asing terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Tabungan Domestik. Prisma No 9. Jakarta.

Koutsoyianis, A. 1985. Theory of Econometrics. Second Edition. Mac Millan.

Nakhrowi,J. 2002. Penggunaan Teknik Ekonometrika. Penerbit PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Siwage,D. 2001. Perekonomian Indonesia. Upaya Keluar dari Krisis. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol IX (2) tahun 2001. Jakarta.     

Tri Rahayu, Siti. 1997. Bantuan Luar Negeri. Dampak dan Peranannya dalam Perekonomian Indonesia Kurun 1969-1990. Perspektif No.7. Jakarta.    

Arief,S. 1993. Metodologi Penelitian Ekonomi. Penerbit  UI-Press. Jakarta

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara. Indikator Ekonomi.

Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sumatera Utara. Berbagai Terbitan.

  Lampiran Data Sekunder  

Obs

EKSNET

INFL (%)

INVST

KBU

PDRB93

TPP

1980

294875.0

n/a

46551,91

0.000

5434491

21601

1981

-71761.07

7,2%

28127,48

0.000

5982486

20985

1982

-224369.2

8,98%

28866,00

0.000

6561759

23172

1983

101249.9

10,9%

105368.3

0.000

6990972

21210

1984

402018.6

9,78%

10910.60

0.000

8002400

20008

1985

762501.5

2,79%

28617.72

1359.

8467006

26220

1986

934140.8

11,29%

617968.5

1746.

9049397

31037

1987

1165869.

2,32%

153788.0

2283.

9872331

36348

1988

1889008.

11,24%

363139.1

3025.

11451681

44674

1989

1606813.

6,64%

151309.7

3874.

13535073

58477

1990

1325091.

7,56%

1229077

5319.

15942462

73517

1991

1938394.

8,99%

258371.1

5499.

13756205

81320

1992

2242044.

4,56%

375485.8

5598.

15248054

84184

1993

2651081.

9,75%

547549.6

5922.

18089562

93513

1994

3670370.

6,78%

445399.7

6861.

19942024

93518

1995

4688195.

10,54%

846562.0

7784.

21753806

127108

1996

4776619.

8,7%

275621.2

9141.

23714738

169338

1997

7036859.

13,1%

169206.3

10192.

24842860

195048

1998

23009969

83,56%

579220.5

11581.

22332690

141793

1999

14976649

1,37%

176553.9

7193.

22910090

141793

2000

14338864

5,73%

208398.0

0.000

24016650

197204

 

Dependent Variabel : PDRB93, Method : Two Stage Least Squares (TSLS), Sample (adjusted) : 1981-2000, Included observations : 21 after adjusting endpoints, Instrument list : INFL C TPP KBU INVST EKSNET

Variable

Coefficient

Std Error

t-Statistic

Prob.

C

INFL

TPP

KBU

INVST

EKSNET

6075560.

-78398.85

70.44611

493.1084

2.540228

0.244331

547031.4

27213.21

9.611483

120.7148

0.914113

0.096013

11.10642

-2.880912

7.329369

4.084902

2.778898

2.544779

0.0000

0.0121

0.0000

0.0011

0.0148

0.0234

R-squared

Adjusted R-squared

S.E. of regression

F-statistic

Prob (F-statistic)

0.979783

0.972563

1099386.

135.7005

0.000000

Mean dependent var

S.D. dependent var

Sum squared resid

Durbin-Watson stat

15123122

6637186.

1.69E+13

1.415707

 

Dependent Variabel : INFLASI, Method : Two Stage Least Squares (TSLS), Sample (adjusted) : 1981-2000, Included observations : 21 after adjusting endpoints, Instrument list : PDRB93 C INFL TPP KBU INVST EKSNET

Variable

Coefficient

Std Error

t-Statistic

Prob.

C

PDRB93

TPP

KBU

INVST

EKSNET

34.60261

-4.75E-06

0.000185

0.003726

1.40E-05

2.90E-06

9.604826

1.65E-06

0.000157

0.000971

8.04E-06

4.64E-07

3.602628

-2.880912

1.176171

3.838814

1.736962

6.244316

0.0029

0.0121

0.2591

0.0018

0.1043

0.0000

R-squared

Adjusted R-squared

S.E. of regression

F-statistic

Prob (F-statistic)

0.816287

0.750676

8.555026

12.44118

0.000097

Mean dependent var

S.D. dependent var

Sum squared resid

Durbin-Watson stat

11.84300

17.13322

1024.639

2.512661

 

Ke Halaman Utama

Ke Indeks Artikel Ilmiah