Title: Turun bersama World Bank
Writer: Jeffrey A. Winters
Source: Far Eastern Economic Review, 13 Februari 1997

Setiap orang tentu sudah mendengar cerita buruk tentang kesalahan proyek-proyek Bank Dunia, seperti pemberian pinjaman dana-dana lingkungan hidup yang justru menutup hutan lindung di Asia Tenggara, pinjaman industrial berdasarkan ramalan-ramalan harga yang justru membuat banyak "permainan" di Cina, serta proyek-proyek pengentasan kemiskinan di India yang menyebabkan rakyat miskin terpaksa meninggalkan rumah. Peran Bank Dunia sebagai "penolong" pembaharuan pasar akan memaksa kita untuk percaya bahwa persoalan-persoalan ini hanyalah seperti sedikit ganjalan dalam suatu organisme yang sehat.

Tetapi Bank Dunia memang sebenarnya terdiri atas dua organisasi, dan"pesan-pesan sponsor"nya, yang dipublikasikan dalam berbagai laporan dan konperensi pers, adalah apa yang saya sebut "Retorika Bank" . Sementara itu, manajer tertinggi di dalam mekanismenya yang sangat patrimonial, yakni The Real Bank sangat kawatir bahwa cerita-cerita yang ada disekitarnya adalah merupakan gejala dari penyakit yang lebih mematikan. Lihat saja dalam tahun fiskal 1995-96, Bank ini menyumbang 21,4 milyar dollar AS, suatu pinjaman besar yang semula justru mempercepat laporan internal untuk mengkritik staf bank dalam menitikberatkan target-target pinjaman kuantitatif dibandingkan memperhatikan kualitas proyek.

Laporan internal Wapenhans, dipublikasi tahun 1992, menelaah 1800 proyek bank di 113 negara dan menemukan bahwa 37,5% ternyata gagal, menambahkan bahwa para staf dan manajer ternyata "mefokuskan diri pada target pinjaman daripada hasilnya di lapangan". Audit tahun 1996 oleh Kantor Besar Akuntan Umum AS tidak menemukan perbaikannya, dan mengatakan bahwa penilaian staf bank tentang proyek-proyek tertentu mempunyai hasil yang memuaskan.

Semakin leluasa staff-staff keuangan bergerak, semakin tinggi status yang mereka capai di the Real Bank. Juga, dengan memberikan dana di birokrasi negara yang tidak efisien itu, proporsi besar pinjaman akan diberikan untuk menghadapi terciptanya pasar bebas sesuai dengan konsep-konsep Bank Retorika. Dengan adanya tekanan untuk selalu memberikan pinjaman, staf bank ini kemudian meneruskan rancangan proyek-proyek baru selanjutnya dan memasarkannya ke rekanan-rekanan setianya di pemerintahan negara peminjam.

dalam merencakan dan mempromosikan proyek-proyek barunya, para manajer pelaksana di bank ini juga diharapkan untuk melakukan pengarahan dan melakukan evaluasi proyek-proyek yang umumnya dilaksanakan sendiri oleh si peminjam. Tidaklah mengherankan apabila para manajer ini secara rutin memberikan nilai lebih tinggi daripada hasil penilaian departemen-departemen penilai atas hasil proyek. Pihak bank memang mengakui, bahwa ia gagal untuk mengatasi indikator penampilan sebagian besar proyeknya yang secara portofolio besarnya 144 millyar dollar AS.

Tidak hanya dalam hal evaluasi saja yang muncul dengan beragam manipulasi, akan tetapi para manajer pelaksananya menganggap proyek-proyek lama sebagai suatu hal yang merepotkan. Sekali saja satu pinjaman disetujui, proyek tersebut akan menjadi satu kendaraan untuk mengirimkan uang ke pemerintah untuk kepentingan pertukaran uang luar negerinya. Dan apabila Proyek Pembangunan Bank Dunia I gagal untuk mengirim hasilnya sesuai perjanjian semula, maka manajer pelaksana ini akan siap dengan Proyek Pembangunan Bank Dunia I, tahap II. Seorang bekas staf bank menyebut ini sebagai "seperti akibat yang ditimbulkan oleh Rumpelstiltskin", yakni bahwa adalah bakat bank untuk membuat ide-ide proyek emas/bernilai tinggi dan memintalnya menjadi potongan-potongan tak berharga. Dalam masalah inii yang menanggung akibatnya tentunya adalah negara peminjam yang miskin.

Kantor Perwakilan Bank Dunia di Jakarta, contohnya, mengakui bahwa 30% uang yang dipinjamkan ke Jakarta secara rutin hilang di jajaran birokrasi pemerintah. Sejak generasi sekarang dan mendatang yang otomatis akan membayar pinjaman termasuk "subsidi"nya yang berada di birokrasi ini, pinjaman ini nantinya akan berubah bentuk menjadi pajak regresif.

Kolusi yang terjadi antara Bank Dunia dengan kliennya yakni birokrasi pemerintah negara peminjam ini telah mengarah pada bentuk penyalahgunaan kekuasaan birokratik. Lihat saja pada masalah proyek Pembangunan Sanitasi dan Air Jabotabek I dan II: Bank Retorika mengharapkan proyek ini sebagai model pinjaman lingkungan hidup. Akan tetapi berdasarkan laporan internal, proyek ini justru mengindahkan resettlement 30.000 penduduknya, dan bahwa 50.000 di antaranya sangat menderita dan tidak lagi diketahui di mana mereka sekarang berada.

Sementara The Real Bank sangat sibuk meminjamkan uangnya ke klien dan seolah buta pada masalah-masalah yang kotor dan eksploitatif, Bank Retorika sangat mengharapkan adanya deregulasi, pemeintahan yang lebih efisien dan ramping serta mengakhiri subsidi. Pada kunjungan kerjanya ke Vietnam misalnya, Presiden Bank Dunia James Wolfensohn menyerukan untuk melaksanakan "kompetisi terbuka dan mendorong semangat kreatif bagi bangsa Vietnam" Pada saat yang sama ternyata The Real Bank mengalami penurunan pinjaman sebanyak 1,5 milyar dollar AS dari pemerintah Vietnam yang tetap menekankan peran dan keterlibatannya dalam membangun perekonomian Vietnam. Dana itu disebutnya "proyek akan dipertimbangkan".

Apakah Bank Dunia mampu menyelamatkan masalah-masalah ini ? Atau dalam bahasa bank, apakah dia bisa berubah dari "budaya pemberi persetujuan" (culture of approval) ke "budaya pelaksana" (culture of implementation)? Masalah ini akan tertolong apabila pengarahan dan pengujian suatu proyek dijalankan oleh staf bank yang tidak terlibat dalam design proyek dan proses approval. Keahlian mereka harus seiring dengan sukses mereka dalam melakukan pengawasan, reformasi atau menghentikan proyek. Selebihnya, pihak penerima/peminjam seharusnya mempunyai hak suara yang lebih besar dalam menentukan design dan implementasinya. Ini memang memerluakan keahlian khusus untuk mencapai margin, apalagi masih banyak masalah yang dihadapi negara-negara berkembang. Vietnam misalnya, yang membutuhkan dukungan neraca pembayaran. Jika seseorang percaya, pada kata-kata Wolfensohn, "(kepentingan) ini untuk pemerintah Vietnam dalam melaksanakan politik negerinya, bukan untuk pihak bank", lalu kenapa harus mendukung pihak bank? Mengapa kita tidak menganjurkan IMF (International Monetary Fund-Badan Keuangan Internasional yang berafiliasi dengan PBB) atau agen-agen sejenis lainnya yang sangat sederhana dalam mengirim modal ke bank sentral secara langsung dengan beban biaya yang jauh lebih sedikit?

Sudah waktunya bagi bank, dengan segala retorikanya, untuk menghadapi kenyataan atas penampilan buruknya sebagai manajer proyek-proyek pembangunan. Staff bank dengan demikian juga barangkali harus berkompetisi untuk mencapai kedudukan dalam sektor-sektor swasta. Saat ini sedang terjadi penyesuaian struktur organisasi di mana negara-negara berkembang akan semakin terpana dibuatnya.

__._,_.__



 
 
Karl Marx
A Contribution To The Critique of Political-Economy Page
  
Edi Cahyono's Experience
Nur Rachmi's World
Oey's Renaissance
Semsar Siahaan's Galery
George Grosz
Satu Mei
Yayasan Penebar Page
Melawan Kanker