SIAPA nyana Uni Soviet dapat ambruk sekitar 7 tahun yang lalu. Negara adikuasa yang sebelumnya terlihat begitu besar, kukuh dan pernah ditakuti oleh lawan (NATO) dan kawan (Pakta Warsawa) dengan sumber daya alam melimpah, teknologi maju dan militer yang kuat rasanya mustahil dapat luluh-lantak dan tercerai-berai menjadi 15 negara; satu “pohon besar” (Rusia) yang penuh dengan parasit dan benalu serta 14 negara “cendawan” lainnya yang rentan terhadap badai globalisasi.
Pihak luar, terutama kelompok negara-negara Barat menilai runtuhnya Uni Soviet sebagai kemenangan demokrasi atas kediktatoran. Menurut mereka, hal itu diawali oleh Mikhail Gorbachev sebagai pimpinan tertinggi Uni Soviet pada waktu itu yang membawa angin segar dengan glasnost dan pereistroika-nya. Bahkan Gorbachev, bersama-sama Presiden Reagan, dianugerahi Nobel Perdamaian karena dinilai berjasa menghentikan perang dingin antara dua kubu kekuatan dunia yang dikhawatirkan dapat memicu PD III. Gorbachev-pun dinobatkan menjadi pahlawan yang memperjuangkan demokrasi bagi rakyat Uni Soviet yang selama rezim totaliter, berdasarkan standar Barat, hidup penuh tekanan dan ketakutan.
Sementara itu di dalam negeri Gorbachev dihujat oleh sebagian besar masyarakat sebagai biang keladi tumbangnya Uni Soviet. Mereka menuding Gorbachev sebagai penyebab anjloknya taraf hidup mereka dan telah mempermalukan mereka, dari bangsa yang digdaya di mata dunia menjadi pecundang. Karena Gorbachev-lah republik-republik satelit yang tergabung dalam Uni Soviet berani menentang pemerintahan Kremlin dengan memproklamirkan dan memerdekakan diri. Sebagai ilustrasi betapa tidak populernya Gorbachev di mata rakyat tampak pada pemilihan Presiden Rusia tahun lalu di mana sebagai calon Gorbachev hanya mendapatkan sekitar 1% suara.
Banyak yang tidak menyadari bahwa rontoknya Uni Soviet sebenarnya lebih disebabkan oleh krisis ekonomi yang kronis. Namun krisis ini tidak tampak di permukaan karena ditutup rapat-rapat oleh pemerintah. Sebagai negara super power pada waktu itu, sudah tentu Uni Soviet tidak mungkin memperlihatkan boroknya kepada dunia luar, khususnya kepada amerika Serikat dan konco-konconya. Penyebab krisis ekonomi tersebut setali tiga uang dengan fenomena yang terjadi di negara kita, yakni KKN, yang berawal dari pemerintahan rezim Brezhnev selama lebih kurang 20 tahun.
Brezhnev memang berhasil membawa Uni Soviet menjadi negara besar dan maju teknologinya untuk bersaing dengan Barat. Namun Brezhnev pula yang menumbuh-suburkan KKN di seluruh pelosok Uni Soviet selama 20 tahun. Selama masa itu pula rakyat Uni Soviet terbuai oleh kemajuan-kemajuan fisik yang mereka peroleh namun tanpa disadari moralitas mereka terkikis. Jadi keruntuhan Uni Soviet bukanlah tiba-tiba, tapi suatu proses. Dunia luar, termasuk kita, sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa negara yang demikian besar dan kuat itu akan dapat luluh.
