Pujangga pamungkas, Ronggowarsito, menjelang akhir hayatnya menulis Serat Kala Tida atau Puisi Zaman Gelap. Puisi sarat keprihatinan dan mungkin rasa putus asa ini kelahirannya memang mungkin tak terelakkan. Sejak runtuhnya Majapahit sampai ditulisnya puisi ini di tahun 1873, Jawa, pulau dan lautan sekitarnya digetarkan dan terkoyak-koyak oleh kobaran peperangan, kegaduhan pemberontakan dan aliansi-aliansi politik yang kacau. Di abad sembilanbelas, Jawa dan sekitarnya memasuki puncak tragedi sejarah.
Jika Negarakertagama dan Pararaton memang laporan sejarah yang jujur, runtuhnya Majapahit niscaya pertanda datangnya zaman gelap. Yawabhumi dan Nusantara--dua istilah Negarakertagama yang mengacu Jawa sebagai "kesatuan" dan "pulau-pulau sekitarnya"--memasuki abad enam belas tanpa adikuasa yang mampu mempertahankan keteraturan di kawasan ini. Kekuatan-kekuatan politik dan perdagangan serta puluhan aliansi-aliansi yang dulunya di bawah adikuasa Majapahit, kini terceraiberai dan sebagian malah terjungkal musnah. Mereka tidak mampu menggantikan peran Majapahit, termasuk Mataram sekalipun.
Kawasan tanpa adikuasa ini segera dirundung kehilangan berat: Malaka sebagai pusat perdagangan jatuh ke tangan Portugis di tahun 1511. Teknologi Portugis menebas habis kuasa Sultan Mahmud. Portugis gagal menegakkan monopoli perdagangan dan mempertahankan Malaka sebagal pusat perdagangan. Maka amblaslah jaringan dan sistem organisasi perdagangan. Lenyaplah kuasa politik yang menegakkan keamanan dan kelancaran Selat Malaka. Dalam sekejap Malaka pun berubah jadi sejarah dan Selat Malaka jadi kawasan tak bertuan dan ajang peperangan bagi kekuatan-kekuatan dari berbagai arah.
Dalam abad penuh ketidakpastian dan keresahan ini, kawasan ini lantas tersergap kekuatan besar yang mulai menggagahi banyak kawasan dunia: kapitalisme-merkantilis Eropa. Kekuatan ini menampilkan diri sebagai bayangan perubahan besar di seluruh pelosok bumi. Kapal-kapal perkasa Portugis, Inggeris, Belanda dan Spanyol, yang siap beradu senjata dan menancapkan monopoli perdagangan, tak lain adalah wakil-wakil kekuatan besar itu. Masing-masing siap menumpas setiap penghalang dan menyatukan kawasan ini dengan pusat pusat perdagangan di Eropa. Inilah mungkin yang membedakan "kekuatan luar", baru ini dengan "kekuatan-kekuatan luar" sebelumnya. Kekuatan ini telah mengalami abad XVI yang panjang--abad "peralihan menuju kapitalisme"--dan menimbulkan perubahan mendalam di Eropa. Kekuatan ini di abad XVII telah menggetarkan daratan, lautan dan aneka kuasa politik serta kubu perdagangan Asia yang resah.
"Perbenturan dengan kebudayaan Barat" tak mengherankan menimbulkan dampak yang dalam, luas bahkan menyeluruh. Kobaran peperangan antara elite politik semakin sering, aliansi-aliansi politik semakin rumit dan membingungkan. Struktur politik domestik pribumi pun menjadi rapuh dan goyah. Nafas perekonomian dan neraca pasar Eropa langsung menentukan nasib perkebunan rempah di Maluku atau kopi dan gula di Jawa. Kehidupan duniawi pribumi semakin runyam, kabur dan terdesak. Pada gilirannya ini juga menggasak kehidupan "dalam" mereka. Mitologi keagamaan dan filsafat baru sebagai tonggak pegangan nilai-nilai dan landasan pengesyahan politik untuk menolak atau menyesuaikan kenyataan baru, terasa sebagai tuntutan eksistensial yang tak bisa ditunda. Bermunculanlah simbolisme baru yang ditawarkan oleh Babad dan Hikayat.
Namun, "Kebudayaan Barat" yang menghentakkan benturan ke kawasan ini bukanlah mandeg dan tak memiliki kekuatan duniawi. Ketika industrialisasi mengukuhkan diri di Eropa di pertengahan abad XIX, ia pun semakin ganas, menuntut semuanya dan tentunya dengan persenjataan dan teknologi yang lebih ampuh dan perkasa. Di Jawa, konon hanyalah dahi-dahi rakyat yang tak tersentuh. Mitologi filsafat dan keagamaan yang mulanya untuk memperjelas situasi, malah membingungkan dan mengacaukan. Sebab, mereka tak mampu mengejawantah ke atas dunia tertumpas keganasan "kebudayaan Barat". Proses ini mungkin tak berhenti di abad sembilan belas hingga Ronggowarsito menjemput akhir hayatnya dengan getir: