Pada tahun 1970, di Chile terpilih seorang presiden Marxis yang bernama Salvador Allende. Munculnya Allende tentu saja merugikan kepentingan Amerika Serikat. Usaha-usaha dilakukan oleh Dinas Intelejen AS, CIA, untuk menggulingkan Allende. Segala upaya dipakai, mula-mula secara halus, tapi akhirnya melalui kekerasan, yakni dengan terjadinya kudeta militer pada tanggal 11 September 1973 di bawah pimpinan Jendral Augusto Pinochet (yang masih presiden sampai sekarang). Allende sendiri mati dibunuh, di samping puluhan ribu warga Chile yang juga ikut terbunuh dalam kudeta yang sangat berdarah ini.
Tentu saja peran CIA sangat dirahasiakan. Tapi secara kebetulan, seorang pemuda Amerika yang berada di Chile dan bersimpati kepada Allende, Charles Horman, mengetahui adanya keterlibatan militer AS dalam kudeta tersebut. Kebetulan Charles bekerja sebagai wartawan kecil-kecilan untuk koran-koran yang berhaluan kiri. Pada suatu hari tidak lama sesudah kudeta tersebut, harles diciduk oleh militer Chile.
Riwayat Charles Horman ini kemudian dituliskan oleh seorang sahabatnya, Thomas Hauser, dalam sebuah buku berjudul The Execution of Carles Horman: An American Sacrifice, yang terbit pada tahun 1978. buku ini kemudian diangkat menjadi film oleh sutradara Costa-Gavras, seorang spesialis untuk film politik yang pernah menghasilkan dua film terkenal berjudul Z dan State of Siege. Yang pertama mengenai pembunuhan politik di Yunani (yang juga diangkat dari peristiwa sesungguhnya), yang kedua tentang penculikan dan kemudian pembunuhan seorang duta besar AS di sebuah negara Amerika Latin oleh kaum gerilyawan kiri. Film yang berdasarkan riwayat Charles Horman ini, kabarnya memperoleh sukses yang luar biasa juga seperti kedua filmnya yang terdahulu.
Buku tentang Charles Horman ini sendiri sudah cukup menggemparkan di AS. Masalah atau tuduhan yang dilontarkan oleh buku ini adalah bahwa Kedutaan Besar AS pada waktu itu, berkomplot dengan kaum militer Chile untuk membunuh seorang warganegaranya sendiri. Maka timbul pertanyaan: Kalau seorang warga sebuah negara mempunyai kemungkinan untuk melakukan tindakan yang membahayakan kepentingan bangsanya, dapatkah sang warga tersebut dimusnahkan oleh negara? Seperti halnya Charles Horman? Barangkali, meskipun dengan perasaan tragis, banyak orang akan menjawab ya.
Kepentingan AS
Tapi, buku ini kemudian mempertanyakan, apa sebenarnya yang disebut kepentingan AS? Kepentingan seluruh bangsa Amerikakah, atau sekelompok orang Amerika saja? Dalam sebuah dialog yang tajam dalam buku/film tersebut, persoalan ini dikemukakan:
Ayah Charles Horman (kepada Duta Besar AS di Chile): “Apa yang anda kerjakan di sini disamping mendukung sebuah rejim yang membantai ribuan manusia?”
Duta Besar AS: “Marilah kita lihat dari sudut lain ..... Misi saya di sini adalah melindungi kepentingan Amerika, kepentingan kita, tuan Horman.”
“Itu bukan kepentingan saya.”
“Ada 3000 perusahaan Amerika yang beroperasi di sini, dan itulah kepentingan Amerika. Dengan lain perkataan, itu juga kepentingan anda. Saya mempertahankan kehidupan yang baik dari bangsa Amerika.”
Menuntut
Missing memang kalah bersaing dalam perebutan Oscar dengan Gandhi. Ia hanya memperoleh satu Oscar untuk skenario adaptasi terbaik dan harus puas dengan kedudukan film unggulan saja. Namun demikian ia berhasil gelar film terbaik dalam Festival Internasional di Cannes tahun lalu. Dalam festival yang sama, Jack Lemmon memperoleh penghargaan aktor terbaik.
Namun di samping penghargaan-penghargaan, Missing juga nampaknya harus menerima beban. Nathaniel Davis, Dubes AS di Chile saat ini, kini tengah melakukan penuntutan terhadap perusahaan film Universal City Studios Inc sebesar 100 juta dollar, di samping juga menuntut penulis dan penerbit buku tentang Charles Horman itu (International Herald Tribune, 27-1-1983). Buku dan film itu menurut Davis tidak benar dan telah mencemarkan nama baiknya sebagai diplomat karir. (Arief Budiman)
__._,_.__