Sangat terlambat
Ketika Gorbachev datang dengan membawa resep glasnost dan pereistroika, semua sudah sangat terlambat. Parasit dan benalu KKN telah merambah ke segala tingkat birokrasi, dari yang paling atas sampai yang paling bawah. Fasilitas dan perlakuan khusus yang diberikan hanya kepada anggota Partai Komunis, sebagai satu-satunya saluran politik yang sah mendorong praktek korupsi yang merajalela sementara rakyat hidup menderita karena sulit mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari. Mereka hanya mendapat catu yang setelah mengantre berjam-jam namun hasilnya nihil karena barang-barang tersebut telah disalurkan ke pasar gelap. tentunya dengan harga yang berlipat ganda. Mekanisme pasar yang diatur oleh pemerintah tidak berjalan. Tetapi pemerintah Uni Soviet pada masa itu masih yakin dengan sistem yang ada mampu mengatasi krisis tersebut. Monopoli yang telah diberikan kepada setiap BUMN untuk mengelola kekayaan alam dimanfaatkan menjadi sumber pengerukan keuntungan sebesar-besarnya bagi para anggota partai. Peranan Partai Komunis begitu dominan dalam pemerintahan Uni Soviet sehingga tidak ada lagi kontrol terhadap pemerintahan. Dan dominasi yang berlangsung terus-menerus selama beberapa dekade itu telah menggerogoti pilar-pilar kenegaraan yang pada akhirnya pilar-pilar ini keropos di dalamnya serta tidak sanggup lagi menahan bangunan negara.
Obat "demokrasi" yang disuntikkan Gorbachev semakin membuat penyakit mereka lebih parah karena bersifat "antibodi" (mereka sudah lama tidak mengenal demokrasi). Reaksi yang muncul justru menjadi anarki karena semua merasa bahwa demokrasi adalah kebebasan tanpa batas. Sejak lama rakyat tahu bahwa kekayaan bangsa mereka hanya dinikmati oleh segelintir kaum elite namun mereka (terpaksa) masih dapat menerima selama periuk nasi mereka tidak terganggu. Maka ketika krisis datang, mereka menuntut kepada pemerintah. Sementara bagi sebagian orang yang terbiasa mendapat fasilitas dan kemudahan tentu saja tidak mau kehilangan haknya atau berbagi sehingga chaos terjadi di mana-mana. Republik-republik melepaskan diri dari Uni Soviet dan negara terbesar di dunia itu pun tercabik-cabik.
Keruntuhan Uni Soviet dipercepat oleh sementara pihak-pihak yang telah menikmati hasil korupsi dengan membonceng atau mengompori kelompok-kelompok nasionalis yang mulai bangkit melawan kekuasaan Moskow. Mereka khawatir jika Gorbachev berhasil maka mereka akan tersingkir dan bukan tidak mungkin diseret ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka selama berkuasa. Sementara dengan keberhasilan memecah belah Uni Soviet mereka masih dapat mempertahankan posisinya di negara-negara yang baru belajar menjalankan pemerintahan.
Akibatnya hingga kini benih-benih separatisme tumbuh subur di negara-negara eks oviet ini. Chechnya bangkit melawan Rusia, Ukraina diganggu oleh masalah Crimea dan Bukovina Utara, Moldova menghadapi Trans-Dniester yang ingin bergabung dengan Rumania sebagaimana Abkhazia dan Ossetia Selatan di Georgia yang ingin bergabung dengan Federasi Rusia sementara Armenia dan Azerbaijan berperang memperebutkan wilayah Nagorno Karabakh serta separatisme-separatisme lainnya yang tidak kalah potensial untuk menjadi konflik berkepanjangan.
Akibat separatisme tersebut negara-negara eks Soviet sulit membangun ekonomi mereka. Selain itu sistem industri yang saling ketergantungan antar negara-negara itu, yang memang sengaja diciptakan oleh Uni Soviet, menyebabkan industri tersebut macet karena tidak mampu lagi berproduksi. Sementara meledaknya angka pengangguran justru sangat membebani perbaikan perekonomian. Bayang-bayang ketakutan akan terjadinya PD III juga telah membuat industri Uni Soviet direkayasa dengan orientasi siap tempur. Artinya pabrik apa pun jika diperlukan dalam waktu singkat dapat memproduksi keperluan militer. Akibatnya produk mereka tidak laku di pasaran dan sulit mendapatkan investor asing. Hal ini masih diperparah oleh sikap mental para pejabatnya yang masih saja berpikiran seperti zaman Uni Soviet dan sulit mengubahnya. Mungkindengan alasan ini, kini banyak pemimpin-pemimpin negara eks-Soviet yang merekrut orang muda sebagaimana Presiden Rusia Yeltsin memilih PM Sergey Kiriyenko dan Wakil PM Boris Nemtsev yang masih berusia di bawah 40 tahun.
Iman Sapta Ramadhi: Staf Pengajar Program Studi Indonesia di Universitas Negara 'Taras Shevchenko' Kylv Ukraina; Alumnus FS UI.
__._,_.__